Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 49


__ADS_3

Di sebuah kamar bernuansa hitam. Terlihat seorang lelaki berparas elok tengah berbaring dengan tatapan yang menelisik ke atas langit-langit. Meski jiwanya ada di sana, tetapi tidak untuk pikirannya. Sudah hampir pagi, ia tak kunjung tertidur karena sesuatu yang terus mengganggu pikirannya. Wajah menggemaskan dengan pipi bulat kemerahan terus menghantui pikirannya setiap detik. Memporak porandakan hatinya yang tengah berperang mencari sebuah jawaban.


"Kingsley, nama yang indah. Seindah tatapan matanya." Gumam lelaki itu kembali membayangkan wajah bayi mungil menggemaskan yang dilihatnya siang tadi. Dirinya tak lain adalah Alex.


"I am so sorry, son." Alex mengusap wajahnya dengan lembut. Hinaan dan cercaan yang dulu ia lontarkan pada Ibu dari anaknya itu kembali terputar dalam memorinya. Dan itu terus menghantuinya selama setahun ini. Rasa bersalah dan berdosa seolah tengah memeluknya dengan erat. Ditambah lagi kesaksiannya siang tadi, di mana Tasya menangis sesegukkan hanya karena orang lain menghina putranya.


Ah, apa pantas ia menyebut anak itu sebagai putranya? Bahkan dulu ia tak mengakuinya dan menghinanya tanpa belas kasihan. Jahat memang. Namun tak ayal ia terus dihantui rasa bersalah sejak kejadian itu. Rasa bersalah itu kerap menggerayanginya setiap saat bahkan sampai detik ini.


"Dia begitu mencintainya, dan apa yang gw lakuin huh? Gw udah hancurin masa depan sekaligus hati dia berkeping-keping dan itu bukan cuma sekali. Brengsek lo, Lex. Lo pantes mati." Alex terlihat begitu frustasi.


"Apa yang harus gw lakukan sekarang? Gw malu cuma buat menemuin dan ngucapin maaf ke dia. Gw cemen." Alex memejamkan mata saat rasa sakit menghujam kepalanya.


"Maafkan gw, Sya. Dan lo, Mey. Apa lo beneran benci gw? Sampai lo ngasih tatapan permusuhan ke gw. Ah, gw memang gak tau diri. Udah sepantesnya lo musuhin gw. Gw adalah penyebab dari segala penyebab kehancuran Tasya."


Alex bangkit dari pembaringan, berjalan gontai menuju kamar mandi. Ia menghidupnya shower, mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Kepalanya mendongak dengan mata yang terpejam rapat.


Di tempat lain, terjadi hal yang sama. Tasya tak kunjung memejamkan matanya. Bayangan siang tadi terus menghantuinya. Bukan pasal Wilona, melainkan pretemuan pertamanya dengan Alex setelah satu tahun tak mendengar kabar dari lelaki itu. Ah, Tasya lah yang menutup telinga pasal Alex.


Tasya menatap wajah King yang terlihat tenang dalam tidurnya. Wajah yang mengingatkan ia pada sosok cinta pertama yang masih bersarang di hatinya sampai detik ini. Namun rasa sakit itu jauh lebih besar dari segala rasa.


"Bahkan lo gak belain anak sendiri, Kak. Lo diam aja pas orang lain hina dia. Apa sebegitu bencinya lo sama anak lo sendiri? Jahat banget lo, Kak." Tasya mencium kening King dengan lembut.


"Jangan salahkan gw kalau King gak bakal tahu siapa Bapak kandungnya. Karena gw bakal cari Bapak yang bisa nerima dia setulus hati, gw bakal lupain lo, Kak. Udah cukup lo ganggu pikiran gw. Mey bener, gw bakal buka lembaran baru. Kasih kesempatan orang lain buat milikin hati gw. Juga jadi Daddy yang tulus buat nyayangin King." Sebulir air bening menetes dipelupuk matanya. Tasya memeluk King dengan penuh kasih sayang.


"Mommy akan selalu menjaga kamu, bahagiain kamu sampai kamu dewasa." Pungkas Tasya ikut memejamkan mata. Sudah cukup ia menderita. Melupakan dan melepaskan mungkin jalan terbaik untuk menjemput secercah kebahagiaan.


***


"Morning, Gradma, Grandpa, Uncle." Sapa Tasya yang baru bergabung di meja makan bersama King dalam gendongannya.


"Morning Baby boynya Grandma." Balas Mey mencium cucu kesayangannya.


"Si endut ikut sarapan juga ya?" Tanya Tasya sambil meletakkan King di atas kursi makan bayi. Kemudian mencubit gemas pipi Noah dalam pangkuan Mey. Dan beranjak menuju lemari kabinet untuk mengambil makanan King.


"Biasa, dia kan suka ganggu Mommynya makan."


"Sasa, malam tadi seorang laki-laki datang ke rumah. Dia bilang teman kampus kamu. Daddy pikir kamu sudah tidur, jadi dia cuma datang sebentar dan kasih bingkisan buat kamu. Mommy kamu yang simpan bingkisannya. Siapa dia, pacar kamu?" Ujar David yang sudah selesai sarapan. Lelaki itu mengusap bibirnya dengan tisue.


Tasya sempat terkejut mendengar itu. Namun dengan cepat ia menepis perasaan itu. Beruntung saat ini dirinya tengah membuatkan makanan King, jadi tak ada yang melihat keterkejutannya. "Oh, kayaknya itu Gibran deh. Temen kuliah Sasa, Dad."


"Bingkisannya aku tarok di kamar, nanti kamu ambil aja. Ada jam kuliah gak hari ini?" Tanya Mey menatap Tasya yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Ada, jam sembilan sampe jam tiga. Kalau lo gak sempat jaga King, gw minta tolong Bik Nina aja. Boleh kan, Bik?" Tasya menoleh ke arah Bik Nina yang sedang menuang susu ke dalam gelas Mey.


"Boleh atuh, Non. Dengan senang hati. Lagian hari ini kerjaan Bibik cuma dikit. Cucian sama gosokkan besok baru dikerjain." Jawab Bik Nina tersenyum lebar.


"Gw juga penuh hari ini, rencana mau titip Noah sama Mommy. Katanya mereka rindu cucunya." Ujar Mey. Tasya yang mendengar itu manggut-manggut tanda mengerti.


"Ya udah, sekalian berangkat sama aku aja. Sini biar Noah sama aku dulu, selesaikan makannya. Udah dibilang pake baby sitter aja gak mau kan Dek? Sayang banget kalian dioper sana sini." David mengangkat Noah ke udara membuat si empu kesenangan.


"Sasa gak percaya sama baby sitter, Dad. Masih takut karena King masih kecil. Tar aja kalau dia udah setahunan." Sanggah Tasya yang sedang menyuapi putranya. "Eh, jangan disembur gitu. Kotor lagi baju Mommy, Sayang." Protes Tasya saat King malah memainkan air liurnya dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.


"Terserah kalian, asal dua bocil ini terurus." Kata David mencium hidung Noah dengan gemas. "Sayang, aku ke depan dulu. Bawa Noah main."


"Iya Mas." Sahut Mey yang masih menyantap sarapannya. David pun bergegas pergi dari sana.


"Terus gimana keputusan lo?" Tanya Mey setelah kepergian suaminya.


Tasya menoleh sekilas ke arah Mey, kemudian menyuapi King lagi dengan telaten. "Gw bakal cobak buka hati. Mau liat sejauh mana keseriusan Gibran. Kalau emang cocok dan dia serius, gw gak mau terlalu lama pacaran. Langsung nikah aja, King juga butuh sosok Daddy kan?"

__ADS_1


"Lo serius?"


"Hm. Kejadian kemarin udah ngebuktiin ke gw, kalau King itu butuh sosok Ayah, Mey. Gw gak mau dia dihina terus. Gw sedih dan sakit denger cacian mereka. Gw juga butuh obat, supaya hati gw cepet sembuh. Capek gw gini terus." Jelas Tasya dengan keyakinan penuh.


"Okay, gw bakal dukung apa pun keputusan lo. Gw harap lo nemuin kebahagiaan kali ini. Mungkin Gibran memang jodoh lo, Sya." Mey tersenyum tulus.


Tasya membalas senyuman itu sambil mengangguk pelan.


"Ya udah, gw ke kamar dulu ambil keperluan Noah. Udah selesai juga sarapan gw. Gak papa kan gw tinggal?"


"Enggak kok, udah sana pergi. Kasian Daddy nunggu lo dari tadi."


"Okay, dadah sayang." Mey mencubit pipi King sebelum pergi.


"Hati-hati Grandma." Mey tersenyum mendengar itu dan bergegas menuju kamarnya.


Mey menghampiri suaminya di ruang tengah. Ditanganya terdapat sebuah tas berisi perlengkapan Noah.


"Sayang, terus nanti Noah nenennya gimana?" Tanya David menatap istrinya bingung.


"Kayaknya siang Mey pulang sebentar, Mas." Jawab Mey mengambil alih Noah dari gendongan David.


"Mey, kayaknya kamu berhenti aja deh kuliahnya. Kamu kurus banget, aku gak suka liat kamu yang kayak gini. Aku tahu kamu capek harus ke sana ke mari. Paling enggak cuti aja deh." Usul David yang tidak tega melihat kondisi istirnya.


"Yah Mas... baru juga dua bulan Mey kuliah. Tapi nanti Mey pikirin lagi deh. Ayok berangkat, tiga puluh menit lagi Mey ada jam kuliah." Jawab Mey yang langsung beranjak keluar. David menghela napas berat, mengambil tas putranya dan menyusul sang istri.


"Mommy kayaknya kangen banget sama Noah, dari tadi teror Mey terus di suruh cepet-cepet antar Noah. Udah hampir sebulan ya Mommy sama Daddy gak ke rumah?" Ujar Mey saat mereka sudah dalam perjalanan.


"Hm. Daddy udah gak bisa sering-sering kena angin luar. Jadi Mommy harus stand by di rumah." Jawab David sambil fokus menyetir.


"Tunggu, Sayang." Ucap Mey saat Noah terus merengek karena haus. David tersenyum dan melirik putranya sekilas.


"Oh iya, Mas. Besok Mey gak ada jam kuliah. Mey izin ke kafe ya? Udah lama gak main ke sana, kangen Buk Neny." Pinta Mey sedikit merengek.


"Boleh, Sayang."


"Makasih Daddy handsome."


"Sama-sama Mommy tengil."


"Ck, emang Mey tengil banget ya?" Tanya Mey memajukan bibirnya beberapa senti.


"Dulu kebangetan, sekarang agak mendingan karena udah ada Noah." Sahut David apa adanya. Mey terkekeh geli mendengarnya.


"Tengil-tengil juga Mas cinta kan? Buktinya udah ada Noah. Dulu aja ngatain Mey jelek lah, dekil lah. Sekarang ditinggal sehari aja uring-uringan." Ledek Mey mengungkit masa lalu.


"Itu kan dulu, sebelum tahu kamu bisa ngasih kebahagian kayak sekarang. Apa lagi kamu masih enak aja, Mey. Padahal udah ada Noah."


"Mulai deh, sekali-kali kayaknya kamu harus cuci otak. Bisa-bisa Noah malah ketularan kamu." Kesal Mey sambil menatap Noah yang sudah tertidur. Namun mulutnya masih atif menyedot asi.


David tertawa renyah dan kembali fokus menyetir. Tidak lama mobil yang mereka naiki pun memasuki komplek perumahan. Namun David langsung menginjak pedal rem saat matanya menangkap seorang anak kecil menyebrang secara tiba-tiba.


Beruntung Mey memeluk Noah dengan erat. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada anaknya. "Mas, turun." Titah Mey yang juga melihat anak kecil itu.


David pun langsung turun untuk melihat kondisi anak yang hampir ia tabrak. Mey awalnya tidak ingin turun, tetapi rasa penasaran berhasil mendorongnya untuk turun dari mobil. Noah sedikit menggeliat karena tidurnya tergganggu.


Mey menghampiri suaminya yang tengah mengajak anak itu bicara. "Kamu gak papa kan, Sayang? Ada yang sakit?"


Gadis kecil itu menggeleng pelan. Ia terlihat bingung, menatap David dan Mey bergantian.

__ADS_1


"Kayaknya dia gak papa, Mas. Untung aja kamu ngerem." Kata Mey menatap anak itu lamat-lamat.


Kenapa wajah anak itu kayak gak asing ya? Pikir Mey.


"Luna! Ya ampun, sudah Mimi bilang kan jangan main di jalan." Pekik seorang wanita yang berhasil menarik perhatian Mey dan David. Mey sedikit terperangah saat melihat wajah cantik wanita itu. Dan bukan hanya Mey, David juga terbelalak saat melihat wanita itu.


"Ingrid?" David menatap wanita itu nyaris tak percaya. Sontak wanita cantik itu terhenyak karena baru menyadari jika lelaki itu adalah David.


Mey menatap keduanya bingung.


"D__David?" Wanita itu terlihat gugup. Dengan cepat ia menarik gadis kecilnya.


"Ya ampun, udah lama banget kita gak ketemu. Kamu kemana aja sih? Mommy sering nanya kamu, aku juga sempat nyari kamu tapi gak ketemu." Ujar David tersenyum senang saat melihat wanita yang sudah lama tak ia temui.


"Aku di London, Dev. Udah sebulan pindah ke sini. Kamu ngapain di sini?" Tanya wanita itu menatap David dan Mey bergantian.


"Rumah Mom and Dad di sini. Itu di lorong depan. Ikut yuk, aku yakin Mommy senang lihat kamu." Ajak David yang langsung dijawab gelengan oleh Ingrid.


"Mas." Mey menyentuh lengan suaminya karena bingung. Wanita itu pun memberikan tatapan yang sama pada Mey.


"Oh iya, kenalin ini istri aku, Meylani. Dan bayi kecil ini anak keduaku, adik Tasya. Mey, kenalin ini Ingrid sahabat aku pas di Harvad. Kami ambil bidang sama pas S2 dulu. Dia juga kenal sama mendiang Anna." Jelas David memperkanalkan Ingrid pada Mey, juga sebaliknya.


Mey memberikan senyuman manis pada wanita itu. "Mey."


"Ingrid." Balas wanita itu tersenyum simpul.


"Oh iya, aku minta maaf banget. Ini anak kamu ya? Tadi gak sengaja mobilku hampir nyerempet dia. Sekali lagi aku minta maaf." Ucap David mengusap kepala anak itu.


"Gak papa, Luna emang bandel."


"Wah, nama kamu Luna ya? Uncle minta maaf ya? Gak nyangka anak kamu udah gede. Kamu tinggal di sini sama suami ya?"


Ingris sedikit tersentak, tetapi sedetik kemudian mengangguk.


"Mas, aku udah telat. Bisa dipercepat? Mey bisa ketinggalan kelas." Rengek Mey mulai panik karena ia memang sudah terlambat masuk kelas pagi ini. Ia juga bergegas masuk ke dalam mobil. Ditambah Noah yang sudah terbangun dan terus merengek.


"Ok, Sayang. Rid, aku pergi dulu ya? Tar kamu mampir aja ke rumah Mommy. Istriku harus masuk kuliah. Maaf untuk kejadian tadi." Pamit David.


"Ok." Sahut Ingrid dengan senyuman tipis. David mengusap kepala Luna dan menyusul Mey ke dalam mobil. Kemudian mobil itu pun melaju, dan sebelum pergi David membunyikan klakson. Lalu mobil mewah itu pun bergerak memasuki lorong komplek.


Bersambung....


...🌷🌷🌷🌷🌷...



...Meylani Putri yang sekarang...



...Mey yang dulu...



...David Lander...



...Noah Zayden Lander...

__ADS_1


__ADS_2