
Hy semuanya... sorry ya beberapa hari ini hiatus... soalnya ada lain hal yang bikin aku nunda buat nulis... sekarang aku udah balik... jadi selamat membaca ya. Love you all 😘
...🍁🍁🍁...
Mey keluar dari kamarnya saat mendengar suara riuh di lantai dasar. "Ada apa sih pagi-pagi udah rame?" Mey menilik ke lantai bawah. Namun ia tak bisa melihat lebih jauh karena terhalang dinding. Karena rasa pensaran yang besar. Mey memilih untuk segera turun dari lantai atas. Beruntung Noah masih tidur pulas setelah membangunkan orang tuanya subuh tadi.
"Dad, please. Jangan pukul lagi."
Samar-samar Mey mendengar suara Tasya terus berteriak. Ia pun mempercepat langkahnya menuju teras rumah. Benar saja, di sana sedang terjadi penyiksaan. Di mana David tengah memukuli seorang laki-laki yang sudah terkapar di lantai. Sedangkan Tasya terus menjerit meminta David untuk berhenti memukuli orang itu. Mey yang kaget pun langsung menarik suaminya sekuat tenaga.
"Mas, berhenti. Jangan sampe kamu masuk penjara, siapa yang kasih jajan Noah nanti?" Mey memeluk suaminya dari belakang. Tentu saja itu berhasil membuat David menyudahi aksinya. Namun napas lelaki itu masih naik turun karena emosi.
"Brengsek! Jika sejak lama aku tahu kau yang merusak putriku, sudah lama aku membunuhmu." Hardik David.
"Mas, cukup." Mey menarik suaminya agak menjauh dari lelaki itu. Mey sempat melihat Tasya membantu lelaki itu bangun.
Ya, Alex lah lelaki yang David hajar habis-habisan. Pagi-pagi buta lelaki itu mendatangi rumah Lander dan mengakui bahwa dirinya Ayah kandung King. Tentu saja David emosi dan langsung menghajarnya.
"Udah, ini masih pagi, Mas. Kamu juga Lex, datangnya kepagian. Ganggu orang tidur tahu gak?" Kesal Mey memicingkan matanya pada lelaki dengan wajah babak belur itu.
"Mey, jangan dimarahin ya? Dia udah kayak gini juga. Ayok masuk, biar gw obatin luka lo. Nagpain sih lo ke sini dan pake ngaku sama Bokap gw segala?" Tasya menatap wajah Alex dengan iba.
Alex sama sekali tak bisa menjawab karena kedua sudut bibirnya robek akibat pukulan David.
"Buat apa diobatin? Biarin aja dia mati." Kesal David hendak menyerang lagi. Namun Mey kembali memeluknya dengan erat.
"Mas... Mas dengerin Mey dulu. Lihat Mey sekarang." Pinta Mey menarik dagu suaminya. Dan lelaki itu pun menunduk untuk melihat wajah istrinya. "Kita bicarakan ini baik-baik ya? Kasian Tasya, dia yang bakal sedih kalau kamu kayak gini. Kita omongin ini di dalam, jangan emosi."
David mengeratkan rahangnya dan tak berniat mengiyakan permintaan istrinya.
"Mas, aku paham perasaan kamu sebagai seorang Ayah. Tapi kekerasan gak akan bisa selesaikan masalah. Yang ada masalah makin runyam. Kita masuk ya?" Ajak Mey seraya mengusap pipi suaminya.
"Apa selama ini kamu tahu dia Ayah King?" Tanya David penuh selidik.
Mey mengangguk pelan.
"Ya Tuhan, Jadi kalian membohongiku selama ini huh? Apa aku begitu tak penting dalam hidup kalian? Menyembunyikan hal sebesar ini dariku, aku terkesan." Setelah mengatakan itu David pun bergegas masuk dan meninggalkan Mey yang masih mematung. Wanita itu memijat keningnya yang mendadak pusing. Kemudian ia menyusul suaminya ke dalam. Langkah Mey sempat terhenti saat melihat Tasya dan Alex di ruang tengah.
Huh, dasar pasangan aneh. Gak bisa kalau gak buat ulah, gw yang selalu kena imbasnya. Kesal Mey dalam hati. Kemudian ia pun segera menyusul David ke kamar.
Sedangkan di sofa, Tasya terus menangis sambil mengobati luka di wajah Alex. Alex tersenyum samar saat melihat wajah lucu Tasya saat sedang menangis. Ia juga merasa seperti de javu. Di mana posisi seperti ini pernah terjadi. Tepatnya setahun yang lalu.
"Ngapain lo pake ngaku segala? Kalau gini siapa yang tanggung jawab? Gimana kalau media tahu? Kalau gw gak di rumah mungkin lo udah mati tadi, bego banget sih." Tasya terus mengeluarkan repetannya. Dan itu berhasil menggelitik hati Alex.
"Lo yang harus tanggung jawab."
Tasya yang mendengar itu langsung menatap mata lelaki itu. "Kenapa gw?"
__ADS_1
"Terus siapa lagi? Lo yang bikin gw gak bisa tidur nyenyak, Sya."
Tasya sama sekali tak menanggapi perkataan Alex. Ia masih fokus mengobati luka di wajah Alex.
"Nikah sama gw, Sya." Pinta Alex yang lagi-lagi tak digubris oleh Tasya.
Alex mencekal tangan Tasya yang tengah mengobati luka di ujung bibirnya. Dan pandangan keduanya pun terkunci satu sama lain. Alex menempelkan bibirnya di bibir Tasya, lalu m*lum*tnya dengan lembut. Tasya sama sekali tak memberikan penolakan. Bahkan wanita itu memejamkan matanya saat cecapan yang Alex berikan semakin dalam dan sangat lembut. Alex menekan tengkuk Tasya untuk memperdalam ciumannya. Cukup lama keduanya terbuai oleh permainan yang mereka ciptakan sendiri.
Alex mengakhiri ciumannya karena tahu Tasya mulai kehabisan oksigen. Napas wanita itu sedikit terputus-putus karena dadanya terasa sesak. Alex tersenyum, meyelipkan jemarinya di surai panjang Tasya. Kemudian menberikan kecupan singkat di bibir Tasya yang sedikit membengkak akibat ulahnya.
"Manis." Puji Alex tersenyum samar. Wanita itu menunduk karena sangat malu, bahkan mulutnya seolah terkatup rapat.
"Please, nikah sama gw, Sya. Gw tulus buat jadiin lo pendamping hidup gw. Ini gak ada hubungannya dengan King atau yang lainnya. Gw cuma pengen elo jadi milik gw satu-satunya."
"Buat apa? Buat ngobatin rasa bersalah lo? Kalau gitu sebaiknya lo pergi aja." Tasya hendak menjauh dari Alex, tetapi lelaki itu langsung menahannya. Bahkan kini kedua tangan berhasil menyusup di rambut pirang Tasya. Menahan wanita itu agar tak pergi.
"Kenapa baru sekarang lo ngajak gw nikah? Kenapa gak dari dulu sebelum Gibran hadir dalam hidup gw? Apa karena lo takut King direbut orang lain? Terus lo berusaha deketin gw?"
Alex terdiam.
"Lo itu cuma peduli sama King, Kak. Buat apa lo mati-matian deketin gw sampe datang ke sini dan ngaku di depan Bokap gw? Gw gak akan larang elo buat ketemu King, tapi jangan ganggu hidup gw. Biarin gw nyari kebahagiaan sendiri. Kita jalan di jalur masing-masing, gw tahu lo gak akan pernah cinta sama gw." Ujar Tasya panjang lebar.
"Sya, gw...."
"Jangan lo pikir karena gw masih cinta sama elo, lo bisa mainin perasaan gw. Gw gak akan ngulang kesalahan yang sama. Di mana gw jatuh cinta sama orang yang gak pernah cinta sama gw. Gw udah buka hati buat Gibran. Jadi please, jangan ganggu gw lagi." Tasya menyela ucapan Alex karena takut terbuai dengan perlakuan lelaki itu.
"Gw udah kasih lo kesempatan selama ini. Gw nunggu elo datang dan ngakuin semua kesalahan lo. Tapi elo gak pernah muncul, bahkan lo gak mau tahu soal gw sama King. Lo gak mau tahu gimana tersiksanya gw saat harapin lo datang dan kasih pertanggung jawaban. Lo itu jahat tahu gak?"
"Gw akui gw emang jahat, saat itu gw beneran syok dengan keadaan. Gw patah hati setelah tahu Mey hamil anak orang lain, terus ditambah lagi dengan kabar kalo lo hamil anak gw. Gw gak mungkin nikahin lo di mana posisi lo itu anak tiri dari cewek yang gw cinta. Lo gak akan paham segede apa beban yang gw emban. Bohong kalau gw gak mikirin lo. Bahkan tiap malam gw gak bisa tidur karena terus mikirin elo sama anak dalam perut lo. Gw hampir gila kalau lo gak tahu." Alex mengacak rambutnya frustrasi. Mengeluarkan semua aral dalam hatinya selama ini.
"Kalau pun saat itu gw nikahin elo, kita cuma bakal saling menyakiti satu sama lain. Lo tahu saat itu gw cinta berat sama Mey kan? Kalau saat itu kita beneran nikah, apa lo yakin bisa tahan hidup sama gw yang sama sekali gak bisa ngasih cinta buat elo? Gw gak mau itu terjadi, Sya. Gw gak bisa nyakitin hati elo. Meski gw tahu dengan lepas tangan, gw juga udah bikin lo terluka. Tapi setidaknya gw cuma sekali lukain elo." Lanjut Alex yang berhasil membungkam mulut Tasya.
"Lagian kalau saat itu Bokap gw tahu, gw hamilin anak orang. Mungkin lo gak bakal liat gw lagi sekarang. Papa gw bukan orang yang bisa di ajak kompromi. Dia keras dan gak suka kalau ada yang mencoreng nama baiknya. Lo dan King juga gak bakal aman. Di tambah posisi gw saat itu baru dilantik jadi pemimpin perusahaan. Masih banyak yang ngincar kelemahan gw, banyak yang nyari celah buat jatuhin keluarga gw. Gw gak bisa liat keluarga gw hancur, Sya. Mungkin gw memang egois. Gw lebih mentingin keluarga gw dan milih ngancurin keluarga sama masa depan elo. Gw gak pantes buat dapat maaf dari elo dan keluarga elo."
Tasya mengusap jejak air matanya dengan kasar. "Seharusnya lo diskusikan ini sama gw, bukan kabur dari kenyataan. Lo itu cemen tahu gak?"
"Gw tahu, gw sadar itu, Sya. Tapi kasih gw kesempatan, meski gw gak bisa perbaiki semuanya. Izinin gw buat bangun kepercayaan baru dalam hidup lo. Please." Alex meraih tangan Tasya, menggenggamnya dengan erat.
"Tergantung perjuangan elo." Sahut Tasya menarik tangannya dari genggaman Alex, lalu bangun dari posisinya.
"Jadi lo kasih gw kesempatan?" Tanya Alex ikut bangun dari posisinya.
Tasya terdiam sejenak. "Lo cuma punya kesempatan sekali lagi."
Alex yang mendengar itu tersenyum bahagia. "Thank you, Sya."
"Sebaiknya lo cepetan pergi deh, sebelum Bokap gw ngamuk lagi." Titah Tasya mengusir lelaki itu. Ia tak ingin perasaannya semakin kacau jika Alex terus berada di sana.
__ADS_1
"Gw pengen ketemu King, lima menit aja, Sya." Pinta Alex penuh permohonan.
Tasya yang mendengar itu kembali terdiam.
"Gak papa kalo lo gak kasih izin, gw hargai perasaan lo. Gw pamit dulu." Alex menatap Tasya sekilas sebelum melangkah pergi dari sana.
"Ikut gw, cuma lima menit." Putus Tasya yang berhasil menahan langkah Alex. Lelaki itu berbalik, memandang Tasya bingung.
"King masih tidur, gw gak mungkin bangunin dia karena bentar lagi harus ke kampus. Ikut gw ke kamar." Jelas Tasya yang langsung melenggang pergi menuju kamarnya. Alex tampak ragu. Namun ia tetap mengikuti langkah Tasya karena dirinya benar-benar merindukan bayi gembul itu.
Dengan langkah ragu akhirnya Alex masuk ke kamar wanita yang sudah melahirkan anaknya itu. Lelaki itu terus melangkah menghampiri box bayi yang berada tak jauh dari ranjang Tasya. Alex tersenyum tipis saat melihat King yang masih teridur dengan posisi menyamping. Membuat pipi gembulnya semakin menyembul karena terjepit.
"Gw gak tau apa yang bakal terjadi kalau King tahu Bapaknya sebrengsek elo, Kak?" Ujar Tasya yang saat ini tengah menyisir rambutnya. Lalu merapikan kemejanya di depan cermin. Ia harus bersiap dan pergi ke kampus. Tidak lupa menyemprot minyak wangi andalannya.
"Mungkin dia bakal benci gw seumur hidup." Sahut Alex sembari mengusap pipi King pelan karena tak ingin membangunkan putra gembulnya itu.
"Semoga lo gak kecewa kalau itu beneran terjadi. Karena itu dosa yang lo buat sendiri." Tasya duduk di bibir ranjang, lalu memakai sepatu ketsnya. Sedangkan Alex masih setia menatap King.
"Gw harus pergi, kayaknya Gibran udah nunggu gw di depan."
Alex kaget mendengar itu. Ada perasaan tak rela saat mendengar itu. "Lo berangkat sama Gibran?"
"Hm. Kenapa? Lo cemburu? Ck, mana mungkin lo cemburu sama gw. Lo kan cinta mati sama si Mamud. Gw harap lo gak ganggu Mamud gw lagi. Dia udah bahagia sama Bokap gw. Jangan jadi pebinor."
"Gw gak segila itu, Sya. Gw sadar diri."
"Baguslah."
"Lo gak perlu cemburu, gw udah gak punya perasaan sama Mey." Ujar Alex melirik Tasya sekilas. Sedangkan yang dilirik terdiam di tempatnya.
"Jadi sekarang lo cinta sama Wilona ya? Pantes dia lengket terus, kayak lintah darat." Sarkas Tasya yang diiringi senyuman getir. Alex yang mendengar itu tersenyum tipis.
"Sekarang gw lagi belajar buat cinta sama Mamanya King. Gw gak tahu dia bakal nerima atau enggak?"
Seketika tubuh Tasya menegang saat mendengar ungkapan Alex. Dan beberapa detik kemudian ia berdeham kecil seraya bangun dari posisinya. "Gw harus pergi sekarang."
"Pergi aja, gw izinin." Gurau Alex ingin memecah kecanggungan di antara mereka.
"Kak, gw serius. Gw harus pergi sekarang. Ini udah lebih dari lima menit. Gw harus ngampus." Kesal Tasya.
"Gw masih mau di sini, lo pergi aja."
Tasya langsung memelototi lelaki itu. Dan langsung menarik tangan Alex. "Jangan macem-macem, ayok keluar."
Memanfaatkan situasi, Alex langsung menautkan jemarinya dengan jemari lentik milik Tasya. Membuat sang empu kaget dan langsung menatap lelaki tampan itu.
"Ayok, katanya mau keluar." Ajak Alex yang langsung membawa Tasya keluar seolah dirinya sang pemilik kamar. Tasya tersenyum tipis saat melihat tautan tangan mereka. Rasa hangat itu menjalar sampai hatinya.
__ADS_1
Gw harap lo terus merjuangin gw, Kak. Bukan sekadar rasa bersalah. Gw pengen lo beneran cinta sama gw.