
Sudah seminggu lebih David mencari istrinya ke sana ke mari. Namun ia tak menemukan jejak apa pun, dan itu membuatnya seperti orang gila. Bahkan David tak lagi memperhatikan penampilannya. Kini bulu-bulu halus mulai memenuhi wajahnya. Ia tak sempat merawat diri karena sibuk mencari keberadaan istrinya yang hilang bak ditelan Samudera. Yang ia inginkan saat ini hanya Meylani, istri kecilnya yang amat ia cintai.
David terduduk lemas di sofa ruang tengah, air matanya mulai mentes perlahan. Menyesali semua kebodohannya.
Tasya yang melihat itu ikut sedih. Ia juga sudah berusaha mencari keberadana sahabatnya. Mencarinya ke semua tempat yang biasanya Mey datangi. Tapi Mamudnya itu tak pernah berkunjung ke sana sekali pun. Setelah tahu Mey kabur, Tasya juga mengurungkan niatnya untuk kembali ke London. Ia tak mungkin meninggalkan sang Daddy yang tengah terpuruk. Awalnya Tasya marah dan kecewa pada David, tetapi setelah melihat kesungguhan David mencari istrinya. Tasya menyadari sesuatu, kini Mey sudah menjadi separuh nyawa sang Daddy.
"Dad." Tasya duduk di sisi sang Daddy dan memeluk lelaki tersayangnya dengan penuh kasih. "Kita akan menemukan Mey, Daddy harus sabar. Mungkin Mey merasa terpukul dan memilih untuk sembunyi sebentar. Dia butuh waktu sendiri buat menenangkan pikirannya. Mey itu cinta banget sama Daddy, dia gak akan ninggalin Daddy. Percaya sama Sasa ya?"
"Ini semua salah Daddy, Sasa. Daddy tidak pernah mendengarkan kamu. Daddy minta maaf, Mey pantas ninggalin Daddy. Dia gadis yang baik dan polos, Daddy tahu itu. Tapi Daddy malah menyakitinya." Lirih David terus meneteskan air matanya. Lelaki itu terlihat begitu lemah dan rapuh.
Beberapa hari yang lalu....
David melangkah gontai menuju ruangan di mana Nindy dirawat. Sudah dua hari ia tak berkunjung. Dokter mengatakan bahwa kondisi wanita itu belum stabil. Mata lelaki itu terlihat sayu karena sudah beberapa hari tak bisa tidur, terus memikirkan sang istri yang tak kunjung pulang.
David masih mengunjungi wanita itu bukan karena rasa kasihan, ia hanya memikirkan anak dalam kandungan Nindy. Bagaimana jika anak itu benar-benar anaknya? Tentu saja David tak akan membiarkan terjadi sesuatu pada darah dagingnya. Setelah anak itu lahir, ia akan tetap merawatnya. Namun tak berniat untuk menikahi atau menampung Nindy.
David hendak mendorong pintu ruangan itu, tetapi pergerakannya tertahan saat matanya lebih dulu menangkap pergerakan dari dalam melalui kaca pintu. Mata David membulat sata menyaksikan Nindy tengah berciuman panas dengan seorang laki-laki. Ia tak bisa melihatnya dengan jelas karena posisi lelaki itu menyamping. David membuka pintu itu perlahan agar bisa melihat dengan jelas siapa orang itu. Karena terlalu asik bermain api, pasangan itu sama sekali tak menyadari kehadiran David di sana.
"Sayang, aku merindukanmu. Sudah berapa hari aku tak menyentuhmu huh? Apa anak kita baik-baik saja di dalam sana? Atau jangan-jangan dia merindukan Papanya, baiklah Sayang. Papa akan segera menjenngukmu." Kata lelaki itu penuh sensual.
"Cepat lakukan, aku juga merindukanmu. Ah... aku ingin milikmu segera masuk dalam sarangku, Sayang." Balas Nindy layaknya wanita murahan yang haus akan sentuhan. Pantas saja ia yang selalu meminta lebih dulu pada David. Ternyata wanita itu kerap disentuh lelaki hidung belang.
David melihat adegan itu dengan santai, kini kedua tangannya sudah terlipat di dada dengan bersandar di tiang pintu. Ia sudah tahu siapa lelaki itu, yang tak lain adalah Hendra. Sepupu Nindy yang pernah beberapa kali bertemu dengannya. Bahkan perusahaan keduanya masih menjalankan kerja sama.
Wanita sialan. Kau ingin menipuku rupanya. Seharunya aku tidak membuat kebodohan karena percaya anak itu adalah anakku. Bahkan aku sampai membuat istriku salah paham. Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan pada penipu seperti kalian huh? Dalam hitungan detik, kalian akan merangkak dan memohon padaku.
Lelaki itu mulai menyibak baju rumah sakit yang Nindy kenakan, tetapi Nindy langsung menahannya karena ia tak sengaja melihat keberadaan David. Wanita itu beringsut turun dari atas brankar. Lalu berjalan cepat menghampiri David. Hendra juga tak kalah terkejut dan memakai kembal kemejanya.
"Sayang, dia... dia ingin memperkosaku dan mengancam akan membunuh anak kita." Nindy hendak menyentuh David. Namun lelaki itu dengan cepat menghindar.
"Jangan menyentuhku dengan tubuh kotormu, Nindy. Apakah orang yang akan diperkosa terlihat begitu pasrah dan meminta si pelaku untuk segera memberikan kenikmatan? Kau pikir aku anak TK yang bisa kau kelabui dengan memainkan drama murahan huh? Hah, betapa bodohnya aku karena hampir mempercayaimu."
"Dev, dengarkan aku dulu. Aku...."
"Nikmatilah kehidupan kalian. Jangan pernah menampakkan diri di hadapanku lagi, Nindy. Karena aku tak akan segan untuk menghancurkan wajah cantikmu. Dan kau Tuan Hermawan." David mengarahkan pandangan pada Hendra yang masih berdiri di pinggir brankar.
__ADS_1
"Sepertinya kerja sama kita tidak perlu dilanjutkan, karena sejak awal performa perusahaan Anda jauh di bawah standar." Timpal David dengan nada santai.
Hendra terlihat kalang kabut mendengarnya. Kini dirinya diambang kehancuran. Perusahaan David merupakan perusahaan terbesar, jika kerja samanya putus. Itu artinya perusahaan lain juga akan memutuskan hubungan kerja sama dengannya.
"Mr. Lander, sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Saya akan menjelaskan semuanya." Hendra berjalan capat untuk menghampiri David.
"Terima kasih atas penjelasannya, Tuan Hermawan. Saya harus segera pergi, urus kekasih Anda dan jangan sampai dia menjerat lelaki lain untuk bertanggung jawab atas kehamilannya. Selamat bersenang-senang." Pungkas David yang langsung beranjak pergi. Mengabaikan teriakan Nindy yang terus memanggil namanya. David sama sekali tak merasa kecewa, justru ia lega karena tak perlu bertanggung jawab atas anak itu. Namun dalam perasaan lega itu terselip rasa bersalah yang begitu besar pada sang istri. Ingin sekali rasanya ia memeluk Mey dan menjelaskan semuanya. Tetapi gadisnya itu entah pergi ke mana.
"Dad, Sasa perhatikan Daddy belum makan apa pun sejak kemarin. Kita makan dulu ya? Daddy udah kurusan tahu? Sasa gak suka liat Daddy kayak ini." Bujuk Tasya karena merasa iba dengan kondisi Daddynya saat ini. Seakan tak ada lagi kehidupan dalam diri David. Padahal baru seminggu lebih Mey pergi.
"Daddy gak selera makan. Daddy ke kamar dulu." David bangun dari duduknya dan beranjak menuju kamar. Sedangkan Tasya cuma bisa melihat kepergian Daddynya dengan tatapan sedih.
Lo kemana sih Mey? Gak biasanya lo merajuk gini. Andai lo liat kondisi Daddy, lo pasti bakal balik. Balik dong Mey, gw juga kangen elo. Semoga lo baik-baik aja di mana pun berada saat ini.
Tasya mengusap wajahnya dengan lembut. Ia benar-benar pusing memikirkan masalah keluarganya. Belum lagi masalah kuliahnya. Ia ragu untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri saat kondisinya seperti ini.
****
Sebuah mobil mewah berwarna merah memasuki sebuah villa berukuran besar yang terletak di daerah puncak. Tidak lama seorang lelaki tampan turun dari dalam mobil. Dan seorang wanita menyambutnya dengan senyuman hangat. Lelaki itu ikut tersenyum dan menghampirinya. Mengecup kening sang wanita dengan lembut.
"Kangen lo, yuk masuk. Di luar terlalu dingin buat lo." Ajak Alex menggenggam tangan Mey dan membawa masuk ke dalam villa. Meski hari mulai menjelang siang, tetapi kabut masih terlihat tebal dan suhu pun sangat dingin.
Ya, sudah hampir dua minggu Mey tinggal di villa milik keluraga Alex. Tempat yang jarang di datangi orang. Di sana hanya ada beberapa villa dan rumah dengan jarak yang lumayan jauh. Namun suasananya cukup nyaman. Karena villa berada di atas puncak yang dikelilingi kebun teh. Tentu saja Alex juga tinggal bersamanya, karena Alex tak mungkin membiarkan Mey tinggal sendirian.
"Gimana perkembangan pabrik hari ini?" Tanya Alex yang saat ini sudah duduk di sofa depan tv. Mey meletakkan secangkir teh di atas meja, kemudian duduk di samping Alex yang tengah menikmati tayangan televisi.
"Lumayan bagus, hari ini produksi teh meningkat lima persen." Jawab Mey ikut menyaksikan tayangan televisi yang tengah berlangsung.
Semenjak pindah ke puncak. Mey memegang tanggung jawab pabrik teh milik keluarga Alex. Sebenarnya Mey ingin mencari pekerjaan lain. Namun Alex terus memaksanya untuk menjadi pengawas pabrik. Supaya Mey tidak perlu capek ke sana ke mari. Tentu saja Mey menghargai keputusan Alex. Karena lelaki itu sudah banyak membantunya.
Alex memutar posisi duduknya menghadap Mey. "Oh iya, Mey. Lo kan hamil, kok gw gak pernah liat lo muntah-muntah atau ngidam gitu?" Tanya Alex penasaran.
Mey yang mendengar itu langsung menatap Alex. "Bener juga ya? Gw gak pernah ngerasain mual dan ngidam. Apa jangan-jangan gw gak hamil ya? Bisa aja dokter itu salah."
Alex yang mendengar itu langsung nyentil kening Mey. Membuat sang empu meringis kesakitan. "Terus hasil USG di kamar lo itu apa huh?"
__ADS_1
"Mungkin aja punya orang lain, kayak di film-film gitu." Sahut Mey ngasal. Alex yang mendengar itu tergelak.
"Ngaco lo mah, mana ada yang kayak gitu. Mungkin belum waktunya aja lo ngidam. Entar kalau lo ngidam, bilang aja sama gw. Lo mau apa pun bakal gw turutin." Ujar Alex seraya meraih tangan Mey. Mengusapnya dengan lembut.
"Okay, kalau gw ngidamnya pengen beli pesawat, lo bakal kabulin juga dong?" Gurau Mey terkekeh lucu.
"Kalau pesawat gw nyerah, belum punya privat airport soalnya." Sahut Alex ikut tertawa.
"Lagian gw juga becanda. Btw, habis makan siang kita jalan-jalan yuk? Gw bosan di villa terus."
"Boleh, mau kemana emang?"
"Jalan-jalan di sini aja, gw belum liat perkampungan di bawah itu. Oh iya? Villa di seberang sana punya siapa ya? Bagus banget bangunannya."
"Entah, mingkin punya orang-orang kaya di luar sana. Mau cobak liat-liat ke sana?"
Mey pun mengangguk antusias.
"Okay, gw ganti baju dulu. Habis itu kita makan dan langsung go."
"Okay."
Kini Mey dan Alex sudah berada di tengah-tengah perkebunan teh. Mey terlihat menikmati waktunya saat ini.
"Udah deket villanya, gila bagus banget kalau dari deket." Pekik Mey sedikit berlari menyusuri jalanan setapak menuju villa itu. Sebenarnya Villa itu lebih cocok disebut dengan istana karena benar-benar megah.
"Mey, jangan lari tar lo jatuh." Teriak Alex menyusul Mey yang sudah lumayan jauh terpisah dengannya.
"Kak, fotoin gw dong di depan sini." Pinta Mey saat mereka sudah berdiri di depan gerbang bercat gold itu. Dengan senang hati Alex mengeluarkan ponselnya dan memotret Mey yang sejak tadi sudah bergaya.
"Satu... dua...." Alex menghentikan hitungannya saat melihat seseorang keluar dari pintu kecil gerbang.
"Kenapa?" Tanya Mey bingung. Kemudian ia pun berbalik untuk mengikuti arah pandangan Alex. Mendadak tubuhnya terpaku saat melihat orang yang saat ini berdiri di depannya. Begitu pun sebaliknya.
"Mey."
__ADS_1