Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 71


__ADS_3

Mey tidur dengan posisi membelakangi David. Sejak tadi ia sama sekali tak bisa memejamkan mata. Banyak yang sedang ia pikirkan saat ini.


"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya David menatap punggung Mey. Namun wanita itu masih saja diam. "Aku juga gak bisa tidur."


Mey menatap dinding kayu dari balik kelambu. Mulutnya masih terkatup rapat seolah enggan untuk bicara.


"Aku tahu kamu masih marah sama aku, tapi mau sampai kapan, Mey? Aku gak bisa kamu diamin terus."


"Jangan berisik, Noah bisa bangun." Sahut Mey sedikit berbisik.


David menatap putra kecilnya yang terlelap karena posisi Noah berada di antara mereka.


"Noah masih nyenyak tidurnya. Aku gak bisa tudur, Mey. Di sini panas." David bangun dari tidurnya. Ia tak berbohong jika dirinya kepanasan. Ia tak terbiasa tidur tanpa AC, bahkan kipas pun tidak ada di sana.


"Aku gak minta kamu tidur di sini. Kalau gak betah pulang aja ke rumah kamu."


"Aku gak akan pulang sampe kamu mau ikut pulang." David turun dari ranjang dan beranjak keluar. Mey pun membalikkan tubuhnya.


"Mau kemana?"


"Keluar, mungkin di luar ada angin." Sahut David benar-benar meninggalkan kamar. Mey menghela napas gusar, lalu ikut bangkit dari pembaringan. Menyusul sang suami keluar.


Kini David duduk di teras depan, menatap rumah tetangga dibalik cahaya temaram. Tidak lama Mey pun muncul dengan secangkir teh yang masih mengeluarkan uap panas. Meletakkan itu di meja kayu. Kemudian ia pun ikut duduk di sebelah sang suami.


"Besok kita pulang." Mey pun memulai pembicaraan. Dan itu berhasil membuat David kaget.


"Jadi kamu mau pulang sama aku? Pulang ke rumah kita?"


Mey mengangguk kecil. "Aku udah maafin kamu."


David tersenyum bahagia mendengarnya. "Makasih, Sayang." Ia meraih tangan sang istri dan menggenggamnya dengan erat.


"Aku udah mikirin semuanya. Gak ada guna aku marah terus sama kamu, toh semuanya udah terjadi." Ujar Mey dengan tatapan lurus ke depan.


David menoleh, kemudian menghela napas panjang. "Aku minta maaf buat semua rasa sakit yang terus aku torehkan buat kamu. Aku emang gak pantes jadi suami yang baik buat kamu. Bukan sekali dua kali aku nyakitin kamu, Mey. Suami macam apa aku ini?"


Mey juga menoleh, menatap suaminya begitu dalam. Kemudian memeluk David dari samping. "Aku cinta banget sama kamu, Mas. Sesakit apa pun luka yang kamu kasih, tetap aja aku gak bisa benci sama kamu. Maaf udah buat kamu tersiksa kayak gini."


David mengecup pucuk kepala Mey begitu dalam. Memeluk wanitanya itu dengan penuh kerinduan. "Aku pantes menderita, Mey. Apa yang aku rasakan gak sepahit yang kamu rasakan. Kalau bisa balik ke masa lalu, aku gak mau jadi lelaki nakal. Aku beneran nyesel, Mey."

__ADS_1


Mey mengeratkan pelukannya. "Aku gak mau tahu sama masa lalu kamu lagi. Sekarang aku mau jadi masa depan kamu sampai maut yang misahin kita. Maaf aku terlalu kekanakan dan selalu kabur-kaburan. Habis kamu sering banget buat ulah."


"Maaf." Lagi-lagi David memberikan kecupan di kepala Mey. "I love you so much."


"Mas, aku udah mutusin buat ngerawat Laura. Aku sadar, anak itu gak salah apa-apa. Dia berhak bahagia dan dapat pengakuan dari kamu. Besok kita jemput dia sebelum pulang ke rumah."


"Kamu yakin?"


"Iya, aku gak bisa egois, Mas. Gimana pun Laura itu darah daging kamu. Aku gak bisa ngebantah. Laura gak punya siapa-siapa, aku tahu gimana rasanya jadi Laura. Dia bakal hancur kalau kita biarin di panti asuhan sedangkan dia masih punya Daddy. Kita rawat dia sama-sama."


David benar-benar lega mendengar itu. "Makasih buat semuanya, Mey. Maaf kalau aku belum bisa jadi suami yang bertanggung jawab buat kamu."


"Kamu udah cukup bertanggung jawab, Mas. Aku juga minta maaf gak bisa jadi istri yang baik dan memahami kondisi kamu, mulai sekarang aku bakal nerima apa pun yang terjadi di masa lalu kamu. Aku tahu dalam menjalankan rumah tangga itu gak semudah membalikkan telapak tangan, akan banyak badai yang menghadang. Aku masih belum paham gimana caranya menepis semua badai itu, tapi sekarang aku bakal belajar dari apa yang udah terjadi. Aku harap kedepannya kita bisa lewatin semuanya sama-sama."


David tersenyum senang mendengar itu. Setidaknya ia benar-benar lega karena istrinya mulai berpikir dewasa. Ia tahu istrinya itu masih sangat labil. Di usia Mey saat ini belum sepatutnya menerima begitu banyak cobaan dalam berumah tangga.


"Aku juga akan belajar jadi suami yang bertanggung jawab dan selalu setia sama kamu, Mey. Kamu wanita pertama yang buat aku kayak orang gila."


"Walaupun aku jelek?"


"Itu dulu, sekarang kamu cantik banget. Aku aja gak bisa berpaling. Satu bulan jauh dari kamu rasanya kayak sepuluh tahun, Mey. Aku kesiksa banget."


"Salah kamu gak mau bujuk aku, padahal aku nunggu kamu di sini. Tapi kamu gak pernah hubungin aku sekali pun."


"Aku gak percaya."


"Kalau gitu coba aja pergi lagi, mungkin ini terakhir kalinya kamu liat aku bernapas."


"Gak mau, aku belum siap kehilangan kamu. Aku gak punya siapa-siapa selain kamu sama Tasya. Gak kebayang kalau kamu pergi, Mas."


"Jangan pergi lagi, aku gak bisa jauh dari kamu. I love you."


"I love you to."


****


Menjelang siang, David memboyong istrinya ke kota. Sebelum pulang, mereka pun menjemput Laura lebih dulu di tempat penitipan anak. Namun keduanya cukup kaget karena Laura jatuh sakit.


"Saya sudah mencoba hubungin Pak David, tapi tidak bisa." Ujar sang pemilik yayasan.

__ADS_1


"Maaf, sepertinya ponsel saya mati. Saya akan bawa anak saya ke rumah sakit. Terima kasih sudah menjaga Laura." Jawab David dengan Laura dalam gendongannya.


Setelah berpamitan, mereka pun segera membawa Laura ke rumah sakit karena anak itu mengalami demam tinggi. Dokter mengatakan Laura terkena demam berdarah. Dan itu membuat Mey syok. Perasaan bersalah pun mulai menyelimuti hatinya. Mey terus menangis dalam dekapan sang suami.


Tasya dan Alex pun hadir di sana karena mendapat kabar dari Mey. Dan kini Noah berada dalam gendongan Tasya. Anak itu tertidur begitu pulas.


"Ini salah aku, Mas. Andai aku gak egois, Laura gak akan ngalamin hal ini. Aku jahat banget, padahal aku juga seorang Ibu."


"Kamu gak salah, gak ada yang tahu semua ini akan terjadi. Ini bukan saatnya buat saling salah menyalahkan, sayang."


"Daddy bener, Mey. Sekarang kita cuma bisa berdoa supaya Laura baik-baik aja. Gw yakin dia anak yang kuat. Dia bisa lewatin semuanya."


Mey mengangguk kecil dalam dekapan David.


"Mey, gw bawa Noah pulang ya? Gak baik dia di sini. Lo sama Daddy gak usah mikirin Noah, fokus ke Laura aja dulu. Noah biar sama kita." Ujar Tasya.


"Makasih, Sya. Kalau Noah nangis, kabarin gw ya?"


"Okay. Gw pulang dulu, kasian Noah."


Mey pun mengangguk sebgai jawaban.


"Ayok." Ajak Tasya pada sang suami. Lalu keduanya pun beranjak pergi dari sana. Meninggalkan David dan Mey yang masih menunggu dokter yang menangani Laura keluar.


Mey menatap tubuh kecil Laura yang terbaring lemah di atas brankar. Gadis kecil itu terlihat kurus dari sebelumnya. Dan itu membuat hati Mey terenyuh. Mey duduk di sisi brankar, meraih tangan mungil Laura dengan lembut. Kemudian memberikan kecupan hangat.


"Maafin Aunty, Sayang. Gara-gara Aunty kamu jadi terlantar dan sakit gini." Mey kembali menangis karena tak kuasa menahan kesedihan. "Maafin, Aunty."


David yang melihat itu tak bisa memberikan komentar. Ia hanya bisa mengusap pundak istrinya, memberikan kekuatan.


"Mas, dulu Laura gak sekurus ini. Apa dia gak makan selahap dulu?"


"Aku juga gak tahu, Sayang. Aku gak pernah cari tahu kondisinya. Aku Daddy yang jahat buat Laura."


"Kita sama-sama salah di sini. Aku gak tahu Laura mau maafin aku atau enggak."


"Dia anak yang baik, pasti mau maafin kita."


"Aku harap gitu, Mas. Mulai sekarang aku bakal anggap Laura seperti anak sendiri. Aku gak mau liat dia kayak gini lagi, Mas. Aku gak mau."

__ADS_1


David mengusap lembut rambut Mey. Sedangkan Mey terus menatap wajah pucat Laura.


"Sayang, kamu dengar Mommy kan? Laura jangan takut lagi, Mommy di sini buat Laura." Mey mengecup kening Laura dengan penuh kasih sayang. Berharap anak itu segera sadar dan kembali ceria seperti sebelumnya.


__ADS_2