Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 44


__ADS_3

Mey keluar dari kamar menjelang siang, hujan di luar pun mulai reda. Menyisakan rintik-rintik halus. Ibu hamil yang satu itu merasa sangat lapar dan berjalan pasti menuju dapur. Berniat untuk membuat sarapan pagi.


Tiga puluh menit kemudian, sudah ada empat piring nasi goreng di atas meja makan. Aroma nasi goreng menyeruak masuk melalui indra penciuman David yang masih bergelut dibawah selimut. Lelaki itu bangun dari tidurnya dan melihat sang istri tak ada lagi disisinya. David tersenyum, kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa peluh.


"Morning." Sapa Tasya langsung duduk di kursi makan.


"Ini udah mau siang, Sya." Sahut Mey meletakkan ceret berisi susu hangat.


"Di luar masih gelap."


"Namanya juga ujan." Kata Mey ikut duduk di samping Tasya. "Oh iya, ada liat Kak Alex gak?" Tanya Mey saat tak melihat keberadaan lelaki itu. Setahu Mey Alex tidak pulang semalam.


"Gak tahu." Jawab Tasya ketus. Mey menatap Tasya heran, kemudian menangkap sesuatu yang aneh dari gadis itu. Mata Tasya bengkak dan sembab, seperti orang yang habis menangis semalaman.


"Lo habis nangis?" Tanya Mey menarik dagu Tasya. Dan itu membuat Tasya kaget dan langsung menggeleng. Menjauhkan tangan Mey dari dagunya.


"Kenapa huh? Ngomong sama gw kalau ada masalah. Gw tahu lo lagi gak baik-baik aja." Pinta Mey menatap Tasya serius.


"Gw gak papa, malam tadi nonton drakor." Bohong Tasya yang kemudian langsung melahap nasi goreng buatan Mamudnya.


"Owh, gw kira kenapa tadi? Oh iya, dari semalam gw penasaran. Itu di lemari kabinet kok ada susu hamil ya? Punya siapa? Sebelumnya pernah ada orang ke sini ya?" Tanya Mey ikut menyantap nasgor dengan lahap.


Hampir saja Tasya tersedak karena kaget, beruntung ia bisa mengontrol rasa kagetnya. "Bisa jadi, kadang keluarga besar dari Belgia ada yang ke sini. Mereka udab biasa datang ke sini." Jawab Tasya asal.


"Owh." Sahut Mey tidak ingin tahu lebih banyak. Tentu saja Tasya bersyukur akan hal itu.


"Siang, Sayang." Sapa David yang baru bergabung. Lelaki itu sudah terlihat segar dengan kaus putih dan celana jogernya. Sebelum duduk, ia mengecup pucuk kepala dua wanita kesayangannya.


"Udah sembuh aja kayaknya? Tukang servisnya balik mah langsung bugar." Ledek Tasya tersenyum geli.


"Ck, lanjut aja makannya. Jangan ikut campur urusan orang tua." Protes Mey yang sedang tak ada mood membahas masalah dewasa.


"Iya deh orang tua." Pasrah Tasya kembali melahap makanannya.


"Loh, ini orangnya ke mana?" Tanya David saat melihat kursi di sebelahnya masih kosong. Sedangkan sepiring nasi goreng itu masih utuh.


"Itu yang Mey tanya, dari tadi gak keliatan batang idungnya. Kayaknya udah balik ke villa. Gak papa, tar Mey yang antar sarapan ke sana." Jawab Mey dengan tulus. David cuma mengangguk pasrah.


Tasya menoleh ke arah Mey, menatapnya penuh arti.


"Kok bisa lo sama Kak Alex, Mey? Jadi selama ini lo tinggal seatap sama dia?" Tanya Tasya penuh selidik. Mey yang ditanya seperti itu langsung menatap David dan Tasya bergantian.


"Gw gak sengaja ketemu dia di rumah sakit saat itu, jadi gw minta dia bawa gw pergi. Saat itu gw gak bisa mikir apa-apa. Kak Alex bawa gw ke sini dan kita tinggal di sini." Jelas Mey apa adanya.


"Terus kalian tinggal seatap gitu? Lo kan tahu kalo elo udah punya suami? Atau lo ada rencana kawin lari sama dia huh?" Tasya mendadak emosi. Tentu saja Mey kaget.


"Sya, gw...."


"Pantes aja lo betah di sini, ternyata ada cowok yang manja elo tiap hari. Sampe lo lupain kita yang udah kayak orang gila nyariin elo." Mey tersentak kaget saat Tasya membanting sendoknya dengan kasar.


"Sasa!" Bentak David tak suka dengan sikap putrinya.


"Ya, Daddy juga sama aja. Gak ada yang ngertiin perasaan Sasa." Hardik Tasya yang langsung beranjak pergi dari sana.


"Sya." Panggil Mey masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Kenapa dengan anak itu?" Tanya David yang juga bingung dengan sikap aneh Tasya.


"Biar Mey ngomong sama Tasya, Mas lanjut aja makannya." Mey bangkit dari duduknya yang kemudian menyusul sahabatnya. Ia tahu ada sesuatu yang tengah Tasya pikul. Tasya tidak pernah bersikap aneh seperti ini sebelumnya.


Mey membuka pintu kamar Tasya perlahan dan ia pun masuk ke sana tanpa ragu. Kening Mey mengerut saat melihat Tasya meringkuk membelakanginya. Punggungnya juga bergetar, menandakan Tasya sedang menangis.


"Sya." Panggil Mey duduk di bibir ranjang besar itu. Namun Tasya masih bergeming. "Lo kenapa? Cerita yuk sama gw, gw bingung kalau elo gak ngomong. Lo lagi PMS ya?"


Tasya berbalik, kemudian bangun dari posisinya. Kini tangisan gadis itu pun pecah. Sontak Mey kaget dan langsung menarik Tasya dalam dekapannya. Ia membiarkan sahabatnya itu menumpahkan semuanya lebih dulu. Dan akan bertanya setelah Tasya jauh lebih tenang.


"Gw minta maaf, gw gak ada maksud buat bentak elo, Mey. Tadi gw mendadak emosi. Gw minta maaf." Ucap Tasya memeluk Mey dengan erat.


"Gw sama sakali gak marah, Sya." Balas Mey mengelus punggung Tasya.


"Gw udah nagtain elo, Mey. Lo gak pantes meluk gw kayak gini." Timpal Tasya sedegukkan.

__ADS_1


"Ngomong apa sih?" Mey menghela napas berat. Ia semakin bingung dengan sikap Tasya.


"Mey, gw... gw... hoek...." Tasya mendorong Mey dan lansung berlari menuju kamar mandi saat sesuatu bergejolak hebat diperutnya.


"Sya." Mey pun mengekori gadis itu ke sana.


Hoek


Tasya mengeluarkan semua makanan yang ada diperutnya dalam wastafle. Mey yang melihat itu kaget bukan main.


"Lo sakit, Sya?" Mey memijat tengkuk Tasya dengan lembut. Tasya mengangkat sebelah tangannya agar Mey menjauh. Ia tidak mau Mey melihat hal menjijikan itu.


Hoek


Lagi-lagi Tasya mengeluarkan semua sisa isi perutnya. Tubuh gadis itu lemas seketika. Mey merasa tak tega dan masih setia menemaninya, mengusap punggung sahabatnya dengan lembut.


"Kita ke dokter ya? Kayaknya elo masuk angin. Musim ujan gini emang rawan sakit."


Tasya terdiam beberapa saat untuk memastikan perutnya tidak mual lagi. Setelah di rasa aman, ia membasuh mulut dan wajahnya. Kemudian berbalik menghadap Mey. Matanya terlihat sayu.


"Mey, apa pun yang terjadi sama gw. Tolong jangan benci gw ya?" Tasya memeluk Mey dengan lembut. Membuat Mey lagi-lagi bingung.


"Ck, lo aneh banget sih hari ini. Jangan buat gw khawatir dong." Ucap Mey mengusap punggung Tasya.


"Tolong jangan benci gw."


"Sya, siapa juga yang mau benci elo? Aneh banget sih."


"Gw mau ke kamar lagi, Mey."


"Ya udah, ayok." Ajak Mey memapah Tasya keluar dari kamar mandi. Membawanya duduk di tepi ranjang.


"Pake minyak kayu putih dulu deh, lo ada bawa kan?"


"Enggak, gw mual kalau nyium yang kayak gituan."


"Hah? Kok bisa? Lo kan biasanya pake itu abis mandi."


"Gw gak punya alasan buat marah sama elo. Lagian kita udah janji apa pun yang terjadi. Kita akan lewatin semuanya sama-sama, lo masih ingat kan?"


Tasya mengangguk antusias, kemudian menggenggam tangan Mey begitu erat. "Sebelum gw ngomong jujur, gw minta maaf sama elo soal tadi. Gw beneran gak ada maksud buat nyakitin hati elo. Gw gak tahu kenapa jadi emosian gini."


Mey tersenyum dan mengusap air mata yang mentes di pipi sahabatnya. "Itu udah lewat, lupain aja. Sekarang apa yang mau lo ceritain sama gw hm?"


"Lo baik benget, Mey. Beruntung gw punya Emak tiri kayak elo."


"Ck, jangan buat gw penasaran terus, Sya." Geram Mey karena Tasya tak kunjung bicara tentang masalahnya.


Tasya tersenyum geli. "Maaf. Tapi lo janji kan gak akan marah dan ninggalin gw?"


"Gw janji gak akan marah dan nerima apa pun yang elo sampein. Ayok buruan ngomong, gak sabar gw."


"Ck, dasar Mamud. Gw cuma mau bilang... kalau gw...." Tasya sengaja menjeda ucapannya. Ia masih berat mengatakan kebenarannya pada sahabatnya, takut Mey marah atau kecewa. Tasya tahu apa yang terjadi padanya saat ini sudah pasti membuat semua orang kecewa.


"Gw apa?" Mey menggoyangkan tangan Tasya karena sudah tidak sabar lagi.


"Gw hamil, Mey."


Mey langsung terdiam. Namun sedetik kemudian ia tertawa kencang. Tasya yang melihat itu merasa heran.


"Aduh, lo becandanya kelewatan, Sya." Mey masih tertawa geli.


"Gw gak becanda, gw beneran hamil." Tegas Tasya yang berhasil membuat Mey kembali diam. Mencoba mencerna kata hamil yang dimaksud Tasya.


"Lo... hamil? Ada anak dalam perut elo?" Tanya Mey mendadak bego. Tasya mengangguk kencang.


"Udah jalan lima minggu kalau dihitung dari HPHT gw."


"Hah?" Pekik Mey kaget dan langsung bangun dari posisinya. "Maksud lo, lo beneran hamil?"


Tasya menunduk lemas. "Gw aib, Mey."

__ADS_1


Mey mengusap wajahnya kasar. "Gimana caranya lo bisa hamil? Siapa bapaknya, Sya? Ya Allah." Mey menjatuhkan bokongnya kembali di ranjang. Ia masih syok dengan kenyataan yang diterimanya.


"Terus Bapak anak itu tahu soal ini?" Tanya Mey lagi. Tasya menatap Mey dengan raut takut.


"Udah, tapi dia gak mau nerima anak ini. Dia bilang anak ini anak haram, dia bukan anak haram kan Mey? Dia bersih, gak berdosa. Gw yang berdosa di sini." Tangisan Tasya kembali pecah. Mey menghela napas gusar, lalu menarik Tasya dalam pelukkannya.


"Dia bukan anak haram, Mey. Gw sakit pas dia bilang anak ini anak haram. Dia juga minta gw gugurin anak ini."


Hati Mey teriris saat mendengar itu. "Siapa cowok brengsek itu Sya?"


Tasya diam dan tak berniat untuk menjawab. "Kenapa lo diam? Apa gw kenal orangnya? Gw bisa habisin dia sekarang juga. Tapi cerita sama gw gimana ceritanya lo bisa sampe hamil. Jangan bilang lo udah gak tahan karena kebanyakan baca novel dewasa, terus lo cari cowok sembarangan dan lampiasin itu sama dia."


"Ck, enggak lah Mey. Gw masih waras dan gak mungkin lakuin hal sebodoh itu. Ini kecelakaan." Jawab Tasya menarik diri dari dekapan Mey.


"Okay, gw percaya sama elo. Terus siapa Bapak dia huh?"


Tasya menggeleng. "Gw gak mau kasih tahu elo. Karena gw tahu lo bakal hajar dia, gw gak mau itu terjadi."


"Dia pantes dapat pelajaran dari gw, brengsek banget dia udah nanam ****** malah gak mau tanggung jawab." Omel Mey penuh emosi.


"Dia mabok pas buat itu."


"Hah? Gila lo?" Kaget Mey.


"Ini salah gw." Tasya pun mulai menceritakan semua kejadianya tanpa mengungkap nama si pelaku. Ia tahu Mey akan marah besar jika tahu anak itu milik Alex.


Mey memeluk Tasya setelah mendengar semua kejadian yang menimpa sahabatnya itu. "Kenapa lo gak bilang sama gw saat itu juga huh? Kenapa lo simpen sendiri beban segede ini, Sya?"


"Karena gw takut lo marah, selama ini lo selalu jaga gw dari cowok-cowok gatel. Tapi gw malah nyerahin diri sama cowok itu. Padahal gw tahu cowok itu cinta mati sama cewek lain."


"Apa gw kenal orangnya, Sya? Lo harus jawab jujur. Lo gak pernah bilang sama gw kalau elo suka sama salah satu cowok yang gw kenal."


"Tapi janji jangan marahin dia atau lo hajar dia ya?"


"Gw gak janji kalau masalah itu."


"Please, Mey."


"Ngapain lo masih belain dia setelah dia nyampakin lo kayak gini? Kalau dia emang cowok yang baik, dia bakal tanggung jawab." Kesal Mey mulai tersulut emosi.


"Kayak yang gw bilang tadi, dia masih cinta mati sama elo, Mey."


Deg! Tasya langsung menutup mulutnya karena kecepolosan. Mey yang mendengar itu memberikan tatapan tajam pada Tasya.


Ck, kenapa mulut gw gak bisa di rem sih? Gimana dong sekarang? Gw yakin Mey bakal ngamuk dan hajar Kak Alex.


"Maksud elo? Cowok itu cinta sama gw?" Mey mencoba untuk mencerna semuanya. Namun matanya langsung melotot karena sudah bisa menebak siapa cowok brengsek yang Tasya maksud.


Mampus gw. Mey kayaknya langsung tahu siapa cowok itu.


"Kenapa lo sembunyuiin ini, Tasya?" Geram Mey bangun dari posisinya.


Tasya yang panik pun ikut bangun dari posisinya. "Mey, Mey... lo harus dengerin gw dulu. Tolong jangan ngomong apa pun sama dia. Gw... gw udah bilang sama dia kalau gw bakal rawat anak ini sendirian."


"Lo kira gampang rawat anak sendirian, Sya? Lo kira mudah punya anak tanpa Bapak? Seharusnya lo mikirin nasib anak itu nantinya. Dia pasti bakal tanya siapa Bapak dia. Terus apa yang bakal lo jawab huh?"


"Mey, gw bisa pikirin itu nanti. Tolong jangan ganggu dia lagi. Gw mohon."


"Gak bisa, Sya. Dia harus tanggung jawab."


"Dia gak akan mau, Mey! Malam tadi gw baru ngomong sama dia. Dia gak mau anak ini, dia gak mau, Mey." Tubuh Tasya ambruk ke lantai. "Gw mohon, biarin gw rawat anak ini sendiri."


"Gimana sama Daddy lo, Sya? Apa dia tahu?"


Tasya langsung mendongak. "Daddy gak boleh tahu dulu, gw bisa mati, Mey."


"Mau sampe kapan? Sampe perut lo gede baru lo bilang sama Daddy lo huh? Sekarang anggap aja gw Nyokap elo, gw yang akan bantu lo ngomong."


"Mey."


"Ikut gw sekarang."

__ADS_1


__ADS_2