
Happy reading everyone...
...🍁🍁🍁...
"Mas. Mey minta maaf." Mey terus membujuk suaminya yang sejak tadi tak mau bicara. Bahkan kali ini David memakai dasi sendiri, biasanya ia akan meminta Mey yang melakukan itu sambil mencuri kesempatan untuk menggerayangi tubuh seksi istrinya.
"Mey punya alasan kenapa sembunyiin ini semua, jangan diam gini dong." Mey mendekati David. Namun lelaki itu dengan sengaja menghindar. Menghampiri Noah yang tengah bermain sendiri di atas ranjang. Anak itu terbangun karena mendengar ocehan Momnynya.
"Ck, Mas. Mendingan kita berantem aja yuk dari pada kamu diem gini. Gak enak tahu." Mey menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang dengan bibir yang menyebik.
"Daddy kerja dulu, jangan nakal." David mencium Noah sebelum beranjak pergi dari kamar.
"Mas! Ih, jangan ngambek terus." Mey mengambil Noah dan langsung mengejar suaminya.
"Sayang, bujuk Daddy dong. Mommy bingung harus ngomong apa lagi? Daddy kamu kuat banget merajuknya." Ujar Mey berusaha menarik perhatian suaminya. Namun David masih acuh dan terus melangkah keluar dari rumah.
"Sayang, aku belum dapat ciuman loh." Seru Mey saat David sudah masuk ke dalam mobil. "Mas."
David melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah tanpa menoleh sedikit pun. Dan itu berhasil membuat Mey sedih. "Ck, ini semua salah Mommy, Sayang. Gak seharusnya Mommy sembunyiin apa pun. Sekarang gimana dong ceritanya?"
Noah berteriak kencang seakan mengerti perkataan Mommynya. "Ck, jangan marahin Mommy juga dong. Tar kita susul Daddy deh ke kantor pas jam makan siang. Kamu bantu Mommy bujuk Daddy ya?"
Lagi-lagi Noah berteriak seakan memberi jawaban. "Anak Mommy pinter banget sih? Beda emang kalau bibit unggul mah. Cepet gede ya? Biar Mommy bisa cetak bibit unggul lainnya, kan sayang kalau cuma hasilin kamu."
"Gagagaga...." oceh Noah yang berhasil mengundang tawa Mey.
"Kamu bilang enggak pun Mommy bakal tetap cetak adek buat kamu. Ayok masuk, kamu bau belum mandi." Ujar Mey bergegas masuk ke dalam. Namun sebelum masuk langkah Mey tertahan saat melihat sepasang manusia muncul sambil pegangan tangan.
"Eh, sajak kapan truk gandengan di jalan tol?" Ledek Mey menatap tangan Alex dan Tasya yang terpaut erat.
"Tolnya lagi rusak." Sahut Alex yang langsung menarik Tasya keluar rumah. Mengabaikan Emak satu anak dengan mulut ember itu.
"Woi, awas aja kalau besok gw denger King punya adek sebelum kalian nikah. Gw sunat burung lo, Lex."
"Aaaa...." teriak Noah.
"Tuh, anak gw aja ngerti."
"Berisik Mey, gw pergi dulu. Titip King ya, gw cuma satu jam kok." Seru Tasya yang dipaksa masuk ke mobil Alex.
"Eh, Gibran gimana? Dia mau jemput lo kan?"
"Dia lagi ada halangan, baru aja hubungin gw." Sahut Tasya sedikit berteriak karena mobil Alex terparkir di dekat gerbang.
"Jangan macem-macem kalian berdua. Dan lo Lex, Jangan cobak-cobak nyentuh anak gw. Abis lo, muka lo bakal lebih parah dari sekarang." Ancam Mey.
"Bababa...."
"Tuh denger, anak gw juga setuju."
"Iya Mamud, bawel banget. Dek jangan ikut Mommy dong, cerewet. By Mamud, jangan lupa liat-liat King ya?"
"Iya." Ketus Mey.
Alex pun menekan klakson sebelum meninggalkan pekarangan rumah.
...🍁🍁🍁...
"Ta... tatata...." Noah terus mengoceh sambil sesekali mengemut mainan ditangannya. Sedangkan Mey terlihat fokus mengenakan pakaian pada putra kecilnya itu.
"Cerewet banget sih anak Mommy, jangan ikut Mommy dong. Ikut Daddy aja kalem gitu. Kamu kan cowok, gak lucu kalau kamu cerewet." Protes Mey sembari mengusap bedak ke wajah putra kecilnya.
"Wah, kok jadi cemong gini sih anak Mommy?" Mey tertawa renyah. Kemudian mengambil ponselnya untuk mengambil gambar Noah. "Mommy kirim ke Daddy kamu deh. Biar dia senyum dikit."
"Mamamam." Noah mulai menggeliat dan merengek.
__ADS_1
"Uluh-uluh... udah mandi ngantuk ya? Mau ***** gak?" Mey berbaring miring di sisi Noah. Lalu memberikan asi pada bayi menggemaskan itu. Mey meraih tangan mungil Noah, mengigit lembut jemari mungil itu. Sedangkan sang empu begitu lahap menyedot asi. Namun tak kunjung tidur.
"Daddy kamu cuma read doang, Dek. Nyesek banget. Padahal masih online, chatan sama siapa Daddy kamu huh? Kita kerjain aja deh." Mey menekan panggilan video. Dan sedetik kemudian David menerima panggilan itu. Namun lelaki itu terlihat sibuk sendiri.
"Mas, online tapi gak bales chat aku. Lagi chatan sama siapa? Mantan? Atau pacar baru?" Mey mengerucutkan bibirnya.
David melirik ke layar hpnya sebentar, kemudian fokus kembali pada sesuatu yang ada di sana.
"Belum mau ngomong, Mas? Udah dong jangan lama-lama, gak tahan tahu dianggurin. Sayang, udahan yuk marahnya. Tar malam janji deh dikasih jatah sampe pagi." Mey masih berusaha membujuk suaminya. Dan lelaki itu masih setia dengan wajah datarnya.
"Aku bolos kuliah hari ini, kuy jalan-jalan siang. Makan di luar yuk Mas. Kita gak pernah duduk bertiga, mau ya? Nih Noah mau mengomong." Mey mengarahkan kameranya pada Noah yang masih mengempeng.
"Hiks... udah ya Mas? Kalau kamu marah terus aku ke sana sekarang nih. Aku bawa mobil sendiri." Ancam Mey yang berhasil mendapat perhatian David.
"Jangan macem-macem." David memperingati karena Mey sama sekali tak bisa menyetir.
"Kalau gitu jam makan siang jemput. Gak mau tahu, kalau gak jemput aku bawa mobil sendiri." Mey tersenyum samar.
"Hm."
"Hm apa nih?" Tanya Mey memicingkan matanya.
"Iya."
"Iya apa, Mas?"
David memelototi Mey dan itu membuat si empu tertawa riang.
"Jawab, iya sayang. Kan enak di dengarnya." Protes Mey sambil mengedipkan matanya. "Love you."
"Hm." Sahut David lagi.
"Ck, udah kayak Nissa Sabyan kamu mah. Besok ikut kontes deh."
"Iya deh, jangan lupa siang nanti. Gak jemput, mobil di garasi melucur nabrak pagar." Ancam Mey yang lagi-lagi mendapat tatapan membunuh dari suaminya. Sedangkan yang ditatap malah cengengesan gak jelas.
"Aku matiin ya? Love you, Baby." Mey pun langsung menekan tombol end. Kemudian ia tersenyum sendiri.
"Daddy kamu mah lucu, percaya aja Mommy mau bawa mobil sendiri. Yang ada ngusruk tu mobil mahal ke selokan."
Noah yang mendengar itu tersenyum lebar dengan mulut yang masih tersumpal gentong asi. "Ketawa lagi. Kok gak jadi bobok sih? Senang ya ngerjain Daddy? Mommy juga seneng." Mey mengecupi pipi gembul Noah dengan gemas.
"Udah belum nenennya? Ke kamar King dulu yuk? Kayaknya udah bangun tuh." Mey menarik gentong asinya dari mulut Noah. Membuat si empu tersenyum lebar.
"Doyan banget senyum, jadi tambah ganteng." Mey mencium kening Noah sebelum bangun dari posisinya. Lalu menggendong bayi mungil itu dan membawanya keluar.
Siang hari, David benar-benar menjemput Mey karena tak ingin ancaman wanita itu terjadi. Ia tahu istirnya itu super nekat. David menekan klakson untuk memanggil sang istri yang belum menampakkan diri. Tidak lama, Mey keluar dari rumah dengan Noah di gendongannya. Wanita itu selalu tampil sederhana, hanya mengenakan kemeja kebesaran dan celana jeans, tak lupa rambut pajangnya dikucir kuda.
Mey masuk ke dalam mobil dengah senyuman mengembang. "Yuk." Ajaknya seraya memasang seat belt.
Sebelum melajukan mobilnya, David mengecup Noah lebih dulu.
"Noah aja? Mommynya enggak?" Sindir Mey sambil menyebikkan bibirnya.
David menatap Mey sekilas, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Benar-benar mengabaikan Mey.
"Masih marah ya? Mey minta maaf, Mas. Mey serius deh gak ada maksud buat nyembunyiin semuanya. Tasya yang minta aku buat sembunyiin status Ayah King. Karena Tasya tahu kamu pasti bakal hajar dia habis-habisan. Kamu juga tahu kan Alex itu pewaris tunggal, dia punya entertaiment besar. Bisa kacau kalau orang tahu dia buat scandal. Mey tahu, gak seharusnya Mey sembunyiin apa pun dari kamu. Tapi posisinya beda, saat itu Tasya masih tertekan batin. Aku gak mau buat dia makin drop dalam keadaan hamil." Jelas Mey panjang lebar.
Mey menatap David yang masih diam. "Mey beneran minta maaf. Terserah kamu mau maafin Mey atau enggak. Yang jelas aku dan Tasya punya alasan kenapa sembunyiin masalah ini."
Terdengar suara David menghela napas berat. "Makan di mana?" Itu lah kata-kata pertama yang keluar dari bibir David. Namun kata-kata itu pula yang berhasil membuat Mey bernapas lega. Setidaknya David mulai bicara.
"Restoran Jepang yuk? Udah lama gak ke sana. Tarakhir kali itu pas hamil Noah tujuh bulan kalau gak salah." Mey tersenyum lebar.
"Hm."
__ADS_1
"Ih, jangan cuma hm dong, Mas. Yang mesra dikit." Rengek Mey seraya mencubit pipi suaminya.
"Aku masih marah."
"Ya udah marah aja, tapi pas di sana jangan marah lagi ya?"
"Mey!" David memperingati. Saat ini ia tak ingin mendengar candaan istrinya.
"Iya deh aku diam." Mey mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Memeluk putra kecilnya yang juga diam dengan bibir mayun. Noah benar-benar menggemaskan.
Sesampainya di restoran. Keduanya pun duduk di salah satu meja yang agak pojokan. Lalu seorang waiter perempuan pun menghampiri mereka.
"Mbak, shabu-shabunya sepaket ya. Tokoyakinya dua sama lemon tea dua. Kamu mau yang lain Mas?" Mey menatap suaminya. David menggeleng pelan.
"Udah, itu aja Mbak. Jangan lama ya?"
"Mohon di tunggu ya, Buk." Sahut sang waiter tersenyum ramah.
"Okay."
"Mas, gantian gendong Noah ya? Pegel. Anak kamu makin berat aja." Mey melepa gendongan lalu mengangkat Noah ke udara. Dengan sigap David menyambut putra kecilnya.
"Kenpa gak bawa strollernya?" Tanya David menatap Mey.
"Ribet, Mas." Jawab Mey sembari meregangkan ototnya yang kaku.
"Dev." Sapa seseorang yang berhasil menarik perhatian keduanya.
"Ingrid? Hey, sama siapa?" Tanya David antusias.
"Cuma sama Luna." Jawab wanita itu. Lalu Mey dan David pun langsung melempar pandangan pada gadis kecil yang terus melendot di kaki Ingrid.
"Salam sama Uncle dan Aunty, Sayang." Titah Ingrid. Gadis kecil itu begitu penurut, mencium tangan David dan Mey bergantian.
"Mimi, Luna mau dedek bayinya. Bawa pulang ya?"
Mey dan David yang mendengar itu tertawa renyah. "Gak boleh dong, Babynya punya Uncle. Kamu minta aja adik baru sama Mimi." Ujar David mengusap kepala gadis itu.
"Maaf, Luna emang seneng banget sama anak kecil." Ujar Ingrid tersenyum simpul.
"Mau gabung gak?" Tawar David. Mey yang mendengar itu langsung melayangkan tatapan tajam pada suaminya.
Kok malah ajak orang sih? Gw kan mau kencan ceritanya. Gak peka banget jadi suami.
"Meja kita cuma bisa nampung tiga orang, Mas. Kasian Luna kalau harus di pangku." Tolak Mey secara halus.
"Ah, istri kamu benar. Aku sama Luna duduk di tempat lain aja." Ujar Ingrid memahami situasi.
"Hm, aku setuju." Sambar Mey dengan entengnya. David langsung melayangkan tatapan tajam pada istrinya. Tak mau kalah, Mey pun ikut memelototi lelaki itu.
"Ya udah, aku ke sana dulu." Pamit Ingrid menatap Mey dan David bergantian.
"Okay, silakan." Sahut Mey dengan semangat. Kemudian wanita itu pun beranjak pergi dari sana.
"Ini bukan saatnya buat cemburu, Mey. Dia itu sahabat aku, udah lama kita gak ngobrol."
"Aku juga istri kamu, butuh waktu berdua buat ngobrol. Kalau ada dia kamu pasti kacangin aku kan? Bisa ketebak." Ketus Mey.
"Mey." David menatap istrinya tak suka.
"Ya udah, kalau mau ngobrol dan temu kangen. Sana ke meja mereka aja. Sini Noah sama aku." Mey mengulurkan tangannya meminta Noah.
"Gak perlu." Sahut David dengan nada datar.
Mey memutar bola matanya malas. Padahal ia sengaja mengajak David makan di luar untuk memperbaiki suasana. Dan sekarang semuanya semakin keruh. Pada akhirnya Mey memilih diam sembari menunggu pesanan mereka sampai. Dengan perasaan kesal tentunya.
__ADS_1