
Mey tersenyum lebar saat melihat dua garis merah yang muncul. Itu artinya dia memang positif hamil. Sebenarnya Mey belum mau cek, cuma desakan David dan Tasya membuatnya terpaksa cek juga.
Berbeda dengan Mey yang tersenyum bahagia, di luar Tasya dan David terlihat tegang. Sedangkan Alex terlihat santai sambil memperhatikan ayah dan anak yang super kompak. Mondar-mandir di depan kamar mandi karena menunggu Mey keluar.
Ceklek!
Pintu kamar mandi pun terbuka, menampakkan Mey dengan wajah sendu. Sontak David dan Tasya pun menghampirinya.
"Masih negatif, Mey?" Tanya David.
"Seriusan?" Tasya ikut menimpali.
Mey menghela napas berat, lalu di tatapnya sang suami lamat-lamat. "Kayaknya kamu herus lebih giat lagi usahanya."
David dan Tasya pun tampak kecewa.
"Iya, gak papa. Kita masih bisa usaha lagi buat dedeknya." Sahut David lemas.
Mey tersenyum geli. "Ih... aku bilang kamu harus lebih giat lagi usahanya, soalnya kita bakal nambah anggota lagi."
"Hah?" Kaget Tasya dan David bersamaan.
"Aku positif." Seru Mey menunjukkan hasil test packnya.
"Mey." Kesal Tasya memukul lengan Mamudnya. Mey pun tertawa penuh kemenangan karena berhasil mengerjai keduanya.
Sedangkan David masih saja bengong sambil memandangi test pack di tangan Mey.
"Mas." Tegur Mey karena David masih saja diam. Sontak lelaki itu tersadar dan langsung memeluk istrinya.
"Ah... makasih, Mey. Kamu selalu aja kasih kejutan bahagia buat keluarga kita. Aku janji, aku akan semakin giat kerjanya buat anak-anak kita dan juga kamu. Ya ampun, aku seneng banget, Mey. Sampe bingung mau bilang apa tadi."
Mey tersenyum dan membalas pelukan suaminya. "Mey juga bahagia Mas, udah lama Mey pengen hamil lagi. Baru sekarang Allah kabulkan."
David melerai pelukan mereka. Di tatapnya wajah cantik sang istri lamat-lamat. "Pokoknya kamu gak boleh capek-capek, gak ada manjat-manjat atau apalah itu yang bisa bahayain kamu dan calon anak kita. Kalau bisa kamu diam aja di kamar."
Mey memutar bola matanya malas. "Kan Mey juga bilang apa? Keluar deh sifat posesifnya."
Tasya tergelak mendengarnya. "Tapi kan lo juga seneng Mey kerjaan lo cuma dibelai doang. Paling kecapekan karena olahraga."
"Ih, dasar bumil mesum." Cibir Mey.
"Biarin aja, tapi senang lo kan?"
"Iya juga sih, hehe."
"Sayang, keluar yuk." Ajak Alex pada istrinya. Ia tahu Mey dan David butuh privasi. Jika menunggu istrinya peka sampai lebaran monyet pun pasti gak akan peka.
"Ayok, aku juga masih pengen jalan-jalan selagi masih pagi." Tasya pun menggandeng tangan suaminya. "Mey, gw pergi dulu ya mau pacaran. Tar kalau anak-anak bangun, bilang aja gw lagi keluar."
"Iya, bawel lo. Sana pergi, bosan juga gw liat muka lo."
"Ck, awas aja kalau lo bilang kangen sama gw."
"Udah ayok." Alex pun langsung menarik istrinya keluar dari kamar Mey dan David. Dan sekarang hanya ada mereka berdua di sana.
David mengusap pipi istrinya. "Kamu mau apa, sayang? Nanti aku beliin."
"Eh, enggak pengen apa-apa sih. Tapi agak aneh ya? Kok aku gak mual atau apa gitu, kamu juga enggak kan?"
"Iya sih. Mungkin aja belum."
"Apa jangan-jangan hasilnya salah?"
__ADS_1
"Gak mungkin salah, kamu merasa telat datang bulan gak?"
Mey tampak berpikir. "Kayaknya telat deh, Mas. Terakir Mey haid itu bulan lalu. Terus ini udah mau masuk bulan baru lagi. Itu artinya udah mau dua bulan Mey telat. Kok Mey gak sadar ya?"
"Kamu sih terlalu sibuk sama anak-anak, sampe lupa diri sendiri. Ya udah, supaya lebih yakin pulang dari sini kita ke dokter ya?"
Mey mengangguk patuh.
David meraih kedua tangan istrinya. Lalu mengecupnya dengan lembut. "Sayang, makasih banyak ya kamu udah mau nerima semua kekurangan aku, kenakalan aku. Bahkan kamu udah ngorbanin kebahagian kamu buat kami semua. Aku merasa beruntung ketemu dan bisa jadiin kamu istri aku. Bahkan kamu bisa nerima Laura meski dia bukan anak kamu. Aku laki-laki beruntung bisa memiliki kamu, Mey."
Mey tersenyum haru. "Sama-sama, Mas. Mey juga mau berterima kasih karena Mas udah mau nerima Mey yang serba kekurangan ini. Kadang Mey juga kekanakan, bikin kamu kesel, Mey minta maaf ya? Mey cinta sama kamu, Mas."
David mengecup kening Mey dengan mesra. "Aku juga cinta sama kamu, Mey. Kamu perempuan yang berhasil ngerubah aku jadi pribadi yang lebih baik. Aku janji, aku gak akan pernah berpaling sama wanita mana pun, karena aku udah ngunci hati cuma buat kamu."
Mey langsung memeluk David. "Aku percaya sama kamu, Mas. Selama ini kamu udah buktiin itu."
David melerai pelukan. Ditatapanya wajah cantik Mey dengan tatapan memuja. "Jadi bulan madu kita gagal nih?"
"Mas! Orang lagi haru-harunya juga ih. Buyar deh semuanya." Kesal Mey kembali memeluk suaminya.
David tertawa renyah. "Bercanda, sayang. Aku gak mungkin memforsir kamu apa lagi kamu lagi hamil gini. Kecuali kamu yang minta."
"Emang tahan, Mas?"
"Ya tahan gak tahan sih."
"Ck, gak tulus kamu mah." Mey mengangkat wajahnya sehingga ia bisa melihat wajah tampan sang suami. "Kamu makin tua makin ganteng aja, Mas. Pesona bule mah emang beda ya?"
"Kamu juga makin gemesin. Jadi pengen cium terus." David mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Dan keduanya pun terhanyut dalam ciuman panas dan mesra.
"Mommy, Daddy!" Pekik Laura yang berhasil membuat Mey dan David pencar. Sontak Mey pun melihat ke arah pintu. Di mana Laura berdiri di sana bersama sang adik. Dan tangan Laura terlihat sengaja menutupi mata adiknya itu.
"Kakak, kenapa mata aku ditutup?" Tanya si kecil Noah.
Laura menjauhkan tangannya dari Noah. "Mommy, Daddy, Aura kan udah bilang. Kunci pintunya kalau mau mesra-mesraan. Gimana kalau adik lihat?"
"Tapi kamu lihat, sayang." Sahut David memutar bola matanya malas.
"Aura kan gak sengaja, Daddy." Kesal Laura melipat kedua tangannya di dada dengan pipi mengembung seperti ikan buntal.
"Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk, Aura." Mey memberi nasihat.
Dan gadis cantik itu pun menghela napas pasrah. "Ya udah, Aura minta maaf. Adek pengen main laut lagi katanya. Bangun tidur minta di antar ke sini."
Mey pun mengalihkan perhatian pada putra kecilnya yang terus memberikan tatapan polos.
"Noah boleh main lagi kan, Mom, Dad?"
Mey tersenyum yang disusul dengan anggukan kecil. "Tapi sarapan dulu ya? Mommy gak mau kalian sakit perut."
"Yey! Iya, Mommy." Sahut Noah kegirangan.
"Ya udah, bawa adek ke ruang kemarin ya?"
"Iya, Mom."
"Oh iya, ajak King dan juga Queen sekalian buat sarapan."
Laura pun mengangguk patuh. Lalu ia pun membawa sang adik pergi dari sana. Mey yang melihat itu tersenyum lega. Sikap dewasa Laura membuatnya lega.
"Aku juga lapar, lapar belaian." Bisik David. Sontak Mey pun memekik kesal.
"Mas!"
__ADS_1
****
Di bibir pantai, Tasya dan Alex terlihat begitu mesra. Menikmati indahnya pagi bersama hembusan angin dan deburan ombak yang tenang. Menyaksikan sang mentari yang tengah malu-malu memperlihatkan diri.
"Kamu tahu? Dulu aku pikir kita gak akan bisa kayak gini. Apa lagi lihat sifat kamu yang kayaknya benci banget sama aku, Kak. Rasanya buat ngomong atau ketemu kamu aja sulit. Apa lagi kamu cinta mati sama Mey. Tapi Allah itu adil kan? Dia mutar hati kamu sepenuhnya buat aku. Aku bersyukur banget. Bahkan sekarang aku bisa meluk kamu sampai puas. Dan sekarang anak ketiga kita udah mau hadir di antara kita." Ujar Tasya panjang lebar sembari mengusap perutnya yang sudah membuncit.
Alex mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut. "Makasih udah sabar nunggu aku, Sya. Mungkin dulu aku memang brengsek, gak tanggung jawab, jahat. Tapi sejak aku mutusin buat jadiin kamu istriku, aku bertekad untuk berubah dan menerima takdir. Makasih buat semua kebahagian yang kamu berikan, kamu juga berhasil nyatuin aku sama Papa yang dari dulu gak pernah akur. Aku beruntung punya kamu, Sya. Gak akan aku lepas meski dibayar pake apa pun. I love you, my wife."
Tasya semakin mengeratkan pelukannya pada Alex. "Love you too, my hubby. Aku janji akan selalu jadi istri yang nurut dan patuh sama suami. Ah... mudah-mudahan kita bisa gini terus sampe nenek kakek ya? Lihat anak-anak dewasa, nikah terus kita punya cucu. Kayaknya itu kebahagiaan yang paling dinantikan semua orang."
Alex tersenyum tulus. "Kita lewati semuanya sama-sama. Dan kubur semua masa lalu. Saatnya merajut masa depan bareng anak-anak."
Tasya mengangguk. Dan keduanya pun saling melempar pandangan. Lalu bibir mereka pun perlahan bertemu. Kecupan demi kecupan pun berubah menjadi l*m*t*n lembut.
"Woi." Teriak seseorang yang berhasil mengejutkan Alex dan Tasya. Refleks keduanya menoleh bersamaan.
"Gibran?" Pekik keduanya kompak.
Ya, tidak jauh dari sana terlihat Gibran berjalan mendekat bersama Caca. Juga seorang balita cantik dalam gendongannya.
"Kalian juga di sini?" Tasya menatap keduanya tak percaya.
"Iya dong, kita juga mau liburan. Liburan pertama buat Bintang." Ujar Gibran mengecup pipi gembul putri pertamanya.
"Di mana Mey?" Tanya Caca.
"Kayaknya masih mesra-mesraan di risort sama bokap." Jawab Tasya bangkit dari posisinya dan meminta Bintang dari Gibran.
"Duh... udah lama gak ketemu. Makin cantik aja sih." Tasya mencium pipi Bintang dengan hati-hati.
"Perut lo udah gede aja, Sya. Berapa bulan?"
"Enam." Jawab Alex.
"Dih... doyan amat beranak lo, Sya. Si Mey aja baru satu. Lah elo udah tiga." Celetuk Gibran yang berhasil mendapat pukulan kecil dari istrinya.
"Sayang, gak berubah ih."
"Kamu kayak baru kenal aku aja." Gibran mengecup pipi Caca gemas. Mmebuat ibu satu anak itu tersenyum malu.
Tidak lama Mey nongol bareng anak-anak. Sontak semua mata pun tertuju ke arah mereka.
"Wih... ngasuh lo, Mey?" Tanya Gibran. "Ngelunjak si Tasya, dia di sini pacaran. Anak-anak lo suruh Mey yang jaga. Wah... kuwalat lo, Sya."
"Ih... berisik banget lo, Gib. Kapan lagi gw bisa pacaran cobak. Selagi ada Mamud kenapa enggak? Iya kan, Mud?"
"Ngomong apa sih? Gak denger gw." Gurau Mey.
"Mana Daddy?" Tanya Tasya lagi.
"Katanya ada urusan bentar." Jawab Mey apa adanya.
"Wah, hati-hati, Mey. Kadang suami lo selingkuh lagi. Di sini kan banyak turis. Awas kepincut." Ujar Gibran yang berhasil mendapat pelototan dari Mey. "Mana tahu aja ada yang lebih rapet."
"Gibran!" Teriak Mey langsung mengejar lelaki itu. Sontak semua orang tertawa geli melihat tingkah keduanya.
...\~The End\~...
Ah... akhirnya sampai juga di penghujung pertemuan. Thanks buat semuanya yang udah dukung karya pertama aku ini. Aku gak peduli kalian mau suka atau enggak sama alurnya. Namanya juga novel, pasti punya konflik sendiri. Dan ini murni imajinasiku. Yang tak lepas dari referensi dari novel-novel hebat yang ada. Karena aku juga berasal dari pembaca seperti kalian. Pokoknya thanks buat kalian yang udah mendukung sepenuhnya. Dukungan kalian sangat bergarga buat aku.
Terserah kalian mau bilang cerita itu mirip kayak cerita di pf sebelah lah, apa lah. Pada dasarnya ini murni hayalan aku. Mungkin kebetulan aja ada alur yang mirip-mirip. Aku juga sering kok nemu di beberapa novel yang mirip2. Namanya juga imajinasi, gak bisa kita batasi.
Thanks All... kesuksesan Novel ini tak luput dari suport kalian semua.
__ADS_1
Love you 🥰😘❤️