Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 36


__ADS_3

Mey terdiam di tepi ranjang, masih memikirkan tentang kehamilan Nindy. Bagaimana jika anak itu benar darah daging suaminya? Apa mungkin David akan menikahinya? Membayangkannya saja hati Mey sangat sakit.


"Mey." David duduk di sebelah Mey. Menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Mey menoleh, menatap David begitu dalam.


"Apa Mas akan meninggalkan Mey jika anak itu benar-benar anak kamu, Mas?" Tanya Mey dengan mata berkaca-kaca. Saat ini rasa takut tengah menyelimuti hatinya. Baru saja ia merasakan kebahagian bersama David, tetapi lagi-lagi rintangan itu kembali menghadang. Bahkan masalah kali ini lebih rumit.


"Aku tidak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi, Mey. Aku mencintaimu, sungguh." Jawab David sembari menarik Mey dalam dekapannya. Tangisan Mey pun pecah seketika. Tangan mungil itu mencengkram erat lengan baju David.


"Tapi bagaimana dengan anak itu? Bagaiman jika dia anak kamu, Mas? Apa kamu akan menikahi Tante Nindy?"


David terdiam sejenak. "Kita akan merawat anak itu." Mey menarik diri dari dekapan suaminya.


"Lalu Tante Nindy?" Tanya Mey menatap netra David begitu dalam.


"Aku rasa dia akan mengerti, jika aku tak bisa menikahinya. Keluargaku tak menerima kehadiranya, dan aku milikmu, Mey." Jawab David membingkai wajah sang istri dengan kedua tangannya. "Aku mencintamu." David menyatukan bibir mereka. Mencecapnya dengan penuh kelembutan. Mey memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan hatinya yang tengah gundah. Sampai suara ketukan pintu pun mengejutkan keduanya.


"Siapa itu? Tunggu sebentar, Sayang." Pinta David mengecup bibir Mey sekilas sebelum beranjak untuk membuka pintu.


David membuka pintu perlahan dan menemukan Bik Nina dengan wajah yang pucat. "Bik, ada apa?" Tanya David penasaran.


"Itu... itu Tuan. Tuan Mudi jatuh di kamar mandi." Jawab Bik Nina terbata.


"Jatuh gimana, Bik?" Tanya Mey yang kini sudah berdiri di belakang David. David pun membuka jalan untuk istrinya.


"Sayang, sebaiknya kita lihat kondisi Bapak." Ajak David menarik tangan istrinya. Bik Nina pun menutup pintu kamar majikannya, lalu mengekor di belakang.


David dan Mey masuk ke kamar Pak Mudi yang berada di lantai dasar dengan tergesa. Di sana terlihat Unang sudah memangku Pak Mudi yang tak sadarkan diri. Mey menarik Pak Mudi dalam pangkuannya, menepuk pipi Bapaknya yang sudah pucat pasi.


"Bapak sudah tidak ada, Nya." Ungkap Unang yang berhasil membuat semua orang terkejut.


"Gak mungkin." Pekik Mey terus menepuk pipi Pak Mudi pelan. "Pak, bangun. Jangan bikin Mey takut. Bapak becanda kan? Mey yakin Bapak cuma mau ngerjain Mey kan? Bangun dong, Pak."


David berjongkok dan meraih tangan Bapak mertuanya. Mengecek denyut nadinya. Dan Unang benar, tidak ada lagi denyutan di sana. "Mey...."


"Enggak, Bapak gak mungkin ninggalin Mey. Bapak cuma pingsan, ayok bawa Bapak ke rumah sakit, Mas." Potong Mey menolak untuk menerima kenyataan. David yang melihat itu langsung memeluk istrinya. "Kamu harus ikhlas."


"Enggak, Bapak gak mungkin ninggalin Mey kayak gini. Bapak gak ngomong apa-apa sama Mey. Bapak...."


"Sayang, kita harus segera mengurus jenazahnya. Kamu harus bisa menerima kenyataan." Bisik David ikut terluka melihat kesedihan yang dirasakan sang istri. "Unang, urus semuanya. Beri tahu pak Rt dan yang lainnya."


"Baik, Tuan." Unang pun langsung berlari keluar dari kamar.


"Kita angkat Bapak ke kasur." David melerai pelukannya. Menatap netra sayu milik sang istri. "Kamu harus kuat, Sayang. Aku ada di sini bersamamu."

__ADS_1


Mey mengangguk pelan. David pun bergegas mengangkat tubuh kurus Pak Mudi dan membringkannya di kasur. Sedangkan Mey bangun dari posisinya dibantu oleh Bik Nina.


"Yang sabar ya, Non. Semua orang akan kembali pada yang Maha Kuasa." Ucap Bik Nina merangkul Mey. Lalu membawanya menuju kasur.


Mey duduk disisi Bapaknya yang sudah terbujur kaku. Menatap wajah pucat itu dengan seksama. Pak Mudi terlihat seperti orang tidur, wajahnya memancarkan ketenangan. Mey mengecup kening Bapaknya dengan lembut. "Mey ikhlas, Pak. Bapak udah bisa tidur nyenyak di surga. Bapak gak perlu lagi nahan sakit."


David mengusap rambut Mey dengan lembut. Mencoba untuk menenangkan sang istri. Mey memeluk suaminya dengan erat. "Sekarang Mey gak punya siapa-siapa lagi, Mas. Bapak udah nyusul Ibu."


David menghela napas berat. "Kamu masih punya aku, Tasya, Mommy dan Daddy, Sayang."


Mey mengangguk pelan, mengeratkan pelukannya pada David. Saat ini ia butuh sandaran. Mey yang biasanya tegar, kini begitu tampak rapuh.


Mey terus menatap gundukan tanah merah tempat pusaran terakhir sang Bapak dengan penuh kesedihan. Nyonya Grace berjongkok tepat di samping Mey. Menarik menantunya dalam pelukan. "Jangan nangis terus, Bapak kamu pasti sedih lihatnya. Kamu harus kuat."


Mey semakin terisak dalam pelukan Nyonya Grace. Bukan hal mudah melepas kepergian orang yang amat dicintai. Meski mulut berkata ikhlas, tapi hati masih berat untuk menerima kenyataan pahit.


"Sayang, kita pulang yuk? Sebentar lagi magrib. Kamu juga harus istirahat." Ajak David menyentuh kepala istrinya, lalu mengusapnya dengan lembut.


"Dev, biarkan kami ikut dengan kalian. Mey pasti butuh Mommy." Pinta Nyonya Grace.


"Ya, Mom." Jawab David. Kemudian ia pun membantu Mey bangun dari posisinya. David mengusa air mata yang membasahi pipi istrinya. "Memang berat melepas kepergian orang yang kita cintai untuk selama-lamanya. Tapi kita juga harus ikhlas, agar mereka tenang di sana. Jangan lupa, di sini masih ada kami. Aku juga gak akan larang kamu buat nangis, tapi sekarang kita pulang ya?" Mey mengangguk pelan. Mulutnya seolah membeku dan sulit untuk digerakkan. Kemudian mereka pun beranjak untuk pulang.


David membaringkan istrinya di atas ranjang karena Mey tertidur di perjalanan. Sepertinya gadis itu terlalu lelah fisik maupun batin. David mengusap pipi mulus Mey dengan lembut, lalu mengecup keningnya penuh kehangatan. "Jika seperti ini, kamu terlihat seperti orang lain, Mey. Biasanya kamu selalu semangat dan ceria, hari ini aku melihat sisi lemahmu." David berbaring disisi Mey, memeluknya dengan penuh kasih sayang.


****


"Mey pamit ke kamar dulu." Mey bangun dari posisinya dan beranjak menuju kamar. David mengehela napas dalam, menatap piring sang istri yang masih banyak menyisakan makanan. Ia sudah terbiasa melihat Mey banyak makan, tetapi kali ini semuanya berbanding terbalik.


"Dev, istrimu sangat terpukul. Sejak bayi dia besar bersama Ayahnya. Wajar jika ia terpuruk seperti ini, kamu harus lebih sabar menghadapinya. Kamu menikahi gadis belia, emosinya masih labil. Di sini kamu yang harus banyak memahaminya." Ujar Nyonya Grace menatap putranya lamat-lamat.


"Ya, Mom. Aku akan selalu memahaminya. Mungkin dia butuh waktu sendiri." Sahut David melanjutkan makannya. Jika dirinya ikut bersedih, siapa yang akan menjadi sandaran gadisnya itu?


"Cobak ajak dia bicara saat waktu tertentu, tapi jangan ingatkan dia pada mendiang Ayahnya lagi. Alihkan pikirannya dari kesedihan." Saran Tuan Adam. David yang mendengar itu mengangguk pelan.


Usai sarapan, David kembali ke kamarnya dengan sebuah nampak berisi roti selai dan segelas susu. Meletakkan itu di atas nakas. David menatap Mey yang masih meringkuk di atas ranjang dengan posisi membelakanginya. Kemudian ia pun duduk di sampingnya. "Sayang."


Mey bergerak pelan, mengubah posisinya jadi terlentang. David bisa melihat buliran bening mengalir dipelupuk mata sang istri. Ia ikut berbaring sambil mengawasi pergerakan sang istri.


"Kamu mau jalan-jalan? Kita bisa keliling kota." Ajak David menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah istrinya. "Kamu butuh udara segar dan suasana baru. Atau kita ke puncak bagaimana? Kita bisa menghabiskan waktu di Villa."


Mey menggeleng, lalu memiringkan tubuhnya ke arah David. Membenamkan wajahnya di dada sang suami. Tangisannya pun pecah seketika.


"Mey belum sempat bahagiain Bapak, Mas. Bapak pergi begitu cepat, Mey belum puas merawatnya. Akhir-akhir ini Mey terlalu sibuk sendiri. Mey melupakan Bapak yang lagi sakit. Anak macam apa Mey ini, Mas? Mey gak pantes bahagia." Sesal Mey disela isakkannya.

__ADS_1


Hati David terenyuh mendengar kepiluan dalam nada bicara sang istri. "Sayang, tidak ada yang bisa menahan kepergian seseorang. Aku lihat Bapak sudah bahagia, Aku juga selalu perhatikan Bapak saat melihat kamu tertawa. Bapak tersenyum begitu lebar. Itu artinya Bapak akan bahagia saat putrinya bahagia." Jelas David jujur. Selama ini David memang sering memperhatikan Bapak mertuanya itu yang selalu tersenyum saat melihat Mey tertawa.


Mey mendongak. "Mas sering lihat itu?"


"Iya, apa lagi pas kita di pelaminan. Bapak terus tersenyum dan menyapa para tamu undangan dengan pancaran kebahagiaan yang besar. Aku bisa melihat itu dengan jelas. Beliau bahagia jika kamu bahagia. Aku gak bohong. Memangnya membahagiakan versi kamu itu seperti apa sih? Gak semua kebahagian bisa diukur dengan materi, Sayang."


Mey terdiam cukup lama. "Mas benar. Bapak juga sering bilang, kalau Bapak senang pas lihat Mey bahagia. Bapak selalu tahu isi hati Mey, dan sekarang Mey udah dapat kebahagian itu. Apa karena itu Bapak pergi? Bapak merasa tenang karena Mey udah punya pelindung."


David tersenyum lebar. "Aku senang kamu sadara akan hal itu, Sayang. Jadi jangan sedih terus, kasian Bapak juga ikutan sedih. Aku yakin Bapak udah di surga dan sekarang lagi lihat kamu yang seperti ini."


"Mey gak mau sedih lagi, Mey minta maaf udah buat Mas dan yang lain ikutan sedih. Mey cuma belum siap kehilangan Bapak. Bapak yang merawat Mey dari bayi, Bapak mengorbankan semua kebahagiannya untuk Mey."


"Aku tahu, Sayang. Kita semua pernah dalam posisi itu."


Mey mengusap rahang suaminya. "Apa Mas juga sesedih ini saat Mommynya Tasya meninggal? Pasti Tasya juga sedih banget kan saat itu?" Tanya Mey mengingat kembali tentang mendiang Nyonya Lander terdahulu.


"Iya, semua orang terpukul saat itu karena Anna pergi secara tiba-tiba. Kecelakaan runtun itu merenggut nyawanya di tempat. Apa lagi saat itu Tasya yang masih berusia sepuluh tahun. Sejak saat itu Tasya menjadi pendiam dan sulit untuk memahami isi hatinya. Beruntung banget dia ketemu kamu, Mey. Sifat aslinya kembali lagi seperti dulu. Sejak kecil Tasya itu cerewet, sama seperti kamu. Aku sendiri bingung, dari mana sifat itu diturunkan? Padahal aku dan Anna tidak secerewet itu."


Mey tersenyum mendengar itu. Sepertinya ia sedikit melupakan masalahnya saat ini. David ikut tersenyum melihat itu. "Tapi kan kamu cerewet juga Mas saat waktu-waktu tertentu."


"Tapi tidak secerewet kalian. Bahkan rumah ini akan terasa sunyi saat kalian tidak ada."


Mey tertawa renyah. "Bukanya Mas pernah bilang gak suka cewek bawel huh?"


"Itu dulu, sekarang aku sadar kalau kebawelan kamu itu yang menjadi penghangat rasa dingin dihatiku. Kamu berhasil merebut hatiku dalam waktu yang singkat, itu kelebihan yang kamu punya. Kamu tahu? Aku dan Anna dijodohkan, dan butuh waktu satu tahun untuk bisa menghadirkan cinta itu. Aku mencintainya saat Tasya lahir ke dunia ini." Jelas David panjang lebar. Ia tahu istrinya mulai tertarik dengan pembahasannya kali ini. Ia memang berniat untuk mengalihkan pikiran Mey agar tak lagi fokus pada mendiang Bapaknya.


Mey mengubah posisinya menjadi tengkurap. Sedangkan David masih dalam posisi sama. "Kok bisa Mas dijodohin sama Tante Anna? Mas gak laku ya?"


David terbelalak saat mendengar pertanyaan konyol itu. "Sembarangan, justru saat aku muda, aku itu lelaki paling populer. Hampir setiap hari aku bisa membawa wanita cantik ke rumah."


"Buat apa di bawa ke rumah?" Tanya Mey dengan polosnya.


"Ck, ngapain lagi kalau bukan tidur."


"Hah? Mas tidur sama cewek itu sebelum Mas nikah? Jadi Mas itu playboy dong? Pantes aja Mas gak ada rasa malu pas nidurin Tante Nindy. Ih... nyebelin. Kok bisa sih Mey nikah sama playboy kayak kamu, Mas?" Kesal Mey memukul dada suaminya.


"Jadi kamu nyesel nikah sama aku huh?"


"Enggak sih, soalnya Mey udah cinta duluan sama kamu. Pantes aja kamu pinter main di ranjang, ternyata memang ahlinya. Ngeselin tahu gak?"


David tergelak. "Tapi tetap aja kamu cinta kan? Apa lagi aku selalu menjain kamu terus di ranjang."


"Ih... mulai kan mesumnya? Udah ah, Mey lapar. Mas bawa apa tadi?" Rengek Mey seraya bangun dari posisinya. Begitu pun dengan David yang ikut bangun dari posisinya.

__ADS_1


"Roti selai coklat sama susu, cepet di makan. Aku gak mau kamu jadi kurus." David mengambil roti selai dan memberikannya pada Mey.


Mey mengangguk antusias. Tanpa ragu ia langsung melahapnya. David tersenyum senang karena Mey sudah kembali ceria.


__ADS_2