Mengejar Cinta Om Duda

Mengejar Cinta Om Duda
Chapter 66


__ADS_3

Kini Tasya sudah berhadapan di depan para media massa. Bahkan ia memberikan ruang pada mereka dan membiarkannya masuk ke rumah. Dan saat ini mereka semua berada di ruang tamu. Tasya juga meminta suaminya untuk tidak keluar sekarang. Katakan saja itu kejutan untuk para wartawan nantinya.


"Tanyakan apa yang ingin kalian tanyanya." Tasya tersenyum begitu menawan. Juga tak terlihat sedikit pun rasa takut di matanya. Justru rasa percaya dirinya terpancar jelas di sana.


"Sejak kapan Anda mengenal Tuan muda Effendi? Dan bagaimana bisa kalian memiliki hubungan gelap?"


Masih dengan senyuman mengembang. Tasya menjawab pertanyaan itu dengan santai. "Kurang lebih satu tahun yang lalu. Dan saya bukan kekasih gelapnya, kami memang saling tertarik sejak lama. Saya punya buktinya. Ini foto kebersamaan kami setahun yang lalu di puncak." Tasya memberikan beberapa foto dirinya dan Alex saat makan pizza di villa saat itu. Beruntung ia sempat mencuri gambar dari Alex. Apa lagi ada salah satu foto yang terlihat begitu mesra, seolah mereka memang sedang pacaran.


Para wartawan itu saling berbisik saat melihat foto-foto itu. "Jika memang Anda kekasihnya. Kenapa Anda tidak pernah masuk televisi, Nona? Bahkan Tuan muda sendiri tak pernah mengenalkan Anda pada dunia."


"Saya tidak suka diekspose, seperti saat ini contohnya. Tapi apa boleh buat, kalian menganggu ketenangan rumah ini. Lagi pula tidak ada yang perlu disembunyikan lagi tentang hubungan kami. Sejak awal dia milik saya, jadi saya bukan kekasih gelapnya atau mencoba menggoda Tuan muda Effendi." Jelas Tasya lagi.


"Lalu bagaimana bisa Anda digosipkan telah merusak hubungan anak dan ayah, Nona? Apa berita itu benar?"


Tasya menghela napas berat, kemudian memasang wajah sedih. "Saya tahu di setiap hubungan pasti akan ada pro dan kontra. Papanya tidak setuju dengan hubungan kami. Mungkin karena itu hubungan mereka jadi renggang. Saya merasa bersalah akan hal itu, tapi tidak ada niat sedikit pun untuk merusak hubungan mereka. Tetapi kami saling mencintai, menurut kalian apa aku salah jika mempertahankan hubungan ini?" Tasya berpura-pura menangis pilu.


Para wartawan terdiam untuk beberapa saat.


"Nona, jika memang Anda dan Tuan muda Effendi saling mencintai. Sebarusnya dia ada di sini bukan? Untuk menjelaskan semuanya."


"Aku di sini." Sahut Alex yang entah sejak kapan sudah muncul di antara para wartawan. Sontak semua kamera pun mengarah padanya. Lelaki itu terlihat begitu menawan dengan balutan kemeja hitam yang dipadukan celana kain dengan warna senada. Alex melangkah pasti menghampiri sang istri, lalu duduk disebelahnya.


"Kalian membuatnya menangis. Apa sudah puas?"


"Maaf, Tuan. Kami hanya menanyakan beberapa hal penting soal...."


"Memangnya apa pentingnya mencampuri kehidupan pribadi seseorang huh? Apa untungnya? Mendapat banyak sponsor dan uang huh? Lalu bagaimana dengan orang yang kalian ekspose? Apa kalian pernah berpikir mereka keberatan atau merasa terganggu?" Sela Alex dengan kilatan amarah di matanya. Tasya terkejut mendengar itu. Ini tak sesuai rencananya.


Semua orang terdiam mendengar itu.


"Naif kalian semua. Mencari keuntungan dari seseorang, apa kalian kekukarangan berita? Di luar sana banyak anak-anak yang putus sekolah, anak-anak kelaparan karena kurangnya perhatian pemerintah. Kenapa kalian tidak mengorek hidup mereka agar lebih bermanfaat. Kalian bisa membantu mereka. Bukan menganggu kehidupan orang lain. Kalian pikir aku ini apa? Selebritis? Aku hanya meneruskan perusahaan orang tuaku. Aku juga manusia biasa yang berhak memilih jalan hidup. Dan harus kalian tahu." Alex menunjuk semua orang. Kemudian menatap sang istri lekat.


"She is mw wife." Tegas Alex penuh penekanan. Lalu melempar buku nikah di atas meja. Sontak semua orang pun terkejut melihat itu. "Berita apa lagi yang akan kalian keluarkan setelah ini huh? Akan aku pastikan kalian menyesal jika menyebarkan berita hoax. Aku akan menuntut media yang memerintah kalian. Apa kalian pikir aku takut?"


"Maaf, Tuan. Kami...."


"Jika kalian memang tidak punya topik lain. Datang padaku, akan aku berikan ribuan topik bermanfaat pada kalian." Sanggah Alex yang tak membiarkan para wartawan itu bicara. Bahkan Tasya pun tak berani berucap.


"Apa kalian tahu? Karena gosip murahan yang kalian buat. Istriku ketakutan hanya untuk keluar rumah. Apa itu yang kalian inginkan? Dan kalian semua yang ada di rumah, netizen tak bermoral yang berkomentar buruk pada istriku. Aku harap kalian mendengarkan ini. Dia wanita baik-baik yang sengaja aku pilih. Kalian begitu memuja Wilona yang cantik jelita bak dewi surga apa lah itu bukan?Dia adalah sepupuku. Kami tidak pernah menjalin hubungan apa pun. Empat bulan yang lalu dia datang ke Indonesia, karena itu aku selalu menemaninya karena dia tak terbiasa di sini. Jadi tolong jangan menyebarkan fitnah apa pun yang akan menyakiti istriku. Untuk masalah hubunganku dengan Papa. Sebaiknya kalian tanyakan saja padanya." Jelas Alex panjang lebar. Ia adalah orang yang paling anti dengan kamera. Dan hari ini ia cukup lama duduk di depan banyak kamera. Dan itu semua demi sang istri.


"Kalian sudah mendapat penjelasanku, pergilah." Usir Alex seraya bangun dari duduknya seraya menarik sang istri pergi dari sana. Lalu tidak lama beberapa lelaki bertubuh tegap datang untuk membubarkan media.


Di tempat lain, Effendi menggeram kesal karena lagi-lagi ia dikalahkan oleh dua anak manusia itu.

__ADS_1


Jadi kalian sudah menikah huh? Kita lihat sampai kapan hubungan bisa bertahan?


"Uncle."


Lelaki itu terkejut saat seseorang membuka pintu ruangannya secara dadakan. Mata lelaki itu menajam pada si pelaku.


"Wilona! Jaga sopan santunmu. Ketuk pintu sebelum masuk ke sini."


"Aku tidak peduli, Uncle. Apa-apaan ini? Kenapa sekarang semua media menyerangku? Bahkan followersku menurun drastis. Dan mereka sudah menikah, Uncle. Lalu bagaimana denganku?" Wilona duduk di sofa dengan menyilangkan kaki. Juga melipat tangannya di dada.


"Berhenti mengoceh, aku juga sedang mencari cara. Kau ini hanya tahu berkomentar."


Wilona berdecih sebal. "Aku tidak mau tahu, pernikahanku dengan Kak Alex harus terjadi. Semua undangan sudah di sebar. Aku tidak peduli mau jadi istri ke dua atau ketiga."


Effendi menatap wanita itu tajam. Memperhatikan penampilan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Jika bukan karena Daddymu, aku tak akan melakukan semua ini. Kau begitu tidak sopan, Wilona. Bagaimana mungkin Alex menyukaimu? Rubah penampilanmu, jangan pakai pakaian pendek seperti itu."


Wilona memicingkan matanya pada Effendi. "Kau harus ingat janjimu, Uncle. Kau sudah berjanji pada Daddy untuk menikahkan aku dengan Kak Alex. Bahkan kalian sudah menandatangani surat kerja sama."


"Pergilah, biar aku yang mengurus semuanya. Tunggu kabar baik dariku."


Wilona berdecih kesal sebelum bangun dari posisinya. Kemudian wanita itu berlalu pergi tanpa sepatah kata pun. Effendi memijat keningnya, kepalanya mulai berdenyut sakit. Ia tak pernah menyangka putranya akan senekad ini. Biasanya Alex begitu patuh dan selalu memenuhi keinginannya.


Apa kelebihan wanita itu sebenarnya? Selain parasnya yang cantik, aku tak melihat apa pun dalam dirinya. Hanya mengandalkan kekayaan Ayahnya. Pikirnya dalam hati.


Tasya terus tertawa penuh kemenangan. Wanita itu duduk tersila di atas ranjang. Sedangkan suaminya bersandar di kepala ranjang sambil memeriksa beberapa email.


"Lihat, Sayang. Para netizen mulai menyerang Wilona. Apa kita kelewatan ya?" Tasya menunjukkan ponselnya pada Alex.


Alex meliriknya sekilas. "Biarkan saja, kita lihat sejauh mana mereka akan bermain-main."


"Tadi kamu hebat banget, sampe aku gak bisa ngomong apa-apa. Padahal dialog yang aku siapin bukan itu."


"Aku udah biasa sama dialog, jadi sesekali tanpa dialog," jawab Alex tersenyum simpul.


"Yang, jalan-jalan yuk. Selagi aku masih cuti kuliah. King juga pasti kangen dunia luar. Kita main di taman aja gimana?" Saran Tasya mulai bosan berada di rumah terus.


"Boleh, tapi agak sorean aja. Siang masih panas, kasian King."


Tasya pun manggut-manggut tanda setuju. "Oh iya, kita belum urus kartu keluarga kan? Sekalian kita buat akta baru buat King."


"Boleh."


Tasya tersenyum senang. "Kamu ngapain sih asik banget kayaknya?" Tasya mendekati suaminya dan duduk di sebelah Alex.

__ADS_1


"Ngecek kerjaan lewat email." Jawab Alex jujur. Tasya pun hanya bisa menonton sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alex.


Ting!


Tasya terkejut saat ponselnya terus mengeluarkan berbunyi notifikasi. Mata wanita itu membulat saat melihat layar ponselnya. Kini instagramnya diserbu puluhan ribu followors.


"Sayang, kayaknya aku bakal kebanjiran followers nih. Tuh liat banyak banget." Pekik Tasya membuka akun instagramnya. Benar saja, kini followersnya sudah mencapai puluhan ribu. Padahal selama ini followersnya paling banyak mentok di lima ribuan karena dia jarang memposting apa pun.


"Gak usah peduliin orang-orang gak kenal, abaikan aja." Kata Alex.


"Okay." Tasya pun meletakkan ponselnya di atas kasur. Dan kembali menonton suaminya bekerja. "Kayaknya enak ya bisa kerja di rumah? Aku boleh kerja gak?"


"Gak usah, kamu di rumah aja. Biar aku yang kerja buat kamu dan anak-anak."


"Tapi aku pengen rasain yang namanya kerja." Rengek Tasya dengan bibir mengerucut.


"Nanti aku buatin kamu butik."


"Beneran?" Seru Tasya begitu antusias.


"Iya, biar ada obat bosan kamu. Minggu depan kita pindah ke rumah sendiri. Aku punya rumah di komplek sebelah. Udah lama aku beli, tapi belum sempat ditempatin." Ujar Alex.


"Beli pake uang siapa?" Tanya Tasya dengan polosnya.


"Uang hasil aku kerja, Sayang. Mana mungkin pake duit Papa. Semua barang aku hasil uang kerja. Motor, mobil, apartemen juga."


"Hebat ya kamu, aku udah segede ini aja masih minta uang sama Daddy. Dan skarang mintanya sama kamu." Kata Tasya seraya menatap wajah tampan suaminya.


"Ya gak jadi masalah, aku juga kerja ngumpulin uang buat masa depan kita." Alex tersenyum seraya mengusap kepala istrinya.


"Terima kasih Daddynya King."


"Sama-sama Mommynya King."


"Eh, kamu kayaknya belum sarapan ya dari pagi tadi? Yuk makan dulu." Ajak Tasya yang baru mengingat jika suaminya itu belum sarapan apa pun.


"Nanti aja, aku belum lapar. Udah kenyang makan kamu soalnya." Jawab Alex tersenyum nakal.


"Ih, mesum banget sih. Ayok makan dulu, jangan sampe kamu kurus karena nikah sama aku. Entar orang pikir aku gak ngurus kamu lagi." Protes Tasya sambil menarik lengan suaminya.


"Iya bawel." Akhirnya Alex pun menyerah. Lelaki itu meletakkan ponsel di atas nakas. Kemudian turun dari ranjang yang diikuti oleh Tasya.


"Ngomong-ngomong, King ke mana dari tadi gak kedengeran suaranya?" Tanya Alex bingung.

__ADS_1


"Sama Grandmanya, udah ayok." Tasya pun langsung menarik suaminya keluar dari kamar. Selanjutnya pengantin baru itu melangkah santai menuju ruang makan sambil sesekali bercanda ria.


__ADS_2