
Wisnu yang saat itu akan rapat, menyuruh Panji untuk mengundur kan rapat nya sepuluh menit lagi karena dirinya yang mendapat pesan dari Windi.
Selama mendapat pesan dari Windi, Wisnu senyum-senyum sendiri. Ia juga bingung kenapa dirinya bisa bermulut manis seperti ini.
Ia meletakkan ponselnya di dada, dan senyuman di wajah nya semakin merekah.
Aish!
Wisnu menggelengkan kepala nya, Ia melirik jam tangan nya, sudah waktunya ia masuk ke ruang rapat. Namun saat akan keluar dari ruangannya, Lampu jam tangan Wisnu menyala.
Sekita tubuh Wisnu di landa panik, Tak berselang lama Panji datang dan nafas nya yang memburu.
"Tuan apa kau juga menerima sinyal itu?"
Wisnu menganggukkan kepalanya, "Iya, Batalkan Rapat nya! Dan sekarang kita pergi ke lokasi itu."
Panji menganggukkan kepala nya mengerti, "Baik tuan."
Panji langsung merogoh ponselnya dan menghubungi asisten sekertarisnya, "Batalkan rapat sekarang."
Tanpa menunggu jawaban dari asisten Sekertarisnya, Panji langsung mematikan Sambungan telfonnya.
Kedua nya langsung berjalan keluar dengan tergesa-gesa. Semua orang yang melihat Panji dan Wisnu tergesa-gesa membuat mereka bertanya-tanya. Apa yang sebenar nya terjadi? Kenapa mereka berdua terlihat tergesa-gesa sekali.
Sedangkan di tempat yang berbeda sama panik nya dengan Wisnu yang mendapatkan, Sinyal Argent dari Windi. Baik James, Ken, dan Wanda dengan tergesa-gesa menuju lokasi yang di berikan oleh Windi.
***
"Nona akhirnya kau menyerah kan nyawa mu sendiri."
Sedangkan Windi yang mendengar perkataan bajingan Sialan itu tersenyum devil.
Mata tajamnya menatap ke arah para bajingan yang telah berani mengusiknya. Dirinya yang masih mempunyai dendam kini keluar untuk membalaskan dendam kepada siapapun yang berada di hadapan nya.
"Dasar manusia bodoh! Kalian lah yang akan mati di tangan ku!" Desis Windi tidak lupa sumringah kick di wajah nya.
The game starts, bastards. Damn it!
Windi kedua tangan menarik tuas pada benda kecil yang berukuran lima senti, Hingga benda yang ia pegang itu berubah menjadi tongkat yang panjang.
Mata tajam Windi menangkap anak buah yang terkena tendang rendah dari bajingan itu, Dari setiap gerakkan nya Windi bisa memastikan kalau meraka menggunakan kealihan MMA mereka.
Jika Windi sudah mengetahui gerakkan apa selanjutnya yang akan di lancar oleh para musuh membuat Windi dengan muda untuk ia kalah kan. Dengan langkah tegas dan juga sorot mata tajam Windi. Mampu buat para musuh sedikit kalut, Tapi mereka tidak boleh merasa kalut begitu saja atau rencana mereka akan Gagal.
"Hey loser." Ujar Windi dengan semirk Devilnya.
"*****!"
Satu tangan Windi mengangkat tongkat nya dan memutar nya ke Udara, Sedangkan tangannya yang lain juga ikut turut memutar kan tongkatnya. Badannya sama sekali tidak merasa sakit ketika tongkat-tongkat itu menghantamnya.
Salah satu Bodyguard nya menghampiri Windi."Nona kenapa anda keluar? Ini sangat berbahaya, Sebaik nya anda menunggu di dalam."
Mata tajam Windi menatap ke arah bodyguard itu."Aku tidak ingin hanya diam saja! Aku ingin bermain-main dengan mereka. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukannya." Ujar Windi Dengan santai.
"Tapi nona.."
Lagi-lagi mata tajam Windi mampu membuat bodyguard Itu bungkam.
Mata Windi tak sengaja menatap ke arah Regan yang sedang menatap nya dengan serius tapi juga Aneh. "Kau memiliki Pistol?"
Regan menganggukkan kepalanya. Ia merogoh pistol di kantung nya dan menyerahkan nya kepada Windi.
"Nona.."
"Terimakasih.." Seulas senyuman terpancar di wajah cantik Windi.
Deg!
Shit! Regan langsung memalingkan Wajahnya ke arah lain, Ia benar-benar tidak kuat menatap Wajah Windi lebih lama.
Windi dengan lihai menggerakkan kedua tongkat nya dengan cepat, Ia bahkan bisa mengelak setiap serang dari para musuh. Windi bahkan tak segan-segan memukul kepala Musuh dengan kuat.
Puncak kemarahan Windi semakin meningkat ketika ia melihat salah satu musuh sedang membidik bodygurad nya. Dengan cepat ia mengambil Pistol dan menarik pelatuknya.
Dor!
Dor!
__ADS_1
Tembakan Windi tepat sasaran ke jantung musuh, Bahkan Pria yang menjadi sasaran muncung pistolnya. Sudah terbaring kaku, Tak berdaya. Tentu saja Wihelmina pekik kegirangan.
"Ah senang sekali." Ujar Windi dengan bangga.
Saat Wihelmina ingin berbalik, ia di kejutkan dengan ke datang seseorang yang tengah ngacung kan pistol di kepalanya.
Reaksi Wihelmina sama sekali tidak menunjukkan kecemasan, Namun justru kesenangan.
"Suruh Para bodyguard sialan mu untuk menyerah atau aku tidak akan segan-segan menarik pelatukn ini dan langsung menembus kepala mu."
Bukan takut Wilhemina justru sedikit tertawa mendengat perkata konyol bajingan sialan itu.
"Huh?! Kau mengancam ku sialan?"
"Kau?!!"
Sial aku akan membunuh mereka tampa ampun. umpat Wilhemina dalam hati.
Wilhemina yang tidak ingin membawa para bodyguard nya kalut, mengisyarat kan mereka untuk menyerah dan mengangkat kedua tangan mereka.
"Hahaha...Dasar manusia pecundang tak berguna."
Perkataan yang terlontar oleh orang itu membuat amarah Wilhemina semakin memuncak. Rahang nya mengeras, Bahkan mata nya semakin merah menyala. Nafasnya sudah memburu, Jiwa membunuhnya Bangkit.
Dengan cepat Wilhemina menyikut perut pria itu, dan membalik kan kedaan kini Windi lah yang menyadar pria.Tangan Wilhemina dengan cepat merebut pistol itu dan langsung di arahkan ke kepalanya.
"Kau ingin menghabisi ku sialan?!" Teriak Wilhemina dengan geram.
Sudah bisa di pastikan wajah pria itu, Menjadi pucat pasih. Mendengar suara Wilhemina yang berubah lebih menakut kan dan menyeramkan.
Tak!
Wilhemina menarik perlahan pelatuknya, dan bersiap untuk menembak kepala pria itu. Namun tertahan kan ketika tiba-tiba saja telinga tajamnya mendengar pergerakan yang mencurigakan. Ia langsung berbalik dan menembaknya tepak di kepala. Lalu berbalik, Mata tajamnya menatap ke arah satu-satu musuhnya, Yang sekitar ada sepuluh orang.
Sampah!
Wilhemina menginjak tongkat nya yang membyat tongkat itu melambung. Dengan cepat tangan Wilhemina menangkapnya. Ia memutar-mutarkan tongkat itu dengan lihai, Ia berjalan mendekat ke arah musuh.
Bhuk!
Bhuk!
Bhuk!
Mati kau sialan
Tak sengaja ia menjatuh tongkat nya hingga membuat tongkat nya terjatuh.
Bhuk!
Kali ini satu pukulan mendarat di wajah cantik Wilhemina.
Sial!
Wilhemina langsung melayangkan hook kirinya kepada bajingan sialan itu, Namun sayangnya ia dapat menghindar. Dan saat pria itu hendak membalas serangannya dengan pukulan tangan kananya, Wilhemina berhasil menghindar.
Wilhemina yang sudah tidak tahan lagi, Langsung melakukan tendangan kepala, di susul dengan tendangan tubuh, dan dua serangan itu berhasil memetahkan musuh itu.
Melihat kesempatan itu membuat Wilhemina tidam menyia-yiakan kesempat. Ia langsung memukul Wajahnya membabi buta tampa Ampu. Saat akan memukulnya lagi Wilhemina menghentikan Aksinya ketika mendengar teriakan seseorang.
"Hentikan!"
Wilhemina menoleh ke arah sumber suara dan mendapati suami tercinta yang sudah ia rindukan sudah berada di hadapannya.
"Cutie Hentikan!" Teriak Wisnu.
Iya suara itu, Adalah suara Wisnu yang meminta Wilhemina menghentikan pukulannya. Namun sepertinya Amarah Wilhemina sudah memuncak terlebih lagi Pria sialan ini telah berani membuat sudut bibir nya berdarah.
Wilhemina semakin memukul nya membabi buta tanpa ampun, Sedangkan Wisnu melongo di buat tidak percaya. Ia semakin bingung melihat Istri nya yang seperti kesetan.
Wanda yang lain sudah tiba di lokasi, Tapi Wanda memilih untuk diam di mobil. Ia memperhatikan setiap tindakan yang di lakukan Wilhemina.
Hah, Sepertinya jiwa adik psikopat ku sudah hadir. Desah Wanda. Ia menghela nafasnya berat, Jika sudah seperti ini maka Wilhemina tidak akan berhenti sampai ia benar-benar membunuh orang yang telah berani membangkit kan Amarahnya. Dan jika ada yang menghentikan nya maka target selanjut nya adalah orang yang telah lancang menghentikannya.
Wisnu yang melihat Wilhemina semakin tidak terkontrol membuat nya ingin menghentikannya, Namun langkahnya terhenti ketika James mencekal tangannya.
"Jangan! Atau selanjut kau yang akan di pukul dengan nya. Saat ini dirinya di kuasi Amarah, Jangan pernah sesekali menghentikannya atau kau juga akan merasakan Amarahnya."
__ADS_1
"Tapi..Aku tidak bisa membiarkan Istri ku membunuh orang lain."
"Ini bukan yang pertama untuknya! Biarkan ia mencapai kepuasannya hasratnya untuk membunuh atau Jiwa nya akan tersiksa."
Wisnu menjambak rambut nya frustasi, Ia benar-benar bingung. Apalagi yang harus ia lakukan? Ia benar-benar tidak bisa membiarkan tangan Istrinya menghabisi nyawa orang. Tapi sepertinya terlambat. Wilhemina sudah menghabis Lima nyawa dan sisanya di pastikan sekarat. Ia membunuh orang-orang yang bersembunyi di balik pohon. Sisanya ia serah kan kepada para bodyguardnya, Ya meskipun mereka juga seorang pecundang payah.
Pria yang di pukul Wilhemina, kini benar-benar sudah sangat mengenaskan. Wajahnya sudah tidak berbentuk lagi. Wilhemina bangkit dan menghela nafasnya, Ia menyingkirkan anak rambut yang berjatuhan. Mata tajam menangkap sesok yang sang ia rindukan.
"Honey." Pekik Wilhemina dengan girang.
Ia langsung berlari menghampiri Wisnu yang sedari tadi menatapnya.
Hap!
Wilhemina langsung melompat dan memeluk erat Wisnu, Untung saja dengan sigap Wisnu menangkap nya.
"Gadis nakal." Gumam Wisnu.
Wilhemina hanya diam mendusel-duselkan kepalanya di leher kokoh Wisnu. "I miss you Honey."
"I miss you to cutie."
Wilhemina mengangkat Wajahnya menatap ke arah Wisnu."Ck kenapa kamu bisa membedakannya?"
"Hahaha tentu saja gadis ku sangat unik."
"Ya..yaya.."
Sedang kan James memutar jengah melihat tingkah Absurd putri bayangannya.
Ekhm!
Wilhemina menatap ke arah James yang sedang berdekhem.
"Ahh My Daddy Hero." Wilhemina langsung turun dari pelukan Wisnu dan beralih memeluk James dengan Erat.
James dengan senang hati memeluk tubuh Putrinya, Meskipun ia Windi tapi jiwanya adalah Wilhemina, Putri bayangannya.
"Miss you Daddy."
"Miss you to My daughter."
James melepaskan pelukannya dan menciumi seluruh wajah Wilhemina. " Apa kau puas?"
"Belom."
"Lalu kau ingin apa?"
Wilhemina menatap ke arah jasad-jasad yang sudah tergeletak. "Apa Felix dan Deo sudah makan?" Tanya Wilhemina.
James mengerutkan keningnya, kenapa putrinya bertanya tentang Felix dan Deo?
Sedetik kemudia James tersadar dengan apa yang di ingin kan putrinya." Kau menginginkan itu?" Tanya James sekali lagi.
"Of course Daddy."
"Alright according to your wishes Princess."
"Thank you." Setelah mengatakan itu Wilhemina berjinjit mencium pipi James.
Sesuai permintaan Wilhemina, James memerintahkan Anak buahnya untuk tidak membuang ataupun membakar nya, Melainkan untuk di berikan makan kepada Hewan kesayangan Wilhemina, Felix dan Deo. Dua Ekor singa jantan. Yang Ia peliharan dari kecil. Sedangkan organ-organ nya akan di jual, Dan uangnya akan di sumbangkan kepada yayasan keluarga Winata.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)
__ADS_1