Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Kamu menangis?


__ADS_3

Sesampainya Di kantor Wisnu dan Panji langsung menuju ke ruangan nya. Hari ini jadwal Wisnu ada rapat penting tentang Proyek yang akan segera di rancang.


Dalam proyek ini Wisnu akan bekerja sama dengan perusahaan Adidayawin.


" Jam berapa kita akan mengadakan pertemuan Panji? "


" Sekitar jam 9 Pagi tuan. "


" Baik la kalau begitu kita persiapkan kelengkapan dokumen-dokumen untuk pembahasan proyek kita nanti."


" Baik tuan. " Panji pamit undur diri meninggalkan Ruangan Wisnu.


Di dalam tinggal Wisnu Sendiri ia memeriksa kelengkapan-kelengkapan Dokumen untuk proyeknya.


Saat Wisnu sedang fokus membaca Dokumen-dokumennya tiba-tiba Dadanya terasa nyeri dan membuat nya sedikit gelisah.


Ada apa dengan diriku? Kenapa dada ku sedikit nyeri? Dan perasaan apa ini? Kenapa aku merasa sangat gelisah dan sangat khawatir sekali. Batin Wisnu.


Sedangkan Windi sudah di bawa ke rumah sakit terdekat untuk melakukan tindakan pertama.


Sampai di sana suhu tubuh Windi semakin dingin dan wajah nya yang semakin pucat Pasih. Sekitar hampir tiga puluh menit Windi ditangani oleh dokter. Orang-orang yang datang bersama Windi lupa memberitahu keadaan Windi karena semakin paniknya.


" Dokter Andin bagaimana kondisi nya?"


" Tenang saja kondisi nya Sekarang sudah lebih baik. Segara hubungi keluarga pasien saya kan memberitahu tentang kondisi pasien secara rinci."Ujar dokter Andin


" Huh syukur la.. Ah iya aku sampai lupa.. kalau begitu saya permisi dulu untuk menghubungi keluarga pasien." Pamit Anis


" Baik la.. "


Aish... Kepada siapa aku harus memberitahu tentang kondisi ibu Windi?


°°°


" Terimakasih untuk pertemuan hari Tuan." Ujar Wisnu


" Iyah.. Saya akan menanti kerjasama kita selanjutnya." Ujar perwakilan Adidayawin sembari mengulurkan tangannya.


" Saya juga menanti kan kerja sama kita." Wisnu membalas uluran tangan dan menjabatnya.


" Baik lah kalau begitu saya permisi."


Wisnu mengantarkan rekan kerja bisnis sampai ke mobilnya.


" Huh... Akhirnya." Ujar Wisnu sambil tersenyum bangga.


" Tuan kita kembali ke kantor?"


" Iyah."


Wisnu mengambil mobil yang terparkir, Ia membuka kan pintu untuk Wisnu. Namun saat Wisnu akan masuk ke dalam mobil Ponselnya berdering.


Ia menghentikan langkahnya dan merogoh ponselnya. Dilihat Panggilan masuk dari Windi. Segara ia memencet tombol Hijau.


" Halo Baby." Ujar Wisnu dengan penuh semangat karena jarang sekali Windi menelfon duluan saat jam kerja.


" Ma-maaf tuan Sa-saya teman kerja nya Bu Windi i-ingin..."


" Ingan apa? Cepat katakan lah!!" Suara Wisnu meninggi karena tidak sabaran.


" E-ehm i-itu tuan...Ibu Windi tadi saat di Lab ia tiba-tiba Tidak sadarkan diri... Dan kini sedang di Rawat di rumah sakit... Saya mengecek ponsel Ibu Windi dan kebetulan panggilan terakhir di ponsel beliau tertuju ke anda tuan."


" Apa!? Di rumah sakit mana?"


"..."


" Baik lah Aku akan Secepat nya ke Sana." Wisnu langsung mematikan telfonnya tanpa menunggu Jawaban dari temannya Windi.


Aish jantung ku hampir lepas ketika mendengar dia berteriak begitu kencang.


" Ada apa tuan?"


" Sekarang kita pergi ke rumah sakit. "

__ADS_1


" Baik tuan."


Wisnu segara masuk kedalam mobil dan Panji segara menyalakan mobilnya dan pergi melesat meninggalkan cafe tersebut.


Di sepanjang perjalanan Wisnu sangat gelisah memikirkan keadaan Windi saat ini.


Apa mungkin perasaan ku tadi karena Windi sekarang ini? Tuhan... Aku mohon jangan ambil Windi... Semoga ia baik-baik Saja.


" Panji kenapa lama sekali?!"


" Di depan ada kecelakaan tuan."


" Ahh sial!!" Wisnu menjambak frustasi rambutnya.


" Putar balik."


" Baik Tuan." Panji segara memutar balik mobilnya dan menuju jalan alternatif untuk segera sampai.


" Panji cepat sedikit la!"


" Panji kau bisa bawa mobil tidak?! Kenapa lama sekali."


" Hei Panji Kenapa kau lamban sekali?!"


" Panji?! Nyawa mu tergantung seberapa cepat kau membawa mobil ini."


" Panji.."


" Panji..."


" Panji..."


Panji yang dari tadi mendengar runtuk an dari Wisnu membuat nya hanya menjawab iya saja. Karena ia tau tuan muda saat ini sedang sangat panik dan cemas akan keadaan Windi.


Sabar Panji sabar!


Lima belas menit kemudian Wisnu sudah tiba di tempat Windi di larikan ke rumah sakit. Ia segara masuk kedalam tanpa menunggu Panji


" Apa ada pasien yang baru saja tiba dari Industri NC? "


" Ada tuan. Di lantai 3 ruang rawat kemboja no 5A."


" Baik la Terima kasih." Wisnu langsung bergegas pergi naik ke atas menggunakan tangga darurat.


Sampai di lantai tiga ia langsung mencari tempat Windi di rawat. Dengan nafas yang terengah-engah karena berlari menaiki tangga. Sampai di depan pintu kamar rawat Windi ia melihat seorang wanita sedang menunggu nya.


" Dimana istri ku?!"


" I-ibu Windi sedang di dalam tuan."


Wisnu langsung masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Windi yang sedang terbaring lemah dengan tangan di infus, membuat seluruh tubuhnya menjadi lemas melihat keadaan Windi Sekarang. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang Windi. Ia menatap sekujur tubuh Windi yang lemas dan tak berdaya. Tanpa sadar air mata keluar begitu saja dari kelopak matanya. Ia masih terus menatap Windi dengan tatapan kosong dan hampa.


Ya tuhan.. Kenapa dia jadi seperti ini?


Tangan Wisnu perlahan menggenggam tangan Windi, Ia mencium lembut tangan Windi dengan air mata yang masih mengalir dari sudut matanya.


Windi aku mohon... Jangan tinggalkan aku.. A-aku tidak akan sanggup hidup tanpa mu Windi. Wisnu terus menangis tersedu-sedu sembari menggenggam erat tangan Windi, Air mata nya terus mengalir.


Perlahan mata Windi mengerjap-ngerjapkan menyesuaikan cahaya yang ada di Ruangan itu. Ia merasakan ada seseorang yang menangis di tangannya. Ia menggerakkan kepalanya menatap ke sisi kanannya. Ia melihat Wisnu yang sedang menangis sambil menggenggam tangan nya.


Isnu? dia menangis?


" I-isnu.." Ujar lirih Windi


Wisnu yang mendengar suara Windi membuat nya menegakkan kepalanya. " Baby kamu sudah sadar? Apa ada yang sakit? Apa aku perlu memanggil dokter? Atau kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Wisnu beruntun


Windi yang mendengar perkataan Wisnu membuat bola matanya bergerak menatap ke arah mata Wisnu yang tampak bengkak seperti habis menangis. Tangan kirinya yang di infus perlahan bergerak dan menghapus sisa air mata Wisnu.


" Kamu menangis?"


Wisnu hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan Windi. Sementara Windi tersenyum menatap ke arah Wisnu.


"A-aku... Ba-baik Saja Isnu... Aku hanya kelelahan saja..."

__ADS_1


Wisnu menggeleng kan kepalanya dan tersenyum lembut ke arah Windi." Aku kan sudah bilang kepada mu... Kamu harus menjaga kesehatan mu... Jika kamu begini aku tidak akan mengijinkan kamu bekerja."


" Aku tidak apa-apa Isnu.. Kamu jangan terlalu berlebihan isnu." Ujar Windi sembari tersenyum lembut ke arah Wisnu.


" Senyuman mu membuat aku raga baby. Lihat sekarang kamu menjadi seperti ini...A-aku."


Windi meletakkan jari telunjuk nya ke bibir Wisnu." Astaga sejak kapan tuan muda keluarga Witamma menjadi cerewet sekali.. Aku baik-baik saja Isnu.."


" Tapi.." Perkataan Wisnu terpotong karena Panji yang tiba-tiba masuk dan memberitahu kalau dokter mencari Wisnu.


" Maaf tuan muda.. Dokter ingin bertemu dengan mu." Ujar Panji


" Baik la Tunggu sebentar." Panji mengangguk kepalanya dan pamit ijin untuk keluar.


" Pergi la.. Aku baik-baik."


" Baik la... Jika perlu sesuatu kamu bisa panggil Panji oke?"


" Iya... Cerewet sekali.." Ujar Windi dengan terkekeh.


Wisnu memberikan ciuman di kening Windi dengan lembut dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Windi dan menuju ruangan dokter.


Huh! Seperti nya aku terlalu bekerja keras hingga seperti ini


...Aku juga lupa meminum obat ku...Batin Windi.


Wisnu sudah berdiri di depan pintu. Namun ia belum berani untuk masuk. Ia terlalu takut mendengar apa yang akan di kata kan dokter nanti tentang kodisi Windi saat ini. Ia mengumpulkan keberanian dengan menarik perlahan nafas nya dan mengetuk pintu perlahan.


" Masuk! " Wisnu masuk ke dalam ruangan tersebut.


" Selama siang taun. Saya dokter Andin.." Ujar dokter Andin sembari mengulurkan tangannya.


Wisnu membalas uluran tangan dokter tersebut." Selamat siang dok... Saya Wisnu suami Windi."


" Suami? Benarkah? Kenapa Windi tidak pernah cerita kalau di sudah menikah?"


Kening Wisnu berkerut mendengar perkataan Dokter Andin. " Maksud nya?"


" Ah tidak apa-apa... Saya akan menjelaskan kondisi Windi saat ini." Ujar Andin


Wisnu memasang telinga dengan baik dan mendengar perkataan yang akan di lontarkan dokter Andin.


" Begini.. Kondisi Windi saat ini sudah stabil dan lebih baik dari pertama ia datang ke sini."


" Bisa lebih Rinci nya? dan katakan Windi sebenarnya Sakit apa? Apa yang menyebabkan nya menjadi seperti itu? " Ujar Wisnu yang langsung to the point.


Dokter Andin menghembuskan nafasnya perlahan dan menatap ke arah Wisnu. Seperti nya dia belum tau tentang kondisi Windi saat ini... Apakah aku harus memberitahu nya? bagaimana pun dia sekarang suaminya Windi. Aku harap kali ini Windi akan lebih semangat untuk mengendalikan penyakitnya...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hello every all... Jangan lupa dukung nya untuk like, komen, rate 5, vote and share... Thank you all❤️

__ADS_1


__ADS_2