Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Melahirkan


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak perginya Wisnu ke Amerika. Setiap malam Windi selalu menelfon Wisnu untuk menemaninya tidur. Wisnu juga sama sekali tidak keberatan, Karena ia juga sangat merindukan Istri dan anak-anaknya.


"Hubby? Apa kamu masih lama?"


"Aku akan pulang dalam dua hari. Atau mungkin besok aku akan pulang. Aku harus memastikan semuanya aman ketika aku pulang nanti." Ujat Wisnu.


"Hufh Baik lah." Ujar Windi dengan wajah sedihnya.


"Baby, Jangan sedih begitu dong. Nanti babynya ikut sedih." Rayu Wisnu dengan senyuman manisnya.


Mendengar perkataan Wisnu membuat Windi ikut tersenyum lebar. "Ck" Cibik Windi.


"Sudah, Lebih baik kamu tidur ya. Ini sudah malam, Besok pagi aku telfon lagi oke?" Ujar Wisnu.


"Iya, Hubby, Bye-bye I love you. Muchh."


"Bye Mommy, bye My Boys. I love you guys forever."


Bip


Panggilan Telfon terputus, Windi meletakan ponselnya diatas nakas. Dan menggantikan Lampu tidur yang temeram.


Sedang di sisilain. Wisnu membuka baju tidurnya dan menggantinya dengan kemeja Abu-abu dan jas berwarna Navy. Sebenarnya ia akan kembali Ke Indonesia di pagi itu pukul sembilan pagi. Dan waktunya tersisa empat puluh menit lagi menuju bandara.


"Semua sudah disiapkan Panji?" Tanya Wisnu seraya merapikan pakaiannya.


"Sudah Tuan." Ujar Panji.


Mereka pun berangkat ke bandara dengan mengebut agar tidak terlambat. Kali ini mereka sengaja menggunakan pesawat komersial di kelas Busnis. Di pesawat Wisnu sudah membayangkan wajah manis Windi yang terkejut dengan kedatangnnya.


"Ahh.. Aku benar-benar sudah tidak sabar." Batinnya.


.


.


.


Pada Pukul Dua malam Windi terbangun karena ingin membuang Air kecil. Ia perlahan bangun dari tempat tidurnya. Ia melihat ke arah Pojok ruangannya, Wanda sudah tertidur pulas di Tempat tidur tambahan. Karena takut terjadi sesuatu membuat Wanda harus siaga menjaga Windi dengan baik. Biasanya ia akan terbangun untuk mengecek keadaan Windi. Namun sepertinya, di malam itu Wanda sangat lelah sekali hingga membuatnya tidak terbangun meskipun terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.

__ADS_1


Saat membuka ****** ******** Windi dikejutkan dengan flek coklat yang menempel di ****** ********. Ia sedikit panik namun berusaha setenang mungkin. Ia menyudahi acara buang hajatnya dan kembali ke ranjangnya.


Windi menarik nafas perlahan lalu membuangnya dengan perlahan. Ia kembali mengulangnya tiga kali. Tangannya mengelus perut buncinya, yang mulai terasa nyeri yang semakin sakit. Keringat mulai membajir wajahnya. Tangan terulur menekan bel yang berada di samping ranjangnya.


KRINGG


KRINGG


Bunyi bel yang penjang membuat semua orang terbangun dari tidurnya, Begitu juga dengan Wanda yang tertidur pulas dikasur bawah.


"Baby? Ada apa?" Tanya Wanda dengan khawatir.


"Angel perutku sangat sakit, Dan tadi saat aku kekamar mandi ada flek ke coklat yang keluar." Ujar Windi dengan wajah kesekitanya.


Brakk


Pintu kamar Windi terbuka dengan kencang. Reffa dan yang lainnya masuk ke kamar Windi dengan wajah paniknya. "Apa terjadi sesuatu?" Tanya mama Fitri.


"Sepertinya Windi mengalami kontraksi." Mendengar itu membuat semua orang membelikkan matanya terkejut.


"Bukannya masih sebelas hari lagi dari prediksi dokter?" Tanya Reffa.


"Kalau begitu ayo kita bawa Windi kerumah sakit." Seru Ken


Reffa Dan Ken membopong Windi ke arah kursi roda yang berada di sudut ruangan. Saat baru berjalan lima langkah, tiba-tiba keluar air yang merembes dari sela-sela, ************ Windi.


"Windi? Kamu.." Ujar Reffa terkejut.


"Oke fiks Windi akan segara melahirkan." Ujar Mama Fitri.


Semua orang membagi tugas Ken, Wanda, Reffa dan Mama Keylly akan menemani Windi kerumah sakit. Papa James dan Jason akan mengawal perjalanan Windi ke rumah sakit. Sedangkan Papa Ben dan Mama Fitri mempersiakan segala kebutuhan selama di Rumah Sakit.


Disepanjang jalan, Rasa mulas di perut Windi semakin sakit hingga membuatnya berkeringat dingin dan merinntih kesakitan. Mendengar adiknya yang merintah kesakitan membuat Ken mencekram kuat stir mobilnya dan menampilkan urat-urat² lahernya.


"Windi, Tenang lah. Kita akan sampai ke rumah sakit sebentar lagi Oke?"


"Mah.. ini sakit sekali.. Windi benar-benar engga kuat.." Ujar Windi seraya mencekram kuat lengan Reffa yang berada di samping Windi. Keberadaan Reffa di samping Windin karena Wanda tidak berani menemani Windi yang kesakitan. Karena menurutnya itu sangat menakutkan. Jadilah Reffa yang menemani Mommy Keylly disamping Windi. Tangan dan Rambutnya Habis dijadikan pelampisan kesakitan Windi. Kancing bajunya bahkan terlepas dua akibat tarikan yang diberikan Windi.


"Ahhhkk.. Mommy ini sakit sekali." Rintihan Windi membuat Ken langsung menacapkan Gas hingga Kecepatan seratus dua puluh kilo meter perjam. Melihat Mobil Ken yang melaju cepat membuat mobil iring-iringan Windi ikut menacapkan Gasnya. Untung saja suasana sedang sepi hingga tidak menimbulkan kebisingan dan kepanikan orang-orang.

__ADS_1


Sekitar Dua puluh menit, Mobil yang dikendari Ken Sampai dipelantara rumah sakit milik keluarga Wisnu. Windi segara diangkat untuk dipindahkan kebankar rumah sakit. Windi yang keadaannya sudah lemas tak berdaya membuat semua orang merasa khawatir. Hingga mereka melupakan untuk menghubungi Wisnu.


Windi segera dilarikan ke ruang operasi, Karena tidak memungkinkan Windi untuk lahir normal dalam keadaan Windi yang sudah tidak Sadarkan diri.


Lampu ruang operasi menyalah berwarna merah menandakan operasi sedang berlangsung. Semua orang menunggu dengan Cemas dan Khawatir.


"Hufh... Ini menegangkan sekali." Batin Wanda yang menundukkan kepalanya.


Sedangkan Ken terdiam menatap pintu ruang operasi dengan tatapan penuh harapannya. Tak jauh berbeda dengan Ken dan Wanda. Reffa, Mama Keylly, Papa james dan Papa Jason juga ikut cemas.


Reffa bahkan mondar-mandir bagaikan strikaan. "Reffa duduklah, Kau membuat ku pusing saja." Ujar Ken dengan dingin.


"Aku khawatir sekali, kakak ken.. Windi sedang berjuang untuk melahirkan tetapi ia tidak didampingi oleh Sua.."


"Astaga! Kita lupa untuk menghubungi Kakak Wisnu!" Pekik Reffa. Mendengar perkataan Reffa membuat semua orang ikut kaget.


"Kita lupa mengabari Wisnu. Ken coba kau hubungi Wisnu. Dan Wanda kau Hubungi Panji. Bagaimana pun ia suami dan ayah dari bayi-bayi itu." Ujar Mommy Keylly


Untung saja Ken dan Wanda membawa ponsel mereka. Keduanya mencoba menghubungi nomor Wisnu dan Panji. Namun nomor mereka tidak terhubung sama sekali dan berada diluar jangkauan.


Satu Jam kemudian terdengar suara bayi nangis yang saling bersaut-saut. Membuat rasa haru dan senang bersamaan.


"Kalian dengar itu? Pewaris keluarga kita sudah lahir." Ujar Daddy Jason. Ia memeluk tubub Istrinya dan menangis bahagia. Lampu operasi juga sudah berubah menjadi Hijau. Menandakan operasi sudah selesai.


Pintu ruang operasi terbuka, dan terlihat wajah pucat Windi.


"Dokter apakah putri kami baik-baik saja?" Tanya Daddy Jason.


"Tuan dan nyonya tenang saja, Keadaan nona Windi stabil. Ia masih dalam masa Anastesi. Nona akan bangun dalam tiga jam kedapan tuan." Ujar Dokter


"Ya Tuhan syukurlah." Ujar semua orang.


Tak lama keluar tiga kereta bayi, Semua orang mendakat dan melihat wajah anak-anak Windi dan Wisnu. Pada Ketiga kereta bayi itu sudah ditempelin sebuah kertas penanda, bayi mana dulu yang terlahir.


"Daddy kau lihat bayi itu?" Tunjuk Mama Fitri pada bayi pertama. "Ehm ya aku melihatnya..Dia sangat mirip sekali dengan Wisnu. Dia persis seperti Wisnu dan juga Mariana." Ujar Papa Benny dengan mata berkaca-kaca. Melihat Wajah cucu pertamanya yang persis sekali dengan Wajah mendiang Adiknya.


Ketiga anak Windi, memilik wajah yang hampir mirip hanya saja pada anak terakhir ia memiliki bentuk Hidung dan mata yang mirip dengan Windi. Namun bentuk wajahnya mirip dengan Wisnu.


Saat Windi terbangun nanti ia pasti akan bahagia sekali, karena keinginan nya yang memiliki anak dengan wajah mirip Wisnu terwujud.

__ADS_1


__ADS_2