Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Akting Yang Bagus


__ADS_3

"Hahaha, Jika aku berada di sebalah nya mungkin aku juga akan tertawa melihat wajah bingung Panji." Windi terkekeh mendengar perkataan Ken yang mengatakan Panji sempat tegang ketika mendengar berita rumor tentang perusahaan Hans yang mengambil Alih perusahaan WT grup.


"Aku juga tidak dapat membayang kan bagaimana wajah Panji ketika mendengar berita itu, Ia pasti akan sangat syok sekali." Sambung Wanda tiba-tiba.


Ia saat ini mereka bertiga sedang bekerja sama dengan baik, dan membagi-bagi Tim agar semua berjalan sesuai rencana mereka. Tapi kali ini Wanda cukup memantau dari jauh dan mengawasi setiap gerak-gerik musuh.


Ken dan juga Windi lah yang kali ini memainkan peran lebih banyak.


"broer, Saat nya menjalankan Rencana selanjut nya. Kita harus segara menyingkirkan Para musuh satu persatu secapat nya." Ujar Windi dengan serius, Kini ia merubah mimik wajah nya menjadi lebih serius.


"Kau tenang saja. Kita akan segara menemukan lokasi ia berada." Ujar Ken.


"Sudah yah aku tutup dulu telfon nya, Nanti aku akan menghubungi lagi perkembangan nya." Ujar Ken.


"Baik la broer."


Kini Tinggal Winda yang terhubung dengan Wanda. "My Angel, Apakah semua nya akan sesuai dengan rencana kita?" Windi sedikit khawatir dengan rencana yang sudah mereka susun.


"Kau tenang saja semua nya akan berjalan dengan sesuai." Ujar Wanda meyakinkan.


Tiba-tiba saja...


"Tuan Guntur, Saat ini Nona Windi sedang sibuk sekarang. Anda tidak bisa masuk." Ujar Seseorang yang membuat keributan di luar ruangan.


Brak!


Windi memejam singkat mata nya dan menghela nafasnya, Ia sudah menduga bahwa Guntur akan datang menemui nya.


"Nona! Aku tidak peduli dengan cara apa yang kau gunakan tapi jangan membawa seluruh perusahaan Witamma hancur bersama mu." Teriak nya kesal.


"Alex, Kau bisa kembali kepekerjaan mu."


"Baik nona."


Kini di ruangan itu hanya ada Windi dan juga Guntur yang tengah menatap nya dengan tajam.


Brak!


"Kau! Segera lepaskan saham perusahaan nya udah kau beli." Ujar Guntur dengan Amarah.


"Itu sangat tidak mungkin." Ujar Windi dengan senyuman mengejek.


"Kau! Jangan mengancam ku! Aku juga pemegang saham! dan saat ini aku menentang Rencana mu." Ujar Guntur


"Heheh... Bukan kan kau kemarin menyetujui nya? Lalu apa yang sedang kau permasalah kan? Dan apa kau lupa? Bahwa semua pemegang saham menyetujui rencana ku? Lalu apa yang permasalah kan?" Ujar Windi dengan sombong.


"Kau... Sangat sombong sekali!! Apa kau tau! kau membahayakan semua..." Ucapan Guntur terpotong karena langsung di potong dengan Windi.


"Hehh? Bagaimana bisa begitu? Asal kau pergi dari perusahaan Witamma maka tidak masalah." Ujar Windi dengan santai.


"Apa yang kau mau? Kau ingin mengambil Saham ku? Kau benar-benar Wanita licik." Geram Guntur. Terlihat ia mengepalkan kuat-kuat tangannya.


"Tuan Guntur, Apa kau fikir aku tidak tau apa yang sedang kau rencana kan Dengan Mr. R? Apa kau fikir aku sebodoh itu dengan semua tipu muslihat mu selama ini? Ha? "


"Jawaban nya, Kau salah besar! Aku sudah mengetahui semua nya beserta antek-antek sialan mu itu..." Desis Windi menahan Alter Ego nya agar tidak keluar saat ini. Terlihat di wajahnya guratan-guratan Amarah yang terpancar dengan jelas.


Windi tenang kan diri mu, Windi menarik nafas banyak-banyak agar menenang kan Amarah nya yang hampir saja memuncak.


"Sekarang keputusan ada di dirimu.. Tetap di perusahaan Witamma tapi kau tidak memiliki urasan lagi dengan hak saham dan mendukung keputusan ku atau kau menjual saham mu itu." Ujar Windi memberikan tawaran. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari Lentik nya, Menunggu keputusan yang akan di berikan Guntur.


Bagaimana ini? Jika aku tetap berada disini sama saja aku mencari mati ku sendiri. Tapi aku juga tidak bisa menjual saham ku begitu saja. Batin Guntur.


Guntur saat ini benar-benar yang bimbang sekali dengan keputusan nya. Ia tidak tau harus melakukan apa.


"Ck, Lama sekali.. Kalau kau hanya diam berarti aku menganggap kau setuju dengan keputusan ku." Ujar Windi dengan tegas.


Windi menekan telfon yang terhubung ke ruangan Alex. Guntur yang melihat menjadi Panik.


"Tunggu Nona!"


Windi diam-diam tersenyum Devil. Tapi sedetik kemudia ia merubah mimik wajah nya menjadi datar. " Jadi?"


"A-aku akan menjual saham ku... Tapi aku ingin saham ku sesuai dengan Harga saham." Ujar nya


Mendengar itu mengundang gelak tawa Windi. " Hahaha kau bercanda? " Ujar Windi seraya tertawa.


"Itu tidak akan mungkin! Aku hanya akan memberikan mu dua pertiga dari harga nilai pasar. Ini sudah termasuk sebagai harga sahabat. Jika kau tidak mau, yah tidak masalah untuk ku. Kau bisa kembali menjadi pemegang saham. Tapi tentu nya aku akan mencabut hak mu ketika ada rapat dengan para pemegang saham." Ujar Windi seraya tersenyum mengejek.


"Kauu..." Geram Guntur. Tangan nya sudah terangkat ingin memukul Windi.


Melihat itu tentu saja tidak membuat Windi takut, Justru semakin membuat nya merasa puas. "Kau ingin memukul ku? Sila kan, Tapi aku bisa memastikan satu hal untuk mu? Jika keluarga ku menemukan satu saja luka lebam maka akan ku pastikan hidup mu akan seperti Raga yang tak bernyawa." Ujar Windi. Mata nya menatap tajam ke arah Guntur yang tengah menatap nya.


Jika saja tatapan Mata adalah sebuah senjata maka akan di pastikan Guntur akan mati hanya dengan mentap mata tajam Windi.


"*****!"


"Aku tau kau memiliki fikiran yang sangat licik, Tidak akan mungkin harga saham perusahaan Witamma berfluktasi sebanyak itu hanya dalam semalam?! Kau benar-benar wanita rubah licik yang hanya bisa menyebabkan kehancuran untuk keluarga mu sendiri. "


"Hahaha terimakasih atas pujian nya Tuan Guntur Skala Bumi. Tapi apa kau tidak tertarik dengan ini?" Tanya Windi seraya menunjuk kan Flasdishk kepada Guntur.

__ADS_1


Melihat itu membuat Wajah Guntur jadi menegang."Ka-kau.."


"Iyah, Aku sudah mengumpulkan semua bukti atas pengkhianatan dan kejahatan mu selama ini.."


Mendengar itu semakin membuat tubuh Guntur menegang dan kaku.


"Hufh Tapi sayang aku tidak punya waktu untuk memverifikasi hal tersebut kepada yang lain nya." Ujar Windi dengan muka memelas.


"Jadi bagaimana? Apa kau sudah membuat keputusan?"


Sial! Jika dia tidak memiliki bukti itu, Maka aku tidak akan segan-segan bertindak lebih jauh.


Windi menunggu jawaban atas pertanyaan nya.


"Ba-baik lah aku akan menjual saham ku." Ujar nya.


"Bagus!"


"Alex bawakan dokumen itu sekarang."


Tak lama Alex datang dengan dokumen yang di minta Windi. " Ini Nona." Ujar nya.


"Baik la kau boleh kembali ke ruangan mu."


"Baik Nona."


Setelah kepergian Alex, Windi kembali.menatap intens ke Arah Guntur. " Sila kan di tandangi." Titah Windi.


Guntur melirik ke arah dokumen dan juga Windi secarah bergantian. Melihat itu Windi memutar kan jengah bola mata nya. "Ayo apa lagi yang kau tunggu."


Dengan langkah pelan Guntur maju ke arah Windi, Tangan nya yang gemetaran moncoretkan tanda tangan nya sebagai persetujuan kalau ia sudah menjual saham nya kepada Windi.


"Baik lah, Karena sudah kau tanda tangani, Lima belas menit ke depan kau sudah akan menerima uang nya di Rekening mu. Sekarang kau boleh pergi." Ujar Windi dengan mengusir.


Mendengar itu membuat Guntur sedikit Emosi, Ia tidak menanggapi perkataan Windi. Ia langsung berbalik meninggal kan ruangan itu dengan Amarah.


Sialan kau! Lihat saja aku akan membalas nya dengan dua kali lipat.


Setelah kepergian Guntur Windi kembali mengambil ponsel nya yang masih terhubungan panggilan video Call dengan Wanda.


"Bagaimana Angel? Apakah Akting ku bagus?"


"Ckck, Itu sangat keren sekali Baby kau bahkan mengancam nya dengan Flasdick kosong... Hahahah.." Tawa Wanda dengan puas


"Iyayaya aku sangat hebat sekali. Tapi kita tidak boleh berbangga hati sebelum melumpuhkan sayap kiri nya terlebih dahulu." Ujar Windi dengan serius.


"Kau benar sekali. Sekarang saat nya Broer Ken dan Panji yang akan memain peran."


***


Setelah memutuskan panggilan dengan Windi kini, Ken beralih menatap ke arah Daffa yang sedang mengotak-ngatik Laptop untuk melacak ke beradaan Hans.


Hal yang memudah kan mereka menemukan keberadaan Hans karena ada mata-mata yang berada di sisi Hans. Tentu nya kalian tau bukan? Siapa yang menjadi mata-mata itu? Ya dia adalah Justin yang sampai saat ini masih bekerja sama dengan Wisnu. Ia selalu memberikan informasi tentang apa saja pergerakan yang di lakukan Hans. Termasuk siapa dalang dari semua ini.


"Apakah kau sudah mendapat kan sinyal dari nya?"


"Maaf tuan saat ini Be... Ada tuan akhir nya sinyal pelacak ini bekerja!" Ujar Daffa dengan penuh semangat.


Mendengar itu, Membuat Ken langsung mengalih mata nya kelayar laptop yang telah menampilkan sebuah Map dengan tanxa merah.


"Di mana posisi nya?" Tanya Ken.


"Posisi nya telah terkunci di Wilayah Selatan Tuan."


"Bagus! Kita segera kesana." Ia segara mengotak-atik ponselnya.


"Segara siap kan semua nya kita akan pergi ke arah selatan dan menangkap Musuh."


Ting!


"Baik Tuan, Sesuai perintah."


.


.


.


.


!Sedangkan di tempat lain,


"J@l@n9 s1@l@n, Berani nya ia mencoba untuk membius ku, Beruntung aku sempat menghabisi nya sebelum aku kehilangan kesadaran nya." Ujar nya seraya memegang luka tusukan yang sempati di berikan Wanita itu di perut nya. Untung saja luka tusuk kan itu tidak terdalam.


Kini di hadapanya terdapat sebujur tubuh wanita yang tergeletak tak bernyawa dengan darah yang membasahi hampir seluruh tubuhnya, Akibat luka tusukan yang di berikan Hans kepada Wanita itu.


Ya, Hans hampir saja terbunuh oleh Wanita panggilan. Ia benar-benar sangat terkecoh saat itu. Ia bahkan tidak menyadari jika minuman yang di siap kan untuk nya terdapat obat bius. Beruntung ia sempat bisa membalas serang balik dengan membunuh Wanita itu.


Malam ini Hans mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan keberhasialan nya untuk menjatuh kan Perusahaan keluarga Witamma. Bahkan ia mengundang para Wanita panggilan untuk menghibur mereka semua. Namun seperti nya Takdir sedang tidak memihak nya, Karena salah satu wanita panggilan itu berusaha membunuh nya.

__ADS_1


"Cih menyedihkan sekali kau.." Hans meludah tepat di wajah wanita itu.


Dengan langkah terseok-seok seraya masih memegani luka di perut nya. Ia berjalan keluar ke area utama. "Hei!" Teriak nya yang menggema ke seluruh ruangan. Ia merasa ada yang aneh di sini.


"Tidak ada orang disini?! Lalu kemana semua orang pergi?!" Geram nya kesal.


"Hei! Apa kalian tuli? Di mana kalian?" Teriak nya lagi.


Hingga muncul dua orang Pengawal nya yang tampak sedang tergesa-gesa menghampiri Hans, Salah satu nya adalah pria yang datang dari bandara. Wajah sangat pucat dan Panik melihat tubuh Hans yang berlumuran darah segar.


"Tuan Hans? Apa yang terjadi pada mu?" Tanya nya panik ketika melihat tubuh Hans yang berlumuran darah.


"Ck jangan peduli kan aku! Cepat kau urus, J@l@ng s1@l@n mu itu. Dan kau panggilan Gerry ke hadapan ku." Ujar nya seraya menahan rasa sakit di tubuh nya.


"Baik tuan." Kedua nya pergi meninggalkan Hans yang tampak menahan sakit di tubuhnya.


Dengan tertatih-tatih ia terus berjalan, Namun sayang ia sama sekali belum melihat para pengawal nya. Bahkan kepala pengewal nya juga tidak kelihatan.


"Sial! Kemana mereka semua pergi?" Geram nya.


Hingga terakhir ia menuju ke sebuah taman tempat mereka mengada kan pesta kecil-kecilan. Saat sudah sampai di sana Ia di kejutkan dengan puluhan mayat pengawal nya berserakan di area taman.


"Shit! Apa yang sedang terjadi? Kenapa mereka semua Mati?" Runtuk nya geram.


"Tuan! Gawat saat ini Gerry sudah Tewas tuan!" Ujar seseorang yang baru saja memeriksa kondisi sekeliling dan mengatakan kepada Hans bahwa orang kepercayaan, yang selama ini sudah bekerja bertahun-tahun mati dalam semalam.


Ia membalik kan badan nya dan menatap ke arah orang itu." Jangan bicara sembarang! Atau kau akan ku bunuh dengan tangan ku sendiri." Desis nya seraya menatap tajam dan menusuk.


"Ti-tidak Tuan saya tidak sedang bercanda. Saya menemukan tubuh Gerry tergeletak di ujung ruang Utama dengan banyak nya tikaman di tubuhnya tuan." Ujar nya.


Tubuh Hans sekita melemah mendengar perkataan anak buah. Ia benar-benar merasa terkejut, Kepala Pengawal yang selama ini telah mengabdi kepada nya mati begitu saja? Lelucon macam apa ini? Fikiran nya begitu, Tapi seperti nya ini bukan lelucon karena anak buah yang di perintah kan untuk mencari Gerry mengantar kan ketempat tubuh Gerry tergelatak tak bernyawa. Melihat itu lutut Hans seraya tak berdaya, Tubuh nya terasa tak memiliki tenaga lagi, Tetapi Untung saja Anak buah nya dengan sigap menyangah tubuh nya yang oleng."Ba-bagaimana bisa seperti ini? Kenapa semua nya pada tewas?" Ujar nya bingung.


Sial! Aku akan membunuh orang yang telah berani membunuh mu! Aku akan membalaskan dendam mu! Batin nya


Pengawal itu membawa tubuh Hans untuk menjauh dari tubuh Gerry.


"Tuan kita harus bagaimana sekarang?" Tanya.


Namun Hans hanya diam, Tatapan nya masih kosong. Ia masih sangat syok melihat kekacuan yang ada di hadapan nya. Semua nya terasa tiba-tiba.


"Tuan?"


Apa yang harus ku lakukan sekarang? Orang kepercayaan ku telah tewas, Aku sudah tidak memiliki siapapun. Lalu aku harus seperti apa? Kenapa semua nya jadi begini? Ini semua tidak sesuai dengan apa yang telah di rencana kan? Batin nya.


Hingga di fikiran nya langsung terlintas satu nama di fikiran nya.


Hans langsung berdiri dan menatap tegas ke arah anak buah nya yang tersisa. "Cepat hubungi Mr. R minta dia untuk mengirim kan bala bantuan ke sini, dan segara kirim kan lokasi kita saat ini." Ujar Hans dengab Tegas


"Ba-baik Tuan." Dengan gemeteran ia morogoh ponsel nya yang berada di saku kanan celana nya. Namun belum sempat ia menghubungi bantuan, Tiba-tiba sebuah anak peluru melesat mengenani tangan nya


Aahkk!!


Pekik nya, menahan rasa sakit akibat sebuah peluru yang mengenai nya.


Hans yang melihat itu melotot tak percaya, Jika saja pengawal nya tidak berdiri di samping nya mungkin saja Anak peluru tadi mengenai telinga.


"Heii! Siapa kau! Kenapa kau pengecut sekali Sialan!" Teriak Hans menggema.


"Keluar kauu sialan!!"


Sunyi..


Sunyi..


Hingga..


Tak..Tak..Tak..


Terdengar suara sepatu pentofel yang menggema, mendengar itu Hans menoleh ke arah barat atau kebelangkang tempat ia berdiri. Mata nya fokus ke arah tempat suara itu berasal. Bukan hanya sepangsa sepatu pentofel tapi ada sepuluh pasang sepatu pentofel yang mengluarkan suara yang seirama.


Hans mesih setia menanti orang yang telah menyebab kan kekacauan di markas nya.


"Kau mencari ku Tuan Hans Raj?" Tanya seseorang yang masih berjalan dari arah kegelapan.


Mendengar itu membuat amarah Hans semakin membeludak. "Keluar kau sialan." Geram nya.


Deg!


Tubuh Hans sekita menegang melihat siapa yang kini berdiri di hadapan nya. Nafas nya seakan tercekat, Rasa nya ingin sekali diri nya menghilang saat ini juga. Ia bahkan ingin mengulang waktu dan memilih untuk di habisi oleh Wanita Panggilan itu. Dari pada ia harus di hadap kan dengan seseorang yang selama ini di takuti oleh semua orang.


Terlebih lagi senyuman Devil yang terpancar di wajah orang itu membuat bulu kuduk Hans seketika merinding.


"Ka-kau..."


.


.


.

__ADS_1


Sai Helo semua! Sampai jumpa di Bab Berikut nya. 🥰 Jangan lupa tinggalkan jejak mu....


__ADS_2