
Dua bulan berlalu pernikahan Windi dan Wisnu sudah berjalan selama Dua bulan. Hampir setiap hari nya Wisnu memberikan tugas tambahan Windi sebagai istrinya. Namun ketika Windi benar-benar sibuk Wisnu tidak memaksa Windi untuk melakukan tugasnya.
Setiap akhir pekan Wisnu selalu mengusahakan untuk mengajak Windi jalan-jalan walaupun hanya sekedar makan diluar atau jalan-jalan di sekitar an Apartemen mereka.
Di akhir pekan ini Wisnu berniat ingin mengajak Windi ke taman hiburan. Ia sudah mengatakan kepada Windi kalau akhir pekan ini mereka akan pergi, Namun Wisnu tidak mengatakan kepada Windi kemana mereka akan pergi nanti.
" isnu akhir pekan ini kamu mau mengajak ku kemana? " Tanya Windi kesekian kalinya, Namun pertanyaannya hanya di jawab sekenanya oleh Wisnu.
" Kamu juga akan tau." Jawab Wisnu yang fokus kepada Laptop nya.
" Aish kamu selalu menjawab seperti itu!" Seru kesal Windi
Wisnu meletakkan laptop nya dan beralih menatap ke arah Windi." Jika aku memberitahu mu sekarang nanti tidak jadi kejutan dong." Tangan Wisnu mengelus lembut rambut Windi.
" Aish setidaknya beritahu aku clue nya agar aku tidak penasaran isnu." Bujuk Windi
" Tidak... Itu akan tetap menjadi rahasia." Kekeh Wisnu
" Isnu.."
" Ini sudah malam sebaiknya kita tidur." Wisnu mengusap kepala Windi dan memberikan ciuman di kening Windi setiap malam. Entah kenapa mencium kening Windi sebelum tidur menjadi kegiatan rutin yang menyenangkan bagi Wisnu.
" Aish... Menyebalkan." Windi menghentakkan kaki nya dan langsung bangkit dan menuju kamar nya meninggalkan Wisnu yang mesih duduk di sofa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rasa nya tidak tega sekali...Tapi aku harus tetap merahasiakan kemana kami akan pergi akhir pekan ini... Batin Wisnu.
Wisnu membereskan pekerjaan nya dan pergi menuju ke kamar mandi untuk mengecek apakah Windi sudah tidur atau masih terjaga.
Sampai di kamar Windi ia melihat selimut Windi yang tidak menutup sempurna di tubuh Windi. Ia berjalan mendekati ranjang Windi dan membenarkan posisi selimut nya. Seulas senyum terpancar di wajah tampan Wisnu ketika melihat Windi tertidur begitu tenang.
Aku tidak tau.. Kapan tiba nya waktu dimana kita berdua tidur di atas ranjang yang sama. Ketika aku merasa lelah dan terlelap aku melihat mu di sebalah ku dan ketika sang Fajar menerangi dunia yang pertama kali aku lihat di awal hari aku adalah engkau my baby cute...
Aku harap...Cinta ku kepada mu tidak bertepuk sebelah tangan.. Aku berharap kamu bisa melupakan Refa dan belajar mencintai ku sebagai satu-satunya pria yang engkau cintai dan engkau kasihi wahai istriku...
Selamat malam My baby cute... Wisnu mencium lembut kening Windi. Ia pergi melangkah meninggalkan kamar Windi.
°°°
Pagi-pagi sekali Wisnu sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk nya dan Windi. Ia menyiapkan nasi goreng dan telur omlet spesial.
Selesai menata makanan di meja makan Wisnu kembali ke kamar nya untuk mandi. Selesai bersiap-siap ia menuju ke kamar Windi yang masih tertutup. Ia melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul enam namun Windi masih belum bangun juga.
Kenapa dia tumben sekali? Bangun siang? Gumam Wisnu. ia melangkah menuju ke kamar Windi. Ia mengetuk pintu nya namun tidak ada jawaban dari dalam. Perlahan ia membuka pintu kamar Windi dan terlihat Windi yang masih berada di dalam selimut yang tebal.
Masih tidur? Tumben sekali... Apa mungkin dia sakit ya?
Wisnu meletakkan tangannya di dahi Windi namun dahi nya tidak terasa panas sama sekali.
__ADS_1
Tidak panas.
" Windi bangun kamu tidak kerja?" Tangan Wisnu mengelus lembut rambut Windi.
" Hem." Windi hanya menggeliat tanpa membuka matanya.
" Kenapa kamu hari ini malas sekali Windi?"
" Biar kan aku tidur sebentar isnu." Gumam Windi
Wisnu menggeleng kan kepalanya melihat Windi. " Baik la kalau kamu tidak bangun aku mencium mu." Ancam Windi
Windi yang mendengar perkataan Wisnu seketika langsung bangun dari tidurnya." Menyebalkan." Runtuk Windi
" Anak pintar sekarang mandi setelah itu kita sarapan."
" Kamu lebih cerewet dari mama ku isnu... Aish aku ini istri mu bukan putri mu. "
Wisnu yang mendengar itu menaikkan sebalah alisnya. " Yah...Kamu benar kamu adalah istri ku jadi aku boleh menc..." Wisnu menatap ke arah Windi dengan senyuman menggoda nya.
" Ahh... Tidak! Minggir la aku mau mandi." Windi menggeser tubuh Wisnu yang berada di depannya
Wisnu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Windi.
Dua puluh menit kemudian Windi turun, Ia melihat Wisnu yang sedang duduk menunggu nya.
" Apa kamu yang menyiapkan ini?"
" Baik la."
Selesai sarapan mereka berdua langsung bergegas pergi menuju ketempat kerja mereka. Di sepanjang perjalanan Windi berusaha menahan nyeri di sekujur tubuhnya terutama di bagian sendi lutut, pergelangan dan punggung tangan hingga buku-buku jarinya.
Kenapa dengan Tubuhku kenapa semua sendi dan tulang terasa nyeri dan menusuk-nusuk. Batin Windi
Wisnu sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dari Windi. " Ada apa?"
Windi terkejut dengan pertanyaan Wisnu." A-ah tidak apa-apa aku hanya memikirkan dokumen-dokumen yang harus aku tangani nanti."
" Apa kamu yakin?"
" Iya."
" Baik la." Ada apa dengannya kenapa dia hari ini aneh sekali? Batin Wisnu
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Panji sudah tiba di Pabrik Industri tempat Windi bekerja.
" Terimakasih." Windi mendekat wajah nya dan memberikan ciuman di pipi Wisnu.
__ADS_1
" A-ah iya, Semoga hari mu lancar." Setiap kali Windi mencium pipinya jantung Wisnu terasa berdetak dua kali lebih cepat.
" Baik la... Kalau begitu Aku pergi dulu ya... Hati-hati jangan lupa makan siang."
" Iya."
Windi menunggu mobil Wisnu menghilang dari pandangan nya. Saat ia ingin melangkah pergi tiba-tiba sendi lutut terasa sangat nyeri dan menusuk-nusuk.
Kamu harus kuat Windi! Tidak boleh lemah! Hari ini kamu akan di sibuk kan.
Windi menghembuskan perlahan nafasnya dan kembali berjalan memasuki Area pubrik industri. Seperti biasa Windi harus mandi lagi terlebih dahulu agar tidak ada bakteri yang menempel pada tubuhnya. Saat mandi Windi merasakan tubuhnya yang menggigil kedinginan. Tidak seperti biasanya tubuh Windi seperti ini.
Selesai mandi Windi mengganti pakaian kerja labnya dan menuju ruang Lab untuk melakukan pengujian. Selama di Lab Windi berusaha sekuat mungkin untuk menahan rasa nyeri dan menusuk di sekujur Tubuhnya.
" Ibu kepala QC Apa kamu baik-baik Saja?"
" Ah ya tentu mari kita lanjutkan, Setelah ini tolong berikan dokumen-dokumen Apa saja yang harus aku tanda tangani." Ujar Windi
" Baik ibu Kepala."
Saat Windi ingin melangkah tiba-tiba pandangan nya menjadi kabur dan sekujur tubuhnya mendadak melemas ia sudah berusaha menahanya.
Bruk!
Semua orang yang berada di lab panik melihat Windi yang tiba-tiba tidak sadar kan diri.
" Kita harus Segara membawa ibu kepala ke bagian kesehatan." Ujar salah satu pegawai
Windi di bopong menuju ruangan yang disediakan untuk para pegawai ketika mereka tiba-tiba seperti yang Windi alami.
Dokter Disana memeriksa keadaan Windi. Ia merasakan tubuh Windi yang dingin dan sekujur tubuhnya yang memucat membuat nya memerintahkan untuk segara dibawa ke rumah sakit agar ada pemeriksaan selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Hallo teman-teman ku sayang mams buns and Dads maaf banget baru maap soalnya tugas lagi numpuk hehehehe