
Mata tajam Ken sedari tadi menatap ke arah Hans yang mengotak-atik Ponsel yang ia berikan.
"Maaf Tuan, Masih ada satu anak buah Hans berada di sini." Bisik salah satu pengawal.
Ken melirik sekilas ke pengawal itu. "Seret di kesini." Titah Ken.
"Baik Tuan."
Tak lama datang pengawal tadi dengan membawa anak buah Hans yang datang dari bandara ke hadapan Hans.
"Aku memberikan bonus tambahan Untuk mu tuan Hans." Ujar Ken seraya mendorong paksa Anak buah Hans mendekat ke arah Hans.
Melihat Anak buah nya yang di perilakukan semena-mena oleh Ken membuat Diri nya Emosi. "Sialan Kau! Aku akan membalas Saat aku sudah menyelesaikan Akusisi, Maka aku tidak akan mengampuni mu!" Geram Hans seraya menatap Tajam ke Arah Ken.
"Aku Tunggu Kabar Baik itu." Ujar Ken dengan Santai.
Kini Hans dan anak buah nya di giring ke Area Ruang Utama, Ken membiar kan Hans melakukan Rencana nya hingga Akhir. Alasan nya karena ia ingin Hans melihat sendiri kehancuran dan kegagalan nya karena perbuatan nya sendiri.
"Tuan Kenapa aku tidak bisa menghubungi mu?" Tanya nya.
Hans menatap ke arah nya, "Ada sedikit kekacauan terjadi di sini, Sekarang kata kan bagaimana kondisi saham saat ini?"
Mendengar pertanyaan Hans membuat Wajah nya mulai pucat. "Tu-Tuan, Kita telah menghabiskan seluruh Anggaran Akusisi, Tapi.."
"Tapi Apa sialan?" Geram Hans seraya menarik kerah kemeja anak Buah nya.
"Tapi.. saham yang kita beli tidak sampai sepertiga dari yang kita harap kan tuan." Ujar nya.
"Sial! " Hans mendorong kasar tubuh Anak buah nya, Hingga hampir terjatuh.
"Bagaimana bisa seperti ini?" Hans melirik ke arah Ken dan Panji.
"Aku yakin perusahaan Witamma memiliki pelindung yang handal. Apa ini juga bagian dari rencana mereka?" Tatapan nya berubah tajam menatap ke arah Ken dan juga Panji.
Jari Hans mulai menari-nari di atas Handphone yang di berikan Ken.
Tutt..
Tutt...
"Hallo.."
"..."
"Hans Raj.."
"..."
"Ya segara lakukan untuk mengambil Alih."
"..."
"Aku kan mengirim kan lokasi ku, dan segara kemari bersama mereka."
Tut..
Panggilan Telfon berakhir, Hans kembali menatap ke arah Anak buah nya." Kembalilah dan lanjut kan Pengakuisisian, Belilah sebanyak yang kau bisa." Ujar Hans.
"Tapi tuan bagaimana dengan Uang nya?"
"Tenang saja uang telah di transfer ke akun Bank, Dan segara jatuh kan WT grup Apapaun yang terjadi." Ujar Hans di sertai seringai Licik.
"Baik Tuan."
***
Kediam Keluarga Winata.
Windi yang baru saja tiba di kediam Keluarga Winata, di temani dengan Refa yang berada di samping nya.
"Baby kau sudah datang?" Tanya Wanda ketika melihat Windi yang baru saja sampai di Mansion mereka.
"Maaf kan Aku Angel, Aku tadi dan Refa Harus melapor ke Papa Benny terlebih dahulu setelah aku dan Refa segara ke sini." Ujar Windi.
Windi dan Refa seharus nya datang setelah pulang dari Kantor namun karena Ken dan Panji Merubah Rencana nya jadi tengah malam membuat Windi dan Refa Harus melapor terlebih dahulu ke Papa mertua nya.
"Tidak Masalah Baby," Ujar Wanda seraya tersenyum Kecil.
Wanda melirik ke arah seseorang yang berada di belakang Refa.
Fano. Lirih nya seraya tersenyum kecil yang nyaris tak terlihat.
Diri nya yang merasa di perhatikan sedari tadi melirik ke arah Wanda yang juga sedang menatap nya, Tapi tak lama Windi segara memutus kan kontak mata kedua nya.
Maaf kan aku Farah.
"Ehm.." Windi merasa suasana berubah sedikit Canggung.
"Ah iyah, Baby lihat lah apa yang telah ku lakukan." Ujar Wanda dengan bangga.
Windi mendekat ke arah monitor yang menampil kan Grafik saham perusahaan Witamma.
Terlihat Di dalam monitor menunjuk ke naik Harga nilai saham yang semakin meninggi. Garis hijau pada layar itu semakin menaik.
Melihat itu Windi tersenyum bangga melihat Kakak kembar nya." Kau sangat hebat sekali Angel."
"Tentu saja, Aku harus hebat agar calon suami ku tidak malu dengan diri ku." Ujar Wanda seraya milirik ke arah Pria yang ia panggil Fano.
"Ckck, Apa kau benar-benar menerima perjodoh an itu Angel?" Tanya Windi.
"Hufh Awal nya aku Tidak ingin, mengingat aku mesih mencintai orang lain. Tapi ketika dia sudah melupakan aku maka aku harus juga melupakan nya meskipun Aku harus menganggap orang lain sebagai pelarian.. Dan aku harap Rasa cinta ku akan pudar kepada nya dan berganti ke Dengan Rasa Cinta ku dengan Calon suami ku." Ujar Wanda yang mendadak berubah menjadi Senduh. Pandangan nya berubah menjadi Kosong.
Pria yang berada tak jauh dari Wanda, Ikut merasa sakit melihat Wanda yang seperti itu.
Windi yang melihat itu langsung berhambur memeluk Wanda." Sutt Percaya lah orang yang telah menyia-nyiakan mu akan menyesala di kemudian Hari." Ujar Windi menenang kan Kembaran nya.
__ADS_1
"Ishh.. Sudah lah kau kesini untuk melihat Grafik Saham dan melanjut kan rencana kita." Grutu Wanda.
"Angel sih.."
"Loh.. kok.."
"Maaf Nona seperti nya mereka mulai lagi." Ujar Gilbert Tiba-tiba.
Mendengar itu Sontak Wanda, Windi dan juga Refa segera mengalih kan pendangan nya ke arah Monitor.
"Berapa Harga yang telah mereka pasang? Dan berapa banyak yang mereka pasang?" Cecar Refa yang sedari menyimak kini ikut menimbrung Wanda dan Windi.
Mendengar runtutan pertanyaan Refa membuat Windi memutar jengah kedua bola mata nya.
"Sutt Refa tenang lah, Kali ini kita yang akan menang."
"Tapi..."
"Lanjut kan Gilbert." Ujar Windi memotong upacan Refa.
"Harga yang di laporkan menaik hingga 200%, Perkiraan investasi nya sama dengan seluruh dengan seluruh dana yang mengalur di Raj Grup." Ujar Gilbert tanpa mengalih kan pendangan nya.
Mendengar itu membuat Windi tersenyum kecil." Ini saat nya Rencana Akhir, Untuk membasmi para musuh hingga ke Akar-akar nya." Ujar Windi.
"Gilbert Saat nya menarik saham nya." Titah Windi.
Gilbert mengalih kan pandangan nya ke arah Windi." Baik Nona." Gilbert mulai melakukan Tugas nya untuk menarik kembali Saham perusahaan Witamma.
"Hufh Akhir nya, " Ujar Lega Wanda. Ia menyender kan punggung nya Kesenderan Sofa. Wanda memajam mata nya. Diri nya benar-benar merasa lelah Tiga hari terakhir ini.
"Angel Apa kau lelah?" Tanya Windi yang melihat Wanda terlihat sangat lelah sekali.
"Lumayan." Ujar nya.
Dia terlihat lelah sekali.
***
Markas Hans Raj
Ken dan Panji sedari tadi hanya diam menyaksi kan semua yang dilakukan Oleh Hans. Meskipun Waktu terus berjalan tidak membuat Ken dan Panji mengantuk, Mereka sedari tadi hanya memasang telinga untuk mendengar kan setiap perkataan Hans yang terhubung dengan seseorang.
"Apa kau yakin? Dia benar-benar menarik semua saham nya?" Tanya Hans yang terhubung dengan seseorang.
"..."
"Bagus! Kita telah memperoleh semua saham nya." Ujar Hans seraya tersenyum sinis ke arah Ken dan Juga Panji.
Melihat senyuman Sinis Hans membuat Ken menarik simpul bibir nya mamun nyaris tak terlihat.
"Ya.. Terus kabari aku." Panggilan berakhir.
"Kau dengar? Dia telah menarik semua saham nya! Dan sebenar lagi kalian lah yang akan hancur!" Ujar Hans mengejek.
"Cih, Bahkan di saat-saat seperti ini pun kau masih tetap santai? Aku jadi tidak sabar melihat wajah ketakutan mu nanti."
"Kita lah saja."
Melihat Ken yang masih santai membuat Hans sedikit Emosi, Ia jadi teringat tentang pendukung Ken dan Juga Panji. " Aaa seperti nya pendukung kalian tidak cukup kuat.. Bukti nya Mereka kehilangan Kendali Hanya dalam beberapa Jam saja." Cibir Hans.
Ken hanya diam tak menanggapi perkataan Hans, Hingga Ia melihat salah satu anak buah nya datang dari Arah pintu. Ken Tersenyum kecil melihat keberadaan anak buah nya.
"Apa kau sudah benar-benar yakin kalau kau akan menang?" Tanya Ken.
"Tentu saja." Ujar Hans dengan Bangga.
"Tuan semua nya sudah siap, Nona Wanda dan Windi juga telah selesai. " Bisik Anak buah nya.
Ken hanya menganggukkan kepala nya, Sedangkan Panji Hanya diam dan menyimak semua rencana yang telah di susun Oleh Ken dan Windi. Ia sama sekali tidak tau menahu secara jelas rencana nya. Ia hanya di perintah kan untuk membantu Ken.
Aku merasa kalau Rencana Tuan Ken dan Juga Nona Windi dan Wanda akan benar-benar menjadi penyebab kehancuran nya Perusahaan Raj sampai ke akar-akar nya. Batin Panji.
Kini Pandangan nya menatap ke arah Hans yang sedari tadi Tersenyum mengejek ke arah Ken dan juga Diri nya.
Ken melirik ke arah Arloji nya yang menunjukkan pukul Tujuh Pagi.
"Kalian kalah!" Ujar Hans memecah kan keheningan di antara mereka.
"Mungkin." Ujar Singkat Ken.
"Kau!!" Geram Hans.
"Apa kau yakin akan menang?"
"Tentu Saja! Aku tidak akan pernah kalah."
Ken memutar jengah malas kedua bola mata nya. Sudah, Waktu nya membungkam mulut sialan nya itu.
Ken mengisyarat kan anak buah nya untuk mendekat."Apakah semua nya sudah siap?"
"Sudah tuan, Kita tinggal menunggu Instruksi dari mu. Dari Pihak Nona Windi juga sudah siap." Ujar Anak buah nya tanpa berdosa membuat Ken geram sendiri.
"Astaga kenapa kau baru mengatakan nya sekarang?"
"Karena Tuan tidak memberi perintah, Maka nya sedari tadi Ada pergerakan Tuan." Ujar Anak buah nya dengan tak berdosa.
Mendengar perkataan Anak buah nya membuat Ken menjadi Dongkol. "Jika tidak dalam situasi seperti ini, Sudah ku pasti kan Akan menghajar mu sialan." Gumam Ken,
"Apa tuan?" Tanya nya.
"Lakukan sekarang!," Anak buah nya yang mendengar perkataan Ken membuat nya menjadi bingung. Aneh sekali Tuan Muda.
"Baik Tuan."
Ken Bangkit dari posisi nya, Membuat Panji Ikut Bangkit. Ken mengisyarat kan anak buah nya. Melihat itu semua anak buah nya langsung mengambil Tindakan, Mereka segara merengkuh tubuh Hans.
__ADS_1
Hans sangat terkejut diri nya di tahan seperti ini. "Heii Sialan apa yang kau lakukan? Apa kau akan melakukan rencana licik lagi? Lepaskan aku sialan!!"
Ken menganggukkan kepala nya, Tubuh Hans sudah terbebas dari Anak buah nya. Setelah di lepaskan Hans tidak menyia-nyiakan nya, Ia segara menarik kasar Kerah kemeja Ken. Membuat semua anak buah Hans langsung menodong kan Pistol nya ke kepala Hans.
Ken mengangkat tangan nya dan mengisyaratkan anak buah untuk meletak kan kembali pistol mereka. Mata Ken menatap ke tangan Hans yang mencengkrem kuat kerah Kemeja nya dan beralih menatap ke mata Hans yang tersulut Emosi.
"Apa kau takut Kalah? " Ujar Hans dengan Emosi.
"Takut kalah? Tidak pernah ada kata itu di kamus ku Hans!" Ujar Ken tak kalah Dingin dan tajam.
"Kalau kau tidak takut kalah kenapa kau menyuruh Anak buah mu menangkap ku?"
"Jawaban nya simple sekali! " Ujar Ken dengan senyuman Kecil.
"K.A.U.K.A.L.A.H.H.A.N.S" Eja Ken dengan penuh tekanan di setiap huruf nya.
"Apa maksud sialan." Teriak Hans.
"Jangan berteriak sialan." Geram ken dan segara mendorong kuat Tubuh Hans.
Dua anak buah Ken menahan Tubuh Hans yang terus berontak.
"Lepaskan sialan! Kau tidak bisa menahan ku tanpa alasan."
"Heh?! Tanpa Alasan? Baik lah karena kau ingin Tau apa alasan nya. Lepas kan dia!"
Setelah anak buah nya melapaskan Hans. Hans mendekat Ke arah Ken. "Apa yang sedang kau rencana kan Sialan!"
"Ahh, Seperti nya kau sangat ingin tau rencana ku, "
"Kau berikan kembali ponsel nya kepada nya." Ujar Ken kepada salah satu anak buah nya.
"Ehm, Coba la kau tepat telpon dia sekali lagi. Aku tebak Pasti tidak akan tersambung Lagi." Ujar Ken, Ketika Hans sudah menerima kembali Ponsel Nya.
Kedua alis berkerut. "Apa Maksud mu?"
"Aish! Telfon sekali lagi dia untuk memastikan Apakah kau menang atau Tidak!"
"Apa kau tidak percaya, Kalau aku menang?"
"Yayaya Bisa di bilang seperti itu. "
"Baik Lah!"
Hans kembali menelfon nomor pendukung nya, dengan mata masih menatap tajam ke arah Ken.
Tutt
Tutt
Tutt
Sampai dering berikut nya tidak ada jawaban dari nya. Hans Masih terus berusahan menelfon nya tapi masih tidak ada Panggilan Hingga Panggilan ke lima masih tidak ada yang terjawab, Membuat Hans marah dan membanting Ponsel nya.
"Sialan! Apa yang telah kau lakukan Bajingan!!!" Teriak Hans.
"Heh! tidak ada, Tapi aku bisa mengatakan apa yang terjadi kepada mu."
"Perusahaan Witamma merupakan perusahaan Internasional Bukan? dan saat masuk ke dalam perairan lokal tidak di kenal, Perusahaan tersebut biasa nya menjadi tidak stabil, Apa kau tidak tau Tuan Hans?" Ujar Ken dengan datar.
"Apa?! Bagaimana bisa seperti itu?! " Ujar Hans bingung Namun tak lama Ia tertawa. "Konyol sekali perkata an mu! Kau ingin membodohi ku?!" Ujar Hans.
"Tidak ada untung nya aku membodohi mu!" Ken ngeisyarat kan anak buah nya mendekat. Salah satu anak buah nya mendekat dan menyerah kan Ipad Kepada Ken.
"Ini Tuan."
Ken Mengambil Alih Ipad itu, Sambil terus menatap Hans ia mengetik sesuatu.
"Lihat Lah." Ujar Ken seraya menyerah kan Ipad Itu kepada Hans.
Hans menatap Tajam ke arah Ken, Terlihat sebuah berita yang muncul di layar.
"Saat ini, Saham perusahaan Witamma grup telah melonjak dalam harga yang tidak Wajar. Korporasi mencurigai ada perusaahan Jahat yang di balik Tindakan Ilegal tersebut, dan telah meminta otoritas terkait itu menghentikan perdagangan dan melakukan penyelidikan, Tersangka Utama telah tertangkap.. "
Hans membelalakan mata nya lutut nya terasa lemas, Mendengar pernyataan penyiar berita. Di tambah ia melihat anak buah nya yang di tangkap oleh pihak berwajib.
"Selama Proses penyeledik kan berlangsung, Saham perusahaan keluarga Witamma Grup tidak bisa di perdagang kan, Dan semua perdagangan yang sedang berlangsung akan di beku kan."
Brak!
Tubuh Hans seketika tidak ada tenaga, Bagaimana bisa seperti ini?
"Kau lihat? Kau sungguh bodoh sekali Hans! Hanya Demi melawan Perusahaan Witamma, Kau pasti telah mengeluar kan seluruh Modal Perusahaan Raj Dan selama proses penyelidik kan modal mu akan di bekukan. Meskipun seseorang yang telah menggantikan mu, Itu tidak akan berubah Apapun Hans! Dan Kali ini Tentu nya Kau Kalah Telak Hans! " Ujar Ken di sertai Seringai Di wajah dingin nya.
Tubuh Hans seraya tidak mampu menompang diri nya, "Kau! Licik Sekali! Kau Pasti telah memanfaat kan ku untuk mengunci semua Aset ku!" Ujar Hans dengan Amarah.
"Tidak! Tidak Mungkin semua nya Hancur! Aku tidak Akan membiarkan nya!" Teriak Histeris Hans.
"Hei Tenang lah! Jika saja kau tidak Ikut Campur dalam Hal ini mungkin ini tidak Akan terjadi! Tapi sayang nya kau memilih menjadi Boneka Nya. Dan sekarang Perusahaan Hans Telah Hancur. Bukan hanya itu saja Tuan mu itu telah Rugi besar dalam hal ini, Aku jadi penasaran apa yang akan Ia Lakukan Pada mu."
"Kau!!"
Ahkk
Hans merasa sakit di perut nya yang terkena luka tusukan tadi.
"Hah! Seperti nya aku telah meremehkan Kalian." Ujar Hans seraya menahan sakit di perut nya.
Tatapan Ken mulai berubah menjadi tajam dan dingin. " Tidak, Tapi Dia yang telah meremeh kan Perusahaan Witamma Grup, Dan sebentar lagi giliran nya yang akan membayar Mahal Atas perbuatan nya." Ujar Ken dengan Datar.
.
.
Haii Semua, 😘
__ADS_1