Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Awal Pembelasan Dendam


__ADS_3

Refa tengah bersiap-siap untuk menemui kakak nya di kantor. Ia telah berencana untuk meminta maaf dengan sikap nya sedikit kekanak-kanakan.


Refa memilih menggunakan koas berwarna putih dengan di padukan dengan jas berwarna cream. Tidak lupa dengan jam tangan rolex berwarna biru navy Yang melingkar di tangan kirinya. Refa memandang pantulan dirinya di cermin yang terlihat begitu segar dari sebelumnya. Seulas senyuman terpancar di wajah tampan nya.


Lihat betapa tampan nya diri mu lalu kenapa Windi lebih memilih kakak mu?


Refa segara menggeleng kepalanya agar tidak terpengaruh dengan Fikir nya, Karena sudah bertekad untuk melupakan Windi dan memulai lembaran baru dalam hidup nya.


Refa menyambar kunci mobil yang berada di nakas nya. Saat keluar dari kamar nya ia melihat Dito yang baru saja datang membawakan sebungkus makan siang untuk Refa.


"Tuan? Anda mau kemana? "


"Aku ingin pergi menemui kakak."


Dito mengangguk paham, "Tuan lebih baik dulu anda makan siang. "


"Tidak usah aku ingin makan siang bersama kakak ku."


"Tapi tuan."


"Sudah yah aku pergi dulu, Sampai jumpa Dito." Refa melenggang pergi meninggalkan Dito yang menghela kasar nafasnya.


Tuan Refa yang menyebalkan telah kembali.


Sejurus kemudian ia menepuk kepala nya, Ia lupa kalau dia harus mengikuti kemana pun Refa pergi. Dito langsung meletakkan makanan siang Refa di atas meja dan kembali mengikuti Refa.


Ia melihat mobil Refa yang sudah melesat pergi, dengan buru-buru Dito mengendarai mobil nya mengikuti Refa.


.


.


.


Sebelum ke kantor Wisnu Refa menyempatkan diri untuk mampir ke Restaurant yang tidak jauh dari Kantor Wisnu untuk membeli makan siang untuk mereka berdua.


Selesai membeli makanan Refa kembali melaju kan mobil nya ke kantor Wisnu. Semua gerak-gerik Refa sebelum ke kantor tak lepas dari Dito yang membuntuti nya secara diam-diam dari belakang.


Dito menghela nafas nya lega ketika Refa benar-benar ingin pergi ke kantor Wisnu.


Mobil Refa sudah terparkir di depan loby pintu masuk kantor Wisnu. Saat akan masuk ia berpapasan dengan Panji yang terlihat terburu-buru.


"Panji!" Panggil Refa.


Panji menoleh ke arah Panji."Tuan muda Refa. " Panji menunduk hormat kepada Refa.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat buru-buru sekali?" Tanya Refa penasaran.


Panji Menatap menelisik ke arah Refa."Ada apa tuan datang kemari?" Panji memicingkan matanya. Bukan tanpa alasan kenapa Panji menelisik Refa karena secara kebetulan Refa ada di kantor Wisnu tanpa membuat janji dan Windi yang di tabrak oleh seseorang.


Tatapan menelisik Panji membuat Refa sedikit tidak nyaman." Kenapa kau menatap ku seperti itu? "


"Tuan kau tidak melakukan sesuatu yang buruk kan?"


"Hei apa yang kau katakan? Sesuatu yang buruk bagaimana? Kata dengan jelas apa maksud mu?!" Desak Refa.


"Kau tidak berusaha mencelakai nona Windi kan?" Tatapan Panji semakin menelisik netra Refa.


"Mencelakai Windi? Apa maksud mu?"


"Tuan aku harap ini tidak ada hubungannya dengan mu atau kau akan menanggung akibatnya karena sudah berani melukai nona Windi." Setelah mengatakan itu Panji langsung masuk ke dalam mobilnya.


Refa menatap bingung ke arah Panji yang masuk kedalam mobilnya. Refa masih bingung dengan apa yang di katakan Panji. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Apa maksud perkataan Panji barusan? Aku berusaha mencelakai Windi? Bagaimana mungkin? Windi wanita yang aku cintai dan sekarang ia istri kakak ku. Ya walaupun aku sempat berniat ingin membunuh nya agar dia tidak di miliki oleh siapapun tapi aku tidak akan mungkin menunjukkan nya secara terang-terangan. Batin Refa.


Kini pandangan Refa teralihkan ke arah sebungkus makanan yang ia bawa untuk kakanya. "Ahh seperti nya dia tidak ada di kantor karena dimana Panji di situ ada Kaka."


Refa menghampiri security yang sedang bertugas."Pak ini ada pecel ayam untuk bapak saja."


"Yang benar tuan?"


"Iyah." Refa menyerah kan bungkusan yang berisikan pecel ayam.


"Terimakasih tuan."


"Iyah sama-sama. " Setelah menyerahkan bungkusan pecel ayam itu, Refa kembali ke mobilnya dan melajukan meninggalkan kantor Wisnu.


Sedangkan Panji ketika masuk ke dalam mobil, Ia merogoh ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk seseorang.


Tuan seperti nya dia bergerak cepat dari yang kita perkirakan.


Setelah mengetik itu Panji melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Windi di rawat.


.


.

__ADS_1


.


Sesampainya di rumah sakit Panji langsung menghampiri Wisnu yang sedang menunggu di ruangan Operasi. Ia melihat Wisnu yang sangat berantakan dan menyedihkan.


Astaga aku baru pertama kali melihat tuan muda setepuruk itu.


Panji berjalan mendekat ke arah Wisnu sedang duduk, Ia memegang lembut bahu Wisnu. "Tuan." Panggil Panji.


Wisnu menolehkan kepalanya melihat Panji. "Panji?" Wisnu bangun dari posisi, Wisnu mengusap gusar wajah nya.


"Tuan bagaimana keadaan nona muda?" Tanya Wisnu.


"Ka-kami kehilangan calon bayi kami.." Ujar lirih Wisnu, Tanpa aba-aba air mata Wisnu kembali menetes.


Panji menghela kasar nafasnya. "Tuan..."


"Kenapa? Kenapa tuhan tidak adil sekali mengambil calon bayi kami? Kenapa Panji? Apa salah calon bayi kami? Bahkan aku belum mendengar detak jantung nya tapi Tuhan sudah mengambil calon bayi kami.."


Panji membiarkan Wisnu mencurahkan seluruh hatinya saat ini. Panji bisa mengerti apa yang saat ini Wisnu alami.


"Tuan, semua yang terjadi saat ini sudah di garis tandai oleh tuan, Tuhan sudah mengatur nya sedemikian rupa untuk hamba nya. Tuan jangan seperti ini, Jika tuan seperti ini Siapa yang akan memberikan semangat kepada nona Windi? Anda boleh bersedih tapi jangan terlalu larut karena itu tidak baik untuk tuan sendiri maupun nona Windi. "


Pandangan Wisnu menatap kosong ke depan, mencerna setiap kata yang di katakan Panji. Apa yang dikatakan Panji benar, Ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihannya. Ia harus tegar agar ia juga bisa menguatkan Windi. Jika ia lemah lalu siapa yang akan menguatkan Windi? Tidak ia tidak boleh seperti ini. Ini bukan dirinya, Dirinya yang sekarang terlalu lemah dan rapuh. Tapi bagaimana pun ia harus sekuat baja untuk menghadapi semua ini bersama Windi.


Windi bangun dari posisi nya, Ia mengelap kasar wajahnya. "Panji siapkan pakai an ganti ku." Ujar Wisnu dengan tampang datar nya.


Mendengar perkataan Wisnu membuat Panji bernafas lega karena Wisnu arogan sudah kembali. Sukur lah tuan, Jika kau seperti ini aku tidak bisa menjamin bagaimana penilaian tuan James terhadap mu.


"Baik la tuan." Panji menunduk hormat, dan berlalu meninggalkan Wisnu.


.


.


.


Sekitar hampir Dua jam, Operasi pembersihan rahim Windi sudah selesai. Wisnu yang melihat itu langsung menghampiri dokter.


"Dokter bagaimana keadaan Istri ku?"


"Puji Tuhan semuanya berjalan dengan lancar, Setengah jam lagi kita akan memindahkan nona Windi ke ruang perawatan. "


"Huh Terimakasi tuhan."


"Tuan saya permisi dahulu."


"Wisnu kau dan keluarga mu harus berhati-hati, Karena kalian memiliki musuh dalam selimut. Kau harus menjaga putri ku dengan baik, Karena jika tidak aku tidak akan segan-segan membawa putri ku kembali. Jika kau membutuhkan bantuan kata saja pada ku, Karena istri mu adalah putri ku. Meskipun sekarang dia tanggung jawab mu tidak melepas kan tanggung jawab ku sebagai Papanya. " Benny mengatakan.


Bagaimana Papa bisa tau? Apa papa selama ini selalu mengawasi kami? Apa mungkin Papa mengirim seseorang untuk terus mengawasi pergerakan kami? Batin wisnu.


Wisnu merogoh ponselnya, Jari nya mengetik pesan kepada seseorang. Cari tau tentang siapa yang selalu memberikan informasi kepada Papa mertua ku.


Wisnu kembali diam membisu hingga terbuka pintu, Mengalihkan perhatian nya. Ia melihat bankar yang membawa Windi. Wisnu segara bangun dari posisi nya.


"Tunggu sebentar."


Suster dan Mantri yang membawa Banjar Windi menghentikan langkah nya. Wisnu berjalan mendekat ke arah Banjar Windi. "Baby, Kita akan menghadapi semua ini bersama-sama. " Bisik Wisnu.


Cup! Wisnu mengecup lembut kening Windi, Kemudian ia mengangguk kepalanya menatap ke arah suster dan Mantri.


Mata Wisnu Menatap kearah bankar Wisnu yang perlahan menghilang dari pandangan nya.


Baby, Aku akan membalas kan semua air mata dan juga kepedihan mu kepada dia. Kedua tangan Wisnu mengepal kuat dan rahang nya juga yang terlihat mengeras.


Di ujung lorong Panji sedari tadi memperhatikan Wisnu, Ia dapat melihat dari sorot mata Wisnu yang begitu menyala dan penuh dengan dendam. Panji menghela kasar nafasnya.


Kau terlalu terburu-buru, Dan pada akhirnya kau sendiri yang akan hancur. Aku ingin memberimu kesempatan untuk berubah tapi karena obsesi mu kepada nona Windi membuat mu jadi gila akan obsesi. Cepat atau lambat kau dan wanita itu akan hancur secara bersamaan.


Panji merogoh ponselnya, dan mengetik pesan kepada seseorang. Tuan jiwa dendam nya sudah keluar, Sudah saat nya membasmi parah hama tak berguna.


.


.


.


.


Sedangkan Refa ia kembali ke apartemen nya dan merenungi apa yang di katakan Panji.


"Tuan kau tidak melakukan sesuatu yang buruk kan?"


"Kau tidak berusaha mencelakai nona Windi kan?"


Refa menatap bayangan dirinya. "Apa maksud nya tadi? Melakukan sesuatu yang buruk? Mencelakai Windi? Aku tidak akan mungkin melakukan itu secara terang-terangan karena aku akan melakukan nya dengan cara halus tapi mematikan jika ingin membunuh Windi. " Ujar Refa kepada dirinya.


"Dasar bodoh, Kenapa kau memikirkan itu? Apa kau masih mencintai wanita sialan itu?"

__ADS_1


"Tentu saja aku sangat mencintai nya, Dia wanita ku."


"Kau pria bodoh dan lemah, "


"Jangan memanggilku seperti itu brengsek."


"Hahahaha, Kau pria yang menyedihkan."


"Tidak sialan!!" Teriak Refa kuat-kuat.


Teriakan Refa terhenti ketika mendengar suara Ditto yang memanggil dirinya.


"Tuan?!"


Refa buru-buru membasuh wajahnya dengan air, Ia keluar dari kamar nya dan menghampiri Dito yang berada di ruang tamu.


"Ada apa?"


"Tuan saya dapat kabar kalau nona Windi di tabrak orang tuan. " Ujar Dito


Refa yang mendengar itu mendelik kan matanya tak percaya."Apa kata mu?"


"Tadi siang saat tuan Wisnu dan nona Windi selesai makan siang, Ada sebuah mobil yang menabrak nona Windi. "


Refa maju mendekat ke arah Dito, kedua Tangannya mencekram kuat bahu Dito hingga membuat Dito sedikit meringis. Lalu bagaimana keadaan nya?"


Nona Windi mengalami geger otak ringan tapi Nona Windi harus kehilangan janin yang sedang ia kandung."


Refa yang mendengar perkataan Dito membuat cengkraman tangan melonggar, Dada nya terasa sakit ketika mendengar janin yang di kandung Windi? Berarti hubungan mereka benar-benar sejauh itu?


Sial! Air mata Refa mengalir kembali dari sudut kiri matanya. Mata nya memanas dan berkaca-kaca, Kali ini sudah di pastikan dia tidak akan memiliki kesempatan lagi.


Sudah aku katakan bukan? Kau tidak akan memiliki kesempatan lagi! Sudah lah lupakan dia. Kau tidak pantas untuk nya dan dia juga tidak untuk mu. Takdir memang tidak berpihak kepada mu. Terima saja kalau dia sudah dimiliki oleh kakak mu seutuhnya. Jangan pernah mencoba untuk merebut nya dari kakak mu atau kau sendiri yang akan menyesal.


Tubuh Refa terhenyak kebelakang, Ia dia memang sudah tidak memiliki kesempatan apapun, Ia harus mengikhlaskan segalanya.


Lupa kan dia, Jangan pernah berfikir bodoh atau kau dan aku yang akan mati.


Dito menatap ke arah Refa dengan tatapan bingung, "Tuan apa kau baik-baik saja?"


Mendengar pertanyaan Dito membuat kesadaran nya kembali. "I-iya a-aku ba-baik saja," Refa menghapus kasar air matanya.


"Dimana? Windi di dirawat?"


"Di Rumah sakit Xx."


Refa menganggukkan kepalanya Mengerti."Kita ke sana Sekarang. "


.


.


.


Sesampainya di Rumah sakit Refa berlari menelusuri lorong rumah sakit. Hingga kini tatapan nya mengarah kepada Kaka nya yang terlihat begitu kacau tapi masih dengan ciri khasnya. Tapi tunggu ada yang berbeda dari Kakaknya.


Aura itu? Tidak mungkin kan?


Dengan langkah pelan Refa ke arah kakak nya. "Kakak?" Panggil Refa.


Wisnu menoleh ke arah Refa, Dan benar saja tatapan itu yang mampu membuat siapapun menjadi ketakutan. Kenapa kau bisa di sini?" Tanya Wisnu dengan datar.


Glek!


Refa menelan susah salivanya mendengar pertanyaan Kaka nya. Baginya kakak nya sungguh menakutkan jika sudah seperti ini. "Di-dito yang memberitahu ku kalau Windi kecelakaan." Refa seberusaha mungkin menutupinya kegugupan nya.


Wisnu menegakkan tubuhnya menghadap ke arah Refa. "Refa aku harap itu bukan mu. Jika tidak aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkan ku saat itu juga. " Ujar Wisnu dengan tegas dan datar.


Sumpah demi apapun Wisnu terlihat sangat menakutkan sekali jika aura nya sudah seperti ini.


"A-apa Ma-maksud mu kakak?"


Seulas senyuman devil terpancar di wajah tampan Wisnu yang terlihat begitu menyeramkan."Aku harap kau bukan dalang dari semua ini. Karena jika kau dalang dari semua ini, Kau tidak akan bisa lolos dari ku dan juga Dari keluarga Windi." Setelah mengatakan itu Wisnu pergi meninggalkan Refa yang masih diam terpatung mendengar perkataan Wisnu.


Apa kakak menuduhku? Melakukan itu kepada ku? Hei apa yang dia Fikri kan aku tidak akan pernah membunuh secara terang-terangan.


Sedangkan Dito yang mendengar perkataan Wisnu membuat dirinya juga ikut menegang.


Tamat sudah Riwayat mu! Dito tersenyum kecil dan nyaris tak terlihat.


.


.


.


Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)

__ADS_1


__ADS_2