
Ken dan yang lainnya masuk kedalam Aula dengan wajah terkejut. Karena hampir semua orang sudah mati dengan mengenaskan. Mereka melihat kearah Windi yang memegang dua katana yang sudah di lumuri oleh darah yang menetes di ujungnya.
Ken dan Wanda saling menatap. "Kita harus menghentikannya atau kita akan menjadi salah satunya." Ujar Ken sembari Menatap Wanda.
Keduanya langsung mendekat kearah Windi yang sudah siap untuk mengayunkan Katananya Kearah musuhnya. "Tunggu Baby, Jangan lakukan. Kemenangan sudah di tangan kita. Sekarang kita harus segera pergi dari sini oke? Jangan lupa Reffa yang sedang terluka. Jika kita telat membawanya ke rumah sakit nyawanya bisa tidak tertolong. Untuk itu Tahan emosi mu. Oke?" Mendengar perkataan Ken, Sontak saja Windi langsung menjatuh Katananya kelantai.
"Maaf.." Setelah itu Windi langsung tak sadarkan diri. Wisnu yang berada di dekat Windi langsung menangkap tubuh Windi sebelum terjatuh ke lantai. Ken dan yang lain menatap kaget melihat Windi tak Sadarkan diri. Ditambah seorang pria asing yang menangkap adiknya.
"Kau! Berikan adikku."
"Tidak Biar aku saja." Tanpa menunggu jawaban dari Ken Wisnu langsung membawa tubuh Windi kearah mobilnya yang terpakir tidak jauh dari Aula.
"Hei kau.."
"Tenanglah broer, Dia akan aman." Ujar Wanda sembari menahan pergelangan tangan Ken yang sudah bersiap untuk mengejar Pria itu.
"Tapi.."
"Dia Wisnu." Perkataan Wanda membuat Ken menatap tak percaya ke arah Wanda.
"Kau bilang apa tadi?"
"Dia Wisnu, Entah apa yang terjadi sampai dia bisa disini. Pantas saja Windi baik-baik saja. Karena Suaminya melindunginya. Yang harus kita lakukan sekarang yaitu, Membawa Reffa kerumah sakit."
Gilbert dan Dito Mengangkat tubuh Refa yang sudah lemas. Sesampai di rumah sakit Reffa segar mendapatkan tindakan serius oleh dokter. Karena ia mengalami luka serius yang cukup dalam akibat melindungi Windi dari serangan musuh. Ia mendapatkan Luka Jahitan sebanyak tiga puluh lima jahitan di kedua sisi punggungnya.
Sementara itu, Tidak jauh berbeda dengan Reffa. Windi mengalami hal yang serupa. Tangannya yang terluka juga mendapatkan Jahitan ditelapak tangannya. Wisnu menunggu di depan ruangan dengan Cemas. Semua ini terjadi karena kesalahan dan kelalainnya.
"Ini semua salah, Seharusnya aku datang lebih Cepat." Sesal Wisnu. Ia tadi harus pergi membawa Regan ke suatu tempat untuk mendapatkan Hukaman yang sudah seharusnya dia dapatkan.
Hampir menunggu selama tiga puluh menit, Pintu ruangan tempat Windi dirawat terbuka. Sontak saja wisnu langsung berdiri menghampiri Dokter.
"Bagaimana keadaan istriku Dok?"
"Tuan tenang saja, Luka ditangannya sudah saya Tangani dengan baik. Dan.." Dokter menatap Wisnu di intens.
__ADS_1
"Dan apa dok?" Tanya Wisnu
"Apa tuan tau kalo Nona Windi sedang Hamil empat Minggu?" Tanya Dokter
"Ha-hamil dok?"
"Iya.. Untung saja Janin yang dikandungan Nona Windi baik-baik saja. Saya Harap setelah ini Nona Windi tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat karena itu sangat beresiko sekali untuk janin yang sedang dikandung oleh nona Windi. Apalagi dengan Riwayat keguguran yang pernah di alami oleh Nona Windi." Jelas dokter
Sedangkan Wisnu hanya diam terpaku mendengar perkataan Dokter yang mengatakan Kalau Windi sekarang sedang mengandung anaknya. Yang dimana Berarti selama ia dirumah sakit Windi sudah Hamil. Ia tersenyum bahagia sekaligus terharu. Karena Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada mereka. Kali ini ia akan menjaga Windi dan Calon anak mereka dengan sebaik-baiknya.
Di ujung lorong rumah sakit Terlihat Ken dan Wanda yang berjalan ke arah Wisnu.
Bukh
Ken langsung memberikan Bogeman mentah ke Wisnu. "Sialan! Selama ini kau berpura-puraa Hah!!!."
Wisnu yang mendapatkan serangan tiba-tiba hanya diam terpaku. "Maaf."
Ken menarik kerah kemeja Wisnu dan mengencan dengan kuat. "Maaf katamu?! Kau tau karena adik tirimu itu, Adikku terancam dan kau hanya bilang Maaf. Kau pikir karena Rencanamu bisa mengembalikan Semuanya Sialan. Pergi kau dari sini. Jangan temuin adik ku dulu, Atau kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi." Setelah itu mengatakan itu Ken melepaskan Cengkramnya. Ken Masuk kedalam ruangan Windi dan meninggalkan Wisnu dan Wanda yang masih di depan ruangan.
"Tunggu." Wanda menghentikan Langkahnya.
"Tolong jaga Windi dan Calon anakku. Aku akan pergi untuk menyelesaikan semuanya dan aku akan kembali secepatnya." Setelah mengatakan itu Wisnu langsung pergi meninggalkan Wanda yang terdiam mendengar perkataan Wisnu.
Apa maksudnya tadi? Calon Anak? Jadi adikku sedang hamil?. Wanda menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Wisnu. Berarti ketika Windi meminta belikan tespack dia sudah hamil. Dan kejadian yang barusan mereka alami, Windi juga tengah hamil.
"Sialan! Hampir saja." Masih dengan menggurutu Wanda masuk menyusul Ken kedalam ruangan Windi.
.
.
Di sisi lain, tepatnya di ruangan bawah tanah. Terlihat seorang pria dengan luka lebam yang menghias wajahnya terlihat mengenaskan. Dengan tubuh terikat di kursi.
Byurr
__ADS_1
Dirinya yang disiram dengan air membuatnya terbangun dari pingsannya. Dengan mata yang masih melemah, Ia menatap ke arah seseorang yang menyiramnya dengan air.
"Kau.." Katanya dengan lirih.
"Heh! Bangun! Setelah membuat semua kekacauan yang terjadi kau berpura-pura Pingsan heh?"
Dia hanya terdiam menatapnya dengan tajam. "Siapa kau?!"
"Aku? Hanya pengantar ajalmu. Sebentar lagi Tuanku akan datang dan kau akan tamat." Setelah mengatakan itu pria berpakai Hitam itu meninggalkannya sendirin.
Tak lama setelah itu, Pintu kembali terbuka. Matanya yang sempat terpejam kembali terbuka. Ia melihat siluet bayang seorang pria.
"Haauss."
Pria itu memberikan minum kepadanya dengan. "Sudah?" Ia menganggukkan kepalanya. "Terima kasih." Ujarnya dengan terbata dan lirih.
"Baik lah, Regan. Kau tau siapa aku?"
"Wis..nu"
"Ahh kau bener. Kau ingin menghancurkan ku? Atas semua yang tidak pernah aku lakukan? Kau tau, Kau dan ibumu sama saja. Sama-sama penghancur kebahagian orang lain. Andai saja Ibumu tidak menggoda Daddyku. Maka Aku dan Mommy tidak harus pergi. Tapi apa yang dilakukan ibumu? naik keranjang pria beristri hanya untuk harta. Bahkan kau sudah hidup dengan layak. Tapi kau masih saja kurang puas dengan segalanya. Kau berusaha untuk menghancurkan apapun yang menjadi milikku. Apa sebenarnya yang kau ingin kan Hah?!!" Geram Wisnu.
"Ha..Ha..Ha.. Layak katamu?! Bahkan Pria tua itu tidak pernah memberikan apa yang harus diberikan seorang ayah kepada anaknya. Dan katamu aku hidup layak?! Kau salah aku harus bersusah payah untuk mendapatkan semuanya sialan! Sedangkan kau bisa mendapatkan semuanya dengan Mudah." Balasnya dengan tak kalah geram.
"Karena Kelakuan murahan ibumu! Aku harus kehilangan ibu dan juga semua kenangannya sialan!" Tanpa aba-aba Wisnu kembali memberikan bogeman mentah ke Regan hingga membuatnya jatuh tersungkur.
Dalam masalah ini keduanya tidak ada yang salah, yang salab hanyalah waktu dan keadaan. Keduanya sama-sama ditakdir dengan tidak beruntung. Regan yang di takdir untuk tidak mendapatkan kebahagian dari ia kecil sedangkan Wisnu ditakdir untuk dirampas kebahagiannya. Keduanya sama-sama memiliki darah yang sama.
Rasa iri yang dimiliki Regan membuatnya melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Seharusnya ia bisa melakukannya dengan baik. Meskipun ia tinggal dekat dengan daddynya namun ia tidak mendapatkan kasih sayang yang didapatkan oleh Wisnu.
Ia melakukan ini semua hanya untuk di akuin oleh semua orang. Bahwa, ia layak untuk di akui keberadaannya.
"Kau dan aku sama-sama memiliki darah yang sama. Kau mungkin tidak akan aku bunuh secara langsung atau mungkin aku akan mengasingkanmu ketempat yang jauh untuk menyadarkanmu. Bahwa tanpa melakukan hal yang keji kau akan tetap dianggap oleh semua orang. Untuk itu kau akan di kurung disini sampai aku akan menentukan hukaman apa yang cocok untukmu adik kecil." Ujar Wisnu sembari mencekram dagu Regan.
Setelah itu Wisnu memasuki ruangan sebelah yang berisikan mantan pacarnya yang ikut andil dalam rencana inu. "Huh.. Seharusnya kau tidak usah ikut campuran dalam masalah ini. Karena kau hanya menambahkan beban untuk siapapun." Wisnu tidak akan membunuh siapapun kali ini. Karena Windi sedang mengandung anaknya. Tetapi ia akan memerintahkan Anak buahnya untuk mewakilin keinginannya.
__ADS_1