Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Mencuri


__ADS_3

Ke esokan hari nya Windi tengah bersiap-siap untuk kembali ke apartemen nya. Ia benar-benar merasa senang karena bisa kembali ke apartemen.


" Baby istirahat lah... Aku akan ke ruang kerja terlebih dahulu setelah itu aku akan ke kamar mu." Ujar Wisnu seraya mengelus rambut rambut Windi


" Baik la.." Ujar Windi seraya tersenyum. Sebelum pergi Wisnu meninggalkan ciuman singkat di kening Windi dengan begitu lembut.


Windi bergegas menuju ke kamarnya, Rasa nya rindu sekali dengan kamar nya. Ia menyiapkan air hangat untuk ia berendam. Windi menatap ke sekeliling kamarnya yang terlihat rapi dan bersih.


Hah! Aku sangat merindukan suasana kamar ini. Batin Windi.


Windi mengingat-ngingat waktu ketika ia di rawat di rumah sakit. Ia selalu tidur dengan Wisnu di ranjang yang sama. Hal itu membuat Windi merasa nyaman dan hangat ketika Wisnu memeluk dengan begitu erat. Bahkan semalam pun Meraka masih tidur bersama di ranjang yang sama. Ia tidak tau apakah ia bisa tidur dengan nyaman atau tidak malam ini.


°°°


Sedangkan di ruang kerja Panji sudah menunggu ke datang Wisnu untuk memberitahu tentang perkembangan kasus yang tengah ia selidiki saat ini. Suara derap langkah terdengar begitu nyaring pertanda Wisnu akan masuk ke dalam. Dengan sigap Panci menegakkan tubuhnya dan menunggu kedatangan Wisnu.


Ceklek!


Pintu terbuka dan terlihat Wisnu yang sudah Berdiri di depan pintu seraya menatap dingin ke arah Panji. Yang menunduk hormat ke arah nya.


Kaki Wisnu melangkah mendekati sofa yang berada di dekat meja kerja nya, Ia mendudukkan tubuhnya Sofa.


" Duduk la." Titah Wisnu setalah mendudukkan tubuhnya di sofa


Panji menegak kan tubuh nya, ia berjalan ke arah sofa yang berada di sebalah Wisnu. Ia mendudukkan tubuhnya.


" Ada hal apa?"


" Tuan... Saya sudah menyelidiki masalah yang terjadi di kantor tuan... " Ujar Panji seraya menyerahkan amplop coklat kepada Wisnu.


Wisnu menatap dingin ke arah Panji ia mengambil amplop dan membukanya. Ia membaca apa yang tertera di dalam amplop tersebut.


" Tuan.. dari hasil penyelidikan yang saya lakukan kalau tuan Redaf la yang telah mencuri data dari produk yang akan kita keluar untuk tahun depan tuan. Ia telah di suap oleh perusahaan Hans Raj agar menyerahkan rancangan yang kita buat tuan, Selain itu tuan.. Perusahaan Hans menjual produk yang Meraka curi dari kita dengan harga yang terbilang cukup murah agar menarik perhatian dari masyarakat untuk membeli produk mereka tuan. " Ujar Panji menjelaskan.


Wisnu mendengar penuturan Panji membukakan nya menggeram kesal. Lehernya berubah menjadi menegang dan mata berubah menjadi merah. Ia sangat membenci sebuah pengkhianatan.


" Cari Redaf secepatnya, Dan bagaimana dengan manager keuangan Sialan itu?"


" Saya juga sudah menyelediki nya Tuan. Saat ini ia sedang berada di German untuk melakukan pengobatan terhadap putrinya. Ia juga yang telah menggelapkan dana perusahaan selama satu tahun untuk pengobatan putri nya tuan. Saya hanya tinggal menunggu perintah dari anda selanjutnya tuan." Ujar Panji


Wisnu menganggukkan kepalanya dan Hela panjang nafasnya. " Seret dia kesini dan bawa dia ke tempat biasa.. Dan untuk Redaf bawa di ke ruang bawa tanah Secepat nya... Masalah Hans Raj biarkan saja. Kita bisa membuat rancangan baru untuk produk tahun depan... Ah Iyah persiapkan untuk rapat yang akan di adakan Besok kepada seluruh pegawai.. "


" Baik tuan... Akan saya lakukan."


Wisnu menganggukkan kepalanya ia menatap ke arah jam di dinding sudah menunjukkan pukul Sembilan.


" Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan lagi... Kamu boleh pergi." Ujar Wisnu


" Iyah tuan." Panji menunduk hormat dan pamit undur diri untuk pergi.


Setelah kepergian Panji kini hanya tinggal Wisnu sendirian di ruang kerjanya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sembari memijat pelipis matanya. Ia berulang kali menarik nafas dan membuang secara kasar. Saat ini Fikir an nya tertuju kepada Refa. Entah mengapa ia begitu tidak tega kalau harus menyakiti adiknya. Namun di satu sisi ia juga sangat mencintai Windi.

__ADS_1


Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuat perhatian Wisnu teralihkan ia menatap ke arah pintu.


" Masuk!"


Terdengar suara decitan pintu yang terbuka, Ketika pintu terbuka menampakkan sosok gadis imut yang sedang menampakkan sebagian kepalanya.


" Isnu?"


Kening Wisnu berkerut ketika melihat Windi yang hanya menampakkan sebagian kepalanya saja. " Kenapa hanya berdiri disitu? Masuk la." Ujar Wisnu


Windi yang mendengar perkataan Wisnu membuka pintu nya lebih lebar. Ia masuk dan menatap keseliling ruangan kerja Wisnu.


" Apa Panji sudah pergi?"


Wisnu menganggukkan kepalanya. " Iyah dia sudah pergi, duduk la." Ujar Wisnu seraya menepuk sebalah Sofanya.


Windi berjalan menuju ketempat Wisnu menepuk Sofa nya. Ketika Windi hendak duduk Wisnu menarik tangan Windi hingga Windi terjatuh kepangkuan Wisnu.


Windi mendelik kan matanya ketika Wisnu menarik tangannya hingga jatuh ke pangkuan." Isnu apa yang kau lakukan?"


" Aku? Tidak ada." Wisnu mengeratkan pelukannya.


" Isnu cepat lepaskan." Ujar Windi seraya meronta-ronta untuk lepas dari pangkuan Wisnu


" Sst diam lah baby jika kamu bergerak-gerak seperti itu, Aku tidak tau apa aku bisa mengendalikan diri ku terhadap mu." Ujar Wisnu seraya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Windi yang memabukkan.


Wisnu hanya diam saja dan semakin menghirup dalam-dalam aroma tubuh Windi dari Curuk lehernya.


" Isnu... Ayo cepat lepaskan bagaimana jika tiba-tiba Panji datang lagi."


" Diam lah baby biar kan aku menikmati aroma tubuh mu yang memabukkan ini."


Windi hanya menghela nafas dan pasrah dengan setiap tindakan yang Wisnu lakukan.


Sekitar lima belas menit Wisnu terus menghirup aroma tubuh Windi. Yang seakan-akan memberikan kenyamanan dan ketenangan tersendiri untuknya. Wisnu menegakkan kepalanya. dan beralih merapikan anak rambut Windi kesamping telinganya.


" Katakan apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Wisnu seraya menatap lembut ke arah Windi dan sesekali memberikan kecupan di rambut Windi.


Windi menganggukkan kepalanya. " Aku sangat bosan Isnu bisakah kita jalan-jalan sebentar? Atau kita ke taman yang sering kita kunjungi... Aku benar-benar bosan Isnu.. " Windi mengatakan nya dengan memasang wajah yang cemberut dan mengembung kan kedua pipinya.


Wisnu yang melihat itu membuat terkekeh geli ia mencubit gemas pipi Windi. " Baik la kalau begitu bersiap lah... Kita akan pergi agar kamu tidak bosan." Ujar Wisnu seraya tersenyum manis ke arah Windi.


" Benarkah ?"


Wisnu menganggukkan kepalanya." Iyah."


Windi yang sangat senang refleks mencium pipi Wisnu, sedang kan Wisnu sendiri hanya diam saja ketika menerima ciuman mendadak dari Windi.


Astaga! Apa yang aku lakukan Kenapa aku malah mencium nya. Batin Windi meruntukki kebodohannya.

__ADS_1


Windi segara bangun dari pangkuan Wisnu dan ingin melangkah pergi namun Wisnu mencegahnya.


" Kamu Mau kemana?"


" A-aku mau bersiap-siap."


" Kamu tidak ingin mencium yang sebelah sini." Wisnu menunjuk Pipi kirinya


" Ha? Tidak!"


Wisnu pura-pura menghela nafas kecewa." Kasihan sekali ia tidak merasa kannya... Aku jadi tidak semangat untuk pergi." Ujar Wisnu pura-pura kecewa, Ia melirik Windi yang tengah menatapnya.


" Aish... Baik lah." Windi kembali mendekat ke arah Wisnu, sedang kan Wisnu tersenyum puas melihat Windi yang datang ke arah nya.


Ketika Windi hendak mencium pipi kiri Wisnu mendadak Wisnu menggerakkan kepalanya hingga.


Cup! Windi justru mencium bibir Wisnu dengan singkat, Ia mematung ketika ia merasakan benda kenyal yang menempel di bibir nya. Saat Windi ingin melepaskan ciuman nya Wisnu justru menekan tengkuk leher Windi, Ia memperdalam ciumannya hingga ia melepaskan nya karena Windi yang hampir kehilangan nafasnya. Wisnu menempelkan keningnya dan kening Windi seraya menatap lembut ke arahnya. Ia kembali memberikan ciuman singkat di bibir Windi.


" Sudah.. Sekarang kamu boleh bersiap-siap." Ujar santai Wisnu


Sedang kan Windi hanya diam mematung dan menatap ke arah Wisnu. Ciuman pertama ku


Sedetik kemudian ia tersadar dan menatap tajam ke arah Wisnu. " Menyebalkan! " Grutu Windi ia membalikkan badannya seraya menghentak-hentakkan kakinya.


Wisnu hanya menggelang-geleng kan kepalanya seraya tersenyum puas karena ia berhasil mendapatkan ciuman hangat dari bibir Windi.


Tidak sia-sia akting ku. Batin Wisnu


Dikamar Windi terus menggerutu kesal kepada Wisnu


Berani sekali dia mengambil ciuman pertama ku, awas saja aku akan membalasnya nanti. Batin Windi seraya tersenyum miring dengan ide yang ada di benaknya.


Windi tidak mengetahui kalau selama ini Wisnu sering mencium nya ketika Windi di rawat di rumah sakit. Karena Wisnu selalu mencurinya ketika Windi sedang tertidur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2