
Pukul lima pagi
Sesuai dengan perkiraan Dokter Windi sudah Siuman. Hal yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih. Matanya menatap ke seluruh penjuru ruangan. Tangannya bergerak mengelus area perutnya. Ia tersentak kaget karena perutnya sudah mengecil. Ia tidak ingat apa pun karena ia sudah pingsan saat di bawa kerumah sakit.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka, Namun Windi belum bisa melihat siapa yang masuk ke ruangnnya. Karena Ada skat yang menghalangi antara Tempat tidurnya dan Pintu masuk.
"My baby? Kau sudah sadar." Ujar Ken.
"Broer, Bayi ku?" Tanya Windi
Sebuah senyuman tulus terpantri di Wajah Ken. "Kau tenang saja mereka baik-baik saja. Saat ini mereka masih diruangan bayi. Kau ingin melihatnya baby?" Windi hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Tapi kau harus di periksaa Dokter dulu yaa." Ujar Ken. Tak lama setelah itu seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaan Windi. Setelah melakukan pemeriksaan Dokter mengijinkan Windi untuk melihat bayi-bayinya. Dengan Bantuan dari Ken, Windi diantarkan keruangan bayi-bayinya dengan kursi roda.
"Kau Sudah tidak sabar Baby?" Tanya Ken.
"Iya.." Ujar Windi disertai senyuman Manisnya. Matanya tampak berbinar-binar.
Saat Sampai di Ruang bayi Windi menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Kau siap baby?"
"Ehm Yaa.. Ayo Broer." Ken mulai membuka pintu ruangan Bayi tempat anak-anak Windi berada.
Begitu masuk ke ruangan, Indra penciuman Windi merasa di puaskan dengan aroma bayi yang semerbak.
Kursi rodanya mulai melangkah ke arah Tiga box bayi yang berada di ujung ruangan. Begitu sampai di depan box bayi, Air matanya sudah tidak dapat ia tahan lagi.
Hiks..
Hiks..
"Bayi ku.. Mereka bayi ku?" Tanya Windi lagi
"Ya mereka bayimu Baby."
"Ya tuhan aku masih tidak percaya." Ujarnya.
"Kau ingin menggendong mereka?" Tanya ken.
"Ehmm..berikan kepadaku Broer."
Ken mengambil bayi itu satu persatu dan melatakan dua bayi dipangkuan Windi sedangkan satu bayi di gendong Oleh Ken. Windi mencium satu persatu bayinya.
"Terima kasih Tuhan." Air mata kebahagian Windi terus keluar membahasi Wajahnya.
"Kau bahagia?"
"Sangat... Aku sangat bahagia." Senyuman yang tersemat di bibir Windi membuat Ken Ikut tersenyum lebar.
"Kesayangan Mommy dan Daddy, Terima kasih ya kalian sudah mau terlahir dari Rahim Mommy." Ujar Windi.
"Broer?"
"Ehm ya?"
"Apakah Suamiku sudah tau aku melahirkan?" Tanya Windi.
"Belum, Kami sudah mencoba menghubungi Wisnu dan Panji. Namun keduanya tidak aktif."
"Tidak aktif?"
"Ya.."
Mendengar kalau Suaminya tidak dapat dihubungi membuat Windi seketika overthinking. Ia terdiam memikirkan segala hal yang bisa saja terjadi pada Suami dan juga Asisten suaminya.
"Tidak usah terlalu memikirkannya oke?Jika kamu terus memikirkan dan gelisah. Akan membuat ketiga bayi mu tidak nyaman. Jadi sekarang kamu tidak perlalu memikirkan hal-hal yang berlebihan. Broer dan Wanda akan mencari tau keberadaan mereka oke?"
"Ya.. Terima kasih Broer." Ken mengelus pucuk kepala Windi dan memberikan kecupan Singkat di pucuk kepala Windi.
__ADS_1
.
.
.
Sementara itu pesawat yang di tumpangi Wisnu baru saja mendarat di bandara Internasional Indonesia. Wisnu dan Panji mengambil barang-barang mereka. Saat akan menghidupkan ponselnya, Wisnu kehabisan daya baterainya.
"Apa kau memiliki baterai ponsel Panji?"
Panji merogoh saku jasnya, Dan rupanya Ia juga kehabisan Baterai daya Ponselnya.
"Tidak Tuan." Ujarnya seraya menunjukkan ponselnya yang mati total.
"Astaga, " Geram Frustasi Wisnu.
"Maaf Tuan." Sesal Panji
Keduanya berjalan keluar dari bandara, Karena ingin mengejutkan semua orang. Wisnu dan Panji tidak memberitahu supir keluarga Witamma. Dan berakhir mereka Naik taksi menuju kerumahnya.
Dalam Perjalanan menuju kerumahnya. Wisnu harap-harap cemas dengan perasaan gelisahanya. Entah kenapa ia tidak bisa tenang sedari tadi.
"Tuan kau baik-baik saja?" Tanya Panji
"Ya.." Matanya hanya fokus menatap jalanan yang terlihat ramai dan padat.
Begitu sampai di depan gerbang mensionnya ia membuka kaca jendelanya. "Pak Tolong buka pintunya." Ujar Wisnu.
"Baik Tuan Muda." Penjaga rumah langsung membuka pintunya. Begitu sampai dihalaman depan ia melihat mobil mamanya terpakir didepan pintu rumah utama. Tidak lupa dengan pintu bagasi yang terbuka. Dan terlihat para pelayan sedang memasukkan barang-barang yang sangat ia kenalin.
Mama Fitri yang saat itu keluar terheran melihat taksi yang masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Begitu pintu taksi terbuka matanya melotot tak percaya melihat putra sulungnya kembali. "Wisnu." Pekik Mama Fitri.
Wisnu berlari mendekat ke arah mamanya." Mama mau kemana?" Tanya Wisnu dengan penasaran.
"Kau ini!! Ditelfon tidak bisa tau-tau sudah pulang saja!" Kesal Mama Fitri.
"Baterai Ponsel ku habis ma makanya tidak mengangkat panggilan kalian. Dan pertanyaan ku belum di jawab, Mama mau kemana?"
"Kerumah sakit? Siapa yang sakit." Desak Wisnu
"Ya tentu saja Windi. Karena ia me-" Ucapan Mama Fitri terpotong karena ucapan Wisnu.
"Windi?! Dia kenapa? Apa dia baik-baik saja? Dia dirawat dimana ma? Kasih tau aku ma."
" Kau ini! Mama masih ngomong juga. Dia rumah sakit keluarga kita. Dan dia baru saja melahirkan bayi kalian." Tanpa menunggu perkataan Mama Fitri Wisnu langsung kembali masuk ke taksinya tadi dan menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah Sakit Wisnu buru-buru ke resepsionis untuk menanyakan ruangan Istrinya.
"Atas nama Windi."
"Di lantai lima ruangan VVIP nomor satu tuan."
"Terima kasih." Wisnu langsung menghilang dan pergi ke ruangan yang di sebutkan tadi. Sesampainya disana ia melihat ada beberapa para penjaga yang menunggu di ruangan itu.
"Selamat pagi Tuan." Wisnu yang seakan tuli tidak menjawab saapan Penjaga itu.
Brak
Karena perasaan cemasnnya Wisnu langsung membuka pintunya dengan kasar.
Hal yang pertama kali ia lihat adalah sebuah tembok yang menjadi sebuah skat pembatas. Ia melangkah kan kakinya ke balik tembok. Dirinya terpaku dengan apa yang ia lihat, Matanya berkaca-kaca ketika melihat Istrinya menggendong seorang bayi. Tak hanya itu di samping istrinya terdapat dua box yang juga berisikan bayi-bayi.
"My Baby." Panggil Lirih Wisnu. Seraya mendekat ke arah Windi.
Windi yang merasa ada yang memanggil namanya, Membuatnya mengalihkan perhatiaannya. "Hubby.." Dengan senyuman manisnnya.
Tangan Wisnu gemetar kencang ketika ia berusaha mengelus kepala bayi yang berada digendongan Windi. "Di-dia.."
"Yaa..." Windi menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya Tuhan..." Wisnu langsung memeluk Windi dari samping dan mencium pucuk kepala Windi dengan perasaan bahagia dan menyesal sekaligus. Ia bahagia anak-anak dan juga Istrinya baik-baik saja, Namun ia juga menyesal karena tidak mendampingi istrinya saat melahirkan.
"Maafkan aku yang tidak menemanimu Baby."
"Its Oke Hubby." Tangan Kiri Windi terulur mengusap air mata yang jatuh di mata Wisnu.
"Kau tidak mengangkat telfon mu karena sedang dipesawat?"
"Yaa.. Baterai ponsel ku dan Panji Habis. Aku baru mengetahuinya ketika sampai dirumah. Aku sangat takut sekali ketika Mama bilang kamu di rumah sakit." Ujar Wisnu.
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Kau ingin menggendong salah satu dari mereka?"
"Ah tidak-tidak, Aku belum ganti baju. Aku takut membawa penyakit untuk mereka."
"Ya kau benar Hubby."
Wisnu berpindah tempat ke arah Box bayi yang berada disisi kiri Windi. Matanya memerah dan berkaca-kaca melihat bayi-bayinya yang sehat dan sempurna. Ketiga anaknya sangat mirip sekali dengannya. Namun ada yang menarik sekali perhatiiannya.
"Baby, Apakah kau sadar bahwa anak kita yang ini mirip sekali denganmu. Ia memiliki mata dan Hidung yang sama persis denganmu." Ujar Wisnu.
"Benarkah?! Aku sama sekali tidak menyadarinya. Aku malah mengira mereka semua mirip denganmu." Ujar Windi.
"Tidak dia dirimu versi laki-laki." Ujar Wisnu.
"Wah! Berarti tuhan adil padaku karena memberikan satu yang sangat mirip sekali denganku." Pekik Windi dengan senang.
"Hahaha." Wisnu hanya bisa tertawa melihat kelakukan Windi yang sangat menggemaskan.
.
.
.
Satu minggu kemudian Windi sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Selama Satu minggu di rumah sakit, Wisnu memutuskan untuk tidak bekerja dan menemani Windi selama masa pemulihan.
Saat tengah malam pun ia terjaga untuk menggantikan Windi untuk memberikan susu kepada bayi-bayi mereka. Bayi-bayi mereka masih belum diberikan nama, karena Wisnu sangat bingung sekali. Apalgi ia sekarang memiliki tiga keluarga yang sedang menantikan pewaris mereka.
Mungkin bagi keluarga Winata mereka tidak terlalu memaksakan anak-anak Windi menjadi salah satu pewaris keluarga. Namun keluarga Witamma dan Edwerd benar-benar menantikannya. Untuk itu Wisnu harus mempersiapkan segela sesuatunya untuk dikemudian hari.
Pasca Tiga minggu Windi dirumah Wisnu dan Windi akhirnya memutuskan sebuah syukuran kecil-kecilan untuk menyambut keluarga baru mereka. Wisnu juga sudah menyiapkan sebuah nama untuk ketiga anak mereka.
"Kau siap Babby?"
"Ya.. Aku siap memperkenalkan mereka pada keluarga kita."
Diruang keluarga sudah terlihat, keluarga besar sudah terkumpul dan menunggu pengumuman penting dari Wisnu. Yaitu nama bayi-bayi mereka.
Pada bayi pertama Wisnu memberikan nama Wilbret Abiyatsa Witamma. Ia dipanggil dengan Yatsa. Yang artinya orang bijaksana yang menyuarkan kebaikan. Yang harapannya Bisa menjadi anak sulung yang selalu menyebarkan kebaikkan dan selalu bijaksana dalam mengambil keputusan.
Pada Bayi kedua diberikan nama Wira Abiwhara Edwerd. Nama yang memiliki arti sebagai lelaki pemberani dan Pandai. Sama halnya dengan anak sulunh Wisnu juga berharap anak keduanya akan menjadi lelaki pemberani dan pandai dikemudian hari.
Dan yang terakhir Wilhem adhiatma Winata, Putra kecil yang menjadi Pelindung yang tegas. Selain itu Wilhem merupakan potongan nama dari Wilhemina. Atau sisi lain dari Windi, Ia sengaja menyematkannya.
Para keluarga yang mendengar ketiga anak kembar itu memiliki marga yang berbeda membuat semua orang berdecak kagum. Karena artinya tiga keluarga besar sudah memiliki cikal bakal jadi pewaris utama.
Windi tersenyum bahagia dengan semua hal yang telah terjadi. Kejadiaan pahit yang pernah terjadi di dalam hidupnya ia lewati dengan baik. Pertemuannya dengan Reffa menjadi perantara terbaik dari takdir Tuhan yaitu di pertemukannya dengan Wisnu yang sekarang menjadi Suami dan ayah dari anak-anaknya.
Begitu juga dengan Wisnu yang sangat bersyukur atas segala karunia yang diberikan tuhan untuknya.
"Hubby terima kasih sudah menjadi bagian takdir terindah yang diberikan Tuhan." Ujar Windi dengan senyuman bahagia.
"Terima kasih juga sudah menjadi Istri dan ibu dari anak-anakku Baby. I will always love you."
.
.
__ADS_1
End