Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Penyusup


__ADS_3

Selepas kepergian Wisnu Windi memilih untuk mandi terlebih dahulu tapi sebelum ia mandi terdengar suara Bell yang begitu nyaring.


Seorang kurir makanan membawakan makan siang yang sudah di pesan oleh Wisnu. Windi Tersenyum melihat perhatian yang di berikan Wisnu kepadanya. Ia meletakkan bungkus an makanan di atas meja, Kemudian dia kembali melanjutkan niat nya untuk Mandi.


Sekitar setengah Jam ia membersihkan tubuhnya, Ia keluar untuk makan siang. Suasana tampak sangat sepi dan senyap.


*Hah! Aku benar-benar merasakan kesepian jika dia tidak berada di samping. Aish... Baru juga 1 Jam yang lalu dia pergi dan aku sudah merindukan nya? Hahaha konyol sekali... Tapi aku benar-benar sangat merindukannya meskipun baru tidak bertemu selama 1 jam.


Seperti nya.. Aku benar-benar sudah mencintai nya.. Hah Aku harap dia juga mencintai ku.. dan semoga saja aku dengannya bisa melanjutkan pernikahan terpaksa karena kesalahpahaman ini menjadi pernikahan yang sesungguhnya dan dapat Hidup dengan bahagia sampai maut yang memisahkan kami berdua*.


Windi membuka bungkusan makanan yang di belikan Wisnu untuknya. Betapa terkejut nya Windi ketika melihat menu makanan yang di pesan kan Wisnu adalah Pecel Ayam nasi uduk Mang Ujang.


Sebuah senyuman manis terukir di kedua sudut bibirnya. Benarkah dia yang menyiapkan semua ini untukku? Hah manis Sekali... Rasanya aku ingin mencium nya.


Windi seketika tersadar dengan Fikiran." Aish... Apa yang sedang aku fikir kan kenapa aku menjadi mesum seperti dirinya." Windi benar-benar meruntukki Fikir nya yang berubah mesum akibat banyak bergaul dengan tingkah mesum Wisnu.


Windi melahap semua makanan yang diberikan Wisnu dengan penuh semangat dan dalam sekejap saja makanan sudah habis ludes.


" Hah! Aku benar-benar kenyang sekali, Makanan mang Ujang emang paling top dah." Pekik Windi.


Ia merapikan bekas makanannya, Selesai merapikan alat Makannya ia mengambil beberapa cemilan untuk ia makan sembari menonton televisi.


Ia menghidupkan televisi dan menampilkan chanel kartun Spon kuning dan bintang laut berwarna pink yang menjadi sahabat nya. Ia menonton dengan di iringi dengan tawa yang begitu cekikan karena sikap konyol kedua sahabat itu.


Lama-kelamaan Windi mulai mengantuk hingga akhirnya Ia tertidur pulas di sofa Panjang dengan Televisi yang masih menyala, Sekarang Televisi yang sedang menonton Windi tertidur.


***


Pukul 15:00


Windi terbangun dari tidurnya, mata nya mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya di Ruang. Ia menatap jam yang berada di dinding


Sudah jam 3 sore? Astaga Lama sekali aku tertidur.. Apa Wisnu sudah kembali?


Ia bangun dari posisi tidurnya dan menuju ke kamar Wisnu. Saat sampai di saat ia tidak melihat Wisnu di kamar mau pun di kamar mandi. Ia pergi ke ruang kerja Wisnu tapi masih tetap tidak menemukan Wisnu.


Huh belum pulang ternyata.. Kenapa dia lama sekali? katanya cuman sebentar tapi ternyata lama sekali. Grutu Windi


Ia masuk ke dalam kamar nya untuk mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar. Setelah mencuci muka ia turun bawah untuk memasak makan malam. Ia sudah berencana untuk membuat makan malam khusus untuk Wisnu.


Ehmm... Masak apa ya? Batin Windi


Hingga satu ide muncul di benaknya. Ia kembali masuk ke dalam kamar nya dan mengambil ponsel nya. Ia menekan satu nomor yang ingin dia hubungi.


Tut! Tut!


" Halo Ma."


" Halo sayang."


" Ma.. Windi mau tanyak sesuatu."


" Tanya saja sayang."


" Ehm... Ma makanan kesukaan Isnu apa ma?"


" Hahaha jadi kamu menelfon mama untuk menanyakan makanan kesukaan Wisnu? Ehm.. Seperti nya ada yang mau buat kejutan ni untuk suami." Goda Fitri dari sebrang telfon


Windi yang mendengar mama mertua nya menggoda nya membuat semu merah merona di pipinya. Untung saja mama mertua nya tidak melihat rona merah di pipi nya jika tidak ia pasti tidak akan bisa menatap wajah mama mertuanya.


" Ma.."


" Hahaha baik la baik Wisnu itu suka Udang bumbu Bali sama sayur tumis bayem... Dia suka makanan lokal. "


" Oh baik la ma terimakasi."


" Sama-sama sayang.. Yasudah mama tutup dulu telfonnya ya sayang... "


" Iyah ma... Bye mama."


Sambung telfon terputus ia Segera menuju dapur, ia melihat persediaan bahan makanan di kulkas.


Ehm... Ternyata udang nya tidak ada.. Sayur bayam juga tidak ada... Cabe rawit merah juga tidak ada.. Hah bagaimana mau masak kalau bahan utamanya tidak ada.


Windi melirik jam nya masih pukul 4 kurang artinya masih ada waktu. Ia menelfon Wisnu tapi tidak terjawab, Windi mengira mungkin Wisnu sibuk.


***


Kini Windi sedang mendorong troli belanja nya, Ia mengambil bahan-bahan yang di perlukan nya. Setelah di rasa cukup ia membayar bahan-bahan belanjaan.

__ADS_1


Huhm... Ternyata dia sedang sendirian... kesempatan yang bagus...


Windi sedari tadi tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang memperhatikan nya dari jauh. Ia terus melangkah keluar tapi ketika ia hendak mengambilnya struk belanja nya jatuh ia tidak sengaja melihat sosok yang mencurigakan. Ia pura-pura tidak perduli tapi semakin lama ia merasa kalau orang tersebut terus mengikuti nya. Ia melihat Taksi segera mungkin dia memberhentikan nya.


Sial! Ini kesempatan bagus aku harus mengikuti nya...


Orang yang sedari tadi mengikuti Windi terus mengikuti Windi sampai kecapan loby apartemen nya.


Windi yang merasa orang itu terus mengikuti nya ia segera mempercepat langkahnya. Sedari tadi di perjalanan ia terus menghubungi Wisnu tapi panggilan Windi masih tidak terjawab.


Saat sudah di depan pintu Apartemen nya ia segera masuk dan mengunci Pintu apartemen. Dada nya kembang kempis ia seperti sedang bermain kucing-kucingan dengan orang asing.


Huh! Untung saja.. Batin lega Windi.


Windi mengatur nafas nya, setelah nafasnya kembali normal ia membuka semua belanja nya dan memulai untuk masak. Namun di tengah-tengah acara masak nya suara bell apartemen berbunyi, hingga mengharuskan nya untuk berhenti memasak.


Saat ingin dia ingin membuka pintu, Tiba-tiba saja ia teringat dengan orang yang mengikuti nya. Ia melihat layar Monitor yang terhubung dengan luar. Ia melihat seseorang yang memakai masker dan topi sedang menunggu diri nya untuk membukakan pintu.


Astaga! Untung saja aku belum membukakan pintu nya. Jika tidak aku sendiri tidak tau bagaimana nasib ku nanti, Aku harus segera menelfon Wisnu.


Windi mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja makan. Ia segera menekan nomor Wisnu.


Tut!Tut!Tut!Tut!


Nomor yang anda tuju sedang sibuk.


" Apa dia sesibuk itu sampai dari tadi aku menelfon nya tidak di angkat?"


Windi berulang kali menelfon Wisnu tapi tak kunjung diangkat. Aktifitas nya terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu yang semakin kencang, Ia Sangat panik tanpa fikir panjang dia segara berlari menuju ruang kerja Wisnu dan bersembunyi di bawah meja kerja Wisnu.


Ya tuhan apa yang harus aku lakukan aku benar-benar takut...


Keringat sudah bercucuran di wajah dan di tangannya, Windi benar-benar sangat panik karena suara ketukan pintu itu masih terdengar sangat kencang. Ia tidak tau harus mintak tolong ke siapa karena apartemen yang ia tempati khusus satu lantai untuk Apartemen mereka berdua.


Aku harus bagaimana... Suara ketukan pintu itu semakin kencang.


Windi menutup telinga nya dengan kedua tangan nya, Ia benar-benar merasa Takut. Sampai ia teringat dengan sekertaris Wisnu ia segara mencari nomor Panji.


Tut!Tut!


" Halo nona muda?"


" Halo? nona? Nona muda?"


Windi semakin panik ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Ia segera mematikan ponselnya dan diam tanpa suara. Ia menekuk lutut nya dan menyembunyikan wajahnya di lutut dengan keringat yang bercucuran.


Tiba-tiba saja lampu mati, keadaan sekarang semakin gelap. Hal itu semakin membuat Windi semakin ketakutan.


Tuhan... Tolong kirimkan seseorang untuk menolong ku..


drap!drap!


Suara langkah kaki semakin terdengar, Bagaimana tidak terdengar seluruh ruang menjadi sunyi dan gelap hingga satu suara saja dapat terdengar jelas.


Tuhan...


Tiba-tiba ada lampu flash hp yang menyorot ke wajahnya.


" Windi."


Windi yang mendengar suara yang sangat dia kenal langsung melihat ke arah Depan nya.


" Isnu." Tanpa aba-aba Windi langsung berlari ke pelukan Wisnu dengan sangat erat.


" I-isnu ta-tadi ada seseorang yang masuk, Aku tidak tau siapa dia... A-aku benar-benar takut." Tubuh Windi masih dengan keringat yang bercucuran dan tubuhnya yang gemetaran


" Sst... Tenang lah aku ada disini.. Maafkan aku yang membuat mu ketakutan dan menunggu lama... Maaf.. Maafkan aku." Wisnu berulang mengucapkan kata maaf dan mengecup pucuk kepala Windi.


" Ayo bangun la... Kita kebawah dan mencari tau siapa yang telah menakuti mu."


Windi menggelengkan kepalanya." Tenang saja... Ada aku disini."


Windi hanya diam dan menatap dalam ke arah Wisnu ia sama sekali tidak bergeming dan ucapan Wisnu.


Wisnu menghela nafas ia tau kalau saat ini Windi benar-benar merasa ketakutan. Wisnu langsung menggendong Windi seperti Kuala. Windi hanya mencekram Tangannya di leher Wisnu dan melingkarkan kakinya dipunggung Wisnu, Kepalanya ia sandar kan ke bahu Wisnu. Windi menghirup dalam-dalam aroma tubuh Wisnu yang benar-benar sangat memabukkan.


Wisnu membawa Windi kedalam kamarnya, Ia membaringkan tubuh Windi secara perlahan. Ia berada di atas Windi ia menatap Intens ke mata Windi. Di matanya masih terpancar ketakutan.


" Kamu istirahat lah terlebih dahulu biar aku yang mencari tau siapa yang telah mengganggu mu." Wisnu mengusap lembut kepala Windi.

__ADS_1


Windi menggeleng kan kepalanya." Jangan pergi... A-aku Takut."


" Tenang lah ada aku dan para pengawal yang akan melindungi mu Baby."


" Ku mohon.."


Wisnu melepaskan tangan Windi dan berjalan ke arah sisi sebelah kiri tempat tidurnya, Ia ikut berbaring di sebelah Windi. Wisnu memeluk erat tubuh Windi dan mencium lembut kening Windi.


Windi yang merasa nyaman dengan pelukan Wisnu membuat nya perlahan menutup matanya. Wisnu yang merasa kan nafas Windi yang mulai teratur membuatnya perlahan mengendur kan pelukan nya. Ia perlahan bangun dari posisi tidurnya, Sebelum keluar Wisnu meninggalkan ciuman lembut di kening Wisnu. Ia perlahan menutup pintu kamar nya. Ia berjalan menuju kebawah, Panji dan yang lainnya sedang menunggu dirinya.


" Bagaimana tuan? Apa nona muda baik-baik saja?"


" Dia terlihat begitu ketakutan. Ahhh! Sial siapa yang berani-beraninya meneror Istriku... Cepat cari tau siapa yang berani melakukan nya."


" Baik tuan muda."


Tiba-tiba saat mereka sedang berbincang-bincang terdengar suara teriakan dari kamar Windi. Wisnu yang mendengar teriakkan Windi membuat nya langsung panik dan segera berlari ke kamar nya. Ketika sampai di kamar ia melihat kening Windi yang berdarah.


" Baby? Ada apaa?"


" Di-dia ta-tadi ada di-disini i-isnu, Di-dia mendorong ku."


Rahang Wisnu mengeras ketika melihat melihat kening Windi berdarah. " Panji Cepat cari orang sialan itu sampai dapat! Hidup atau mati!"


" I-isnu." Windi semakin takut melihat wajah Wisnu yang terlihat marah.


" Tenang lah ada aku... Tidak akan kubiarkan siapapun menyakiti mu Baby.." Wisnu memeluk erat Tubuh Windi.


Wisnu melepaskan pelukannya tangannya memegang wajah Windi. Matanya bergerak ke setiap inci hingga matanya terfokus ke darah yang keluar dari dahi Windi. Ia benar-benar sangat marah dengan orang yang telah berani-berani menyakiti Istrinya.


Tak akan ku biarkan kau hidup tenang Sialan.


" Baby tunggu lah di sini, Aku akan mengambil P3K dan mengobati luka mu itu."


Windi mengangguk patuh, Wisnu berjalan keluar dan mengambil P3K. Tak selang beberapa lama Wisnu datang membawa P3K. Ia dengan telaten mengobati luka di dahi Windi, Ia juga meniup nya jika Windi merasa kesakitan ketika di oleskan obat merah. Terakhir ia memberikan plaster luka di dahi Windi dan meninggalkan ciuman lembut di dahi Windi.


" Sudah selesai." Wisnu tersenyum manis menatap Windi


" Kenapa kamu tadi keluar Baby? Apa ada yang kamu butuh kan? kenapa kamu tidak menelfon ku?" Tanya Wisnu


" A-aku ingin memasak makanan kesukaan mu, Tapi bahan nya tidak lengkap maka nya aku pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan."


" Bukan aku tidak menelfon mu tapi kau yang tidak mengangkat telfon ku." Ujar kesal Windi wajah berubah menjadi cemberut.


" Maaf kan aku Baby.. Ponselku tertinggal di mobil.. Maaf kan aku.. Maaf."


" Huh kau benar-benar menyebalkan untung saja aku memiliki nomor Panji. Jika tidak mungkin aku sudah di Bun.."


" Sst jangan mengatakan itu.. Aku tidak akan membiarkan lah itu terjadi.. sekali lagi maaf kan aku Baby." Wisnu mengecup lembut tangan Windi.


Windi tersenyum kecil melihat raut penyesalan di Wajah Wisnu.


" Baik la.. Apa kau lapar? Aku akan memasak makanan untuk mu." Windi mengusap lembut wajah Wisnu.


Wisnu benar-benar menikmati sentuhan lembut dari Windi, Tangannya menangkap tangan Windi dan ciuman Nya lembut." Tidak perlu baby aku akan memesan nya dari luar saja.. "


" Tapi aku ingin memasak untuk mu isnu.."


" Kau bisa melakukan nya nanti Baby."


" Tapikan Isnu.."


" Baby hari ini kita pesan di luar saja ya.. Besok kita kamu yang masak oke?"


" Huh.. Baik la." Windi menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


Wisnu mengacak-acak rambut Windi dan mencium lembut kening Windi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2