
Wisnu yang kala itu sudah cukup lama berada di Bar memutuskan untuk kembali ke apartemen nya. Karena jika ia kembali ke rumah nya pasti mamanya akan memarahi nya. Dan tak luput ia menghindari untuk bertemu dengan Refa. Ia takut emosi nya kembali terpancing ketika bertemu dengan Refa.
" Panji siap kan mobil dan ayo kita kembali." Ujar Wisnu
" Baik tuan." Panji menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan mobil.
Panji menghampirinya Wisnu yang sedang duduk menikmati Wine nya." Tuan mobil sudah siap."
Wisnu mengangguk kepalanya dan meletakkan gelasnya." Baik lah mari kita pergi."
Mereka keluar dari Bar itu, Namun saat ia akan masuk ke mobil ia tidak sengaja melihat Tristan sedang membopong seorang wanita. Ia memperhatikan nya dengan sangat serius dan intens.
Apakah itu Windi? Tapi bagaimana mungkin dia datang ke sini? Wisnu menyipitkan matanya agar terlihat jelas karena hari semakin malam hingga membuat pandangan kabur.
Panji yang melihat Wisnu berhenti dan menatap ke arah Tristan membuat nya bertanya-tanya apa sayang terjadi.
" Tuan ada apa?" Tanya Panji
Wisnu menyuruh Panji untuk menatap kearah Tristan yang sedang membopong seseorang yang mirip dengan Windi.
Panji mengikuti arah mata Wisnu. " Tuan bukannya itu Tuan Tristan dan..."
" Windi." Ujar Wisnu memotong ucapan Panji
" Tapi tuan kenapa nona Windi ada di sini? "
Wisnu menggeleng kan kepalanya tidak tau. " Entah lah aku tidak tau."
Mereka berdua masih terus melihat Tristan yang seperti sedang menunggu.
" Tuan seperti nya tuan Tristan sedang menunggu taksi. Tapi dari tadi taksi tak kunjung datang. Bagaimana kalau kita menawarkan tumpangan untuknya." Usul Panji
Perhatian Wisnu teralihkan menatap Panji, Ia tampak memikirkan Ide Panji. Wisnu hening sejenak, Lalu mengangguk kepalanya.
" Baik lah tuan saya akan menghampiri tuan Tristan." Saat Panji akan melangkah Wisnu memanggil nya.
Wisnu menahan tangan Panji. " Tunggu. Biar aku Saja." Ujar Wisnu
Meskipun Wisnu sudah meminum banyak Wine tapi kesadaran masih ada walaupun kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Wisnu melangkah mendekati Tristan. Wisnu menawarkan tumpangan untuk Tristan dan Windi. Awalnya Tristan menolak, Namun pada akhirnya Tristan menerima tawaran dari Wisnu.
Wisnu membantu Tristan membopong Windi masuk ke dalam mobilnya.
Windi duduk di kursi tengah, di sebelah kanannya Wisnu dan di sebalah kirinya Tristan.
Wisnu menatap ke arah Tristan." Kau ingin membawa nya kemana?" Tanya Wisnu setalah keadaan hening sejenak.
Tristan tampak memikirkan sesuatu." Ehm lebih baik bawa dia ke apartemen nya saja." Ujar Tristan
Wisnu Mengerutkan kedua alisnya, ia bingung kenapa Tristan tau apartemen milik Windi.
" Kau tau dimana apartemen nya?"
Tristan mengangguk kepalanya." Tentu saja aku tau tuan."
" Bagaimana bisa?"
Tristan mendengar perkataan Wisnu menarik salah satu sudut bibirnya. " Apa kau mengenal Sarah?"
Wisnu menatap bingung ke arah Tristan karena ia memanggil Windi dengan nama Sarah. Apa yang di bopong tuan Tristan kembaran nya Windi? Tapi bukannya kembaran Windi bernama Wanda? Kenapa menjadi Sarah. Wisnu bertanya-tanya dalam Fikri nya.
Tristan yang melihat kebingungan di wajah Wisnu membuatnya sadar bahwa hanya dirinya yang memanggil Windi dengan sebutan Sarah." Ah maksud Windi tuan." Ralat Tristan.
" Kenapa kau memanggil nya Sarah?" Tanya Wisnu Penasaran.
" Karena namanya Sarah."
" Tapi bukannya namanya Windi?" Yang Wisnu memastikan
" Lebih tepatnya Windi Andy Sarah Winata." Ujar Tristan
Mendengar ucapan Tristan semakin membuat nya bingung dan terkejut. Karena Tristan menyebutkan nama Windi secara lengkap.
" Kau?" Wisnu menatap Intens ke arah Tristan
" Aku Tristan Aldof Vildson. Adik sepupu nya Windi."
" Kau sepupunya Windi?"
Tristan mengangguk kepalanya." Iya taun aku Sepupunya Windi." Ujar Tristan
" Aku tau kau pasti terkejut karena yang anda fikir kalau Windi hanya anak yatim piatu. Namun nyata nya dia putri bungsu keluarga Winata, Putri paman ku." Sambung Tristan
" Lalu bagaimana bisa di datang ke Bar mu? Sampai tidak sadar kan diri?"
__ADS_1
Tristan menatap prihatin ke arah Windi." Entahlah aku juga tidak tau, Tapi jika dia seperti ini maka dia pasti sedang ada masalah yang ia hadapi. Di memang orang yang tertutup. Dan jika sedang ada masalah dia pasti akan menghibur dirinya sendiri dengan caranya, Ini sudah ke dua kali nya dia datang ke Bar ku karena sedang dalam masalah." Ujar Tristan
" Dua kali maksud mu?"
" Iya dua kali. Yang pertama ketika dia di usir oleh uncle James dan yang kedua adalah sekarang karena sebuah pengkhianatan yang dia terima." Ujar Tristan
Wisnu yang mendengar perkataan Tristan membuat nya tidak tega dengan keadaan Windi Sekarang yang terlihat sangat kacau dan berantakan.
"Ah iyah kita Pergi ke Apartemen City Central. " Ujar Tristan memberi tau alamat Windi.
Setelah itu tidak ada perbincangan di antara keduanya.
Hening!
Hening!
Hening!
Tristan melirik Sekilas ke arah Wisnu. Bagaimana dia bisa mengenal Sarah?
" Ehm Tuan Wisnu boleh saya bertanya." Ujar Tristan memecah kan keheningan di antara mereka.
Wisnu mengangguk kepalanya." Tentu saja boleh, Apa yang ingin kau tanyakan?"
" Bagaimana Anda bisa mengenal Sarah?" Tanya Tristan.
Wisnu tampak memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan Tristan. Apa aku katakan saja kalau Windi adalah mantan tunangan Refa, dan karena adik ku Windi seperti ini.
" Ehm Aku.. mengenalnya karena.."
" Tuan maaf kita sudah sampai di lobby apartemen Windi." Ujar Panji memotong perkataan Wisnu.
Huh Syukur lah.
Panji membukakan pintu untuk Tristan agar lebih mudah membawa Windi. Wisnu membantu Tristan membopong tubuh Windi.
Mereka sudah berada di Lantai apartemen Windi.
" Tuan mohon di bopong sebentar saya mau masuk kan pin nya."
" Oh baik lah." Kini Wisnu menahan tubuh Windi agar tidak terjatuh.
Pintu apartemen sudah terbuka." Tuan ayo kita Bawak dia masuk."
Wisnu dan Tristan membopong Windi ke dalam kamarnya.
Tak lama kemudian Tristan keluar dari kamar Windi. Ia ikut duduk di sebalah Wisnu.
" Tuan terimakasi sudah membantu ku membawa Windi." Ujar Tristan
Wisnu tersenyum ke arah Tristan." Sama-sama tuan Tristan. Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Wisnu
Tristan mengangguk kepalanya dan tersenyum ke arah Wisnu." Baik lah kalau begitu hati-hati tuan."
Saat Wisnu hendak ingin keluar dari apartemennya Windi, Terdengar suara muntah. Hal itu membuat Wisnu dan Tristan panik. Mereka segera menghampiri kamar Windi.
Di dalam kamar mereka melihat muntah Windi di lantai dan wajah Windi yang semakin memucat.
" Astaga! Seperti nya Asma lambung nya kambuh lagi."
Wisnu sangat terkejut mendengar ucapan Tristan." Asam lambung? Apa dia memiliki Asam lambung?"
" Iyah, Aku takut dia akan seperti kejadian masa lampau."
" Lalu apa yang harus kita lakukan? "
" Untuk saat ini sebaiknya kita memanggil dokter terlebih dahulu."
Wisnu mengangguk mengerti dia menyuruh Panji untuk memanggil dokter pribadi keluarga nya.
Tak lama kemudian Panji datang bersama dokter Rey yang bertugas sebagai pribadi keluarga Wisnu.
" Tolong periksa dia."
" Baik tuan." Dokter Rey pun mulai memeriksa kondisi Windi.
Tristan dan Wisnu menunggu cemas dengan keadaan Windi sekarang.
" Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Wisnu tiba-tiba dan terdengar sangat khawatir dengan kondisi Windi saat ini.
Tristan yang mendengar perkataan Wisnu membuat nya Mengerutkan keningnya, karena Wisnu terlihat sangat khawatir dengan kondisi Windi.
Wisnu yang merasa perubahan raut wajah Tristan membuatnya sedikit lebih rileks agar tidak ada kesalahpahaman.
" Tenang tuan, nona Windi masih baik-baik saja, hanya saja denyut nadi melemah dan tekan darah nya yang rendah. Aku akan memberikan suntikan Antibiotik untuk nona Windi. Jika sampai besok keadaan nya masih sama segara bawa ke Rumah Sakit Tuan." Ujar Dokter Rey
__ADS_1
Tristan dan Wisnu mengangguk mengerti dengan ucapan Dokter Rey.
Setelah memeriksa ke adaan Windi dokter Rey pamit undur diri dan kembali ke rumahnya. Panji mengantarkan nya sampai di depan lobby.
Sekarang di ruang itu hanya tersisa Tristan, Wisnu dan juga Windi yang masih berbaring lemah.
Tristan menatap ke arah intens ke arah Wisnu dengan penuh selidik." Tuan? Jangan bilang anda yang menyebabkan Windi seperti ini?" Tanya Tristan dengan penuh selidik
Wisnu menggeleng kan kepalanya." Apa maksud mu? tentu saja Tidak!" Ujar tegas Wisnu
" Lalu? kenapa anda seperti nya sangat khawatir sekali dengannya?" Tanya Tristan penuh selidik
" Karena dia tuna..."
Ucapan Wisnu terpotong tatkala, Ponsel milik Tristan berdering. " Maaf tuan saya harus mengangkat telfon terlebih dahulu." Tristan pergi meninggalkan Windi dan Wisnu berdua an di kamar Windi.
Wisnu menghampiri Windi dan menatap intens ke arah Windi." Kenapa kau bisa seperti ini? " Wisnu mengelus kening Windi dengan sangat lembut.
Tak lama kemudian Tristan masuk kedalam dengan wajah tergesa-gesa dan sedikit panik. Wisnu yang menyadari perubahan wajah Tristan ketika menerima telfon.
" Ada apa?" Tanya Wisnu
Tristan berjalan ke arah Windi dan menatap nya dengan penuh iba." Aku harus kembali ke Bar karena ada masalah tapi aku juga tidak bisa meninggalkan sendirian disini." Ujar Tristan menatap lembut ke arah Windi, seraya mengelus kening dan pipi Windi dengan lembut.
Wisnu hening sejenak memikirkan perkataan Tristan." Ehm kau pergi saja biar aku yang menjaga nya." Usul Wisnu
Tristan beralih menatap ke arah Wisnu." Apa tidak merepotkan tuan?"
Wisnu menggeleng kepalanya." Tentu saja tidak tuan." Ujar Wisnu tersenyum ke arah Tristan.
Tristan mengangguk setuju ke arah Wisnu. " Baik lah tuan terimakasi atas bantuannya, Jika terjadi sesuatu Segera hubungi aku." Ujar Tristan
" Iyah Baik la."
Tristan pun pergi meninggalkan apartemen Windi dan kembali ke Bar untuk menyelesaikan suatu urusan yang ia tinggal.
Di dalam kamar Wisnu duduk di samping tempat tidur Windi dan terus menatap ke arah Windi. Tangan menggenggam lembut tangan Windi. Maaf kan adik ku yang telah membuat seperti ini.
Panji mengetok pintu kamar Windi." Tuan apakah saya boleh masuk?"
Wisnu berjalan dan membukakan pintu." Ada apa?"
" Apa ada yang tuan Ingin?"
" Untuk saat ini tidak ada kamu boleh menunggu di luar."
" Baik tuan." Panji menunggu Wisnu di ruang tamu.
Tuan aku tidak pernah melihat mu sekhawatir ini kepada seorang Wanita asing? Apa kamu tertarik kepada calon tunangan tuan Refa? Batin Panji
Saat pukul 1 malam Windi kembali Memuntahkan isi perutnya, Muntahan terkena pakaian yang di kenakan Wisnu. Hal itu membuat Wisnu panik dan memanggil Panji.
" Panji!" Seru Wisnu
Panji yang sedang terlelap di sofa mendengar panggilan Wisnu membuat nya terbangun dari tidur nya.
" Iya tuan ada apa?"
" Dia muntah tolong panggil seorang wanita untuk mengganti pakaian nya, dan siap kan ganti baju untuk ku." Ujar Wisnu seraya menatap jijik ke pakaian yang terkena muntahan Windi.
" Baik tuan." Panji keluar dan memanggil seorang pelayan servis apartemen untuk mengganti pakaian Windi. Panji membawakan kaos putih dan celana untuk pakaian ganti Wisnu.
Wisnu membersihkan dirinya di kamar mandi Windi. Selesai mandi di memakai pakaian yang sudah di sediakan Panji.
Wisnu menghampiri Windi yang masih terlelap, ia duduk di samping Windi dan menggenggam tangannya.
Wisnu keluar dari kamar dan melihat Panji yang terlihat kelelahan sedang tertidur di sofa. Ia membangun Panji untuk pulang saja dan besok pagi untuk kembali. Awalnya Panji menolak namun karena Wisnu terus memaksa nya Panji pun pulang dan kembali besok pagi.
Tinggal lah Wisnu dan Windi berdua di Apartemen itu. Wisnu kembali masuk ke dalam kamar, Ia mengelus kening Windi dengan lembut. Saat ia ingin pergi tangannya di tahan oleh tangan Windi.
" Jangan Pergi..."
Wisnu mengerutkan keningnya mendengar perkataan Windi .
" Aku mohon jangan pergi..." Windi semakin mengeratkan genggaman tangan nya.
Ada apa dengannya kenapa dia mengigau seperti itu?
Wisnu berusaha melepaskan genggaman tangan nya Windi. Namun sayang nya Windi semakin mengeratkan genggaman nya.
Windi yang berulang mengatakan Jangan pergi membuat Wisnu tidak jadi pergi dan duduk di sebelah Windi. Saat ia menggenggam tangannya Windi, Tangannya semakin lama semakin dingin hingga membuatnya panik. Tubuh Windi juga menggigil kedinginan. Ia bingung harus berbuat Apa.
Ia berusaha untuk menghangatkan tubuh Windi dengan menggosok-gosok kan tangan Windi. Namun sayangnya tubuh nya masih tetap dingin. Ia ingin memeluk Windi, Tapi ia ragu untuk melakukan itu karena sangat tidak pantas. Tapi ia juga tidak punya pilihan.
Wisnu berbaring di sebalah Windi, ia meletakkan kepala Windi di bahunya sebagai alas tidurnya. Ia memeluk Windi dengan sangat Erat.
__ADS_1
Windi yang merasakan kehangatan Pun semakin mengeratkan pelukannya. Dan perlahan Windi kembali terlelap Tidur kembali.
Wisnu memandang langit-langit Kamar Windi dan beralih menatap Windi yang tertidur pulas. Tubuh Windi sudah tidak sedingin tadi. Wisnu yang mulai mengantuk pun ikut tertidur lelap sambil memeluk Windi dengan sangat erat.