
Selesai makan Windi dan Wisnu memilih untuk duduk-duduk terlebih dahulu menikmati udara siang yang terlihat terang namun tidak terlalu panas. Keduanya memilih untuk berbincang-bincang mengenai masalah Wisnu junior.
Wisnu sangat bahagia akan kehadiran Wisnu junior yang mampu membuat nya merasa paling beruntung di dunia. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari Windi yang mencintai nya dan juga Hadir Wisnu junior di tengah-tengah kebahagiaan nya. Wisnu berharap tidak akan ada siapapun yang bisa merebut kebahagiaan mereka berdua.
Windi melirik jam ditangan nya yang sudah hampir pukul dua siang, Sisa istirahat nya tinggal setangah jam lagi. "Isnu Sebaiknya kita kembali, Waktu istirahat ku tinggal setangah jam lagi." Ujar Windi.
Wisnu mengangguk kepalanya dan melirik kearah jam tangannya."Baik la, Ayo." Wisnu mengulur kan tangan nya, Windi dengan senang hati meraih uluran tangan Wisnu.
Kedua nya berjalan menuju kasir, Windi hanya diam menunggu Wisnu membayar makanan mereka. Saat akan keluar Wisnu teringat akan dompet yang tertinggal Disana waktu membayar. Wisnu meminta Windi untuk pergi duluan ke mobil. Windi setuju, Saat akan menyebrang tiba-tiba saja ada mobil yang sedang berjalan kearah nya. Wisnu yang melihat sebuah mobil mengendarai mobil dari arah kanan Windi membuat nya melotot tak percaya, Ia berlari kearah Windi untuk menghindari Windi. Namun naasnya...
Brak!
Mata Wisnu melebar tak percaya, Mata nya di iringi dengan tetesan air mata dari sudut mata sebalah kirinya. Badan nya terasa lemas ketika melihat tubuh Windi yang terpental dan jatuh ketanah dengan darah yang mengalir di tubuhnya. Dunia Wisnu seakan-akan hancur berkeping-keping melihat Windi yang sudah tergeletak di tanah.
Semua orang yang berada di tempat menatap tak percaya dengan apa yang terjadi kepada Windi. Mobil yang menabrak Windi sudah melesat pergi meninggalkan tubuh lemah Windi.
Windi yang setengah sadar melihat kearah Wisnu yang diam terpatung tak jauh dari nya. Wisnu yang melihat itu langsung cepat-cepat bersimpuh di samping Windi dan merengkuh tubuh Windi yang terkulai lemas. Wisnu meletakkan kepala Windi di pangkuan nya.
"Baby bertahan lah, Kita akan segara ke rumah sakit, Kita akan selalu bersama. Kamu harus kuat Baby." Ujar Wisnu disertai tetesan air mata yang terus keluar dengan deras. Entahlah rasanya Wisnu benar-benar ingin menangis sejadi-jadinya melihat keadaan Windi.
"Ishh...nu.." Seluas senyum an terlukis di wajah Windi yang berlumuran darah.
Melihat senyuman Windi, membuat Wisnu Sangat membenci senyuman itu. Ia tidak suka dengan senyuman Windi yang ini ia benar-benar tidak suka.
"Baby, Bertahan la." Wisnu terus mengelus lembut kepala Wisnu, bibir bergetar menahan tangis nya.
"Aku mohon cepat panggil ambulance, Aku mohon cepat!!! Aku tidak ingin Istri ku kenapa-kenapa. Aku mohon cepat lah jangan hanya menjadi penonton sialan!" Teriak Wisnu kepada orang-orang yang melihat mereka.
Mendengar itu para warga segara menghubungi ambulance, Entah karena panik atau lupa kalau ia membawa mobil Membuat Wisnu tidak ingin menjauh dari Windi dan ingin terus berada di sisi Windi.
Tangan Windi berusaha menjangkau wajah Wisnu, Wisnu melihat segera membawa tangan Windi untuk menyentuh wajahnya.
"I..ss..nuu, Ber-berJanji-lah....Ja-jangan bi-biarkan A-air ma-mata mu dan o..orang-orang ya-yang ku sa-sayang menetes melihat keadaan ku. Da-dan A..aku I..ingi Ka..kamu berjan..ji lah un..tuk memper..tahankan a..anak khi..ta." Ujar Windi di tengah rasa sakit di sekujur tubuh nya.
Wisnu yang mendengar perkataan Windi membuat tangis nya semakin pecah dan rasa sakit di dada semakin dalam menyelimuti dada, Sungguh tak ada lagi yang lebih menyakitkan dari apapun ketika melihat Windi yang berlumuran darah seperti ini. Wisnu tidak tau apa yang akan terjadi kepada Windi, Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Papa nya Windi nanti? Apa yang harus ia lakukan? Wisnu tidak ingin kehilangan dua orang sekaligus dalam hidupnya nya, Ia tidak ingin kehilangan Windi maupun calon anaknya. Wisnu benar-benar tidak siap jika harus kehilangan mereka sekaligus. Ia rela menukar segala kekayaan nya asalkan tidak kehilangan Windi maupun calon anaknya.
"Baby Apa yang kamu katakan, Kamu dan Bayi kita akan baik-baik saja, " Wisnu menggeleng kan kepalanya dengan tangan masih terus mengelus lembut Kepala Windi. Ia tidak perduli dengan pakaian nya sudah di lumuri darah Windi.
Tak lama ambulance datang, Wisnu langsung membopong tubuh Windi kedalam mobil. Tangan nya masih terus menggenggam Lembut tangan Windi, berulang kali ia mengecup lembut tangan Windi. Senyuman getir ia sematkan untuk menguatkan Windi bahwa semuanya baik-baik saja. Ia tidak tau apa yang akan terjadi. Ia melihat tubuh Windi yang di penuhi darah juga darah yang mengalir dari ************ Windi. membuat nya semakin gusar dan panik, Bahwa tidak akan terjadi apa-apa kepada Windi maupun bayi mereka.
Sepanjang perjalanan Wisnu tak henti-hentinya merapalkan doa kepada Tuhan bahwa ia tidak kehilangan hidupnya,
Tuhan aku mohon jangan ambil mereka, Aku tidak sanggup jika kehilangan mereka. Ijinkan aku untuk terus bersama mereka. Aku tidak ingin kehilangan istri dan juga calon anak ku. Maaf kan aku jika aku terlalu egois kepada mu Tuhan Tapi aku mohon kepada mu untuk memberikan kesempatan untuk keluarga kecil ku, Jangan memberi ku pilihan antara istri dan juga anak ku.
Perjalanan kali ini rasanya sangat panjang sekali, Wisnu berulang mengajak Windi mengobrol agar kesadaran Windi masih terjaga. Karena jika sampai Windi tertidur itu akan membuat kondisi Windi semakin buruk.
"Baby, Kamu ingat pertemuan awal kita ketika kamu di kenalkan Refa sebagai calon Istri nya? Saat itu aku sudah mulai merasakan gliyaran aneh dalam hati ku ketika melihat senyuman mu Baby, Mungkin aku sudah jatuh cinta kepada mu. Tapi entah lah karena terkadang aku bingung dengan perasaan yang aku miliki karena saat itu kamu masih menjadi tunangan Refa, Tetapi ketika kamu dan Refa memutuskan hubungan aku merasa sangat bahagia tapi juga ikut sedih ketika melihat kamu dan Refa dan sedih. " Ujar Wisnu di tengah Isak an nya. Sedangkan Windi tatapan nya mulai sayu, Ia tidak begitu mendengar apa yang di katakan Wisnu. Semua yang ditatapnya seolah buram dan tidak jelas, Ia melihat cahaya putih terang Begitu Membuat matanya silau, Ia juga melihat seorang dengan sayap di belakang nya.
"Satu hal yang membuat ku paling bahagia adalah ketika kamu menjadi istri ku dan juga sangat mencintai ku. Aku benar-benar sangat bahagia sekali. Karena orang yang aku cintai juga mencintai ku, Aku harap kamu..."
"Isnu Aku Sangat mengantuk boleh aku tidur? "
__ADS_1
Wisnu reflek menggelengkan kepalanya dan semakin terisak ia tidak memperdulikan lagi bagaimana penampilan nya saat ini yang penuh dengan noda darah Windi dan mata yang terlihat memerah. "Tidak Baby kamu jangan tidur, Jika kamu tidur siapa yang akan menemani ku?" Isakan tangis nya semakin terdengar, Suara yang awalnya ia usah kan tidak gemetar kini berubah menjadi getaran isakan. Mata dan hidungnya memerah akibat menangis.
"Isnu, aku lelah aku ingin tidur."
Wisnu semakin mengeratkan genggaman tangan nya. "Ti-tidak Baby bersabar lah, sebentar lagi kita akan sampai dan semuanya akan baik-baik saja. "
Suster dan Mantri yang berada di dalam Ambulance kita merasa kan apa yang Wisnu rasakan saat ini.
"Isnu... Boleh ya aku tidur? Aku benar-benar lelah sekali." Ujar Windi sekali lagi, Ia berbicara Tanpa menatap kearah Wisnu Pandangan hanya fokus ke depan.
"Baby aku mohon jangan tidur, tahan sebentar yah kita akan sampai. Aku mohon jangan tidur. " Wisnu berulang kali mengecup lembut tangan dan juga kening Windi. Air matanya juga tidak berhenti untuk terus mengalir begitu saja. Kali ini ia benar-benar terlihat sangat menyedihkan dan rapuh jika menyangkut tentang Windi.
Wisnu menatap kearah suster dan juga Mantri yang ikut dengan nya. Seolah mengerti dengan tatapan Wisnu suster itu memberanikan diri nya. "Tuan Terus lah ajak nona berbicara, Kita akan sampai sebentar lagi."
Wisnu memejamkan singkat matanya, Kepalanya terasa sangat pusing sekali, Ia kembali menatap ke arah Windi yang masih menatap kosong ke arah depan. Seolah-olah dihadapan Windi ada sesuatu yang menarik di matanya.
"Baby, Aku tau kamu kuat jadi bertahan yah." Genggaman tangan Wisnu semakin kuat. Hati nya benar-benar tidak bisa tenang melihat keadaan Windi yang begitu mengenaskan, Seharusnya diri nya saja yang seperti ini. Jangan Windi, ia benar-benar tidak mampu menghadapi ini semua sendiri. Ia sangat membutuhkan Windi.
Air mata Wisnu tak henti-hentinya keluar begitu saja, Matanya yang biasa memencarkan ketegasan kini hanya memancarkan kesedihan dan kepedihan teramat dalam.
Untung saja Jalanan yang tidak terlalu ramai membuat mereka tiba di rumah sakit dengan sangat cepat. Bankar yang membawa Windi langsung di bawa ke UGD untuk mendapatkan perawatan intensif.
Wisnu memaksa untuk masuk tetapi perawat tidak menginjinkan Wisnu untuk masuk, Wisnu benar-benar tidak tau harus bagaimana lagi. Ia bahkan lupa untuk menghubungi keluarga nya.
Wisnu terduduk di lantai, Tangannya menjambak frustasi rambut nya. Air matanya masih terus mengalir, Wisnu terisak menahan tangisnya.
Tak lama dokter datang, Melihat itu Wisnu langsung menghampiri dokter itu, "Dokter bagaimana kondisi Istri saya?" Tanya Wisnu dengan tidak sabar.
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA KONDISI ISTRI SEPERTI ITU, CEPAT KATAKAN APA YANG TERJADI DENGAN ISTRI KU SIALAN." Teriak Wisnu dengan keras, Ia seolah tidak memperdulikan dimana ia sekarang.
"Tuan tenang lah ini rumah sakit."
"KATAKAN SIALAN!" Bentak Wisnu dengan tidak sabar an. Wisnu mencengkram kuat bahu dokter itu.
Terdengar suara helaan nafas dokter sebelum Dokter itu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Windi. "Tuan terjadi benturan di kepala nona Windi tetapi untungnya hanya geger otak ringan, tapi..."
"Tapi apa?" Tanya Wisnu dengan tidak sabar.
Dokter itu menunduk kepala nya tak berani menatap ke arah Wisnu. "Maaf tuan kami sudah berusaha untuk menyelamatkan janin nona Windi tapi janin nona Windi masih sangat rentang menyebabkan kandungan nona Windi tidak bisa diselamatkan."
Deg!
Hati Wisnu mencelos mendengar perkataan dokter, Tubuh nya rasa nya lemas. Cengkraman di bahu dokter perlahan mengendur ia memundurkan tubuhnya. Ia seperti kehilangan penompang tubuh nya. Apa yang harus ia katakan kepada Windi nanti? Bagaimana ia akan menjelaskan nya kepada Windi? Apa Windi bisa menerima semua ini?!
Wisnu menghapus air matanya dan menatap tajam kearah dokter. "Kau berbohong kan?"
"Tidak tuan, Benturan hebat di Perut nona Windi membuat janin yang sedang di kandungan nona Windi tidak bisa bertahan. Untung saja tidak sampai merobek Endometrium nya tuan. "
"Kita harus segara mengambil tindakan untuk membersihkan rahim nona Windi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan tuan, Mohon segara menandatangani surat persetujuan untuk melakukan pembersihan area rahim nona Windi tuan." Sambung Dokter.
Wisnu memejamkan singkat mata nya dan memijat pelipis Matanya yang terasa pusing, Ia kembali menatap Dokter itu. "Lakukan yang terbaik untuk Istri ku." Ujar Wisnu.
__ADS_1
"Baik tuan kita akan segara melakukan pembersihan rahim."
Setelah mengatakan itu dokter pergi dari hadapan Wisnu. Wisnu kembali terduduk di lantai, Tangisannya tidak dapat di tahan lagi.
Dret! Dret! Dret
Getaran di ponsel nya Membuat nya teralih kan, Ia merogoh ponselnya. Terlihat Id panggilan dari Panji.
Sebelum mengangkat telfon Wisnu menarik nafas dalam-dalam. "Halo."
"Halo Tuan Apa Anda baik-baik saja?"
"Iyah aku baik-baik." Wisnu memejamkan singkat mata nya menahan air matanya agar tidak mengalir lagi. Tetapi Sungguh ia tidak bisa menahan nya.
"Tuan? Apa Anda yakin anda baik-baik saja?" Tanya Panji khawatir karena terdengar suara Wisnu yang bergetar seperti menahan tangis.
Wisnu kembali menarik nafasnya. "Panji aku percaya kan perusahaan kepada mu."
"Apa maksud mu tuan?" Desak Panji
"Wi-windi."
" Ada apa dengan Nona Windi tuan?!"
"Windi di tabrakan oleh seseorang. " Ujar Wisnu dengan terisak.
"Tuan anda Sekarang dimana? Saya akan ke sana."
"Di rumah sakit Xx"
"Baik tuan saya akan ke sana."
Panggilan terputus, Wisnu kembali menangis dan terduduk di lantai dengan tangan yang menjambak frustasi.
Tuhan bukankah aku sudah meminta mu untuk tidak mengambil calon anak ku? kenapa kamu melakukan nya?! Kenapa tidak kau tukar saja nyawa nya dengan nyawa ku. Sekarang katakan bagaimana aku akan mengatakan kepada istri ku?
Wisnu memejamkan singkat mata nya, Keadaan nya benar-benar sangat kacau dan berantakan. Kini tidak di lagi sesosok Tegas Wisnu. Melainkan Wisnu dengan sisi rapuh dan lemahnya.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)
__ADS_1