
Setiba nya di kamar Windi di buat tertegun akan kemewahan yang terdapat di kamar, Bahkan Apartemen yang ia tempati dulu tidak semewah ini.
Ini terlihat seperti kamar ku yang ada di Mansion Papa.
Windi meletakkan barang-barang nya dan menyusunnya kedalam lemari. Windi menatap keseliling kamarnya, Ia melihat pintu yang terhubung dengan balkon kamar. Ia membuka pintu balkon kamar yang di suguhkan dengan pemandangan yang sangat cantik dan bagus.
Dia pandai sekali memilih apartemen ini.
Windi yang menerima semilir angin membuat nya mengantuk. Ia kembali ke dalam dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk.
Hah! Rasanya aku ngatuk sekali. Lebih baik aku tidur sebentar sampai jam makan siang.
Perlahan mata Windi mulai terpejam dan terbuai akan indahnya alam bawah sadarnya.
°°°
Di satu sisi Refa sudah hampir 1 Minggu lebih berada di Korea untuk menyelesaikan proyek yang serah kan kepadanya.
Ia mengerjakan semuanya dengan baik dan cepat agar bisa kembali ke Indonesia sesegera mungkin. Agar ia bisa kembali bersama dengan Windi lagi.
Selama Di Korea Fikiran Refa selalu di penuhi akan bayangan-bayangan Dirinya dan Windi saat sedang bersama.
Aku sudah tidak sabar sekali untuk kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Windi. Aku harus Segara menyelesaikan proyek ini dalam waktu 6 bulan. Meskipun targetnya 1 tahun tapi aku harus Segara menyelesaikan nya. Jika aku menunggu satu tahun.. aku Takut Windi sudah jatuh cinta ke pria lain.. Sebelum itu terjadi aku harus segera mendapatkan nya sebelum orang lain yang mendapatkan nya.
Saat Wisnu sedang bergumam dengan dirinya sendiri pintu ruang nya di ketuk.
"Masuk." Titah
Ditto masuk ke dalam ruang Refa Setalah mendapat ijin dari Refa.
" Tuan ini ada berkas yang perlu anda tanda tangani tuan." Ditto menyodorkan berkas-berkas untuk di tangani oleh Refa.
Refa mengambil alih berkas-berkas itu dan membacanya dengan seksama agar tidak terjadi kesalahan dalam berkas tersebut.
" Sudah. Ada lagi?" Tanya Refa setalah menandatangani berkas-berkas nya.
" Tidak tuan." Ditto menatap ke arah Refa, Ia ingin mengatakan sesuatu. Namun ia ragu untuk mengatakan nya.
Refa yang menatap ke arah Ditto membuatnya bertanya-tanya." Ada yang ingin kau katakan?"
Aku katakan tidak yah? Tentang pernikahan tuan Wisnu dan nona Windi? Batin Ditto
" Ditto?" Panggil Refa yang melihat Ditto hanya diam saja.
" Iya tuan?"
" Ada yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Refa
Baik la akan ku katakan padanya. Batin Ditto
__ADS_1
" Ehm Tuan muda Wisnu sudah menikah tuan." Ujar Ditto
Refa yang mendengar perkataan Ditto membuatnya kaget dan tak percaya." Benarkah? Kenapa aku tidak mengetahui pernikahan nya?"
" Tuan Refa waktu itu sedang meeting dengan klien. Tuan besar sudah menelfon anda tapi tidak ada angkat. Hingga tuan besar menghubungi saya dan memberitahu kalau tuan Wisnu sudah menikah." Ujar Ditto menjelaskan
Refa mengangguk kepalannya." Oh begitu.. Lalu kamu tau siapa istri dari Kaka ku?" Tanya Refa
" Istri tuan Wisnu adalah nona Wi.." Ucapan Ditto terpotong karena dering telfon dari Refa.
" Sebentar." Refa mengangkat telfon dari Benny
" Halo Pa."
" Reffa bagaimana dengan proyek Disana?"
" Lancar pa.. Aku akan segara menyelesaikan dan kembali ke Indonesia."
" Baguslah kalau begitu."
" Iya Pa... Ah Iyah Pa apa benar Kaka Wisnu sudah menikah?"
Benny hanya diam saja ketika mendengar pertanyaan dari Refa. Ia bingung harus mengatakan apa jika Refa tau kalau istri dari kakaknya adalah Tunangan nya.
" Pa?"
" Ah iya itu benar."
" Iya."
" Siapa pa?"
" Siapa apanya?"
" Istri Kaka Wisnu?"
" Ehmm... Istri Wisnu itu..Wi.." Lagi-lagi ketika ingin menyebutkan nama Windi selalu terpotong, Kali ini perkataan Benny terpotong karena Fitri memanggil.
" Sudah dulu yah nanti Papa telfon lagi."
" Iyah Pa bye." Panggilan Telfon terputus dan kini Perhatian Refa Kembali teralihkan menatap Ditto yang menunggu nya.
" Siapa nama istri Kaka ku?" Tanya Refa dengan penasaran.
Ditto menatap ke arah Refa." Nona Wi..."
" Widya? Ah aku sudah menduga Kaka pasti akan menikah dengannya, Meskipun aku tidak menyukai tapi selagi itu membuat Kaka ku bahagia tidak masalah." Ujar Refa yang seolah mengerti dengan ucapan Ditto
Ditto yang mendengar perkataan Refa membuat nya mendesah pasrah. Hah! Kau salah tuan yang di nikahi tuan Wisnu adalah Nona WINDI, Tunangan mu tapi kau malah mengira itu Widya. Astaga! Biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya...Aku harap kau tidak memecat ku karena kau sendiri lah yang memotong ucapan ku. Batin Ditto
" Baik la kau boleh pergi."
__ADS_1
" Baik tuan." Ditto pamit undur pergi dari Ruang Refa
°°°
Jam menunjukkan pukul 1 siang, Tak membuat Windi terbangun dari tidurnya.. Ia merasa nyaman sekali di ranjangnya. Ia tidak ingin bangun dari mimpi indahnya.
Namun perut nya sudah sangat lapar membuat nya harus terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam yang berada di kamarnya.
Sudah jam 1 ternyata pantas saja perut ku lapar sekali.
Windi turun dari ranjang dan membasuh mukanya terlebih dahulu. Setalah itu ia keluar dari kamarnya menuju dapur. Ia berharap di dalam kulkas menemukan sesuatu untuk bisa di makan. Namun kulkas masih kosong
Aku rasa isnu belum belum membeli kan persediaan makanan.
Windi mengerucut kan sebal mulutnya. " Lebih baik aku mengajak Isnu untuk pergi belanja dan membeli persediaan makanan."
Windi berjalan ke arah tangga dan menuju ke kamar Wisnu, Namun di dalam ia tidak mendapati Wisnu. Ia melihat pintu ruang kerja Wisnu yang sedikit terbuka.
Perlahan ia mengetuk pintunya dan memasukkan sebagai Kepala nya di pintu.
Tok!Tok!Tok!
" Isnu." Windi memanggil Wisnu dengan sangat pelan ia takut menganggu konsentrasi Wisnu.
Suara pelan Windi masih terdengar di telinga Wisnu. Ia menatap kepala Windi yang sebagian masuk. " Ada apa?"
" Apa aku boleh masuk?" Tanya Windi
" Masuk la." Windi masuk ke dalam Ruang kerja Wisnu. Ia berdiri di depan Meja kerja Wisnu.
" Ehm Wisnu apa kamu sedang sibuk?" Tanya Windi seraya memainkan ujung bajunya.
Wisnu menatap sekilas ke arah Windi." Tidak terlalu sibuk, Ada yang kamu ingin kan?"
" Ehm aku ingin mengajak mu berbelanja sediaan makanan. " Ujar Windi
" Apa kamu lapar?"
Belum sempat Windi menjawab nya Perut Windi terlebih dahulu yang mengatakan nya. Wisnu yang mendengar suara perut Windi Membuat tersenyum kecil di sudut bibirnya namun nyaris tak terlihat.
Astaga! Dia menggemaskan sekali.
Windi menggenggam perutnya dan tersenyum cengengesan ke arah Wisnu. Memalukan sekali kau! Runtuk kesal Windi.
Wisnu menghembuskan perlahan nafasnya dan menutup berkas-berkas nya. " Baik la ayo kita pergi mencari makan dan pergi berbelanja."
Windi yang mendengar Perkataan Wisnu membuat nya memekik senang." Ahh! Baik la aku akan bersiap."
Wisnu melihat sikap Windi hanya menggeleng kan kepalanya. Luar nya saja terlihat dewasa namun dalamnya terlihat seperti anak kecil. Senyum lebar mengembangkan di bibir Wisnu.
Windi meninggalkan ruang kerja Wisnu dan menuju kamar nya untuk bersiap pergi berbelanja.
__ADS_1