
Dua jam sebelum penyerangan,
Markas De Jark.
"Hotel ini memiliki tiga pintu masuk utama. Yang dimana masing-masing pintu itu dijaga ketat oleh mereka." Ujar Seorang Pria dengan perawakan tinggi dan hitam.
Di hadapan mereka ada sebuah proyektor denah, Lokasi tempat lelang berlangsung. Kemudian berganti dengan wajah tiga orang pria dengan wajah kekar dan sangar.
"Ketiga orang ini merupakan orang-orang terpilih dari Cosa. Keempatnya dikabar memiliki kekuatan yang setara dengan sepuluh orang. Untuk itu Saya ingin kalian semua untuk mempatuhi dan menuruti setiap perkataan saya. Agar kemenangan ini menjadi miliki kita."
"Setiap gerbang memiliki penjaga yang sangat kuat dan hebat. Tetapi kita memiliki satu titik kelemahan mereka yaitu pintu belakang gedung itu. Karena untuk masuk dari pintu itu kita harus melewati Hutan."
"Hutan?"
"Ya Hutan. Meraka tidak menempatkan penjagaan karena di Hutan tersebut merupakan penangkaran Hewan buas. Kita bisa saja melawati hutan itu, Namun Kita juga tidak tau seberapa agresifnya para hewan buas itu."
Prok
Prok
__ADS_1
"Tuan Aric. Kau takut dengan seekor hewan? Dengan sekali tembak saja. Maka hewan itu akan mati, dan kita bisa melewatinya dengan baik. Kirim saja orang-orang yang menurutmu memiliki kemampuan menembak terbaik. Karena aku yakin sekali, Kita akan dengan mudah masuk kedalam gedung itu. Sedangkan kelompok-kelompok terkuat kita akan dikirim untuk melawan tiga orang terbaik dari COSA. "
"Tapi.."
"Aku setuju dengan perkataan tuan jeric. Kita harus bersiap sekarang."
Rapat itu telah bubar dan membentuk empat kelompok yang dimana setiap anggotaa beranggotakan Tujuh puluh orang. Pada Kelompok A akan menyerang pintu gerbang Utama. Sedangkan kelompok B Menyerang Pintu Gerbang sayap Kanan. Kelompok C Pintu gerbang sayap kiri dan Kelompok D menyerang melalui hutan. Pada kelompok D Mr. R menambahkan dua puluh anggota lagi. Karena menurutnya kelompok D sebagai bala bantuan karena musuk yang mereka hadapi hanya seekor Hewan.
Tanpa Mereka Ketahuin Dua ekor Harimau Putih dan dua Ekor Jaguar Sudah Siap menanti mereka. Dengan ditemani tiga orang sniper yang sudah bersiap. Meskipun mereka berhasil menembus pintu gerbang belakang. Mereka juga akan dihadapkan dengan Wanda dan Gilbert yang memiliki kemampuan setara dengan sepuluh orang. Sedangkan Windi, Reffa dan Dito akan menunggu di Aula acara.
.
.
"Tuan, Nona Windi, Tuan Reffa dan Ditto sudah berada diposisinya. Sedangkan Nona Wanda menunggu waktu yang tepat untuk membantu Gilbret yang menjaga Pintu belakang."
"Kaka Iparku dimana?"
"Tuan Ken, Beliau menjaga Gerbang Utama. Sedangkan sayap kanan dan kiri dijaga oleh dua kepercayaan COSA. Yaitu Hugo yang merupakan seorang ahli kapak yang mampu menebas kepala orang hanya dengan sekali tebasan kapaknya. Kemudian ada Sam yang menjaga Sayap kiri, yang merupakan Seorang Samurai. Ia terkenal dengan keahlian mengayunkan Katananya yang tajam."
__ADS_1
"Ehm baik lah, Kita akan masuk dan menyamar untuk mengamankan Istriku."
"Baik Tuan." Setelah itu Panji pamit undur diri u tuk mempersiapkan segalnya.
Baby aku janji, Setelah ini tidak akan ada yang bisa bermain-main dengan keluarga kita. Sudah cukup kita menderita karena dendam sialan ini.
Kemudian Wisnu dan Panji pergi ke gedung tempat acara lelang berlangsung, Wisnu menggunakan setelan Jas Hitam dipadukan dengan kemeja Abu-abu. Tidak Lupa dengan kumis tebal yang menempel di Atas bibirnya agar penyamarannya tidak terendus oleh musuh dan juga Istrinya yang sangat peka sekali terhadap kehadiran dirinya.
sesampainya di dalam aula Wisnu dan panji memilih untuk duduk di meja belakang. Matanya menatap keseliling ruang, untuk mencari Istrinya. Searah mata memandang ia dapat melihat dengan jelas Lekuk tubuh istrinya yang terbalut di dress merah. Ia terlihat paling mencolok dimatanya. Ia juga merasa tidak akan mampu mengalihkan pandang matanya. Karena ia benar-benar terpaku dengan kecantikan Istrinya.
"Tuan."
"Ehm..."
"Acaranya akan segara dimulai."
"Yaa." Bagi Wisnu acara ini sama sekali tidak menarik dimatanya, Karena ia lebih tertarik untuk menatap ke arah istrinya.
Windi yang dari jauh merasa kalau ia sedang ditatap dengan intens oleh seseorang. Dengan segara ia menolehkan kepalanya ke belakang. Matanya terpaku oleh mata tajam yang sedang menatapnya. Keduanya saling tatap-tapan selama lima detik setelah Wisnu memutuskan kontak matanya dengan istrinya.
__ADS_1
"Sial Hampir saja ketauan."
"Aku seperti mengenal tatapan mata itu."