Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Tidurlah


__ADS_3

Setelah usai berbincang dengan Benny, Wisnu kembali ke ruangan tempat Windi di rawat. Sebelum masuk ia melihat orang yang datang bersama Windi. ia menghentikan langkah nya dan menatap nya


" Terimakasih telah membawa istri ku." Ujar dingin Wisnu


Arsel yang mendengar perkataan Wisnu membuat nya berdiri dari duduknya." A-ah tidak masalah tuan.. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Arsel


Wisnu menganggukkan kepalanya." Baik la hati-hati."


Arsel mengembalikan ponsel dan tas jinjing punya Windi kepada Wisnu.


" Tunggu nona!" Panggil Wisnu


" Iya tuan ada apa?"


" Biarkan sekertaris ku yang mengantar kan mu kembali nona." Ujar Wisnu


Arsel menatap ke arah Panji yang berdiri dengan tatapan dingin dan menusuk. Aish? yang benar saja aku di antar sama pria aneh itu..Dengan mu saja sudah membuat bulu kuduk merinding apalagi dengan laki-laki yang kau bilang sekertaris mu.. Yang ada bisa mati kedinginan dengan tatapan nya itu. Batin Arsel


"Nona?"


Arsel tersedar dari lamunannya." Tidak usah tuan... Aku bisa naik taksi saja." Tolak Arsel


" Apa kau yakin nona?" Tanya Wisnu memastikan


Arsel tersenyum kecil mendengar perkataan Wisnu." Iya tuan."


" Baik la Terimakasih."


" Iya tuan Permisi." Arsel berbalik dan melangkah meninggalkan Wisnu dan Panji yang berdiri di depan pintu rawat Windi. Arsel sekilas melirik ke arah Panji yang sedari tadi memperhatikan dirinya dan Wisnu saat sedang berbicara dengan tatapan dinginnya.


Saat Arsel sudah menghilang dari pandangan Wisnu, Kini mata nya menatap ke arah Panji.


" Kau kembali lah ke perusahaan dan handle semuanya selama aku merawat istri ku." Titah Wisnu


" Baik tuan." Balas Panji


Wisnu hanya mengangguk kan kepalanya, ia membuka pintu handle kamar Rawat Windi. Ia melihat Windi sedang tertidur pulas di temani mamanya yang tertidur di sofa dengan posisi duduk. Wisnu menghampiri Fitri dan membangun kannya.


" Ma." Ujar Wisnu seraya menggoyang-goyangkan Bahu Fitri dengan lembut


Fitri yang merasa terganggu membuka perlahan matanya." Wisnu? kau sudah kembali?"


" Iya ma.. Sebaiknya mama sama papa pulang saja biarkan aku yang merawat Windi.. Mama terlihat begitu kelelahan." Ujar Wisnu


" Apa kau yakin?"


" Iya ma.. Aku tidak ingin Mama juga ikutan sakit... Mama harus banyak istirahat yah..." Ujar Wisnu


" Baik la kalau begitu mama pulang saja.. Tapi kalau kamu membutuhkan sesuatu hubungi mama ya."


Wisnu menganggukkan kepalanya ." Iya ma... Hati-hati ya.. Papa menunggu mama di depan." Ujar Wisnu seraya meninggalkan ciuman di kening Fitri


Sebelum pergi Fitri menghampiri ranjang Windi dan memberikan ciuman di pucuk kepala Windi." Cepat sembuh yah sayang."


" Mama titip menantu mama ya."


" Iya ma."


Setelah Fitri meninggalkan ruangan itu kini tinggal Wisnu dan Windi. Wisnu terus menatap ke Windi yang tertidur pulas. Perlahan ia melangkah mendekat ke arah ranjang Windi. Ia menarik kursi dan duduk di samping Windi seraya menggenggam lembut tangan Windi. Sesekali ia mengecup tangan Windi.


Aku berjanji akan selalu mendampingi mu sampai kapanpun dan aku berjanji akan selalu mencintai mu dan tidak akan pernah meninggalkan mu... Meskipun aku harus membuat adik ku membenci ku karena memiliki mu.


Pukul 15:00


Windi terbangun dari tidurnya, ia merasakan tangannya yang di genggam perlahan matanya menatap ke arah sisi kanannya. Ia melihat Wisnu yang tertidur dengan posisi duduk di kursi seraya menggenggam tangannya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tatkala ia melihat Wisnu yang tertidur sembari menggenggam tangannya.


"Isnu..." panggil Lirih Windi

__ADS_1


Namun Wisnu masih tertidur pulas, Windi yang melihat itu merasa kasihan melihat Wisnu yang kelelahan karena merawat nya. Tangan kirinya yang terpasang selang infus perlahan ia gerakkan dan mengelus lembut tangan Wisnu yang menggenggam tangan kanannya.


" Isnu..." Panggil Windi lagi


Wisnu merasakan sentuhan lembut di tangannya membuat nya membuka matanya. Ia melihat Windi yang sudah terbangun dari tidurnya.


" Kamu sudah bangun? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Atau ada yang sakit? Kamu mau apa ak-" Perkataan Wisnu terpotong


" Aku tidak apa-apa Isnu.. Aku baik-baik saja..." Ujar Windi seraya tersenyum kearah Wisnu


" Huh syukur la... Apa kamu lapar?" Tanya Wisnu


Windi menganggukkan kepalanya." Iya aku lapar.. Tapi aku tidak ingin memakan-makanan dari rumah sakit." Ujar Windi


" Lalu kamu mau makan apa?" Tanya Wisnu


" Ehmm... Seperti nya soto Medan terlihat sangat menyegarkan isnu.. Aku ingin memakan itu." Ujar Windi dengan penuh semangat


Wisnu mendengar perkataan Windi membuat nya terkekeh geli. " Ha baik la kamu tunggu disini yah biar aku menelfon Panji untuk membelikannya."


" Baik la."


Wisnu merogoh ponselnya dan menghubungkan Panji untuk mencari kan soto Medan yang Windi inginkan. Setelah mengatakan keinginan nya Wisnu Langsung mematikan ponselnya dan kembali menghampiri Windi yang masih terbaring lemah di ranjang.


Tangan nya mengendap lembut kepala Windi. " Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu sedang tidak baik-baik saja baby?" Tanya lembut Wisnu


" Aku tidak ingin kamu khawatir... Aku tau kamu akhir ini kamu sedang sangat sibuk sekali jadi aku tidak ingin membuat khawatir dan mengabaikan pekerjaan mu isnu."


Wisnu menggeleng pelan Kepala nya." Tidak kamu tidak pernah merepotkan aku.. Aku justru senang jika kamu merepotkan aku.. "


" Maaf.."


" Ssst... Kamu tidak perlu minta maaf... Kamu tidak salah aku yang salah tidak memperhatikan dirimu..." Mata keabu-abuan Wisnu menatap intens ke mata hazel Windi.


" Berjanji la untuk tidak menyembunyikan apapun dari ku.. Termasuk tentang kondisi mu saat ini Windi... Aku juga berhak mengetahui keadaan mu... Bagaimana pun kamu sekarang adalah istri ku... Dan sudah menjadi tanggung jawab ku untuk senantiasa memberikan yang terbaik untuk mu Windi... Meskipun pernikahan kita karena kesalahpahaman tapi saat ini... Kamu istri ku dan akan tetap istri sampai waktu yang memisahkan kita berdua." Ujar Wisnu dengan tegas dan masih terus menatap mata hazel yang terlihat berkaca-kaca mendengar perkataan nya.


Wisnu yang mendengar Windi memanggil nya dengan sebutan suami ku, membuat jantung berdetak dua kali cepat dan membuat rona merah di kedua pipinya. Karena Windi tidak biasanya memanggil nya dengan sebutan suami ku.


Windi yang melihat pipi Wisnu memerah membuat nya cemas." Apa kamu sakit? Kenapa pipi mu memerah?" Tanya Windi


" A-ah tidak... Aku hanya kepanasan saja." Ujar Wisnu


Dua puluh menit kemudian Panji tiba dengan membawa kan 2 bungkus soto Medan untuk Panji dan Windi.


" Selamat sore tuan dan nona muda."


" Sore Panji." Ujar Windi


Panji menyerah bungkusan itu kepada Windi, setelah memberikan itu Panji pamit undur untuk kembali ke kantor.


Wisnu dengan telaten menyuapi Windi dan sesekali ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mereka makan di Sendok yang sama secara tidak langsung mereka berciuman melalui sendok. Wisnu juga membantu Windi untuk minum.


" Sudah Wisnu.. Aku sudah kenyang."


" Baik la kalau begitu." Wisnu membereskan bekas makanan mereka seperti semula.


***


Pukul 20:00


Windi masih terjaga dalam tidurnya, Ia menunggu Wisnu yang pergi sebentar untuk mengambil pakaian ganti Untuk nya.


Kenapa dia lama sekali? apa terjadi sesuatu kepada nya? Batin Windi.


Sedangkan Wisnu dirumah ia menghampiriku kamar Windi. Ia mengecek seluruh kamar Windi dan mendapati obat-obatan yang selama ini yang tidak ia ketahui.


Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyembunyikannya apapun dari ku lagi Windi. Setelah kamu sembuh aku akan memaksa mu untuk tidur dikamar ku.

__ADS_1


Selesai dengan menyusun semua keperluan nya dan Windi selama di rumah sakit Wisnu langsung bergegas menuju ke rumah sakit agar Windi tidak terlalu lama menunggu dirinya.


Setiba nya di sana ia melihat Windi yang masih terjaga,


" Kamu belum tidur?" Tanya Wisnu


Windi yang mendengar suara pintu terbuka langsung menatap ke arah pintu. " Belum."


" Kenapa?"


" Nungguin kamu." Ujar Windi seraya tersenyum


Wisnu yang mendengar perkataan Windi Mengerutkan keningnya." Menunggu ku?"


Windi menganggukkan kepalanya." Iya."


" Kenapa?"


" Ehmm... tidak kenapa-kenapa."


" Baik la... Sekarang kamu tidur yah sudah malam."


" Kamu tidak tidur?"


Wisnu menghampiri Windi dan berdiri di sisi kanan Windi. " Kamu saja duluan." Ujar Wisnu seraya mengusap lembut kepala Windi.


" Baik la..." Wisnu membentang selimut Windi agar menutupin tubuh Windi. Tangan nya mengelus lembut Kepala Windi. Wisnu meninggalkannya sebuah ciuman lembut di kening Windi.


" Selamat malam..." Windi perlahan memejamkan matanya, namun ia masih tidak bisa tidur. Wisnu yang memperlihatkan Windi yang tidak bisa tidur keningnya berkerut menatap Windi.


" Ada apa? Kenapa kamu tidak tidur?"


" Aku tidak bisa tidur isnu..."


" Kenapa?"


" Aku tidak tau..."


Wisnu menghela nafas nya perlahan." Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Wisnu


Windi menggeleng kan kepalanya, Sedangkan Wisnu hanya menghela nafas nya melihat Windi menggeleng kan kepalanya.


" Menggeser lah.." Titah Wisnu


" Ha? Untuk apa ?"


" Sudah menggeser lah sedikit."


Windi menggeser tubuhnya ke kiri sedikit, Wisnu melihat Windi sudah menggeser tubuhnya ia pun langsung beranjak naik ke atas tempat Windi berbaring


" Eh? "


Tubuh Wisnu miring ke arah sebelah kiri, Ia mengangkat kepala Windi dan meletakkan tangan sebelah kiri nya sebagai ganjalan kepalanya. Lengan sebelah kanan Wisnu merengkuh pinggang Windi yang sedang telentang. Meskipun posisi mereka sempit tapi Windi merasakan nyaman ketika Wisnu memeluk nya.


" Tidur la.." Titah Wisnu seraya memejamkan kedua bola matanya.


Mata Windi justru menatap ke arah Wisnu yang menutup matanya. Salah satu sudut bibir Windi terangkat ketika menatap ke arah wajah tampan Wisnu.


" Berhentilah melihat wajahku dan Tidur lah Baby... Ini sudah malam." Ujar Wisnu dengan masih menutup matanya.


Windi yang mendengar perkataan Wisnu membuat nya salah tingkah dan langsung memejamkan kedua matanya. Beberapa saat kemudian Wisnu merasakan nafas Windi sudah mulai teratur. Bibir terangkat membentuk semua senyuman ketika memandang wajah lelap Windi yang tertidur.


Cup!


Wisnu memberikan sebuah ciuman lembut di kening Windi dengan begitu dalam dan Tersenyum.


Mulai hari ini kamu akan menjadi orang yang pertama ketika aku terbangun dari tidur ku...

__ADS_1


Tak lama kemudian Wisnu ikut menyusul Windi dan terlelap dalam tidurnya.


__ADS_2