Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Pelukan hangat


__ADS_3

Sore harinya Wisnu menjemput Windi, Walaupun Wisnu sudah pulang setengah jam yang lalu tetapi ia rela menunggu Windi untuk pulang bareng.


Tak lama ada segerombol orang yang keluar dari area pabrik, Wisnu yang melihat itu menatap ke arah pintu ke luar. Hingga kini tatapan terkunci ke arah seorang wanita dengan pakaian dress berwarna biru navy keluar dengan senyuman manis ketika ia bercengkrama dengan teman kerjanya. Untung saja orang yang mengajak Windi berbicara adalah seorang wanita, Jika itu seorang pria maka Wisnu akan mencongkel mata nya karena telah berani melihat wajah istrinya bahkan melihat senyuman manis wajah istrinya.


Windi yang melihat mobil Wisnu yang sudah terparkir, membuat bergegas menuju ke tempat mobil Wisnu terparkir.


Panji yang menunggu Windi di luar selama setengah jam langsung bergegas membukakan pintu untuk Windi.


" Sore Nona muda. " Sapa Panji


Entah ketularan Wisnu atau apa, Windi hanya membalas dengan seulas senyuman saja. sebelum masuk ia berpamitan terlebih dengan Arsel.


" Arsel saya pulang duluan yah. " Pamit Windi


" Iyah Bu, Hati-hati di jalan. " Ujar Arsel seraya melirik Panji yang Ternyata sedari tadi juga meliriknya.


Setelah berpamitan Windi masuk kedalam mobil nya, Ia melihat Wisnu yang sedari tadi memperhatikan nya. Terlihat ada guratan rasa kesal di wajah Wisnu.


Apa dia kesal? Karena aku terlalu lama? Tau begitu ia tidak usah menjemput ku jika wajahnya jadi jutek begitu. Grutu Windi


Karena lelah dan sedang tidak mood Windi hanya diam saja, Ia tidak menatap dan tidak menegur Wisnu yang sedari tadi hanya diam saja.


Wisnu yang melihat Windi hanya diam tanpa membujuk nya atau embel-embel memberikan kecupan di pipi nya.


Aish! Dia mengabaikan ku? Berani sekali dia mengabaikan ku! Wisnu menggertakkan gigi nya


Ia melirik ke arah Windi yang sedari tadi hanya menatap ke arah luar jendela, Melihat itu semakin membuat Wisnu dongkol dan kesal.


Hmmphh! Dia lebih tertarik melihat ke sana dari pada melihat wajah tampan suami nya ini! Lihat saja aku akan menghukumnya karena sudah mengabaikan ku. Batin Wisnu disertai seringai di wajah nya.


Sesampainya di apartemen lagi-lagi Windi mengabaikan Wisnu yang masih diam mematung, Rasanya Wisnu ingin cepat-cepat memberikan hukuman kepada Windi.


Panji yang melihat Windi yang sedari mengabaikan Wisnu membuat nya gelang-gelang Kepala.


Hmmphh, Baru kali ini aku melihat secara langsung ada orang yang berani mengabaikan tuan muda begitu saja. Batin Panji


Dengan langkah panjang dan kesal ia buru-buru menyusul Windi namun saat Wisnu hendak menyusul Windi yang berada di dalam lift, Pintu lift sudah tertutup lebih dulu. Hal itu semakin membuat Wisnu tambah kesal dan dongkol. Jika ia tidak ingat Windi adalah istri sekaligus wanita yang paling dia cintai, Mungkin saja Wisnu akan membakar nya hidup-hidup saat ini juga


Sial!


Wisnu terus memencet tombol lift, karena tidak sabar ia lebih memilih naik tangga darurat. Panji yang melihat tuan muda nya berlari menggunakan tangga darurat membuat nya tertegun.


Astaga, Aku tidak salah lihat kan?


Ketika sampai di lantai apartemen nya ia melihat Windi yang masuk ke dalam Apartemen. Dengan nafas yang masih terengah-engah ia berjalan menuju apartemen nya.


Huh seperti nya aku harus lebih banyak olahraga. Batin Wisnu karena dia benar-benar sangat kelelahan. Bagaimana tidak kelelahan ia menaiki tangga ke lantai 20 dimana apartemen nya berada.


Wisnu membuka pintu apartemennya, Ia menatap keseliling ruangan dan tidak mendapati Windi. Ia segara menuju kamar mereka. Di sini ia juga tidak melihat Windi namun ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Wisnu membuka jasnya membuangnya ke segala arah, Ia mendengus kesal karena tanpa alasan Windi mengabaikan nya.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka menampilkan Windi yang sedang menggunakan handuk kimono. Wisnu yang melihat tampilan Windi menatap nanar. Sedang kan yang di tatap hanya acuh dan membuang muka.


Mata Windi menatap ke arah jas Wisnu yang sudah terbang ke sembarang arah, Hal itu membuat Windi tambah kesal. Ia memunguti jas Wisnu tanpa mengomeli Wisnu tetapi di dalam hati yang menggerutu kesal.


Aish! Kebiasaan banget deh buka jas asal buang saja, Lama-lama akan ku buang juga ni jas ke tong sampah. Grutu Windi.


Wisnu yang melihat Windi hanya diam saja tanpa mengomeli membuat melongo heran. Ada apa dengannya? Kenapa hari ini dia jadi pendiam? Biasanya dia akan mengomel ketika aku meletakkan jas sembarangan.

__ADS_1


Windi melirik sinis kearah Wisnu dan berlalu meninggalkan Wisnu yang sedari tadi Menatap nya heran.


Wisnu mendudukkan tubuhnya di atas sofa, Ia menunggu Windi selesai mandi dan akan menghukumnya karena telah mengabaikan nya.


Sudah hampir dua puluh menit berlalu namun Windi belum juga keluar dari kamar mandi. Wisnu yang merasakan tenggorokan nya kering berlalu pergi menuju dapur untuk minum. Sesampainya di dapur Wisnu langsung menuangkan minum di gelas dan meneguknya sampai habis. Ia tidak menyadari kalau Windi telah selesai mandi dan menuju ke kamar nya yang dulu.


Selesai minum Wisnu kembali ke kamar nya, Namun sesampainya di sana ia melihat pintu kamar mandi nya sudah terbuka menandakan Windi sudah selesai, Wisnu mencari ke ruang ganti namun masih tidak menemukan nya. Hingga satu fikiran nya menuju ke kamar lama Windi sebelum mereka melakukan penyatuan cinta.


Dengan langkah cepat Wisnu menuju kamar lama Windi yang berada di ujung kanan tangga. Saat akan membuka pintu, Pintu kamar terbuka menampilkan Windi yang akan keluar.


" Isnu? Ada apa? kenapa kamu terlihat terburu-buru?" Tanya Windi heran


" Ah tidak ada. " Mata Wisnu bergerak melirik ke arah benda yang sedang di pegang Windi. Mata Windi ikut bergerak ke arah mata Wisnu menatap. Melihat Wisnu yang menatap ke arah benda yang ada di tangannya langsung menyembunyikan di belakang punggungnya.


" Apa yang sedang kamu lihat?!!" Tanya Windi dengan gelak dan menatap tajam ke arah Wisnu


" Baby apa yang sedang kamu sembunyikan? " Wisnu melirik ke arah punggung Windi , yang


" Ti-tidak ada. "


" Baby..." Panggil Wisnu dengan lembut tapi penuh dengan penekanan


Mendengar Wisnu memanggil nya seperti membuat nya menghela nafas. " Aku sedang datang bulan. " Ujar Windi


" Ha? "


" Isnu aku sedang datang bulan yang artinya kamu tidak akan bisa melakukannya sampai 7 hari ke depan. "


" Apa?! Bagaimana bisa? Aku belum menghukum mu karena telah mengabaikan ku dari tadi? Dan kamu bilang aku tidak bisa melakukan nya sampai 7 hari ke depan? " Keluh Wisnu


" Terserah aku sedang tidak ingin berdebat dengan mu. " Ujar Windi berjalan melewati Wisnu yang sedang memberengut kesal.


Wisnu mendengus kesal menyusul Windi ke kamar mereka. Ia melihat Windi sudah tertidur di ranjang mereka. Wisnu menggoyang-goyangkan bahu Windi dengan lembut. " Baby kamu boleh menjewer dan menampar tapi jangan menghukum untuk tidak boleh melakukan nya baby. " Ujar lirih Wisnu


Wisnu mentoel-toel, Menepuk-nepuk pelan pipi Windi namun Windi hanya diam saja. Ia bahkan menghujami wajah Windi dengan ciuman, Namun sepertinya Windi tetap pada pendiriannya untuk tetap diam dan memejamkan matanya.


Wisnu hanya pasrah dan menghela nafas nya. Karena badannya sudah terasa lengket Wisnu memilih untuk mandi setelah itu menyusul Windi untuk tidur.


°°°


Prang!


Refa membanting semua barang-barang yang ada di hadapannya. Ia benar-benar sangat kacau dan hancur, Ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan kalau Windi ternyata sudah menikah.


Hati hancur ketika mengetahui kalau Windi selama ini telah membohongi nya tentang indentitas nya yang sebenarnya. Ia tak menyangka kalau Windi selama ini telah membohongi nya.


Sialan! Dia berani sekali membohongi ku?! Dan kini dia berkhianat dengan menikah pria lain!!! Tidak akan ku biarkan kau hidup bahagia Windi dengan orang lain! Hanya aku yang bisa membuat mu bahagia!!! Akan ku pastikan kau akan menjadi milik ku!!! Jika kau tidak bisa menjadi milik ku maka yang lain juga tidak akan bisa memiliki mu, meskipun aku harus membunuh dirimu. Teriak frustasi Refa


Nafasnya memburu matanya berubah menjadi merah, terlihat ada sugurat rasa kekecewaan, cinta, benci, dan dendam menjadi satu.


Refa sudah bertekad pada dirinya kalau dia tidak bisa mendapatkan Windi maka yang lain juga tidak akan bisa. Baginya hanya dirinya sendiri yang pantas mendapatkan Windi.


Refa mengambil ponselnya, Ia mengetik pesan kepada seseorang.


Cari tau siapa data lengkap suaminya dan juga Windi. Aku tunggu secepat nya.


Setalah mengirimkan pesan ia melemparkan Ponsel ke sembarang arah, Dan untuk kedua nya ponsel Refa menjadi korban akan ke marahnya.


°°°

__ADS_1


Keluar dari kamar mandi hal pertama yang Wisnu lihat adalah Windi yang sedang bersandar di ranjang dengan tangan memegang perut. Ia langsung melemparkan handuk yang berada di kepala ke Sembarang arah dan menghampiri Windi.


" Baby Ada apa dengan mu? " Tanya Wisnu dengan khawatir


" I-isnu pe-perut ku sa-sakit sekali. " Ujar lirih Windi


Wisnu yang mendengar perkataan Windi membuat tubuhnya menegang dan panik. " Baby apa itu sangat menyakitkan? apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan rasa sakit mu baby? "


Windi hanya menggeleng kepalanya. " Sa-sakit sekali Wisnu. " Ujar Windi menahan isaknya.


" Astaga, Apa aku harus panggil dokter untuk kemari memeriksa mu? " Tanya Wisnu ia mengambil ponselnya yang berada di nakas. Namun sebelum telfon terhubung Windi sudah mencegah nya.


" Ti-tidak usah Isnu, ini hanya sakit saat datang bulan. " Ujar Windi


" Ta-tapi kamu sangat kesakitan baby, aku tidak ingin Sesuatu yang buruk terjadi pada mu. " Terlihat jelas diwajah Wisnu terpancar kekhawatiran terhadap Windi


" Tidak apa-apa Isnu, Ini sering terjadi setiap bulan. " Ujar Windi menenangkan Wisnu kalau ia akan baik-baik saja.


" Tapi..."


" I-isnu, Bisakah kamu mengambil air hangat untuk ku? " mendengar permintaan Windi Wisnu langsung keluar mengambil air hangat.


Tak lama Wisnu datang segelas air hangat di tangannya. Wisnu memberikan segelas air hangat itu kepada Windi. Windi meneguk nya hingga tandas. Setelah minum ia merebahkan tubuhnya kembali di bantu oleh Wisnu.


Saat akan memejamkan matanya, ia di kejutkan dengan tangan dingin yang melingkar di perut nya.


" Isnu? "


" Apa sudah mendingan? " Tanya Wisnu seraya mengelus-elus lembut Perut Windi


Windi menganggukkan kepalanya. " I-iya. " Sentuhan lembut di Perut Windi membuat rasa sakit nya berkurang. Ia membalikkan badannya membalakangi Wisnu. Ia memepetkan tubuh nya ke tubuh Wisnu.


Wisnu mengelus-elus lembut Perut Windi, tak jarang ia mengecup pucuk kepala Windi untuk memberikan ketenangan. Windi yang merasa kan rasa sakit nya sudah berkurang memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan Wisnu.



.


.


.


.


.


Hayo apa yang direncanakan Refa? Gimana yah kira-kira reaksi Refa kalau ternyata Windi kakak ipar nya.


.


.


.


.


.


jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)

__ADS_1


__ADS_2