Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Yang Sebenarnya


__ADS_3

Kedatang Windi kali ini, bukan tanpa sebab. Karena ia mengetahui motif dari Widya kali ini. Meskipun ia belum tau siapa orang di balik dukungan Widya, Tapi ia bisa memastikan kalau Mr. R yang berada di belakang nya. Untuk mendukung setiap tindakannya.


Untuk itu tujuan Windi datang, untuk menghentikan Wisnu agar tidak menjalani kerja sama dengan Widya. Tapi ternyata tanpa memerlukan tenaga yang Ekstra. Wisnu sudah berniat membatalkan kerjasama nya.


Selain itu, ia akan segara berbicara Empat mata dengan Panji. Karena Windi yakin semua jawaban nya ada pada Panji.


Sesampai nya di kantor, Wisnu langsung ke ruangannya. Sedangkan Windi dan Ken kembali ke Mension Papa James.


Wisnu sedang duduk termenung memikir kan nasib perusahaannya. Ia harus Berfikir Extra tentang nasib perusahaannya. Ia tidak mungkin mem-phk orang-orang yang sudah bekerja dengan nya. Sama saja seperti ia memutuskan rejeki orang lain.


Tangannya mengusap kasar rambut nya, ia benar-benar pusing saat ini. Ia meraih kasar kunci mobil nya, Saat ini ia benar-benar butuh untuk menenang kan pikirannya.


***


Di tempat lain, kini Panji, Windi dan Ken duduk berhadap-hadapan dengan Panji yang berada di Ken. Saat Pulang Kerja Windi mengirim kan Pesan secara Pribadi kepada Panji agar makan siang nanti, Panji menemuinnya di Cafe Melawati.


"Ekhm, Nona?"


Baik Windi dan Ken Hanya menatap dalam ke arah Panji dengan tatapan tajam dan ngintimidasi.


"Dua menit." Ujar Windi dengan Ambigu.


Panji mengerutkan Kening nya tak mengerti. "Maksud nya nona?"


"Dua menit, Kata kan sekarang."


Panji hanya diam, ia mencerna setiap perkataan Windi baik, tapi ia masih tidak mengerti Hingga...


Apa nona Windi mengetahuinya? bagaimana ia bisa tau? Batin Panji dengan Panik.


"Hufh.. Kau tidak ingin mengatakannya?" Tanya Windi dengan dingin. Tatapan mata nya juga semakin menajam.


Tatapan Windi yang begitu tajam membuat Panji menelan ludah nya dengan susah Payah. Karena tatapan Windi begitu berbeda seperti seseorang yang sudah bersiap untuk membunuh nya detik itu juga.


Glek!


Drattt...


Drattt...


Panji merogoh ponsel nya,


Tuan Jason?


Panji menatap ke arah Windi dan Ken yang sedari tadi menatap nya.


"Angkat saja, siapa tau setelah ini kau akan mengatakannya." Ujar Windi dengan santai.


Panji menganggukkan kepala nya, Ia segara bangkit dari kursi nya dan mengangkat telfonnya.


"Halo."

__ADS_1


"..."


Mata Panji tak sengaja menatap ke arah Windi dan Ken yang ternyata sedari tadi menatap ke arah nya. Hal itu membuat Panji salah tingkah.


"Baik la Tuan."


Setelah menutup Telfon Panji kembali duduk di kursinya,


"Bagaimana? Apa kau akan mengatakannya?"


Panji menganggukkan kepala nya.


"Sebenarnya..."


***


Sebuah mobil Sprot Hitam melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalan raya yang tidak terlalu ramai, ia menyusuri setiap jalan untuk mencari ke tenangan di hati nya.


Tangan Kokoh nya dengan erat mencengkram kuat stir mobil nya. Mata tajam nya terus mengawasi setiap jalanan yang ia lewati.


Jalan yang tidak terlalu padat oleh kendara mobil dan motor, membuat mobil sport nya dengan leluasan melintasi jalan raya.


Handphone nya berulang kali berdering. Tapi selalu ia abaikan, Saat ini ia hanya membutuh kan ke tenangan di hati dan fikirannya.


Hingga mobil sport hitam nya terparkir di taman nya yang tidak jauh dari pinggir kota.


Tubuh tegap dan jangkung nya keluar dari mobil, dengan langkah panjang ia berdiri di pinggir danau yang tidak jauh dari taman.


Ia menghirup dalam-dalam udara dan menghembuskan nya secara perlahan. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana nya. Mata tajam nya terus menatap hamparan danau yang terlihat begitu tenang.


Kenapa seakan-akan kau seperti sedang mempermainkan perasaan dan logika ku? Kenapa harus seperti ini?


Pria bertubuh jakun itu terus berdialog dengan diri nya sendiri, mempertanyakan takdir nya yang seolah mempermainkan dirinya? kenapa ini seperti tidak adil? Apa ada yang salah dengan dirinya? Hingga ia harus menanggung ini semua?


Hati dan fikirannya membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak memikirkan semua masalah yang ia hadapin saat ini.


Ia teringat, kalau akhir-akhir ini ia lupa untuk mengujungi suatu tempat yang menjadi rutinitas nya setiap minggu. Ia berbalik dan menuju ke mobil nya.


.


.


.


Sesampai nya di sana, ia memakirkan mobil nya tidak jauh dari tempat yang ia tuju. Tidak lupa ia membawa sebuket bunga mawar putih di tangannya.


Tubuh tegap nya memasuki perkarang luas, Hingga kaki nya panjang nya berhenti tepat di hadapannya.


Ia meletakkan seikat bunga di atas batu nisan yang bertulis kan.


...REST IN PEACE...

__ADS_1


...MARIANA EDWERD...


...LAHIR : JAKARTA, 12 MEI 19**...


...WAFAT : JAKARTA, 13 JUNI 19**...


Tangannya terulur mengusap lembut batu nisan itu. Mata nya yang semula tajam dan tegas kini mulai memerah dan berkaca-kaca menatap batu nisan itu.


"Mom maafkan yang sudah lama tidak mengunjungi mu. "


"Maafkan Sean yang sudah lama tidak mengunjungi mu Mom, "


Ujarnya dengan tangannya yang masih terulur untuk mengusap-ngusap batu nisan itu.


"Mom kau tau? Saat ini Daddy mungkin sudah menemui keberadaan ku. Ia bahkan meletakkan orang kepercayaannya sebagai orang terpercaya ku Mom. Untuk saat ini aku belum siap untuk bertemu dengannya setelah sekian lama.."


"Maafkan aku yang Egois, tapi aku benar-benar belum siap untuk bertemu dengan-nya." Tangisnnya pecah ketika mengatakan sesuatu yang mengganjal di hati nya.


Ia dia mengetahui segala hal tentang Mariana, Wanita cantik dengan senyuman lembut di bibir mungilnya. Dia adalah ibu kandung Dari Wisnu Surya Witamma. Atau lebih tepat nya Sean Carel Edward. Putra sulung atau putra satu-satu nya dari Mariana Edward dan Jason Edward. Karena satu kesalahan Jason membuat Mariana pergi meninggalkan Jason dan kembali ke Negara asalnya, Bersama kakak kandung nya Benny Surya Witamma.


Kesalahan fatal Jason membuat luka di hati Mariana membekas dan sangat dalam. Awalnya semua berjalan baik-baik saja tanpa hadir nya Jason. Tapi tanpa di duga selama ini Mariana menyembunyikan semua nya dari Benny dan yang lain tentang penyakit yang ia alami selama ini.


Hingga suatu Pagi Fitri kakak Ipar nya mendapati Mariana dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Hal itu membuat Sean atau Wisnu terluka dan mengalami Depresi berat sampai puncak nya ia menderita Amnesia Psikogenik jangka panjang.


Segala pengobatan di lakukan untuk menyembuhkan Sean, dan membuah kan hasil. Ia mulai kembali ceria namun ingatannya tentang Mariana dan Jason terhapus kan di memorinya.


Melihat itu Benny dan Fitri memutuskan untuk menggantikan identitas Sean dan mengangkatnya sebagai putra nya.


Semua nya kembali normal, Sean dengan identitas baru nya kembali melanjutkan hidupnnya. Melupakan segala kenang nya yang menyakiti nya.


Saat umur nya sudah menginjak umur delapan tahun keluarga Benny di karunia seorang anak lelaki yang bernama Refa. Kelahiran Refa tidak membuat rasa kasih sayang Benny dan Fitri terbagi. Mereka selalu adil kepada Refa dan Wisnu. Mereka berdua saling menjaga satu sama lain.


Ketika umur Wisnu yang sudah menginjak umur sebelas tahun keluarga Witamma kembali menambah anggota keluarga lagi dengan kelahiran Alia. Keluarga itu terlihat sangat bahagia Meskipun nyawa anak-anak keluarga Witamma selalu menjadi Incaran para musuh.


Sampai suatu ketika di umur Wisnu yang menginjak umur dua puluh lima tahun, kenangan-kenangan buruk itu muncul di memori nya. Kepingan-kepingan itu membuat Wisnu pensaran dan mencari tau apa yang sebenar nya terjadi. Ia mencari tau semua nya.


Hati nya terasa sakit ketika mengetahui semua nya, Fakta yang selama bertahun-tahun di sembunyikan Benny yang ternyata bukan Orang tua kandung nya.


Ia bangkit kembali menata hidup nya dan seolah tidak terjadi Papa. Selain itu, Skertaris pribadi yang selama ini ia percaya ternyata orang suruhan Daddy nya. Dan tentu nya Benny juga mengetahui nya.


Dirinya merasa seolah merasa di khianati oleh semua orang. Mengingat semua itu, membuat air mata di pipi nya jatuh ke atas batu Nisan Mommy nya.


"Mommy, doakan aku semoga perusahaan Papa Benny Akan baik-baik saja yah." Ujar nya seraya mengusap-ngusap batu nisan Mariana.


"Aku pergi dulu yah Mom, Nanti aku akan kembali kesini membawa menantu Mommy."


"Sampai Jumpa Mommy."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2