Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Memabukkan


__ADS_3

Terhitung sudah sembilan hari Windi di rawat di rumah sakit, Kali ini keadaan benar-benar sudah pulih. Ia terus merengek untuk mintak pulang. Awalnya Wisnu menolak permintaan Windi namun ia tidak tega melihat Windi yang terus-terusan meminta untuk kembali ke rumah. Ia bertanya terlebih dahulu ke pada dokter yang merawat Windi. Kata dokter tersebut keadaan Windi saat ini sudah stabil dan membaik. Lupus yang beraksi di tubuh Windi juga perlahan juga sudah di hentikan penyebarannya, Untuk itu dokter mengijinkan Windi untuk pulang, Namun harus tetap melakukan beberapa perawatan dan pengobatan Agar lupus tidak beraksi lagi di tubuh Windi.


Setelah memikirkan nya baik-baik akhirnya Wisnu menyetujui permintaan Windi untuk pulang. Windi yang mendengar Wisnu menyetujui permintaan nya untuk kembali ke rumah membuat nya merasa senang dan bahagia karena akhirnya ia tidak terpenjara lagi dengan selang infus yang selama sembilan hari ini menemani hari-hari nya.


Selama Windi di rawat Wisnu dengan telaten menemani dan mendampinginya Windi selama masa pengobatan nya. Ia bahkan tidak masuk ke kantor hanya untuk menemani Windi. Ia akan pergi ke kantor jika benar-benar ada suatu hal yang penting. Ia menolak tawaran Fitri untuk bergantian menjaga Windi, alasannya karena ia ingin selalu dengan dengan Windi. Bahkan selama Windi di rawat Wisnu selalu Tidur di satu ranjang yang sama dengan Windi. Hal itu membuat perasaan nyaman menjalarkan keseluruhan tubuh Wisnu mau pun Windi.


Selama di rawat Windi selalu mendapati tangan Wisnu yang melingkar di pinggang nya dengan begitu erat. Setiap pagi Windi selalu memberikan kecupan di kening Wisnu saat Wisnu masih terlelap dalam tidurnya. Namun Windi tidak mengetahui bahwa Wisnu mengetahui kalau Windi setiap pagi selalu memberikan Kiss morning.


Hari ini perawat melepaskan selang infus yang tertancap di tangan kiri Windi. Tangan nya sedikitnya membengkak ketika jarum infus lepas dari tangannya. Ia sering mendapati selang infus yang terkadang berdarah karena tangan nya tidak bisa diam. Bahkan ia mengganti dua kali tempat selang infus meskipun di tangan yang sama. Selama di rawat Windi menghabiskan dua puluh botol infus selama pengobatan nya. Karena ada beberapa obat yang dalam bentuk injeksi yang di campur ke dalam infus atau bentuk antibiotik dalam bentuk larutan infus.


Windi tipikal orang yang tidak terlalu menyukai obat, untuk itu Wisnu meminta dokter yang merawatnya agar Windi tidak secara langsung meminum obat itu. Hanya sebagai an obat yang dalam bentuk larutan injeksi sisanya dalam bentuk tablet, Pil, ataupun Pulvis puyer.


Pagi itu Wisnu sedang berkutat dengan laptop nya untuk mengecek dokumen-dokumen yang di kirim Panji melalui Email nya. Ia terlihat begitu serius dalam melakukan pekerjaannya. Ia terlihat begitu berkarisma dan berwibawa dengan kacamata yang bertengger di matanya. Matanya begitu cekatan ketika memeriksa setiap kata yang terlampir di dalam dokumen nya.


Windi yang melihat Wisnu begitu fokus dengan pekerjaan nya membuat begitu terkesima akan ketampanan yang di miliki Wisnu.


Aku benar-benar beruntung menikahi pria yang begitu tampan. Batin Windi


Ia terus menatap wajah tampan Wisnu yang begitu Serius. Saat menatap ke arah Wisnu ia jadi teringat akan janji yang Wisnu katakan akan membawa nya pergi di akhir pekan ketika ia sudah keluar dari rumah sakit ini.


" Isnu besok kita jadi pulang kan?" Tanya Windi dengan penuh semangat


Wisnu yang sedang memangku laptop mengalihkan pandangannya ke arah Windi." Iyah baby." Ujar Wisnu seraya tersenyum


" Asik... Kalau begitu kita jadi pergi kan akhir pekan ini?"


" Pergi? Pergi kemana?" Tanya Wisnu pura-pura tidak tau maksud dari Windi


Windi yang mendengar perkataan Wisnu menghela kasar nafasnya." Isnu kamu sudah berjanji kepada ku kalau aku sudah pulih kamu akan mengajak ku pergi di akhir pekan ini Wisnu." Ujar kesal Windi


" Oh.." Ujar Wisnu seraya mengangguk-nganggukkan kepala dan membentuk senyuman kecil ketika melihat wajah kesal Windi.


" Isnu... kenapa kamu hanya oh saja?"


" Jadi aku harus bagaimana?"


" Aish menyebalkan sekali." Grutu Windi ia segara membaringkan tubuhnya dan membelakangi Wisnu yang tengah duduk di sofa.


Wisnu melirik sikap Windi membuatnya gelang-gelang kepala. Ia beranjak dari sofa dan menghampiri Windi. Ia berdiri di hadapan Windi.


" Ada apa dengan mu? kenapa kamu terlihat begitu kesal sekali?" Tanya Wisnu

__ADS_1


" Tidak! aku tidak kesal!" Ujar Windi dengan kesal


" Kalau kamu tidak kesal kenapa kamu tidak menatap ku Baby?" Ujar lembut Wisnu seraya mengelus rambut Windi


" Aku mengantuk... Biar kan aku tidur..."


" Kamu mengantuk? Benarkah? bukan kah kamu baru saja bangun setengah jam yang lalu?" Ujar Wisnu sedikit terkekeh dengan sikap Windi


" Iya! Aku benar-benar mengantuk jadi jangan menganggu waktu tidur ku Isnu." Keluh Windi


Wisnu menggeleng kan kepalanya melihat sikap Windi. Ia berjalan meninggalkan Windi yang masih menutup matanya.


Menyebalkan. Grutu Windi


Wisnu yang mendengar Windi bergrutu membuat nya melangkah ke arah sisi kiri Windi. Ia membaringkan tubuh nya dan memeluk tubuh Windi yang begitu hanya dan nyaman.


Windi yang merasa kan ada sebuah tangan yang besar dan kekar tengah bertengger di pinggangnya membuat nya mengalihkan pandangannya ke arah pinggangnya.


Aish! Sempat-sempatnya ia memeluk ku... Kali ini aku tidak akan mempan dengan pelukan nya.. Meskipun pelukannya terasa nyaman dan hangat sekali. Batin Windi


Windi hanya diam saja dan tidak bergeming ketika Wisnu memeluknya dengan erat. Wisnu yang merasa Windi hanya diam saja membuat mengeratkan pelukannya.


Wisnu hanya diam saja dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Windi dari Curuk Leher Windi.


" Isnu!" Teriak kesal Windi karena perkataan nya tidak di tanggapi Wisnu


" Hem?"


" Kau membuat ku sulit bernafas!"


Wisnu terkekeh mendengar perkataan Windi dan sedikit merenggang pelukannya. " Berbalik lah." Titah Wisnu


Windi hanya diam saja dan tak bergeming ia masih tetap pada posisi membelakangi Windi.


" Baby berbalik la." Ujar Wisnu dengan sedikit di tekan perkataan nya


Menyebalkan. Batin Windi.


Ia pun membalikkan tubuhnya dan menghadapkan ke arah Wisnu. " Hem?"


Salah satu sudut bibir Wisnu terangkat ketika Windi membalikkan badannya dan memasang wajah cemberut. " Wajah terlihat menggemaskan sekali." Ujar gemas Wisnu seraya mencubit pelan pipi Windi.

__ADS_1


" Kenapa kau mencubit pipiku?"


" Karena wajah mu benar-benar sangat menggemaskan sekali baby." Ujar Wisnu seraya tersenyum manis ke arah Windi


Windi yang melihat senyuman manis Wisnu membuat dada bergemuruh tak karuan. Ia merasa senyuman Wisnu terlihat begitu indah di mata nya. Tapi tak lama kemudian ia memalingkan wajah nya dari tatapan mata Wisnu yang sedang menatap nya.


" Baik la maaf kan aku... Aku akan mengajak mu ke suatu tempat di akhir pekan tapi aku tidak bisa memberitahu mu sekarang." Ujar Windi


Windi yang mendengar perkataan Wisnu membuat nya girang." Benarkah?"


Wisnu menganggukkan kepalanya. " Iya.. Bukan nya kamu mengantuk lagi? Kalau begitu kita tidur saja." Ujar Wisnu


" Kita? kan yang mengantuk aku kenapa kamu jadi ikutan mengantuk?"


" Hah... Entahlah dekat dengan mu membuat ku mengantuk dan ingin terus memeluk mu dalam tidur ku.." Ujar Wisnu seraya merapikan anak rambut Windi yang berantakan.


Windi memutar jengah bola matanya." Aish... Selalu saja itu alasan mu." Ujar Windi


" Tidak! itu bukan alasan tapi fakta Baby."


" Terserah kau saja, Sekarang aku mau tidur. "


" Tidur lah... dan aku akan memeluk mu di sepanjang tidur mu..." Ujar Wisnu


Windi memejamkan matanya sembari Wisnu yang memeluknya dengan erat. Wisnu merasakan nafas Windi yang mulai tenang, Ia memberikan kecupan di kening dan juga bibir ruam Windi. Ia tidak berani memberikan kecupan di bibir ketika Windi belum tertidur karena ia terlalu takut Windi akan menjauhi nya ketika ia memberikan kecupan di bibir Windi. Walaupun ia memberikan kecupan sekilas namun ia tampak senang dan ketagihan dengan bibir Windi yang begitu memabukkan baginya


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2