
Pukul 21:00 Waktu Belanda
James yang kala itu sedang bersandar di ranjang nya Sembari membaca berkas yang harus ia baca. Kegiatan nya terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu kamar nya.
Tok!Tok!
James menatap kearah kamar mandi dan pintu masih tertutup. James meletakkan kacamata nya dan berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintu dan terlihat seorang Ken yang sedang berdiri dengan wajah paniknya.
"Pa.."
Kening James mengerut melihat ekspresi wajah Ken yang terlihat sangat panik. "Ken ada pa?"
"Pa, Windi Pa.."
"Ada pa dengan adik mu?" Desak James.
"Wisnu tadi menelfon ku dan mengatakan wi-windi di tabrak seseorang."
Deg!
Tubuh James menegang mendengar perkataan putranya, " Apa yang kau kata?! "
"Apa Sekarang Windi sedang di rumah sakit, Ia juga harus kehilangan Janinnya. "
Prang!
Keylly yang mendengar perkataan Ken membuat keseimbangan tubuhnya goyah dan tanpa sengaja ia menyenggol gelas.
Kedua pria itu menghampiri Keylly dengan cemas. "Sayang.."
"Mama." Ujar Ken dan James berbarengan.
Keylly hanya diam, Tapi tidak air matanya yang terus keluar. Rasa sesak menghampiri dirinya. James yang melihat itu langsung memeluk erat tubuh Keylly seakan-akan tidak ingin melepaskan pelukannya nya. Ia berulang kali mencium pucuk kepala Keylly. Ia menuntun Keylly untuk duduk di sisi ranjangnya.
"Sayang tenang lah, Kendalikan dirimu... Semuanya akan baik-baik saja. Besok kita akan pergi ke Indonesia untuk melihat keadaan putri kita... Sebaiknya kamu tenang dulu yah Sayang... Jangan seperti ini... Jika kamu seperti ini siapa yang akan menenangkan putri kita?" Ujar James menenangkan Istri nya terlihat sangat syok sekali.
"Ikuti aku, Tarik nafas mu lalu buang lah secara perlahan. " Keylly mengikuti setiap arahan dari James. Kini dirinya mulai tenang kembali, Matanya menatap ke arah mata hazel James.
Ia melepaskan pelukan James, Keduanya tangan memegang kedua pipi James."James kau tau bukan? Jika Windi sedang terpuruk maka dia akan tertidur dengan nyaman di alam bawah sadar nya. Dan di gantikan oleh Wilhelmina. A-aku tidak ingin itu terjadi.. Meskipun mereka di raga yang sama ta-tapi tetap saja aku tidak ingin itu terjadi... Aku begitu menyayangi Jiwa Windi maupun Wilhelmina, Tapi mereka jelas berbeda... A-aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.."
Air mata Keylly terus saja mengalir tanpa henti, mata dan hidungnya sudah memerah karena menangis.
James meraih tangan Keylly dan mengecup nya dengan lembut."Sayang, tenang lah aku yakin jiwa Windi akan bisa menghadapi ini semua dan tidak akan di ganti kan oleh Wilhelmina, Percaya pada ku." James berulang kali mengecup lembut tangan Keylly yang terasa dingin dan gemetar.
Keylly mengangguk kan kepalanya, James langsung menarik Keylly ke dalam pelukannya. Ia mengusap-usap lembut punggung Istri nya. Pandangan mata beralih menatap Ken.
Tunggu lah di ruang kerja aku akan ke sana.
Ken yang mengerti dengan tatapan mata Papanya mengangguk kepalanya. Ia keluar dari kamar Papa mama nya dan menunggu Papanya di ruang kerja.
Setelah Ken keluar James membaringkan tubuh Keylly di ranjang dan memeluk nya dengan erat. Berulang kali James mengecup pucuk kepala Keylly.
Terdengar suara nafas Keylly yang mulai teratur membuat James melepaskan pelukannya secara perlahan. Sebelum pergi ia kembali mengecup lembut kening Keylly. Kini langkah nya menuju ke ruang Kerja nya. Ia melihat putra nya sudah menunggu nya.
"Bagaimana kronologi nya?" Tanya James.
Ken menarik nafas nya dalam-dalam dan mulai menceritakan awal mula bagaimana kronologi Windi di tabrak seseorang dan berakhir Windi yang harus kehilangan janin nya.
James menyender kan tubuh nya di sofa, Nafas nya terdengar berat mendengar penuturan Ken." Lalu bagaimana keadaan nya sekarang?"
"Sekarang Windi sedang berada dalam masa bius, Menunggu kondisi Windi yang siuman." Tidak hanya James Ken juga merasakan hal yang sama dengan Papanya.
James menegak kan tubuh nya, tangan memijat pelipis Matanya terasa pusing."Besok kita akan ke Indonesia, siapkan segalanya. Jangan beri tau Wanda tentang kondisi Windi atau ia akan meninggalkan tugasnya dan memilih untuk melihat kembaran nya." Ujar James di sertai helaan nafas panjang nya.
Ken mengangguk mengerti, Ia pamit untuk kembali ke kamar nya, dan mempersiapkan segala keperluan mereka untuk Ke Indonesia.
Aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuh putri ku.
.
.
.
Sedangkan di Negara Italia Wanda yang mendapat kan tugas dari Papanya membuat dirinya harus menghabiskan waktu selama tiga bulan di Italia untuk membasmi para hama.
Wanda yang terlihat sangat kelelahan karena baru saja melancarkan aksi nya dengan para sampah tidak berguna. Ia mengatur nafas yang terngah-ngah.
Sialan aku fikir tidak sebanyak itu, Tau begitu aku akan mempersiapkan segalanya. Batin Wanda.
Kini dirinya sedang berada di Markas keluarga nya dengan para anak buahnya. Ia menyadarkan tubuhnya di sofa empuknya. Namun ada yang aneh pada dirinya, Dadanya terasa nyeri dan sesak saat ini. Ia tidak tau apa yang terjadi kepada nya.
"Gilbert!" Seru Wanda
Gilbert dengan tergopoh-gopoh menghampiri Wanda. "Ia nona muda."
"Berikan Ponsel ku yang satu nya." Ujar Wanda seraya mengulur kan tangannya.
"Ta-tapi nona." Gilbert Sangat bingung harus memberikan nya atau tidak karena ketika Wanda sedang melakukan misi ia dilarang untuk menggunakan ponsel yang biasa ia pakai karena itu akan membuat para musuh bisa mencari titik kelamahan dari Wanda.
Wanda mencibik kesal melihat Gilbert yang hanya diam saja."Kenapa kau Diam saja." Teriak kesal Wanda.
Telinga Gilbert terasa Pengang ketika mendengar teriakkan Wanda."No-nona Tuan James melarang saya untuk menyerahkan ponsel asli anda nona."
"Cepat berikan atau kau akan mati saat ini juga." Gertak Wanda.
"Ta-tapi..."
"Astaga cepat berikan." Gertak Wanda, Ia benar-benar kesal dengan asisten yang terlalu banyak tingkah.
Gilbert yang mendengar bentakan Wanda membuat nya dengan ragu-ragu menyerahkan ponsel nya.
Wanda meraih ponselnya dan mencari kontak Windi,
Tut! Tut! Tut!
"Ayo angkat Little girl!" Wanda terus berusaha menghubungi adik kembarnya karena perasaan nya saat ini mengatakan kalau sedang terjadi sesuatu kepada Windi.
Wanda berulang kali menghubungi nomor Windi namun masih tidak ada jawaban dari Windi. "Sial! Gilbert cari tau dimana adik ku, Aku akan menunggu lima belas menit dari sekarang!" Perintah Wanda tanpa terbantahkan.
Gilbert hanya mengangguk kepalanya, Karena jika ia melawan maka detik itu juga Kepala nya akan ditebas oleh Wanda.
Lima belas Menit berlalu, Gilbert kembali menghampiri Wanda. Wajah nya terlihat begitu gugup antara ingin mengatakan atau tidak.
Kedua alis Wanda Mengerut ketika melihat ekspresi wajah Gilbert. " Katakan ada apa?"
"Nona, Nona muda Windi di-dia.."
Wanda yang terlihat terlihat tidak sabaran langsung meraih kerah baju Gilbert."Katakan Sialan." Bentak Wanda.
__ADS_1
"Nona Windi di tabrak oleh seseorang dan menyebabkan nona Windi kehilangan Bayinya." Ujar Gilbert dengan cepat.
Wanda yang mendengar penuturan Gilbert membuat tubuhnya linglung dan tak bertenaga, "Kau berbohong kan?" Dapat di pastikan mata Wanda mulai berkaca-kaca mendengar perkataan Gilbert.
Gilbert Menggelangkan kepalanya."Tidak nona, Selain itu Tadi pagi tuan James, Nyonya Keylly dan juga tuan muda Ken berangkat ke Indonesia nona." Ujar Gilbert.
Kedua tangan nya mengepal tak percaya dengan ucapan Gilbert. Bagaimana mungkin Papa dan juga Kaka nya tidak memberitahu dirinya tentang berita buruk ini? Kenapa semua orang menyembunyikan ini semua dari nya?
Sial! Berani sekali mereka menyembunyikan keadaan Windi dari ku. Apa mereka fikir mereka bisa menenangkan Wilhelmina?
pandangan Wanda kini beralih ke arah Gilbert yang sedari tadi menunduk. "Siapkan Keberangkatan ku Dua jam dari sekarang."
Mendengar perkataan Wanda membuat Gilbert kini memandang nya. "Tidak nona, Misi kita hampir selesai jika kita meninggalkan misi ini maka Kasus ini tidak akan selesai dan membuat para musuh semakin menjadi-jadi nona. "
Penuturan Gilbert ada benar nya, Sia-sia jika ia sudah ada di sini tapi kasus tidak di selesaikan. Tapi bagaimana dengan Windi? Apa dia akan baik-baik saja? Apa tidak terlalu resiko dengan kondisi Windi saat ini?
Sial!
Wanda mengacak-acak rambut nya dan menghela kasar nafasnya. Tunggu aku Windi aku akan menemani mu.
°°°
Pukul 17:00
Perlahan Windi mengerjap-ngerjap matanya menyesuaikan cahaya ruangan itu. Hal yang pertama kali ia lihat adalah Wisnu yang tertidur di samping dirinya dengan tangan yang Menggenggam erat tangan nya.
Kepala nya terasa pusing dan berat, Kejadian dirinya yang terhempas membuat air mata nya mengalir. Tangan kanan nya mengelus lembut Perut datarnya.
Apakah tuhan tidak memberikan kesempatan untuk dirinya? Windi terisak menahan sesak di dadanya.
Wisnu yang sedang tidur merasa terganggu mendengar isakan tangis Windi. Wisnu menegakkan tubuhnya dan mengelus lembut tangan Windi.
"Baby..." Ujar lirih Wisnu.
"Ke-kenapa? ke-kenapa i-ni san-gat menya-kitkan Isnu? Kenapa dia di ambil dari ku Isnu? Apa salah ku? Ke-kenapa Tuhan Tega se-kali? " Air mata nya terus mengalir,
"Sst Baby tenang lah.. Kamu masih punya aku... Kita akan menghadapi ini semua bersama-sama." Air mata Wisnu tanpa sadar ikut menetes. Dirinya juga merasakan apa yang di rasakan Windi saat ini.
"Isnu.." Tangis Windi semakin pecah, Tubuh nya bergetar beringin dengan air matanya yang terus pecah.
Wisnu membawa Windi ke dalam pelukan nya, Berulang kali Wisnu memberikan ciuman lembut dan hangat di kening Windi. Ini lah yang Wisnu Takut an ketika Windi sadar tidak bisa menerima semua ini. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia benar-benar tidak ingin melihat Windi seperti ini karena rasanya sakit sekali melihat Windi yang seperti ini.
Windi terus menangis di pelukan hangat Wisnu yang terasa sangat nyaman sekali. Wisnu yang merasa Windi jauh lebih tenang melepaskan pelukannya. Tangannya memegang lembut wajah Windi. "Baby dengar kan aku" Wisnu menghela nafas nya ketika Windi tidak melihat ke arah nya. Sungguh Wisnu Sangat-sangat membenci ini.
"Baby Tatap Mata ku."
Kini kedua mata mereka saling menatap satu sama lain, Mata hazel Windi yang selalu memancarkan keceriaan kini berubah menjadi kesedihan. "Baby Percayalah padaku Aku akan selalu bersama mu dan menghadapi semua ini bersama mu, Aku tau Sangat berat bagi mu kehilangan bayi kita tapi kamu tidak boleh seperti ini. Kerena jika kamu bersedih maka Wisnu junior akan sedih Disana melihat Mommy nya sedih. Dan dia juga akan kecewa sama Daddy nya karena tidak bisa membuat Senyuman cantik Mommy terlukis indah di wajah mommy nya." Wisnu mengatakan semua itu dengan lembut, Di hadapan Windi Wisnu selalu Menatap nya dengan lembut dan penuh Cinta.
Hati Windi terasa ngilu mendengar perkataan Wisnu, Benar apa yang di katakan Wisnu ia harus bisa melewati ini semua, Ia tidak bisa terus-terusan larut dalam kesedihan. Windi menganggukkan kepalanya.
Cup!
Wisnu mencium lembut kening Windi, Kini kening nya dan juga kening Windi saling menempel. "Percaya sama aku, Semua akan berlalu jika kita Melawati nya secara bersama-sama." Ujar Wisnu dengan lembut.
Windi kembali mengangguk kepalanya, Wisnu menundukkan badannya dan kembali memeluk tubuh Windi yang masih terbaring lemah.
Di ujung Pintu Benny, Fitri, Alia, dan Refa mendengar perkataan Wisnu yang begitu lembut. Bagi mereka, Tidak pernah melihat sisi Wisnu yang begitu tapi penuh kerapuhan. Mereka semua hanya menunggu di ujung pintu.
Terbesit di fikiran Fitri tentang permintaan konyolnya untuk meninggalkan Windi. Apa yang terjadi di fikiran nya saat itu? Kenapa dia bisa memiliki Fikirian untuk memisahkan Wisnu dan juga Windi. Ia harus minta maaf kepada Wisnu karena telah memiliki Fikiran seperti itu.
Sedangkan Refa mati-matian berusaha menahan sesak di dadanya ketika melihat Wisnu yang berusaha menenangkan Windi.
Mereka sangat tersentuh dengan perlakuan lembut Wisnu yang sangat mencintai Windi.
Wisnu mengelus lembut kepala Windi dan memberikan ketenangan untuk Windi, Hingga Windi kembali tertidur dengan tenang. Wisnu menegakkan tubuhnya ia melirik kebelakang ia tau kalau keluarga nya sedang memperhatikan diri nya dan juga Windi.
"Masuk la." Ujar Wisnu.
Benny, Fitri, Alia, dan juga Refa masuk ke dalam ruangan Windi.
"Wisnu Bagaimana keadaan Windi?" Tanya Benny.
"Di sangat syok dengan kejadian ini." Mata Wisnu menatap sendu ke arah Windi yang sedang tertidur pulas.
"Apa kau sudah memberitahu Keluarga nya?" Benny merasa kasihan dengan keadaan Windi saat ini. Mungkin ia juga kecewa karena calon cucu nya tidak bisa di selamat kan tapi ia lebih kecewa kenapa wanita sebaik Windi harus mengalami ini semua?
Wisnu menggeleng kan kepalanya, "Belum."
"Wisnu kamu harus memberitahu Papa dan juga mamanya mereka juga berhak tau kondisi Putrinya." Benny menepuk pelan bahu Wisnu.
Wisnu memejamkan singkat mata nya dan menghela nafas nya. "Baik, Aku akan menghubungi mereka." Wisnu merogoh ponselnya dan mencari nomor Papa James namun sayang panggilan nya tidak terjawab.
Wisnu teringat kalau ia punya nomor Ken, Ia langsung menghubungi Ken. " Halo."
"Halo."
"Ken ada yang ingin aku katakan." Meskipun Ken adalah kakak ipar nya tapi Ken meminta Wisnu untuk memanggil dengan Ken saja tanpa embel-embel kakak.
"Ada apa? Katakan saja."
Wisnu menghela nafas nya sebelum mengatakan kondisi Windi."Ken seseorang menabrak Windi dan membuat Windi harus kehilangan calon bayi nya."
"Apa yang kau katakan? Adik ku di tabrak seseorang dan dia harus kehilangan janin nya?!" Teriak Ken dari sebrang telfon membuat semua orang mendengar teriakkan Ken yang cukup keras.
"Iyah.."
"Sial! Siapa orang orangnya?".
"Aku tidak tau dia pergi begitu saja setelah menabrak Windi."
Terdengar suara hela nafas Ken. "Baik Aku dan papa akan ke Indonesia dan membantu menyelidiki ini Bagaimana pun Windi masih keluarga Kami.".
"Iya.." Setelah itu Wisnu memutuskan telfon nya, mata nya menatap ke arah semua orang yang ternyata juga sedang menatap nya.
"Apa Papa dan mama mertua mu akan kesini?" Tanya Benny, Wisnu hanya mengangguk kepalanya.
Sedangkan Refa sedari tadi masih merasa Bingung dengan situasi ini.
Ada apa ini? Kenapa Windi tiba-tiba memiliki keluarga? Ada apa itu? Ken? Siapa Ken? Apa dia juga keluarga Windi? Bukan kah selama bersama ku Windi selalu mengatakan kalau dia sebatang kara kenapa jadi punya keluarga? Refa terus bertanya-tanya dalam hati nya dengan apa yang sedang terjadi. Mata nya menatap ke arah pucat wajah Windi yang begitu tenang.
Apa dia selama ini membohongi ku? Refa menggelangkan kepalanya tak percaya.
Berarti selama ini dia berbohong kepada ku? Sial! Berani sekali dia berbohong kepada ku. Kedua tangan Refa mengepal dengan erat, Rahang nur mengetat kuat menahan amarahnya. Wisnu yang melihat Refa yang seperti itu membuat senyum an devil di sudut bibirnya. Wisnu melangkah kan kakinya mendekat ke arah Refa.
"Kau bahkan tidak tau kalau Windi masih mempunyai keluarga yang utuh, Kerena ketika Windi ingin jujur kau malah berselingkuh dengan masa lalu sialan mu. Hingga membuat wanita ku bersedih karena masa lalu mu." Bisik Wisnu.
Amarah Refa semakin memuncak ketika mendengar perkataan Wisnu, Tapi ia harus mengontrol emosi nya agar tidak membuat keributan di rumah sakit."Kau!"
Wisnu kembali duduk di samping Windi dan menggenggam Lembut tangan Windi.
__ADS_1
Refa yang merasa kesal memilih keluar dari ruang itu, Benny menyadari kalau putra nya itu sudah mengetahui tentang rahasia Windi yang masih memiliki keluarga.
.
.
.
Refa yang sedang kesal dan marah karena selama ini Windi membohongi nya memilih untuk ke Clube menenangkan diri nya.
Kini dirinya sudah duduk di bangku Bar yang biasa ia tempati ketika berkunjung di Bar Tricaf. Salah satu Bar yang cukup terkenal di daerah ibu kota.
Refa duduk di sudut untuk menyendiri dengan tampang sedikit di tekuk dan menyedihkan. "Tequila."
Barista itu mengangguk mengerti, Ia membuka botol yang berisikan Tequila yang terbuat dari tanaman Agave namun tidak semua Tequila sama.
Barista menyajikan Tequila dengan campuran Tequini atau Tequila Martini. Barista itu menyodorkan Gelas yang berisikan Tequila dengan campuran Tequini.
Refa yang sedang kacau Membuat nya langsung meneguk kandas minumannya tak tersisa. Barista yang melihat Refa langsung meneguk kandas minumannya membuat dirinya menggeleng tak percaya.
"Lagi.." Refa kembali meneguk kandas minumannya.
"Lagi..."
"Lagi..."
"Lagi..."
"Lagi..."
Refa sudah hampir meminum Sepuluh gelas Tequila yang mengandung Kadar alkohol yang cukup tinggi. Tapi masih tidak membuat kesadaran nya hilang. Fikiran masih tertuju tentang bagaimana pertemuan awal dirinya. Ia masih tidak menyangka kalau Windi berbohong kepada nya.
Refa meletakkan kepala nya di lipatan tangannya dan menangis senggugukkan meluapkan kekecewaan yang ia rasakan. "Kenapa? Kenapa kamu berbohong kepada ku Windi? Kenapa kamu menutupi semua ini dari ku?" Ujar Lirih Refa.
Barista yang diketahui bernama Aldo merasa kasihan melihat keadaan Refa yang begitu menyedihkan sekali.
Kasihan mana masih muda.
Refa kembali meneguk minumannya dan meminta lagi dan lagi. "Taun anda bisa mabuk jika masih anda lanjutkan." Ujar Aldo.
"Aku tidak peduli cepat berikan minuman itu sialan." Ujar Refa dengan sedikit berteriak untung saja keadaan cukup berisik Membuat ia tidak jadi pusat perhatian orang-orang.
Aldo hanya menghela nafas nya, Ia kembali memberikan minuman itu kepada Refa. Dan benar saja sekarang Refa Sangat mabuk dan terlihat lebih menyedihkan.
Lihat betapa menyedihkannya dirinya.
Refa yang meras pusing, Bangkit dari kursinya dengan sempoyongan. Aldo merasa tidak tega melihat kondisi Refa yang begitu menyedihkan. "Tuan apa saya perlu memanggil kan taksi untuk mu?" Tawar Aldo.
Refa mengangkat tangannya melambai kan nya. Refa merogoh dompet nya dan mengambil beberapa lembar Uang untuk membayar minuman nya. Setelah itu ia pergi meninggalkan bar itu. Dengan sempoyongan ia keluar dari Bar itu. Saat akan Keluar ia tidak sengaja menabrak seseorang.
Brak!
"Apa kau tidak punya mata." Bentak Refa.
Orang itu yang mendengar bentakan Refa membuat nya terkejut. Hei kau lah yang berjalan tidak hati-hati tapi malah kau yang membentak ku Sialan."Ujar nya tidak terima.
Refa semakin emosi, Ia menarik kerah baju orang itu. Namun tertahan kan ketika mengetahui kalau dia seorang wanita."Cih Seorang wanita lemah." Ujar Refa dengan nada sinis dan mengejek.
Wanita tidak terima dengan perkataan Refa. "Jaga ucapan mu tuan."
"Hahaha Wanita memang lemah dan juga suka berbohong." Ujar Refa dengan lunglai.
"Kau!!" Desis Wanita itu. Namun sedikit kemudian ia seperti mengenal wajah pria itu.
"Tuan muda Witamma? " Ujar nya.
"Cih SKSD (sok kenal sok dekat)." Ujar Refa
"Sialan."
Wanita itu membopong Refa ke mobilnya, Ia membawa Refa ke apartemen nya karena tidak tau dimana Apartemen Refa.
Wanita itu meletakkan Refa di kursi belakang. Refa masih saja terus mengigau tidak jelas.
"Kenapa kau membohongi ku sialan!"
Sedangkan wanita itu hanya menggeleng kan kepalanya."Merepotkan sekali."
.
.
.
Keesokan Paginya
Refa mengerjap-ngerjap matanya menyesuaikan sinar matahari yang masuk ke dari sela-sela jendela. Tangan nya terasa pegal sekali seperti sedang tertimpa sesuatu. Ia melirik ke arah kanan dan betapa terkejutnya ia mendapat seorang gadis sedang tidur di samping nya. Tapi sedikit kemudian ia menjadi terpanah akan kecantikan dari wanita itu yang terlihat sangat tenang ketika sedang tertidur.
Cantik sekali. Gumamnya.
Refa terus menatap wajah cantik wanita itu, Tapi tak Bertahan lama karena wanita mengeluet hingga membuat Refa kembali menutup mata nya. Refa mengintip, Ia bernafas lega ketika wanita masih menutup mata nya.
fyuh Hampir saja. Gumam Refa di sertai helaan nafas lega.
Refa dengan perlahan melepaskan tangannya yang di gunakan sebagai bantal oleh wanita itu.
Saat Refa hendak ke kamar mandi. "Kau mau kemana?"
Shit!
Refa menghela nafas nya dan membalikkan badannya tapi sebelum nya ia memasang wajah datarnya."Kenapa kau bisa naik ke tempat tidur ku? Cara kotor apa yang kau gunakan untuk naik ke tempat tidur ku?" Ujar Refa dengan dingin.
Wanita itu merasakan sakit ketika Refa menghinanya. "Bisakah kau tidak bicara kan omong kosong tuan muda Witamma?" Ujar nya dengan tak kalah dingin.
Mata Refa mendadak berubah menjadi tajam dan dingin."Bukankah benar? Kenapa kau berada di tempat tidur ku?"
Wanita itu memutar jengah bola matanya."Apa kau buta Tuan muda Witamma? Apa kau tidak mengenali tempat di mana kau berada?"
Refa menetap keseliling ruangan dan benar saja ia tidak berada di Apartemen nya tapi berada di tempat yang tidak ia ketahui. "Sial! Dimana kau menculik ku ?"
"Aish! Kau pagi-pagi sudah menyebalkan sekali, Untuk apa aku menculik dirimu. Kau sama sekali tidak berguna untuk ku ." Setelah mengatakan itu wanita bangun dari tempat tidur dengan pakaian lengkap yang masih menempel ditubuhnya. Refa yang melihat itu menghela nafas nya lega berarti semalam ia tidak berbuat aneh-aneh dengan wanita itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)