
Hufh bagaimana ini? Tidak mungkin kan aku mengatakan kalau aku sempat memiliki hubungan dengan Farah, Bisa-bisa detik itu juga aku langsung jadi bahan cemohan mereka berdua. Tapi jika aku berbohong justru akan semakin rumit. Pasti mereka tidak langsung percaya begitu saja.
Dito melirik ke arah Panji dan Refa yang menunggu jawaban dari diri nya.
Melihat Dito yang melamun membuat Refa bertambah kesal. "Hei! Kenapa kau diam saja?!" Teriak kesal Refa.
"Astaga Tuan! Aku tidak Tuli hingga kau berteriak seperti itu!" Ia memegang telingan nya yang terasa pengang mendengar teriak Refa yang begitu kencang.
"Aish! Cepat kata kan saja! Kau memiliki hubungan Apa dengan Wanda?" Desak Refa tidak sabaran.
Dito melirik ke arah Panji yang melipatkan kedua tangan nya di dada, Terlihat begitu santai tapi percaya lah sikap santai Panji bisa lebih menakutkan dari yang orang-orang kira.
"Huh... Baik lah baik.. Aku akan mengatakan semua nya, Tapi kalian berdua tidak boleh menertertawakan diri ku.." Pasrah Dito Akhir nya.
"Yayaya, Kata kan saja... Selagi itu bukan bualan semata."
"Ck, Menyebal kan." Grutu Dito.
"Ya sudah kata kan yang ingin kau kata kan." Desak Refa
"Sebenar nya..."
Ucapan Dito terhenti ketika mendengar suara Windi seraya mengetuk pintu ruangan Refa.
Diam-diam Dito tersenyum simpul, Ia sangat bersyukur sekali melihat ke datang Windi. Setidak nya untuk saat ini bisa menyelamatkan diri nya untuk sementara waktu sampai ia sudah siap mengatakan nya kepada Refa dan Panji.
"Hufh.."
Refa memicing kan mata nya menatap ke arah Dito. "Kali ini kau selamat! Tapi tidak untuk Nanti! Kau dengar itu." Ucap Refa dengan Tajam. Ia menghela nafas nya.
"Masuk la."
Ceklek.
Windi menyembul kan kepala nya, Dengan perlahan ia masuk ke ruangan Refa, Betapa terkejut nya ia melihat Panji dan Juga Dito yang sedang berada di ruangan Refa. Pantas saja ketika Windi menghubungi Ruangan Panji Dan Dito mereka tidak terjawab. Namun kini tanpa susah-susah untuk mengumpulkan mereka bertiga, sudah terkumpul ketiga nya.
"Apa kalian Sibuk?" Tanya Windi tidak enak mengganggu Pembicaraan mereka.
"Tidak." Ujar Refa.
"Ah begitu,"
Dito yang merasa tau diri, Ia segara bangkit dari Sofa. Namun di cegah Windi untuk tetap duduk. Windi juga menyuruh Refa dan Panji untuk duduk.
"Ada yang ingin ku kata kan kepada kalian." Ujar Windi.
"Tentang?"
Windi mentapa intens mereka bertiga secara bergantian, tatapan yang begitu tegas dan tajam. Tak lupa senyuman Devil yang terhias di wajah nya, Yang semakin menambah Aura terpendam Windi.
***
Pukul 15:30
Mata Wanda perlahan-lahan mengerjap-ngerjap, Menyesuaikan cahaya. Ia melirik ke arah penjuru ruangan yang terasa asing bagi nya. Ia merasa ada sesuatu yang memeluk nya, Mata nya
melirik ke arah sisi kiri nya. Seulas senyuman telus terpancar di wajah nya ketika melihat Wajah Cantik Rara yang sedang tertidur pulas. Tangan nya terulur mengelus lembut kepala Rara.
Cup
Wanda mengecup lembut pucuk kepala Rara, Dengan hati-hati ia ia bangun, Kepala nya sedikit pusing dan nyeri. Ia menyenderkan punggung nya headboard. Ia memijat pelan pelipis mata nya agar mengurangi rasa pusing nya.
Indara penciuman nya menghirup aroma maskulin yang terasa bergitu tajam. Ia kembali melirik ke arah ruangan itu dengan menyeluruh. Ia berusaha mengingat-ngingat dimana ia berada.
__ADS_1
Kedua bola mata Wanda membelalak ketika ia teringat kalau sebelum ia terlelap dalam tidur nya ia berada di mobil Jio untuk mengantar Rara. Dan sekarang? Ia justru berada di Ranjang Jio. Rasa nya Wanda ingin menenggelam kan Wajah nya di tanah. Ia sungguh malu sekali, Bagaimana tidak malu? Ia hanya Wanita yang tidak memiliki hubungan yang spesial dengan Jio, Tapi dengan mudah nya ia tidur diranjang Jio.
Astaga! Bagaimana ini? Aku tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut.. Aku tidak ingin di Cap sebagai Wanita penggoda karena tidur di ranjang Tuan Baskara.
Wanda mengusap kasar Wajah nya, Asih sudah lah, Anggap saja ini sebuah kesalahan.
Wanda meraih tas nya yang berada tidak jauh dari nya, Ia merogoh ponsel nya. Jari lincah nya bergerak dengan cepat menari-nari di atas layar ponsel nya.
Gilbert Jemput aku di perusahaan Aera Crop, Aku tunggu ke datangan mu Lima belas menit dari sekarang. Send,
Ting!
^^^Baik Nona! (Gilbert)^^^
Wanda melatakkan kembali Ponsel nya ke dalam tas, Ia harus segara pergi dari sini. Jika ia tidak segera pergi maka sudah di pastikan sesuatu yang buruk akan terjadi. Selama menunggu kedatangan Gilbert Wanda menatap dan memperhatikan Wajah Rara yang terlihat begitu menggemaskan sekali. Ia bahkan mencium pipi gembul rara bertubi-tubi, Tapi sama sekali tidak membuat Rara merasa terusik.
Cantik dan menggemas kan sekali,
Senyuman Wanda tidak pernah luntur ketika menatap Wajah tenang Rara. Tiba-tiba saja telinga nya mendengar suara yang aneh, Dengan hati-hati ia beranjak dari Ranjang. Ia menempelkan telinga nya ke pintu yang terhubung ke ruangan lain.
"Ehm...Shaayaaang.... Ehm..."
"Le...leephassskaaann Yura..."
"Ehm....Thidak...Aakuuu sangat merindukan mu."
Terdengar suara decaman dua orang yang saling bercumbu satu sama lain. Ia bisa menabak siapa orang yang sedang bercumbu itu, Tanpa sadar Emosi Wanda mendadak naik pitam. Kedua tangan nya mengepal kuat. Ia benar-benar sangat geram dan merasa jijik dengan situasi yang sedang ia hadapi.
Bajingan Brengsek. Umpat nya.
Ia segara meraih tas nya dengan kasar, Sebelum pergi Wanda menyempat kan diri untuk kembali mencium lembut kening Rara, Ia bahkan memotert foto Rara. Entah apa yang sedang di fikir kan Wanda hingga memotert Rara tanpa Ijin. Mungkin saja dengan foto itu akan mengobati rasa rindu nya ketika tidak bertemu dengan Rara.
"See you next time, Baby.. I love you.."
Cup!
Dengan perlahan Wanda membuaka handel pintu ruangan itu,
Klik
Kedua insan yang sedang bercumbu itu mengalihkan perhatiannya ke arah pintu yang terbuka.
Deg!
Hati Wanda memanas melihat Jio sedang memangku seorang Wanita dengan pakaian seksi nya. Tapi secapat mungkin ia merubah mimik wajah nya menjadi Datar.
Melihat Wanda yang keluar dari ruangan itu, membuat Jio panik dan Gelisah. Dengan kasar ia mendorong tubuh Yura hingga jatuh ke bawah.
"Awww... Sayang kenapa kau mendorong ku?"
Kedua alis Wanda terangakat mendengar ucapan wanita itu, Ia menarik kecil sudut bibir nya. Pacar nya.
Jio hanya mamtung dan menatap wajah datar Wanda, Ia sungguh tidak tau harus berbuat apa-apa. Situasi yang dialami nya seperti seorang suami yang kepergok selingkuh oleh nya. Ia ingin menjelas kan situasi yang terjadi saat ini, tetapi ia bingung harus memulai nya dari mana.
Yura yang sedang menahan sakit itu berusaha untuk berdiri, bokong nya terasa sakit. "Saayangg...Bantu aku berdiri." Rengek nya dengan Manja, Tapi Jio sma sekali tidak mengubris nya ia hanya diam dan terus menatap ke arah Wanda.
Yura yang merasa di acuh kan menjadi kesal, Ia segera berdiri. Ia melihat kekasih nya yang sedang diam mematung menatap ke arah seorang Wanita yang ia yakini baru saja keluar dari ruangan pribadi Jio yang belum pernah ia masuki sama sekali.
"Hei! Siapa kau? Kenapa kau keluar dari ruangan itu." Tanya Yura dengan Emosi.
Wanda hanya diam dan memperhatikan penampilan Yura dari atas hingga bawah. ia tersenyum semrik menatap nya.
******. Batin nya.
__ADS_1
Dari penampilan nya, Wanda bisa menebak wanita seperti apa yang di pacari Jio.
Melihat Wanda yang hanya diam membuat Yura semakin kesal. "Heii Apa kau tuli Hah?!"
Pandangan Wanda beralih ke arah Jio yang masih setia mematung. "Tuan Baskara saya harus kembali, " Ujar Wanda dengan lembut. Tapi bagi Jio suara Wanda terdengar menyeramkan.
Yura bertambah kesal karena Wanda tak kunjung menjawab pertanyaan nya. "Hei! Kenapa kau mengacuhkan ku?"
"Ahh Iyah, Maaf Nyonya Baskara saya hanya sepupu jauh Tuan Jio." Ujar Wanda berbohong.
Yura yang tadi nya kesal perlahan mereda mendengar panggilan untuk diri nya. "Oh yah?" Ujar nya sambil tersenyum malu-malu.
Cih.
"Ia nyonya." Ujar Singkat Wanda.
"Kalau begitu saya permisi pamit Undur diri Nyonya."
"Iyah baik lah,"
Saat akan pergi Jio langsung menghadang Wanda. "Tunggu, Biar aku antar." Ujar Jio.
Mendengar tawaran Jio membuta Yura sedikit kesal, "Sayangg..." Ucapan Yura tertahan ketika Jio melirik nya dengan tajam, Pertanda kalau ia sedang tidak ingin Yura berbicara lagi.
"Ah tidak usah Tuan, saya bisa pulang sendiri." Tolak Wanda dengan sopan.
"Tidak kau akan pulang dengan ku!" Ujar Tegas Jio.
Dreet
Dreet
Wanda langsung merogoh ponsel nya, Senyuman kecil terulas di bibir nya ketika melihat panggilan dari Gilbret.
Fyuuhh penyelamat
"Maaf Tuan tapi seperti nya kekasih saya sudah menunggu saya di bawah." Ujar Wanda, Ia menunjuk kan layar nya yang menerima panggil dari Gilbret.
Deg!
Pernyataan Wanda membuat tubuh Jio jadi tidak bertenaga, Ia menatap senduh ke arah Wanda. Ia sangat berharap apa yang dikatakan Wanda adalah kebohongan. Tapi sayang nya Wanda hanya mengucap kan sepatah dua kata lalu pergi begitu saja, Meninggalkan Jio yang terenyuh ke belakang.
"Sayang kau tidak apa-apa?" Tanya Yura dengan Khawatir. Ia merangkul Jio untuk duduk Di sofa. Tangan nya mengelus kepala Jio dengan lembut, tapi Jio langsung memaling kan kepala nya.
"Keluar."
"Tidak, Aku ingin di sini saja... Aku masih kangen sayang..." Rengek Yura.
Jio menyugar kasar rambut nya. "Keluar Yura." Ujar Jio menaik kan satu oktaf suara nya.
Yura masih bersikukuh untuk tidak keluar dari ruangan Jio, Ia bahkan dengan berani naik ke pangkuan Jio. Hal itu semakin membuat Jio Merasa geram dan Kesal. Ia segara menarik kasar lengan Yura dan menyeret nya keluar dari ruangan nya.
Klik!
Jio mengunci ruangan nya dari dalam, Jio menjambak kasar rambut nya.
Sial!
Jio meruntuki kebodohan nya, bisa-bisa nya ia sempat terlena dan melupakan kehadiran Wanda. Dan sekarang lihat? Wanda pergi begitu saja. Di tambah hati nya merasa sakit ketika Wanda menekan kata pacar.
Bodoh! Bodoh!
.
__ADS_1
.
.