Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Rumah Hitam


__ADS_3

Setelah dari taman Wisnu mengantarkan Windi kembali ke Apartemen Mereka. Ia mengatakan kepada Windi kalau ia harus pergi ke suatu tempat.


"Baby aku akan pergi sebentar dan tidak akan lama." Wisnu mengusap lembut kepala Windi.


" Kemana?"


" Tadi Panji menelfon ia mengatakan telah terjadi sesuatu di perusahaan."


" Apa akan lama?" ada segurat rasa khawatir di wajah Windi.


Wisnu mengecup lembut pucuk kepala Windi." Tidak.. Aku akan segera kembali secepat nya."


" Huh... Baik la.." Dengan terpaksa Windi mengijinkan Wisnu untuk pergi


" Tidak usah khawatir yah... Aku pasti akan kembali secepat nya.. Oke."


" Iya udah sana pergi... Nanti Panji akan marah kalau kamu datang nya terlambat." Ujar ketus Windi


Wisnu terkekeh mendengar perkataan Windi." Kau mengusir ku Baby?"


" Tidak!"


" Benarkah?" Ujar Wisnu seraya menaikan salah satu alisnya dan menatap menggoda ke arah Windi


" Te-tentu saja.. "


" Ehm..." Kini Wisnu menaik turunkan alisnya.


" Aish menyebalkan... Sudah cepat sana pergi agar kamu cepat kembali... Semakin lama kamu pergi semakin lama kamu akan kembali Wisnu." Ujar kesal Windi


" Hahaha baik lah... Aku akan pergi sekarang.." Wajah nya mendekat ke arah Wajah Windi.


Windi yang melihat Wajah Wisnu yang semakin dekat dengan wajah nya Refleks memundurkan Wajahnya.


"Ka-kau mau Apa?" Windi benar-benar gugup ketika Wajah mereka hanya tersisa lima centi lagi.


Wisnu tidak memperdulikannya perkataan Windi ia semakin memajukan Wajahnya, Hingga.


Cup! Wisnu mencium lembut bibir Windi, Ia hanya menempelkan bibirnya tanpa ******* nya. Matanya menatap ke arah mata Windi yang memejamkan kedua matanya. Sudut bibir sebelah kanan nya terangkat ketika Melihat ekspresi wajah Windi yang sangat menggemaskan.


Ia melepaskan bibirnya, keningnya ia pertemukan dengan kening Windi. Lagi-lagi sebuah senyuman manis terukir di bibir Wisnu.


" Apa yang sedang kau bayangkan? Kenapa sampai menutup mata? " Goda Wisnu


Kedua pipi Windi terasa panas mendengar pertanyaan Wisnu.


" Ha?"


Wisnu menjauhkan Wajahnya dan Tersenyum manis ke arah Windi. " Ya sudah aku pergi dulu yah... Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku." Ujar Wisnu seraya mengusap lembut pucuk kepala Windi.


Windi menganggukkan kepalanya." Baik la... Hati-hati dijalan.."


" Iyah.." Wisnu melangkah kakinya keluar dari Apartemen, Sedangkan Windi menatap punggung Windi yang perlahan menghilang dari pandangan nya.


Hah! Ada apa dengan diriku? kenapa jantungku berdetak lebih kencang saat dia mencium ku? dan kenapa aku merasa seperti ada kupu-kupu yang terbang di perut ku setiap kali ia menyentuh diriku? Ya tuhan... Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta Kepada nya? Jika benar buat lah dia yang aku cintai mencintai ku kembali... Aish! Apa yang sedang aku fikiran? Lebih baik aku menikmati kesendirian di Apartemen selama dia pergi, Sudah lama aku tidak menikmati nya... Hah! Aku benar-benar merindukan tinggal Sendirian karena lebih bebas melakukan Apapun...


Windi melangkah Kaki nya menuju ke kamarnya... Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya menatap langit-langit kamar nya.


Sekarang aku harus melakukannya Apa yah?


...***...


Sebuah mobil hitam Melesat dengan kecepatan tinggi membelah sunyi nya hutan, Meskipun hari masih terlihat terang tapi hawanya Sangat mencekam bagi siapapun yang melintasi hutan belantara itu.


Mobil tersebut terus melaju dengan cepat sampai mobil itu berhenti di depan Pagar hitam yang menjulang tinggi ke atas. Pintu gerbang otomatis terbuka Sendiri, Ia kembali melaju kan mobilnya masuk kedalam halaman rumah yang terbilang cukup mewah Namun hawa di sekitar an rumah tersebut sangat mencekam dan terasa sangat dingin. Ia melirik jam di tangannya menunjuk pukul 12 lewat. Ia menghirup nafas dalam-dalam dan membuang secara kasar. Kemudian ia tersenyum devil yang sangat menakutkan.


Sudah lama sekali aku tidak melakukan nya.


Orang tersebut adalah Wisnu yang sedang berada di Mansion hitam atau tempat penyiksaan bagi siapa pun yang sudah berkhianat terhadap keluarga Witamma. Di tempat ini tidak mengenal jender, Baik pria mau pun Wanita. Semua nya sama di mata Keluarga Witamma jika ia sudah Berani Berkhianat.


Di depan pintu terlihat dua penjaga yang sedang menanti ke hadiran nya.


" Selamat siang tuan." Ujar salah satu pengawal sembari menunduk hormat kepada Wisnu.


Wisnu hanya mengangguk kepalanya dan berjalan melewati kedua pengawal itu. Ketika ia sudah masuk ke dalam Rumah, Ia menatap ke sekeliling rumah yang menjadi tempat saksi ia berubah menjadi seseorang yang menakutkan bagi siapapun.


Hah! Bahkan dari sini pun aku sudah bisa mencium bau darah yang begitu menyegarkan.. Batin Wisnu


Ia menghirup dalam-dalam setiap aroma yang sangat menusuk Indra penciuman nya.

__ADS_1


" Tuan muda."


Suara Panji yang memanggil nya membuat diri nya menatap ke arah Panji dengan tatapan tajam yang begitu menusuk siapapun yang berada di depan nya.


" Katakan?!"


" Tuan... Mereka berdua sudah Saya tempat kan ke tempat yang tuan perintah kan tuan." Ujar Panji


Ia tidak berani menatap kearah Wisnu yang terlihat begitu menakutkan dan juga sangat menyeramkan. Meskipun ia juga memiliki sifat yang seperti Wisnu tetapi ia masih bisa mengendalikan dirinya. Sedangkan Wisnu sudah dapat di pastikan ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya jika sudah tersulut emosi.


" Hei?! Sejak kapan kau tidak berani menatap mata ku Panji? Apa kau mau ikutan seperti mereka berdua Panji?!" Suara Wisnu terdengar begitu menyeramkan dan menakutkan bagi pendengar telinga Panji


Glek! Panji meneguk kasar Saliva nya. " Tidak tuan tidak." Ujar Panji dan menetap ke arah Wisnu dengan begitu tegas.


" Baguslah... Sekarang kita ke tempat menager kecil sialan itu." Ujar Wisnu seraya menepuk pundak bahu Panji dengan sedikit meremasnya. Ia berjalan meninggalkan Panji yang masih diam mematung ditempatnya.


Ke Datangan tuan muda membuat suasana di sekitar an rumah ini menjadi lebih mencekam dan menakutkan sekali... Hawa dingin nya juga semakin menambah... Aku tidak tau bagaimana nasib mereka berdua nanti.


" Hei!! Apa yang sedang kau Fikir kan? kenapa masih diam Disana?!" Teriak An Wisnu membuat Panji tersadar dan segera menyusul Wisnu.


Galak sekali... Huh! Aku tidak tau bagaimana nona muda Windi bisa menghadapi sikap tuan muda yang menyebalkan. Umpat kesal Panji.


" Berhenti mengumpat ku atau kau akan mati hari ini." Ujar Wisnu dengan penuh penekanan.


Mendengar perkataan Wisnu membuat Panji segera melangkah menyusul Wisnu. Mereka berdua menuju ke sebuah ruang nya yang sangat gelap dan pengap bahkan cahaya matahari pun tidak mampu untuk menembus dinding tersebut. Ruang itu hanya di berikan lampu yang remang-remang untuk sedikit menerangi ruang tersebut.


Disana sudah ada seseorang yang diikat di kursi badannya terlihat begitu lemas dan lusuh tetapi wajah masih terlihat begitu jelas karena wajah nya belum tergores Apapun, Kecuali badan nya terkulai lemas.


" Eh Bodoh!!!" Suara yang begitu menggelegar di pendengaran siapa pun. Apalagi mereka di ruang nya kosong yang membuat suara tersebut menggema begitu keras.


Orang itu menatap sayup-sayup ke arah suara yang menggema di ruang itu. Semburat kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.


" Tu-tu-an mu-mu-da." Ujar nya terbata-bata


"Ckckck baru sekarang kau mengingatku? setelah apa yang kau perbuat terhadap perusahaan ku bajingan sialan?!!!" Teriak kesal Wisnu, Rahangnya mulai mengeras dan tangannya terkepal kuat.


" Ma-ma-af K-a-n Sa-ya tu-tu-an mu-mu-da."


" Kau tau kan? Kalau aku sangat membenci pengkhianatan seperti dirimu?!"


" Panji Cepat lepaskan ikatan bajingan sialan ini.."


" Ayo Mari kita adu jontos kalau kau bisa membuat aku terkulai lemas maka kau akan selamat dan bebas dari orang-orang ku, Tapi jika kau yang kalah jangan harap kau bisa kabur dan selamat dari sini.." Wisnu menatap tajam dan menusuk ke orang itu, Ia melipat kemeja nya sampai di batas siku nya, Senyuman Devil terpancar dari Wajah nya yang tampan.


" Ayo Apa yang kau tunggu Redaf!!!"


Bkuhh!!!!


Redaf melakukan hal itu dengan tiba-tiba dan membuat sudut bibir Wisnu berdarah. Wisnu merasakan darah yang mengalir di sudut bibirnya langsung menjilat darah yang keluar.


" Hahaha... Kau membuat semakin Bersemangat Redaf!!!"


Kali ini giliran Wisnu yang memukul Redaf dengan membabi buta, Bahkan ia tidak memperdulikan rintihan yang keluar dari mulut Redaf. Ia terus memukuli Redaf tanpa Ampun.


Panji yang melihat keberingasan Wisnu membuat nya bergidik ngeri meskipun ia sudah lama bersama dengan Wisnu tapi ia masih saja takut ketika melihat sisi lain dari Tuan mudanya.


Mata Panji menatap ke arah Redaf yang sudah terkulai lemas akibat pukul dari Wisnu yang membabi buta. " Tuan sudah... Dia sudah tidak bertenaga lagi... Kau bisa membunuhnya jika seperti itu..." Panji terpaksa harus menghentikan tindakan dari Wisnu karena ia takut Jika Wisnu sudah membunuh seseorang maka ia akan melakukan hal yang sama nantinya.


Dada Wisnu naik turun dengan cepat, Ia mengatur perlahan pernafasan. " Huh baik lah... Cepat bawa bajingan ini ke rumah sakit... Dan pastikan dia untuk sadar secepat nya.. Setelah itu kirim dia ke penjara Hitam." Titah Wisnu setalah pergi begitu saja meninggalkan Ruangan itu.


Kini ia kembali naik ke atas dan menuju ke ruang yang sedikit lebih hidup karena Sinar matahari sedikit bisa masuk ke dalam ruang itu. Atmosfer di ruang itu pun tidak terlalu mencekam seperti di ruangan yang sebelumnya.


" Tu-tuan muda..."


" Wah-wah kau rupanya... Justin Bell.." Suara Wisnu terdengar begitu skeptis dan menakutkan.


" Ma-ma-af Tuan muda.."


" Apa?!"


" Maaf kan saya tuan muda."


" Kata lebih kuat?! Aku tidak mendengar nya?!!!" Teriak Wisnu


" Maafkan Saya tuan muda!" Ujar tegas Justin matanya ia berani kan untuk menatap Kearah Wisnu.


Pok! Pok! Terdengar suara tepuk tangan dari Wisnu." Kau tau apa kesalahan mu Justin?"


Justin mengangguk kepalanya." I-iya tuan.. Sa-saya sudah menggelapkan dana perusahaan Tuan." Ujar Justin dengan gugup

__ADS_1


" Bagus la kalau kau mengerti... Aku tau kau melakukan nya karena putri mu... Untuk itu Perusahaan akan menanggung biaya perawatan putri mu... Tapi.. Kau sudah tidak bisa bekerja di perusahaan Ku lagi... Kau di Pecat Secara Tidak hormat.." Ujar Wisnu seraya menepuk-nepuk pundak Justin


Justin yang mendengar perkataan Wisnu membuat nya tersenyum." Terimakasih tuan sudah mau membantu putri saya tuan... Dan maafkan saya karena telah menggelapkan dana perusahaan." Justin benar-benar menyesal dan malu karena perbuatannya, Meskipun ia sudah di pecat secara tidak hormat tapi perusahaan nya masih mau menanggung biaya pengobatan Putrinya.


" Huh.. Aku hanya tidak ingin orang-orang mengatai ku kejam.. Tapi aku juga bukan orang yang lembek... Kalau kau melakukan Sesuatu yang membuat aku rugi lagi maka jangan coba-coba berharap untuk tetap berada di atas tanah ini... Karena akan ku pasti kan kau akan terkubur di dalam tanah... Kau mengerti?"


" I-iya tuan saya mengerti... Sekali lagi terimakasih." Justin benar-benar merasa sangat beruntung sekali, Andai saja ia tidak melakukan hal bodoh untuk menggelapkan dana perusahaan pasti ia masih bekerja di perusahaan Witamma. Tapi ia juga tidak punya pilihan ia harus segera membawa putri nya ke German untuk melakukan perawatan yang lebih intensif.


Terimakasih tuhan sudah mengirimkan orang baik kepada ku..


Wisnu membalikkan badannya saat dia ingin melangkah ia berhenti dan kembali menatap ke arah Justin.


" Ah Iyah... Aku akan memberitahu satu hal kepada mu... Sebentar lagi perusahaan Hans Raj pasti akan menghampiri mu dan menawarkan untuk bekerja sama di perusahaan... Aku saran kan kau menerima nya karena kemungkinan kau tidak akan bekerja dimana pun setelah aku Memecat mu secara tidak terhormat."


Justin yang mendengar perkataan Wisnu membuat melongo." Apa maksudmu tuan muda? "


" Hans Raj Akan mempekerjakan mantan pekerja ku untuk membuat perusahaan ku tersaingi oleh perusahaan nya." Jelas Wisnu


Justin mangangguk-nganggukkan kepalanya. " Aku mengerti apa yang tuan bicarakan."


" Baguslah.. Kalau kau mengerti apa yang aku maksud.. Semoga kau bisa bekerja dengan baik... "


" Baik tuan muda."


Bukh!


" Rasa sakit dari pukul an ku itu akan mengingatkan mu tentang pengkhianatan pertama yang kau lakukan dan ingat jangan sampai ada pengkhianatan lainnya."


" I-iya tuan muda."


Tiba-tiba Panji datang dengan nafas yang tergesa-gesa dan tersengal-sengal terlihat jelas ada segurat ke khawatiran di wajah nya.


" Tuan muda! "


" Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu tergesa-gesa Panji? "


" Tuan tadi nona muda Windi menelfon saya tapi tidak ada suara, Hanya terdengar suara nafas nona muda yang terdengar seperti ketakutan tuan." Jelas Panji dengan masih nafas yang tersengal.


" Apa?! " Ia merogoh kantong celana nya namun sialnya ia tidak mendapati ponselnya.


Sial! Pasti ketinggalan di mobil.


" Cepat kau siap Helikopter secepatnya."


" Baik tuan."


Panji keluar dari ruang itu dan menelfon seseorang untuk mengantar helikopter ke Rumah Hitam.


Sedangkan Wisnu buru-buru ke mobil nya, Ia mencari ponsel yang berada di bawah. Ia segera mengecek ponselnya dan benar saja ada puluhan Panggilan tak terjawab dari Windi.


Ahhgg!! Aku meruntukki kebodohan ku... Jika terjadi sesuatu kepada Windi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.


Wisnu mengacak-acak frustasi rambutnya. Fikiran nya tentang Windi yang tidak-tidak seketika terlintas di benaknya.


" Tuan muda.. Helikopter sudah siap."


Wisnu yang mendengar perkataan Panji langsung berlari ke landasan helikopter yang tidak jauh dari Halaman rumah Hitam. Yang sekarang dalam fikiran Wisnu adalah secepat nya bertemu dengan Windi..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2