Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Milik ku Seorang


__ADS_3

Sembari menunggu Windi selesai mandi, Wisnu memainkan ponselnya dan mengecek email yang masuk melalui ponsel nya. Saat sedang mengecek email ia dapat pesan dari salah satu anak buahnya


Tuan seperti dugaan mu Hans Raj meminta Justin untuk bergabung dengan nya tuan.


Seluas smirk terpancar di wajah tampan Wisnu. Hans kau tidak tau sedang berhadapan dengan siapa, Bahkan kau tidak tau siapa orang yang akan kau pekerjaan itu.


Wisnu mengetik sebuah pesan kepada Justin. Terima saja tawaran yang di berikan karena kemungkinan terbesar kau tidak dapat di terima dari perusahaan manapun setelah aku memecat mu secara tidak terhormat Justin.


Selesai mengesend pesan tersebut terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka dan menampilkan Windi yang tengah memakai handuk kimono.


Mata Wisnu Bergerak mantap Windi dari atas sampai bawah seakan-akan mencari celah untuk ia kritik dari tubuh Windi.


Windi yang merasa Wisnu memandang nya reflek langsung menyilang kan kedua tangannya tepat di depan dadanya.


" I..isnu ke-kenapa kamu menatap ku? " Tanya Windi dengan gugup


Wisnu hanya diam dan berjalan mendekat ke arah Windi. " Baby Apa kamu mencoba menggoda ku lagi? " Wisnu memeluk erat pinggang Windi, sedang kan Windi menahan dada Wisnu dengan kedua tangan nya. Jarak di antara mereka hanya persekian Senti saja.


Windi bisa merasakan hangatnya nafas Wisnu yang menyerpa wajah nya. " Ti-tidak Isnu."


Wisnu semakin mengikis jarak di antara keduanya. " Lalu kenapa kamu keluar hanya menggunakan Handuk saja Baby? " Wisnu sengaja menaik turunkan kedua alis nya.


" Ka-karena A-aku tidak membawa pakaian ganti ku Isnu. " Windi memundurkan sedikit Kepalanya Agar tidak terlalu dekat dengan Wisnu.


Wisnu memiringkan kepalanya dan semakin memajukan kepalanya, Sedangkan Windi reflek menutup kedua matanya. Wisnu yang melihat Windi menutup kedua matanya membuat tersenyum kecil.


Wisnu menjauhkan kepalanya dan menyentil pelan kepala Windi. " Hei Baby apa yang sedang kamu fikir kan? Kenapa kamu memejamkan kedua mata mu? " Goda Wisnu


Windi yang menerima sentilan di dahi nya membuat nya benar-benar sangat kesal dengan Wisnu. " Hhmm..." Windi langsung memalingkan wajahnya dan enggan menatap Wisnu.


" Dimana baju ku? " Tanya Windi dengan ketus.


Wisnu yang melihat wajah kesal Windi membuat nya semakin gemas dan ingin tertawa tetapi jika ia tertawa pasti Windi akan marah dan nanti malam pasti Windi akan tidur di kamar nya sendiri, Tidak Wisnu tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bisa-bisa besok rencananya untuk memiliki Windi seutuhnya bisa gagal. Ia menahan tawa nya.


" Aku sudah menyiapkan nya di ruang ganti. " Ujar Wisnu seraya menunjuk ke arah ruang ganti.


Windi hanya diam dan berjalan menuju ruang ganti tanpa memperdulikan Wisnu yang berbicara Dengan nya.


Akhh sial! Dia suka sekali menggoda ku! Ini semua salah mu Wilhelmina! Andai saja kau tidak mengambil alih tubuh ku dan menggoda duluan dirinya pasti ini tidak akan terjadi. (Runtuk Windi)


Hei! tapi kau menikmati nya bukan? Bukan hanya diriku tapi dirimu juga Windi! (Ujar kesal Wilhelmina)


Diam lah! (Kesal Windi)


Setelah perdebatan singkat dengan Bagian sisi nya yang lain ia mencoba pakai an yang telah di sediakan Wisnu untuknya.



Windi memandangi tubuh nya yang terbalut dress yang sudah di siapkan Wisnu, Sangat cocok dengan tubuhnya. Ia keluar dari ruang ganti dan menghampiri Wisnu yang masih diam terpaku di posisi sebelum ia masuk ke dalam ruang Ganti.


Windi Mengerutkan keningnya heran melihat Wisnu yang masih diam terpaku Disana. Ada apa dengan nya? Kenapa dia diam terpaku seperti itu? Aneh sekali.


Windi yang masih kesal dengan Wisnu tak memperdulikan Wisnu yang masih diam terpaku, Ia berjalan ke arah pintu namun saat ia akan membuka pintu lengannya di tarik Wisnu. Karena tarikan tangan Wisnu membuat Windi bertabrakan dengan dada bidang nya.


" Isnu Kenapa kamu menarik ku? " Ujar kesal Windi.


" Baby apa kamu kesal dengan ku? " Wisnu mengunci pandang nya ke arah Windi yang sedang menatap nya.


" Tidak! Aku tidak Kesal. "


Wisnu memicingkan matanya dan semakin menatap intens Windi. " Tapi aku merasa kamu kesal dengan ku. " Ujar Wisnu dengan suara lembut.


Windi menghela nafas. " Tidak! Isnu aku tidak kesal dengan mu kenapa kamu berkata seperti itu? " Tanya Windi penasaran kenapa Wisnu bisa tau kalau ia sedang kesal karena Wisnu tadi menggoda nya.


" Apa benar kamu tidak kesal dengan ku? Kalau kamu tidak kesal kenapa kamu mengabaikan ku Baby? " Terdengar suara lemah Wisnu.


Windi memejamkan singkat matanya. " Astaga Isnu aku tidak mengabaikan mu. "


" Kalau begitu Aku ingin mendapatkan ciuman mu. " Ujar Gamblang Wisnu


Windi membelalakkan matanya tak percaya dengan ucapan Wisnu. " Tidak! " Tolak Windi


" Kan bener kamu sedang kesal dengan ku hingga kamu tidak mau mencium ku. " Ujar sedih Wisnu


Windi memutar jengah bola matanya. Dasar Bayi bulldog


" Lepaskan dulu tangan mu, Bagaimana aku bisa mencium mu jika kamu memegang erat tangan ku Isnu. "


Wisnu tidak melepas kan tangannya justru ia memiringkan wajahnya dan mencium bibir merah muda Windi dengan lembut.


" Sudah! Ayo kita pergi. " Wisnu langsung menarik pelan tangan Windi untuk pergi.


Sial! Dia selalu saja melakukan nya seenak nya saja. Grutu Windi


Hahahaha kalau kau tidak menyukai nya biar kan aku yang menggantikan peran mu, Dan beristirahat lah sementara di alam bawah sana. (Ujar Wilhelmina disertai gelak tawa)

__ADS_1


" Hei Diam la!" Perkataan Windi sontak membuat Wisnu terkejut dan langsung berbalik menatap Windi.


" Baby ada apa dengan mu? kenapa kamu menyuruh diam? " Tanya Wisnu bingung


" Aa-aah Ti-tidak a-apa-apa Isnu. " Ujar gugup Windi


" Huh baik la, Aku kira kamu masih kesal." Ujar tenang Wisnu


Windi menggeleng kan kepalanya dan tersenyum kikuk. Sial kau Wilhelmina! Geram Windi


Saat menuju parkiran di sepanjang jalan Windi dan Wisnu menjadi pusat perhatian apalagi saat Wisnu yang menggandeng tangan Windi dengan posesif seakan-akan menunjukkan kalau Windi hanya miliknya seorang. Sedangkan Windi hanya menunduk dan sesekali tersenyum kecil.


°°°


Sesampainya di rumah keluarga Witamma Wisnu membukakan pintu untuk Windi. Ia sengaja membawa mobil sendiri agar lebih leluasaan menikmati waktu berdua di dalam mobil. Ia memerintahkan Panji untuk kembali ke Apartemen nya. Mungkin malam ini ia dan Windi akan menginap di rumah Keluarga Witamma.


" Terimakasih. " Ujar Windi ketika Wisnu membukakan pintu untuknya.


Wisnu hanya tersenyum dan mengangguk kepalanya. Tangannya mengulur ke arah Windi. Windi membalas uluran tangan Wisnu dan menggandeng nya.


Di depan pintu terlihat salah satu Pelayan menyambut ke datang mereka.


" Selamat datang Tuan dan nona muda. "


Wisnu hanya mengangguk kepalanya, sedang kan Windi membalas nya dengan senyuman manis nya. Wisnu yang merasa Windi Tersenyum kepada pelayanan laki-laki itu membuat nya jengkel.


" Baby Jangan tersenyum seperti itu kepada nya. " Bisik Wisnu


Windi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Dasar pencemburu akut.


Keduanya masuk ke dalam rumah yang bernuansa Eropa klasik berwarna putih Abu-abu. Saat masuk terdengar suara lembut yang menyambut mereka berdua.


" Sayang Kalian sudah datang? " Ujar Fitri menyambut Wisnu dan Windi


Keduanya Tersenyum menatap ke arah Fitri yang berjalan ke arah mereka.


Windi melepaskan gandeng an tangannya dan menyalami tangan Fitri. " Hai Mama, Apa kabar? "


" Mama baik sayang, Kamu bagaimana? Mama dengar kemarin Apartemen kalian ada penyusup yang masuk. " Ada semburat kekhawatiran di wajah Fitri ketika menatap wajah Windi


Windi tersenyum dan menggeleng kepalanya. " Syukur kalau mama baik-baik saja, Aku juga baik ma. " Fitri menarik Windi ke pelukan nya. Cukup lama mereka berpelukan sampai terdengar suara deheman dari samping Windi.


" Ehmm.." Kedua orang itu menoleh ke sumber suara, Terlihat jelas kalau pria itu sedikit kesal karena di abaikan oleh istri dan Mama nya.


" Sayang lihat la ada yang sedang kesal. " Ujar Fitri


" Huhgh! " Tanpa berkata Wisnu langsung meninggalkan Fitri dan Windi. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


.


.


.


Wisnu pergi menuju ruang kerja Papanya, Karena sedari tadi ia belum melihat Papanya. Wisnu mengetuk pintu ruang kerja Papanya. Ketukan ketiga Wisnu terdengar kalau Papanya Menyuruh masuk.


Terlihat kalau Benny sedang sibuk dengan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerja nya dengan kacamata yang bertengger di hidung nya, Ditemani secangkir kopi dan kue kering menemani nya.


" Kau sudah datang? " Tanya Benny tanpa mengalihkan perhatian nya terhadap berkas-berkas yang berada di depannya.


Wisnu hanya diam dan langsung duduk di sofa tanpa di suruh oleh Benny.


" Dimana Istri mu? " Kali ini Benny menatap ke arah Wisnu sedang duduk di sofa


" Dia sedang bersama Mama. "


Benny menghentikan pekerjaannya. " Kenapa kau bisa ceroboh sekali? Apa kau tidak bisa menjaga rumah mu sampai ada penyusup yang masuk ke rumah dan mencoba melukai Istri mu? "


Wisnu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa agar lebih rileks. " Aku tidak tau kalau ternyata ada yang sedang bermain apa dengan ku. " Ujar Wisnu sembari memejamkan matanya.


" Harus nya kalau lebih mempersiapkan segalanya apa lagi ketika paras musuh mengetahui kalau kau sudah memiliki istri, Dan bisa saja ia bukan hanya ingin meneror Istri mu melainkan ingin membunuh istrimu. "


Wisnu yang mendengar perkataan Benny membuat nya langsung duduk dengan tegap dan menatap tajam ke arah Benny. " Tidak akan ku biarkan siapapun menyentuh Istri ku! Meskipun hanya seujung kukunya. " Ujar geram Wisnu


Benny yang mendengar perkataan Wisnu membuat nya terkekeh. " Apa kau sudah mencintai Windi? " Tanya Benny dengan penuh menelisik


Wisnu hanya diam mendengar pertanyaan Benny. Hal itu semakin membuat Benny yakin kalau Wisnu sudah mencintai Windi. " Hahhh Ternyata Benar kau sudah mencintai nya. " Benny meletakkan kedua tangan di dagu.


" Kalau kau sudah mencintai nya, Pertahanan kan dia dan jangan sampai orang lain merebut nya. Meskipun nantinya kau akan bersaing dengan adik mu, Tetapi takdir memihak mu karena kau beruntung sudah memiliki Windi melalui ikatan pernikahan yang membuat Refa Pasti tidak akan bisa merebut Windi dari mu. Namun aku ingat sekali lagi kalau adik mu itu sangat nekat dan bisa melakukan segala cara untuk merebut apapun yang seharusnya menjadi miliknya, Meskipun ia harus merebut nya dari dirimu sekalipun. " Ujar Benny menjelaskan


Wisnu menghela nafasnya. " Aku tau apa yang harus ku lakukan untuk mempertahankan Windi agar selalu berada di sisi ku, Dan tetap menjadi milik ku selamanya. Papa tidak sudah khawatir aku yang akan menghadapi sikap nekat Refa jika dia berani untuk merebut Windi dari ku. " Wisnu menatap kosong lurus ke depan.


Benny bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa. Ia duduk kan tubuh nya di sofa tunggal yang berada di samping Wisnu. " Bagus la! Kalau kau tau apa yang harus kau lakukan. " Benny menepuk pelan bahu Wisnu.


Kedua nya hanya saling diam, sampai Benny mengaju kan Pertanyaan kembali. " Apa dia sudah mencintai mu? " Tanya Benny

__ADS_1


Pertanyaan Benny sukses membuat Wisnu menatap ke arah nya. " Aku tidak tau! Tapi besok aku akan memastikan nya apa dia mencintai ku atau tidak! " Ujar Wisnu


Benny menghela nafas nya. " Wisnu jika besok dia tidak mencintai mu, Jangan memaksakan cinta nya karena itu bisa saja melukai nya."


" Papa tidak usah khawatir, Karena aku yakin dia sudah mencintai ku. Aku hanya perlu dia mengakui perasaannya kepada ku. " Seulas senyum kecil terpancar di wajah tampan Wisnu.


" Aish! Dasar narsis! Kau bahkan tidak tau dia mencintai mu atau tidak? Tapi kau sudah percaya diri sekali. " Ledek Benny


" Pa.."


" Hahahaha aku hanya bercanda, Ayo kita turun mungkin Mama dan istri mu sudah menunggu kita. "


Wisnu menganggukkan kepalanya setuju, Keduanya berjalan menuju ruang makan, Untuk makan malam bersama.


Terlihat Windi yang sedang menyusun makanan di atas meja. Windi yang melihat Wisnu dan Benny berjalan menuju ke arah nya membuat senyuman manis terpancar di wajah cantiknya.


" Pa."


Benny mengangguk kepalanya dan tersenyum ke arah Windi. " Dimana mama ? "


" Mama masih memasak makanan penutup pa. " Ujar Windi


Benny mengangguk kepalanya Mengerti, Ia duduk di kursi Ujung, sedang Wisnu duduk di kursi sebalah kiri Benny. Windi masih sibuk menyusun perlengkapan makan dan terkadang ia bolak-balik ke dapur untuk meletakkan hidangan makanan.


Kini semua makanan sudah tersaji kan, Windi dan Fitri juga sudah duduk di tempat nya masing-masing. Semua orang hanya makan dengan khidmat dan yang terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling sahut-sahutan.


.


.


.


Seusai makan malam bersama mereka memutuskan untuk bersantai di ruang Keluarga hanya untuk sekedar menonton televisi bersama.


Windi dan Fitri sedang menyiapkan kue kering dan teh untuk suami-suami mereka. Keduanya datang dengan membawa nampan di masing-masing tangan mereka. Windi membawa kue kering sedang Fitri membawa teh hangat dan segelas susu punya Windi.


Kedua nya ikut bergabung Nikmat in tontonan televisi yang sedang di putar. Mereka menonton di iringi dengan obrolan dan canda tawa.


Karena Sangking asiknya mereka tidak sadar kalau hari ternyata semakin larut.


" Wisnu Windi ini sudah malam sebaik nya kalian berdua menginap di sini saja. " Ujar Fitri


Windi melirik jam yang berada tidak jauh dari pandangan matanya, Dan benar saja sudah hampir pukul sepuluh malam. Ia menatap ke arah Wisnu yang masih fokus menonton. Wisnu yang merasa Windi Menatap nya Langsung beralih menatap Windi. " Iyah mah. " Ujar Wisnu


" Baik la kalau begitu mama akan suruh Pelayan untuk menyiapkan kamar untuk kalian berdua. "


Fitri memanggil pelayan untuk menyiapkan kamar untuk Wisnu dan Windi. Awalnya Windi menawarkan agar dia saja yang menyiapkan nya tetapi Wisnu dan Fitri melarang Windi karena mereka tidak ingin Windi sampai ke cepe an.


Windi sedari tadi terus menguap, Ia sangat mengantuk karena sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya ia tidur di bahu Wisnu.


" Wisnu lebih baik bawa istri ke kamar seperti nya di sangat lelah. " Ujar Fitri


Wisnu pamit untuk ke kamar, Ia menggendong Windi ala bridal style dengan sangat hati-hati agar tidak membangun Windi yang sudah terlelap.


Dengan kesusahan Wisnu membuka pintu kamar dengan secara perlahan. Ia dengan hati-hati membaringkan tubuh Windi. Wisnu membuka lemari pakaian dan terlihat ada dress tidur yang pas untuk Windi. Saat Wisnu hendak membuka baju Windi, Tiba-tiba saja Windi terbangun.


" I-isnu Apa yang sedang kamu lakukan?"


" Aku ingin mengganti baju mu. " ujar santai Wisnu


Windi membelalakkan matanya." A-aku bisa sendiri." Windi merebut baju yang berada di tangan Wisnu dan buru-buru masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaian tidur.


Apa dia malu? Padahal tadi siang aku sudah melihat tubuh nya. Batin Wisnu


Tak lama Windi keluar dengan pakaian tidur nya yang terlihat sedikit menerawang. Wisnu meneguk kasar Saliva.


Tahan-tahan kau harus menahan sampai besok malam. Batin Wisnu


Wisnu mengambil baju tidur nya dan mengganti nya di ruang ganti


Tak lama ia keluar, Ia melihat Windi yang masih terjaga. " Ada? Kenapa belum tidur? "


Windi hanya diam saja, Wisnu berjalan menuju sisi ranjang lain. Ia berbaring dan merentangkan tangannya. " Kemari la." Dengan Patuh Windi ikut berbaring di sebelah Wisnu dan meletakkan kepala dia tangan Wisnu sebagai bantalnya. Windi memiringkan tubuhnya dan menyelusup kepalanya di dada bidang Wisnu untuk mencari kehangatan dalam pelukan Wisnu.


Wisnu memeluk tubuh Windi, dan meletakkan kepala nya di pucuk kepala Windi. " Tidur lah aku akan memeluk sepanjang malam." Ujar Wisnu seraya memberikan kecupan lembut di pucuk kepala Windi dan menghirup dalam-dalam aroma rambut Windi.


Tak lama Windi sudah tidur pulas namun Wisnu belum tidur sama sekali. Ia masih memikirkan perkataan Benny yang mengatakan kalau Refa bisa saja bertindak nekat.


Aku aku tidak akan membiarkan siapapun merebut mu dari ku Karena kamu hanya miliki ku seorang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2