Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Urgent


__ADS_3

Seusai Makan Siang Windi dan yang lain nya kembali ke kantor, Selama di perjalan Windi memilih hanya diam menatap keluar Jendela. Ia merasa bahwa akan segara merasa hari terberat nya tapi ia tidak tau itu kapan dan bagaimana. Semua nya terasa begitu jelas di perasaan nya.


Panji yang berada di sebelah bangku supir melirik ke arah Windi dari spion depan. Ia sebenar nya tidak tega melihat Istri Tuan nya lebih banyak melamun dan diam jika hanya tinggal diri nya sendiri. Ia ingin mengatakan nya tapi ia sudah terikat janji dengan Tuan nya, Untuk tidak mengatakan apa pun.


Maaf kan saya Nona. Batin nya,


Sesampai nya di kantor, Windi segera turun dari mobil. Ia berjalan berdampingan dengan Panji. Tak lama ia turun mobil Refa dan Dito juga sudah tiba Kantor. Windi memilih berjalan terlebih dahulu ke ruangan nya, Ia merasa sangat tidak enak sekali badan nya. Tapi ia tidak lihat ke orang-orang sekitar nya agar tidak ada yang mengakhawatir kan diri nya.


Di dalam ruangan nya Windi duduk di sofa menyandar punggu nya yang terasa sangat pegal dan lelah sekali, Tangan nya memijat pelan pelipis mata nya yang terasa sangat pusing dan berat.


Tok..Toktok...Tok...


"Masuk," Windi terlebih dahulu mentralisirkan diri nya terlebih dahulu agar ia tidak terlalu tampak Pucat.


"Maaf Nona, Ada teman anda yang ingin bertemu dengan mu." Ujar Sopan Panji.


Kedua alis Windi berkerut bingung. "Teman?" Tanya Windi memastikan.


"Iyah Nona, Beliau menunggu anda di ruang tunggu Nona. "


"Apa kau tau dia siapa?" Tanya Wanda.


"Saya mengenal beliau, Beliau adalah salah satu kolega kita di perusahaan yang tuan Refa pegang. Ia Tuan Rio Atmaja. " Ujar Panji.


"Rio?" Windi tampak tidak asing dengan nama yang di sebut kan Panji.


"Iya Nona."


"Baik lah, Suruh dia masuk."


"Permisi nona." Panji sedikit menundukkan punggung nya sebelum keluar dari ruangan Windi.


Tok..Toktok..tok..


"Masuk."


Panji dan pria yang bernama Rio itu masuk ke ruangan Windi. Ternyata Rio itu, Tapi ada apa dia datang ke sini?


"Kau boleh kembali ke ruangan mu." Ujar Windi menatap sekilas ke arah Panji.


"Baik nona, Saya permisi." Ujar Panji.


"Sila kan duduk."


Kini di ruangan itu hanya terdapat Windi dan Rio, Ia menatap ke arah Rio yang duduk tepat di samping nya. "Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Windi dengan Formal, Rasa nya canggung sekali berbicara santai dengan nya. Apalagi jika Rio termasuk Teman nya sangat jarang sekali berbicara dengan Windi, Terlebih khusus Rio merupakan teman seangkatan nya yang berbeda jurusan dengan nya.


Terakhir ia bertemu dengan nya saja sudah hampir Satu tahun yang lalu ketika ia datang ke acara Reouni Kampus nya. Saat itu ia sempat melirik ke arah Rio tapi tidak menyampa nya, Hingga Insiden itu terjadi pun Rio hanya diam saja tidak melakukan apa pun dan sekarang ia tiba-tiba datang ke kantor suami nya untuk bertemu dengan nya? dan mengaku sebagai teman nya?


Rio menatap Intens ke arah Windi, Ada rasa kagum di hati Rio melihat penampilan Windi yang begitu Anggun dan mempesona.


Windi merasa sangat tidak nyaman sekali dengan tatapan Rio yang begitu Intens. "Maaf? "


"Ah iyah, Aku rasa, Aku tidak perlu memperkenal kan diri ku lagi pada mu."


"Ehm?" Windi sangat bingung dengan situasi yang saat ini ia hadapai.

__ADS_1


"Maaf sebelum nya, Apa nanti malam kau sibuk?" Tanya nya lagi.


"Ha?"


"Aku ingin mengajak mu makan malam." Ujar Rio.


Astaga dia datang ke sini hanya mengajak ku malam bersama nya? Sungguh konyol.


"Ehm maaf Tuan Rio, Saya tidak bisa setiap malam saya punya urusan yang sangat penting bagi Hidup saya. Saya tidak bisa meninggal kan urusan itu begitu saja." Ujar jujur Windi. Ia mengatakan yang sebenar nya, Setiap selesai pulang kerja ia akan datang mengunjungi Wisnu, Walau hanya sekedar menyapa nya saja. Jika di malam Weekand maka Windi akan menggantikan Mama Fitri untuk menjaga Wisnu.


"Sangat penting?" Rio sangat tidak percaya dengan apa yang dikata Windi. Emang urusan penting apa? Hingga membuat Wanita itu menolak ajak an nya.


"Tentu saja." Windi tersenyum menanggapi pertanyaan Rio.


"Bahkan Jika makan malam nya membahasa proyek miliyaran?" Tanya Rio sekeli lagi.


Windi terkekeh kecil mendengar perkataan Rio, Windi dapat menebak bahwa Rio pasti akan terus memaksa nya."Tentu saja Tuan, Bahkan Uang yang miliaran pun tidak ada tandingan nya dengan urusan penting saya. " Ujar Windi dengan setenang mungkin.


"Kau yakin?"


"Iya... Sangat Yakin."


Rio tampak terdiam, Ia tidak tau lagi harus mengatakan nya. Ia bahkan menawar kan proyek ratusan miliyaran pun Windi tetap tidak tertarik dengan ajakan nya.


Suasana tampak lebih canggung lagi, Kedua nya tidak mengeluar kan suara apa pun. Windi bergerak tidak nyaman, Ia ingin sekali menyuruh Rio untuk segara pergi. Tapi ia tidak ingin nama baik Perusahaan suami nya tercoreng karena diri nya.


"Hah Baik lah, Bagaimana jika besok siang?"


Astaga, Kenapa dia sangat memaksa sekali sih.


Terdengar suara helaan kasar dari Rio. "Ya sudah kalau begitu, Aku permisi." Rio bangun dari posisi nya dan mengancing kan Jas nya yang sengaja ia buka.


Melihat itu Windi tersenyum puas, Tetapi tidak ia perlihat kan. "Ah iyah? Tidak ingin minum kopi dahulu Tuan?" Tawar Windi.


"Tidak Usah, Saya masih ada urusan yang lebih penting." Ketus nya.


"Oh iyah, Sila kan Tuan."


Cih.


Setelah kepergian Rio Windi tersenyum lega, Ia benar-benar sangat pusing dan Lelah.


***


Aera Crop


Chitt.


Mobil Rolles Royce Berwarna Hitam, Terparkir dengan sempurna di Lobby Utama Aera Crop.


"Tuan Kita sudah sampai." Ujar Angga Sekertaris Pribadi Jio.


Jio hanya diam, Mata dan konsetrasi nya hanya terpaku pada Wanita cantik yang sedang tidur di dekapan nya. Ia seolah terpaku dengan wajah cantik nya. Bulu mata yang lentik, Alis yang tidak terlalu tebal dan Hidung nya yang mancung, Semakin menambah ketertarikan tersendiri untuk Jio.


Angga yang menatap Tuan nya dari kaca spion depan, Ia tersenyum tipis melihat Tuan nya yang begitu terpaku dengan wajah cantik dari kakak klien nya. "Tuan?" Panggil Angga.

__ADS_1


Namun masih sama, Jio sama sekali tidak merespon Angga.


"Tuan Jio?" Angga menaik satu oktaf suara nya.


Jio tersentak mendengar Suara Angga yang sedikit meninggi. Mata nya beralih menatap tajam ke arah Angga. Melihat tatapan tajam Jio membuat Angga menciut.


"Maaf tuan, Kita sudah sampai." Ujar Angga.


"Ya, Aku sudah tau. Kau tak perlu meninggi kan suara mu." Ketus Jio.


Iya bagaimana aku tidak meninggi kan suara ku Jika Tuan saja tidak mendengar kan Aku yang berulang kali memanggil mu Tuan Jio. Batin Angga.


"Maaf Tuan."


"Ehm.."


"Tuan? seperti nya Nona Wanda tertidur, Biar saya saja yang menggendong nya." Ujar Angga.


Jio melotot garang ke arah Angga." Mau mati kau?!" Geram Jio.


Bukan nya takut Angga justru tersenyum geli melihat Tuan nya yang belum apa-apa saja sudah posesif.


"Ehm, Maaf Tuan. Kalau begitu biar saya saja yang menggendong nona Rara Tuan."


"Ya sudah." Tanpa memikirkan apapun Jio langsung mensetuji nya, Padahal jika Rara Tertidur di mobil pasti Tuan Jio akan melarang siapapun menggendong Rara, Tapi kali ini Jio langsung mengijin kan nya.


Cih bilang saja kau ingin mengambil kesempatan.


Angga membuka Seat belt nya, dengan hati-hati ia mengambil alih Rara ke gendongan nya. Sedang kan Jio terlebih dahulu lalu membuka pintu di sebelah nya, Ia juga dengan hati-hati mengangkat tubuh Wanda. Ketika menggendong Wanda Jioa sama sekali tidak merasa keberatan justru ia merasa seperti menggendong Kapas.


Jio berjalan dengan pelan takut membangun Wanda yang tampak sama sekali tidak terganggu dalam tidur nya, Ia justru semakin mendusel dan menenggelam kan wajah nya ke dada bidang Jio.


Ehmm, Ini Rasa nya sangat nyaman sekali. Gumam Wanda dalam tidur nya.


Jio yang mendengar gumam an Wanda membuat nya tersenyum kecil. Gadis nakal.


Sepanjang menuju ruangan nya, Para karyawan nya terus memperhatikan Jio yang menggendong Wanda. Mereka semua merasa terheran-heran melihat Bos nya yang terkenal cuek dan dingin kini menggendong seorang Wanita? Dan Apa itu? Bos mereka tersenyum kecil yang jarang sekali mereka lihat.


Wah? Siapa itu?


Apakah dia calon Nyonya Baskara?


Seperti nya Pak Jio sudah melupakan mantan Istri nya.


Semoga saja Calon Istri Pak Jio Baik.


Mereka semua terus saja saling berbisik dan menebak-nebak siapa wanita yang berada di gendongan Jio saat ini. Sedangkan Jio Hanya diam mendengar bisikan para karyawan nya, Bukan nya marah ia justru sangat senang mendengar karyawan nya memanggil Wanda dengan sebuatan Nyonya Baskara. Bagi nya itu sangat cocok sekali.


.


.


.


.

__ADS_1


Hellow Selamat malam,


__ADS_2