
Windi berdiri di depan cermin dan menatap penampilan nya.
" Selesai." Ujar Windi dengan puas akan penampilan nya.
" Lebih baik aku Segara keluar, Agar dia tidak menunggu ku terlalu lama." Gumam Windi
Windi mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar nya. Saat menutup pintu kamarnya ia melihat Wisnu yang juga barengan keluar kamarnya. Ia menatap penampilan Wisnu yang biasa saja namun terlihat sempurna ditambah dengan ketampanan nya.
Tuhan ciptaan mu yang satu ini sungguh sempurna. Batin Windi
Mata Windi masih terus menatap ke arah Wisnu yang berjalan ke arahnya. Ia tidak sadar kalau Wisnu saat ini sudah Berdiri di hadapan nya.
" Ayo." Ajak Wisnu, Namun Windi masih diam dan menatap kagum ke arah Windi.
Ada apa dengannya? Kenapa dia hanya diam saja dan menatap ku seperti itu?
" Windi." Wisnu melambai-lambai kan tangannya di Wajah Windi. Namun Windi masih tetap sama dia hanya diam saja.
Wisnu menghela nafas nya sejenak, sampai ia memukul pelan bahu Windi. " Windi."
Hal itu sontak membuat Windi kaget dan salah tingkah di hadapan Wisnu." A-ada apa?" Tanya gugup Windi.
" Ayo kita pergi sekarang." Ujar Wisnu
" O-oh ayo." Windi menganggukkan kepalanya dan tersenyum canggung menatap Wisnu. Ia pergi duluan meninggalkan Wisnu yang masih berdiri menatap bingung ke arah Windi.
Huh! Dia sungguh aneh sekali.
Wisnu menyusul langkah Windi yang sudah berjalan duluan di depannya.
" Kita makan siang di luar saja ya, Nanti malam baru kita masak." Ujar Wisnu ketika ia sudah masuk ke dalam Mobil
Windi yang mendengar itu menatap ke arah Wisnu. " Baik la." Ujar Windi seraya tersenyum menatap Wisnu
" Kamu mau makan dimana?" Tanya Wisnu
" Ehm.." Windi berfikir makanan mana yang paling enak menurut lidah nya. Sampai ia teringat akan makan pecel Ayam dan kol goreng yang sangat nikmat dari warung mang Ucup.
" Kalau boleh aku ingin makan pecel ayam yang di pertiga jalan Sekar." Ujar Windi menatap Wisnu dengan tatapan Puppy eyes nya.
Wisnu yang melihat mata Windi membuat nya gemas." Baik la." Wisnu menyalakan mobilnya dan meninggalkan Apartemen mereka.
Selama di perjalanan keduanya hanya saling diam. Windi memilih menatap ke arah luar jendela, sedangkan Wisnu fokus nyetir.
Ting! Sebuah pesan chat masuk dari ponsel Windi, Hal itu membuat peralihan mata Windi berubah menatap ke arah ponsel nya. Bukan hanya Windi saja yang terlatih kan Namun Wisnu juga teralihkan menatap sekilas ke arah Windi.
Windi merogoh ponselnya dan mengecek siapa yang mengirimkan nya pesan.
Sebuah notifikasi dari Ken, Kaka Sulung dari Windi atau kakak laki-laki satu-satunya Windi maupun Wanda.
Kaka? Tumben sekali ia mengirim kan pesan chat biasanya dia akan menelfon untuk menanyakan kabar ku.
" Baby girl.."
" Iyah big brother.."
" Apa kau sudah tidak menyayangi Kaka mu lagi Hem?"
" Tentu saja aku sangat menyayangimu Big Brother. Kenapa kamu menanyakan hal konyol seperti itu Big Brother?"
__ADS_1
" Kamu menikah begitu saja.. tanpa mengenalkan calon mu kepada ku! Kamu tega sekali melupakan aku." Ken menambah emot sedih agar lebih dramatis.
" Aku menikah juga diluar dugaan ku Big Brother.. Maaf kan aku yah... Kamu jangan bersedih seperti itu... Kamu pasti terlihat jelek... Jika seperti itu."
" Aku akan tetap tampan meskipun wajah ku sedang bersedih."
" Hah iya, Big Brother ku memang yang paling tampan dari siapapun."
Windi dan Ken terus mengirimkan pesan chat Singkat. Hal itu membuat Wisnu bertanya-tanya siapa yang mengirimkan pesan chat itu.
Kenapa dia terlihat bahagia sekali ? Apa itu dari Refa? Hingga itu membuat nya bahagia? Batin Wisnu.
" Ehmm..." Suara deheman Wisnu membuat Windi beralih menatap nya.
" Kamu batuk?"
" Tidak!" Ujar Wisnu seraya menggeleng kan kepalanya.
" Lalu? "
" Tidak ada! "
" Oh baiklah." Windi mengangguk-ngangguk kepalanya dan kembali fokus kepada pesan chat dari Ken.
Ternyata Benar itu pesan dari Refa. Secinta itu kah dia kepada Refa? Hingga dia tidak memperdulikan aku sebagai suaminya yang ada di samping nya! Wisnu menghembus kan kasar nafasnya dan mencekram kuat stir mobilnya.
Windi yang mendengar helaan nafas kasar dari Wisnu membuat peralihan nya menatap Wisnu." Apa kamu baik-baik saja?"
"Ehm." Wisnu hanya menjawab sekenanya.
Windi Mengerutkan keningnya heran. Ada apa dengannya? Kenapa dia berubah menjadi dingin?
Hening!
Hening!
" Ah isnu aku ingin mengatakan sesuatu." Ujar Windi setelah memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
" Kata kan lah."
" Kakak ku akan datang bulan depan. Bolehkah aku pergi menemui nya?" Tanya Windi
" Kenapa kamu bertanya? jika kamu ingin pergi menemui nya ia pergi saja. Tapi harus di antara oleh Supir." Ujar Wisnu
" Tentu saja aku harus bertanya. Kamu kan suami ku... Setiap tindak yang aku lakukan harus ijin dari kamu.. Bagaimana pun kamu bertanggung jawab untuk ku.. " Ujar Windi seraya tersenyum ke arah Wisnu yang sedang fokus menyetir.
" Dan terimakasi." Sambung Windi
" Iya...Apa kembaran mu yang akan datang?" Tanya Wisnu
Windi menggelengkan kepalanya dan sekilas menatap Wisnu." Bukan... Kaka Tertua ku."
" Oh ya? Kamu punya Kaka lagi selain Kembaran mu?" Tanya Wisnu Penasaran.
Heh! Dasar Wisnu pelupa padahal kan dia udah pernah dengar dari papanya kalau Windi punya kakak laki-laki. Hadeh.
"Punya! Dia pria tertampan di dunia ini setalah Papa Ku... Gadis-gadis sangat mengidolakan nya. Namun belum ada yang mampu menaklukkan hatinya." Ujar Windi
" Siapa dia? "
__ADS_1
" Ha? Apa nya siapa? " Tanya Windi bingung.
Wisnu mencibik kesal mendengar pertanyaan Windi." Nama kakak mu."
Windi menganggukkan-nganggukk an kepalanya." Namanya Ken Libarnio Winata. " Ujar Windi sambil tersenyum membayangkan wajah tampan kakaknya.
" Dia berkarakter Sangat cuek sekali terhadap orang yang baru di kenalnya... Bahkan ia di kenal sebagai pria lemari es di Amsterdam. Tapi dia di depan ku maupun Wanda...Ia pria yang hangat sekali... Ia rela melakukan apapun...Asalkan adik-adiknya Bahagia.. Ia akan maju di depan ketika ada yang menyakiti adiknya." Windi tersenyum bangga menceritakan tentang kakaknya kepada Wisnu.
" Ah iya aku.. Bisa di bilang sifatnya seperti mu..." Ujar Windi seraya menatap ke arah Wisnu dan tersenyum.
Wisnu Mengerutkan keningnya dan sekilas menatap Windi dengan tatapan Bingung." Seperti diriku? Kenapa bisa?"
" Iyah karena sifat kalian yang sama."
" Bagaimana bisa?"
" Tentu saja bisa. Kalian berdua orang yang sangat dingin, Cuek, dan pendiam tapi ketika di depan keluarga kalian berubah menjadi lelaki yang humble dan perhatian." Ujar Windi seraya tersenyum ke arah Wisnu.
Sedangkan Wisnu yang mendengar itu membuat salah satu bibir nya terangkat menciptakan senyuman samar yang nyaris tak terlihat.
" Aku tidak seperti itu..Hanya saja aku ingin keluarga ku saja yang mengetahui sifat ku." Ujar Wisnu
Windi yang mendengar itu mencibik kesal." Hah alasan."
" Terserah kau saja." Ujar Wisnu
" Ehm... Apaa menurut mu aku seperti yang kamu bilang?" Tanya Wisnu
" Iyah menurut ku seperti itu... Di luarnya saja cuek dan pendiam aslinya kamu orang yang penyayang dan lembut."
Wisnu yang mendengar perkataan Windi membuat pipi nya sedikit merona.
" Hanya saja... kamu sedikit cuek kepada ku." Ujar Windi
" Tidak bukan seperti itu!... Aku lagi belajar memberikan perhatian yang penuh untuk mu, menyayangi mu dan mencintai mu Windi." Ujar Wisnu tegas dan masih fokus menyetir.
" Ha? " Sekarang Wajah Windi yang merona mendengar perkataan Wisnu.
Suasana berubah menjadi canggung setalah perkataan Wisnu. Tak lama kemudian mereka sudah tiba di warung nya mang Ucup.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai! Semuanya.. Jangan lupa dukung an Like, koment, vote, dan shere.... Terimakasih.... Salam sayang untuk semuanya...