
Pagi-pagi sekali Windi terbangun dari tidurnya, Ia merasa kembali nyenyak dalam tidur nya setelah hampir dua Minggu ia merasa tidak nyaman dengan tidurnya.
Mungkin karena efek Wisnu yang selalu memeluknya sepanjang malam yang membuat tidur nya lebih nyenyak.
Selesai membersihkan diri Windi beranjak menuju dapur untuk membuat kan sarapan spesial untuk Wisnu. Windi yang sangat serius hingga tidak menyadari sedari tadi ada yang terus memperhatikan setiap gerak-gerik nya yang begitu cekatan.
Hingga Windi dikejutkan dengan tangan kekar yang melingkar di pinggang ramping nya.
"Wisnu!" Pekik Windi.
Mendengar Istri nya memanggil namanya tanpa embel-embel memanggil dirinya dengan nama kesayangan membuat nya sedikit gemas dan kesal.
Wisnu berulang kali, menghujami ciuman di pucuk kepala Windi. Hal itu membuat Windi merasa tidak nyaman,
"Isnu berhenti lah mengganggung ku.. Aku sedang membuat sarapan untuk mu.."
"Hmm.." Wisnu mendusel-dusel leher jenjang Windi yang begitu candu berat untuk Wisnu.
"Hm...Isnu hentikan.."
"Sst...Baby biarkan seperti ini saja..." Wisnu terus mendusel-dusel di leher Windi. Sedangkan Windi semakin tidak bisa fokus dengan acara memasak nya.
Cup!
Setelah mencium lembut leher Windi hingga membuat bercak di sana, Wisnu langsung meninggalkan Windi yang hanya diam mematung melihat Wisnu yang langsung meninggalkan nya begitu saja.
Sial! awas saja kau! Batin nya seraya tersenyum licik.
.
.
.
Seusai sarapan Wisnu berangkat ke kantor nya, Kali ini akan berjaga dua kali lipat ekstra untuk melindungi istri nya. Bukan hanya Wisnu saja yang mengetat kan ke aman Windi tetapi juga dengan James yang semakin ketat menjaga ke aman putri nya dari jarak jauh.
Sedangkan Wanda ia sudah menyiapkan rencana yang begitu rapi untuk memancing musuh keluar, Sebenarnya ia sudah tau siapa musuh sebenarnya tapi, Ia lebih memilih bersabar dan tidak berbuat gegabah. Ia ingin sedikit memberikan pelajaran yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh pengkhianatan.
Refa yang harus nya berada di Indonesia dua Minggu lagi harus segara kembali ke Korea, Karena ada sedikit masalah dengan proyek yang sedang ia tangani. Hari di mana ia mendapat kabar tentang proyek, Ia langsung terbang ke Korea menggunakan pesawat pribadi keluarga nya.
Selain itu, Proyek yang sedang di tangani Wisnu beberapa Minggu terakhir mencapai kata sepakat oleh para investor dan perwakilan dari China. Kini Status proyek yang sedang ia tangani sudah mulai beroperasi dengan baik.
Saat jam makan siang Windi berencana ingin mengunjungi Wisnu, Ia benar-benar merasa bosan di rumah. Terlebih lagi ia harus berhenti dari pekerjaannya, Tentu nya atas perintah dan paksaan dari Papa dan juga Wanda. Sebenarnya Windi masih ingin bekerja tapi karena permintaan Papa dan Kaka nya Membuat dirinya tidak bisa menolak.
Kini Windi menatap diri nya dari pantulan cermin, Make Up yang tidak terlalu tebal.
Entahlah rasanya ia ingin menggunakan celana daripada alih-alih menggunakan dress.
Ia tersenyum menatap pantulan dirinya yang sangat memuaskan. Ia meraih tas nya. Namun langkah Windi terhenti ketika mengingat perkataan kakaknya.
Bawa lah ini selalu, Kita tidak tau sebanyak apa bahaya ya g akan mengintai diri mu.
Entah kenapa perkataan Wanda membuat nya sedikit terganggu. Ia melirik benda itu sekilas, lalu menatap ke arah gelang yang di berikan Wisnu pada nya tiga hari yang lalu.
Pakai lah ini, Gelang ini akan memberikan sinyal bahaya kepadaku ketika kamu menekan nya. Jangan pernah melepaskan gelang ini ketika kamu berada di luar.
Windi menghela nafas nya, Seperti nya setelah kejadian kemarin keluarga nya akan sangat posesif untuk melindungi dirinya.
Ia memutuskan untuk membawa benda yang di berikan Wanda dan juga memaki gelang yang di berikan oleh Wisnu.
.
.
.
Dengan gaya anggun dan casual, Berjalan ke arah Lobby Apartemen. Tidak lupa para bodyguard yang bertugas mengungkiti kemana Windi akan pergi, Sekitar ada Lima orang yang ikut dengan Windi hanya untuk pergi ke kantor Wisnu. Sebenarnya ia merasa sangat kesal, karena sikap Wisnu sudah, Sangat berlebihan sekali.
Apa-apaan ini? Kenapa dia mengirim banyak bodyguard hanya untuk mengawal ku saja? Grutu Windi dalam hati.
Salah satu Bodyguard membukakan pintu untuk Windi. Windi berada di mobil pertama dimana, Di depan ada seorang supir dan satu orang bodyguard di samping. Sisanya mengikuti mobil Windi dari belakang.
Selama di perjalanan Windi hanya memainkan ponselnya. Ia mengirimkan pesan untuk Wisnu kalau ia akan datang ke kantor nya.
^^^To Husband:^^^
^^^Shalom Ganteng nya aku😗^^^
From Husband:
__ADS_1
Shalom Cantik ku❤️
Apa kau merindukanku?
Bagaimana hari mu tanpa ku?
Apa kau ingin mengatakan bahwa
kau tidak bisa jauh dari ku?
Windi yang menerima seruntutan pesan dari Wisnu membuat kedua bola matanya membelalak, Ia bahkan hampir tersedak oleh Salivanya. Saat akan ingin membalas pesan Wisnu, Sudah ada masuk lagi pesan dari Wisnu.
From Husband:
Kenapa belum di balas cantik ku?
Windi tersenyum kecil membaca pesan Wisnu.
^^^To Husband:^^^
^^^Isnu bisakah kamu tidak percaya diri sekali?^^^
^^^Tapi kamu benar aku sangat merindukan mu.^^^
^^^Tentu saja hari ku sangat-sangat ^^^
^^^membosankan tanpa mu🥺^^^
From Husband :
Jika aku tidak percaya diri maka aku cemburu hehehe,
Ulu-ulu Cantik ku ternyata sangat merindukan ku..
Baik lah Kalau begitu aku akan menjemputmu untuk makan siang bersama, Bagaimana kamu mau?
^^^To Husband :^^^
^^^Isnu kamu belajar dari siapa? kenapa sekarang mulut manis sekali, membuat ku semakin mencintai mu.^^^
^^^Tidak usah Isnu aku akan mengunjungi kantor mu untuk makan siang bersama.^^^
From Husband :
mencintai mu❤️
Tapi tunggu kamu bilang apa? Kamu mau ke kantor ku?
^^^To Husband:^^^
^^^Iyah, Aku benar-benar sangat^^^
^^^ merindukan mu🥺^^^
From Husband:
Baby, Kenapa kamu baru bilang? Jika kamu mau kesini aku bisa menyuruh Panji untuk menjemput mu baby.
^^^To Husband:^^^
^^^Tidak usah Isnu, Lagian Para bodyguard mu sudah mengawal ku seperti seorang ratu.^^^
From Husband:
Hm.. Kamu benar, Kamu adalah ratu di hati ku...
Windi hanya cekikikan membaca pesan Wisnu yang menurutnya sudah seperti anak remaja yang sedang kasmaran
Tiba-tiba saja mobil yang ia naiki berhenti mendadak membuat badan condong ke depan, untuk saja ia menggunakan selt bell. Jika saja ia tidak menggunakan nya sudah di pastikan Kepala nya akan terbentur.
"Ada Apa?"
"Maaf nona, Membuat anda terkejut tapi sepertinya kita menabrak sesuatu. "
Tak lama terdengar ketukan di pintu depan, Rupanya bodyguard yang mengikuti mereka menghampiri mobil mereka.
"Hanya batang pohon yang menghalangi jalan,"
Windi menganggukkan kepalanya, sedikit kemudian ia tersadar kalau sekililing sangat sepi dan hanya ada Mobil mereka saja.
"Tunggu! Berhenti." Teriak Windi.
__ADS_1
Pengawal yang ingin mengangkat batang pohon itu menghentikan aktivitas nya. Mereka menatap ke arah Windi yang terlihat sangat waspada. Mata tajam nya tak sengaja menatap ke arah seseorang yang sedang bersembunyi di balik pohon.
"Ada apa nona?"
"Jangan angkat batang itu! Cepat kembali ke mobil Sekarang!" Perintah Windi.
Para pengawal itu menatap satu sama lain dengan tatapan bingung mendengar ucapan Windi.
"Tapi nona."
"Astaga! Cepat lah kembali ke mobil mu." Perintah Windi yang tidak ingin di bantah.
Mereka menganggukkan kepalanya, Saat akan berbalik tak sengaja salah satu dari mereka menginjak sesuatu hingga melesat sebuah pisau yang hampir saja melukai lengannya.
Melihat itu mereka semua langsung membentuk formasi melindungi mobil Windi.
Sial!
Windi bisa menebak ada seseorang yang lagi-lagi menginginkan nyawa nya.
Ia melirik ke arah gelang di tangan nya. Dengan ragu-ragu ia langsung menekan tombol di gelang itu. Tidak lupa ia langsung memutar cincin di jari tengahnya berlawanan ke arah jarum jam. Hingga membuat Windi langsung mengirimi dua sinyal Argent sekaligus.
"Nona sebaiknya anda di dalam mobil saja, Kita akan mengulur waktu sampai bantuan datang."
Windi hanya mengangguk kepalanya Mengerti, Ia tidak ingin membuang-buang tenaganya untuk melawan mereka. Ia akan duduk manis di dalam mobil sampai bantuan datang.
Tapi sepertinya takdir sedang tidak bersama nya, Ia kejutkan oleh gedor di pintu nya. Supir yang bersama nya di dalam mobil menggelangkan kepalanya.
Mata Windi menatap ke arah supir itu, dan mengerti dengan apa yang di katakan dari tatapan matanya. Tapi Windi tidak bisa diam saja. Kesabaran nya semakin menepis.
Ia merogoh sesuatu dari tasnya, Ia menatap lekat benda itu. ia perlahan menghembus nafas nya. Dan memejamkan mata nya.
Windi membuka salt bellnya. "Buka pintunya!" Ujar Windi dengan dingin.
"Tapi nona.."
"Buka pintunya sialan!" Teriak Windi, Ini bukan Windi melainkan Wilhelmina yang mengambil alih diri Windi. Jika Windi dalam bahaya Wilhelmina akan menggantikan nya dan menghabisi seseorang yang berniat mencelakai Windi.
Matanya yang selalu menatap teduh kini berubah menjadi tajam dan memerah menahan amarahnya.
Supir yang bisa merasakan aura berbeda dari Windi Membuat nya terpaksa membuka pintunya.
Kaki jenjang Windi turun dari mobil Membuat seluruh perhatian teralih kan olehnya.
"Nona akhirnya kau menyerah kan nyawa mu sendiri."
Sedangkan Windi yang mendengar perkataan bajingan Sialan itu tersenyum devil.
Mata tajamnya menatap ke arah para bajingan yang telah berani mengusiknya. Dirinya yang masih mempunyai dendam kini keluar untuk membalaskan dendam kepada siapapun yang berada di hadapan nya.
"Dasar manusia bodoh! Kalian lah yang akan mati di tangan ku!" Desis Windi tidak lupa sumringah kick di wajah nya.
The game starts, bastards. Damn it!
.
.
.
.
.
Maaf banget kalau slow Update,🙏
.
.
.
.
double Up?
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)