Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Cari dia


__ADS_3

Pukul 05 : 30


Wisnu terbangun dari tidurnya karena suara dering ponsel nya yang sangat mengusik telinga nya.


Astaga siapa yang pagi-pagi begini menelfon ku.


Wisnu melirik ke arah Windi yang masih tertidur dengan sangat pulas, Seulas senyuman terpancar di wajah tampan Windi. Wajah Windi yang terlelap benar-benar membuat nya semakin jatuh cinta dengan Windi


Bahkan ketika ia tertidur pun wajah nya masih terlihat sangat cantik dan begitu menggemaskan sekali.


Saat Wisnu hendak mengecup kening Windi lagi-lagi Ponselnya berdering kembali.


Sial! Mengganggu saja! Jika tidak penting aku akan membunuhnya.


Wisnu dengan terpaksa melepaskan pelukannya dari Windi, Ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja nakas. Terlihat tiga panggil an tak terjawab dari Panji.


Panji? Tumben sekali ia menelfon ku sepagi ini jika tidak ada hal yang penting. Wisnu bangkit dari tidur nya berjalan keluar kamar menuju ruang kerjanya.


“ Halo Panji ada apa? Kenapa kau menelfon pagi-pagi sekali? Kau tidak tau aku masih tidur tapi kau sudah menelfon ku. “ Wisnu langsung memberikan ocehan kesal nya tanpa memperdulikan Panji yang akan mengatakan sesuatu Kepada nya. Karena jika itu tidak penting maka Panji tidak akan mungkin Mengganggu Waktu tidur tuan muda nya. Tapi ini sangat aneh sekali bagi Panji karena tidak biasanya tuan mudanya baru bangun dari tidurnya karena biasanya ia sudah bangun sejak setengah jam yang lalu tapi kenapa sekarang ia bangun lebih lambat?


Panji yang mendengar ocehan Wisnu membuat nya sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga nya agar tidak terlalu pengang.


Aish tuan muda belum apa-apa saja sudah berteriak apalagi kalau aku memberitahu tentang Redaf yang kabur.


“ Hei! Kenapa kau malah diam Saja Panji apa kau tidak mendengar perkataan ku."


" Halo tuan, Maaf mengganggu waktu anda tuan tapi saya harus memberitahu mu hal yang penting."


" Cepat katakan la."


" Tuan, saya mendapat kabar dari orang yang menjaga Redaf dia mengatakan kalau Redaf saat ini tidak ada di rumah sakit tuan."


"Sial! Bagaimana bisa?" Suara Wisnu meninggi mendengar perkataan Panji


Panji lagi-lagi harus menjauh kan Ponsel nya dari telinganya. " Saya tidak tau tuan, Tadi malam dia masih berbaring koma tapi tadi pagi sekitar jam 4 dia sudah tidak ada di atas kasur nya tuan, Kemungkinan terbesar nya ada yang membantu nya keluar dari rumah sakit tuan."


" Aish... Sial siapa yang telah berani mencampuri urusan ku.. Cepat cari Redaf secepatnya. "


" Baik tuan."


" Ehm.." Wisnu langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu Panji menjawab perkataan nya.


Berani sekali dia mencampuri urusan ku, Tidak akan ku biarkan dia akan hidup dengan tenang.


Wisnu melirik ke arah jam dinding nya yang hampir menunjukkan pukul enam pagi. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya ia mendapati Windi yang sedang duduk di atas ranjang yang sedang menatap nya.


" Baby kenapa kamu sudah bangun?" Tanya Wisnu ketika ia sudah duduk di atas ranjang


" Aku tidak mendapati mu di sebelah ku dan suara mu mengganggu ku Isnu. " Mata Windi melirik ke arah Wisnu.


Wisnu memeluk Windi dari samping." Maaf kan aku Baby kalau suara ku menganggu waktu tidurmu. " Wisnu mengusap lembut kepala Windi


Windi mendongakkan wajahnya menatap Wisnu yang sedang memeluknya. " Apa yang membuat mu berteriak sepagi ini Isnu?"


" Panji memberi tahu tentang pekerjaan yang membuat ku terkejut makanya aku berteriak."


Windi mengangguk paham dengan ucapan Wisnu. " Oh."


" Ah iya Apa tadi kata kamu kalau kamu tidak mendapati ku di sebelah mu berarti kamu tidak bisa tidur dengan nyenyak tanpa memelukku?"Wisnu menaik turunkan kedua alisnya menatap menggoda ke arah Windi.


" Ha? Ti-tidak bu-bukan itu Maksudku." Ujar gugup Windi


" Jadi bagaimana maksud mu Baby? Kata dengan jelas apa maksud mu?"


" Ehm... I-itu."


Ya tuhan apa yang harus aku katakan sebagai alasan. Batin Windi.


Wisnu mesum mulai merekah di bibir Wisnu ia mencondangkan Tubuhnya agar lebih dekat dengan Windi.


" I-isnu A-apa yang ingin kamu lakukan?" Ujar gugup Windi.


Wisnu memberikan tatapan mesum dan menggoda." I-isnu berhenti menatap ku dengan ta-tapan seperti itu." Windi sangat tau sekali dengan tatapan mesum Wisnu.

__ADS_1


Wisnu mendorong tubuh Windi hingga kembali berbaring di kasur, Kini tubuh Wisnu sudah berada di atas tubuh Windi. " I-isnu Apa yang ingin kamu lakukan."


Wisnu menghiraukan perkataan Windi ia semakin memajukan Wajahnya matanya terkunci ke Sesuatu yang membuat nya sangat memabukkan dan candu akan akan sentuhan nya.


Wisnu mengecup lama bibir Windi yang merah muda, Ia menahan lama bibir nya ia ingin tau reaksi Windi. Tapi semakin lama ia menempelkan bibirnya semakin ingin dia ******* nya.


Ciuman yang awalnya hanya sebuah kecupan lama berakhir dengan ***** an. Wisnu mengecap bibir Windi, tetapi Windi hanya menutup bibir nya saja. Wisnu yang gemas menggigit pelan bibir Windi agar terbuka. Bibir Windi sedikit terbuka dan Wisnu tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus itu. Ia langsung ******* bibir Windi dengan rakus namun tidak di penuhi nafsu.


Tangannya yang semula diam kini berada gumpalan bola milik Windi, Ia mulai meremas nya pelan gumpalan bola tersebut.


" Hmmphh" Windi yang semula nya menolak setiap yang di lakukan Wisnu tapi perlahan-lahan ia menerima sentuh-sentuhan yang di berikan Wisnu. Mereka berdua terbawa suasana.


Wisnu yang merasakan Windi hampir kehilangan nafasnya membuat nya melepaskan ciuman hangat mereka, Ia menempel kan dahi mereka berduaan. Tangannya yang satu menahan tubuh nya agar tidak sepenuhnya menindih tubuh Windi.


" Kau menikmati nya Baby." Sebuah senyuman mesum terlihat jelas di wajah Wisnu.


Windi yang mendengar perkataan Wisnu membuat rona merah di pipinya bersemu disertai rasa panas di kedua pipinya.


" Ti-tidak."


" Benarkah?"


" Te-tentu saja."


" Baik la aku akan melakukan nya lagi dan kita lihat apa kamu akan tergoda tidak." Saat Wisnu hendak memajukan kepala nya Windi menahan nya.


" I-isnu menyingkir la a-aku ingin mandi." Kedua tangan Windi berada di dada bidang Wisnu untuk menahan tubuh Wisnu.


" Ini masih sangat pagi sekali Baby."


" Ta-tapi aku menyiarkan sarapan mu Isnu!"


" Baik la aku akan melepaskan mu asalkan kamu mencium ku." Wisnu menunjuk bibirnya.


" Ha?"


" Ini." Wisnu memajukan bibirnya dan sudah bersiap untuk di cium Windi.


" Yang di sini belum." Wisnu menunjuk Dahinya


Windi memutar bola jengah nya tapi ia tetap memberikan kecupan di dahi Wisnu. " Sudah sekarang boleh aku mandi?"


" Ehm baik la." Wisnu semakin menuntut senyuman manis nya setelah mendapat kan ciuman dari Windi. Ia duduk di tepi ranjang nya. Ia menatap heran ketika melihat Windi yang tidak masuk ke kamar mandi justru keluar dari kamar nya.


" Baby? kau mau kemana? " Tanya Wisnu dengan bingung


Windi membalikkan badannya. " Tentu saja ingin mandi."


" Tapi kenapa kamu keluar? kamar mandi nya ada di sana Baby." Wisnu menunjuk ke arah kamar mandi yang berada di sudut Ruang kamar Wisnu.


" Isnu kalau aku mandi di sini kamu mandinya pasti akan lama jadi aku akan mandi di kamar ku." Ujar Windi


" Tidak akan lama kalau kita mandi bersama baby."


Windi membulatkan matanya mendengar perkataan Wisnu." Tidak! cepat sana mandi hari semakin siang, Kamu nanti bisa terlambat ke kantor." Windi menarik tangan Wisnu dan mendorong Pelan tubuh Wisnu untuk masuk ke dalam kamar mandi.


" Tapikan.." Perkataan Wisnu terpotong karena Windi yang sedang melotot kan matanya.


" Huh baik la." Wisnu masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan sedikit keras. Hal itu membuat Windi terkejut dan tersentak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Wisnu yang sudah seperti anak kecil.


Dia bukan seperti isnu melainkan dia seperti Bayi besar. Grutu Windi.


Windi masuk ke ruang ganti dan menyiapkan pakaian untuk Wisnu. Selesai menyiapkan pakaian ia menuju ke kamar nya untuk Ritual mandi.


***


" Baby Apa tidak apa-apa aku meninggalkan mu sendiri? " Tanya Windi


" Tidak apa-apa Isnu, Lagian nanti siang aku akan datang ke kantor mu membawa bekal." Ujar Windi seraya merapikan dasi Wisnu.


" Baby kita bisa memesan nya dari luar, Dan sekarang kamu ikut aku ke kantor agar kamu juga tidak kesepian." Wisnu benar-benar merasa khawatir dengan ke adaan Windi Apalagi semenjak kejadian kemarin yang membuat hampir Kehilangan Windi.


" Isnu.. Bukan kah kemari kamu sudah berjanji untuk mengijinkan ku memasak makanan untuk mu?" Windi mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Wisnu.

__ADS_1


" Tapikan.."


" Isnu kamu tidak usah khawatir para pengawal mu sudah cukup untuk melindungi ku.. Sekarang sebaiknya kamu pergi kasian Panji yang menunggu mu di lobby." Ujar Windi seraya tersenyum manis ke arah Wisnu.


" Huh baik la... Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku." Wisnu mengelus lembut kepala Windi.


" Baik la Suamiku sayang."


" Kamu bilang apa tadi baby?"


" Ehm tidak ada, Sudah cepat lah berangkat nanti kamu terlambat."


" Baby kata lagi tadi kamu bilang apa." Wisnu menahan tangan Windi yang berusaha untuk menarik tangan nya.


" Isnu."


" Aku tidak akan pergi sebelum kamu mengatakan nya kembali."


Windi menggeleng kan kepalanya." Tidak."


" Baby.." Perkataan Wisnu terpotong karena Pengawalan memanggil nya.


" Maaf tuan dan nona muda saya ingin memberitahu kalau tuan Panji sudah menunggunya anda di lobby."


" Ehm.."


Pengawal itu langsung keluar dan kembali ke posisi nya semula.


Windi yang mendengar perkataan pengawal itu membuat nya tersenyum puas. " Sudah pergi la sana."


" Kali ini kamu lolos." Bisik Wisnu ia juga memberikan kecupan di pipi Windi.


Tubuh Windi mendadak menegang ketika Wisnu berbisik di telinga nya.


Wisnu melangkah keluar dari unit apartemen nya, Sebelum turun ke lobby ia memberikan perintah kepada para pengawal nya untuk senantiasa menjaga dan melindungi Windi, Jika kejadian kemarin terulang kembali maka nyawa Meraka yang menjadi taruhannya.


Setelah mengatakan perintahnya ia kembali melanjutkan langkahnya menuju lobby Apartemen. Ia memasang wajah tegas dan dingin nya kepada semua orang yang berlalu lalang di hadapan nya.


Panji yang melihat Wisnu datang ia segara membukakan pintu nya untuk Wisnu. " Selamat pagi tuan muda." Tunduk hormat Panji


Wisnu hanya membalasnya nya dengan anggukan kepalanya.


Selama di perjalanan Wisnu mengecek tabloid nya untuk memeriksa setiap Email yang masuk. Meskipun selama hampir dua Minggu ia tidak bekerja langsung di kantor tapi ia selalu mengawasi setiap perkembangan di kantor nya.


" Apa kau sudah menemukan nya?" Tanya Wisnu yang masih fokus terhadap tabloid nya.


Panji menatap ke arah kaca spion depan mobil." Belum tuan dia seperti di telan bumi bahkan keluarga nya juga ikut hilang tuan. Tapi kan sudah berusaha sebaik mungkin."


Wisnu menghentikan aktivitas nya sebentar dan menatap lurus ke depan seulas senyum devil terpancar di wajah Wisnu. " Hah... Seperti nya dia tidak tau sedang bermain-main dengan siapa." Gumam Wisnu.


" Cari dia sampai dapat."


" Baik tuan."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2