Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Berharap


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Wanda hanya diam membisu memandang luar jendela. Berulang kali ia menghela kasar. Bahkan tak jarang Gilbert mendengar umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Wanda.


Bajingan sialan!


Aku membencimu!


Sialan!


Mati saja kau!


Sekuat tenaga Wanda menahan air matanya tapi tetap saja Air mata itu lolos begitu saja, Wanda tidak sadar kalau sedari tadi Gilbert Terus memperhatikan Wanda. Kedua tangannya mencengkeram kuat stir mobil hingga buku-buku jarinya memutih.


Hiks... Hiks..


Telinga tajam Gilbert dapat mendengar jelas isak kan tangis Wanda. Ia langsung menepikan mobil nya, untung saja jalan sedang lenggang. Ia melepaskan Seatbelt dan...


Grep


Gilbert membawa Wanda ke dalam pelukannya, Ia memeluk tubuh Wanda dengan Erat.


"Shutt...Tenanglah..." Gilbert mengusap-ngusap lembut punggung Wanda yang bergetar karena isak tangis nya.


Wanda menggeleng kan pelan kepalanya, "Sha..Sakit sekali... Gilbert... Dhi..a..." Wanda tidak mampu melanjut kan ucapannya. Rasanya sungguh menyakit kan sekali, Ia seolah di beri harapan tapi sekarang? Ia malah harus menelan kekecewaan... Ia bahkan sedikit melupakan Cintanya untuk Dito, Ingat hanya sedikit. Karena Wanda tidak mampu akan melupakan Cinta pertamanya.


Awalnya ia ingin melupakan Cinta Dito dengan beralih mencintai Jio yang seolah memberikan harapan untuk nya, Tapi kini apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannya.


Maaf kan aku...


Wanda berulang kali meminta maaf pada Dito yang telah mengkhianati perasaannya. Meskipun Dito mengatakan Tidak, Tapi Wanda Yakin kalau Dito masih mencintainya juga.


"Shutt...Tenanglah, Jangan menangis...Aku tidak ingin Malaikat cantik ini bersedih.." Gilbert terus berusaha menenang kan Wanda dengan kalimat-kalimat sederhana yang mampu membuat Wanda sedikit merasa lebih baik.


Rasa sakit yang di rasa Wanda, Juga ia rasa kan. Wanita yang ia jaga selama separuh hidupnya. Kini kembali menangis karena seorang bajingan tidak bertanggung jawab.


Gilbert sangat membenci orang yang telah membuat Malaikat Hati nya bersedih.


Sial! Aku kecolongan lagi.

__ADS_1


Gilbert meruntukki dirinya yang sudah dua kali kecolongan, Tidak menjaga Wanda dari pria-pria yang hanya akan menyakitinya. Selama ini ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Wanda dengan sepenuh hatinya, Ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak memiliki kekasih sampai Wanda ataupun Windi memiliki pria yang hanya akan memberikan cinta dan seluruh jiwa raganya hanya untuk Wanda ataupun Windi. Bukan Hanya dirinya saja Ken kakak tertua mereka pun melakukan sumpah yang sama dengan-Nya. Mereka saling membagi tugas dalam menjaga Wanda dan Windi. Gilbert begitu menyayangi Wanda dengan seluruh jiwanya, Ia bahkan rela melakukan apa pun untuk menjaga Wanda agar tetap aman di mana pun. Perasaan yang ia miliki bukan sebagai seorang pria yang mencintai wanitanya, Tetapi seperti Seorang Kakak sekaligus pengawal untuk Nona mudanya. Ia tidak berani selancang itu hingga memiliki perasaan kepada Nonanya.


Gilbert yang terus melamun, Hingga ia tidak sadar Wanita yang berada di pelukannya sudah tertidur pulas. Gilbert menunduk kan kepalanya, Ia terkekeh mendengar dengkuran halus Wanda. Dengan pelan-pelan ia meletak kan tubuh Wanda ke tempat duduk, ia dengan perlahan meluruskan tempat duduk Wanda. Tidak lupa ia memasang kan sabuk pengaman Wanda. Untuk sesaat ia terpaku akan wajah cantik Wanda yang begitu sempurna.


Aku harap, Aku bisa melihatmu bersanding dengan pria yang mencintai dan menyerah kan seluruh hidupnya hanya untukmu seorang. Batin Gilbert.


Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk akan terjadi pada nya. Ia bahkan selalu memiliki pikiran bagaimana nasib Wanda jika ia pergi dengan tugas yang belum selesai kan?


Tak mau memikirkannya lebih panjang, Gilbert segera menyalakan mesin mobil, dan melanjut kan perjalanan. Selama di perjalanan Gilbert terus saja memikir kan kehidupannya ke depannya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari esok nanti. Semuanya masih menjadi rahasia dan misteri dari sang pencipta.


Tuhan, Jika nanti aku tidak bisa melihatnya menikah dengan pria yang mencintainya, Aku harap aku memiliki satu ke sempat untuk melindunginya sampai akhir hayatku. Batin Gilbert.


.


.


.


Sesampainya di mansion, Ia melihat mobil Ken yang sudah terparkir di halaman utama Mansion keluaraga Winata. Gilbert melirik ke arah Wanda yang masih tertidur pulas.


Gilbert menghela nafasnya berulang kali, setelah merasa yakin Gilbert melepaskan Seatbel nya. Ia memutarrin mobilnya, dengan pelan-pelan ia membuka pintu mobilnya, Seulas senyuman tipis terbit di sudut kirinya.


Cantik.


Satu kata yang terdengar seperti gumaman yang terdengar jelas di bibir tipis Gilbert.


Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Wanda ala bridal style. Sebelum memasuki pintu utama, Gilbert berulang kali menghela nafasnya secara menual. Setelah dirinya yakin ia memasuki pintu utama dengan Wanda yang berada di gendongannya. Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan, Ia sedikit merasa lega karena tidak mendapati Ken yang berada di sana.


Fyuh! Syukurlah dia sudah berada di ruang kerjanya.


Sesampainya di kamar Wanda, Gilbert membaring kan tubuh Wanda ke ranjang dengan hati-hati. Ia takut membangun kan Wanda yang tampak kelelahan sekali. Wajah cerianya kini berubah sendu dan pucat.


Tenanglah semua akan baik-baik saja, Ada atau tidak adanya dia di hidupmu. Batin Gilbert.


Ia menarik selimut tebal menutupi tubuh Wanda yang sepertinya kedinginan.


Saat akan menutupi pintu kamar Wanda, Gilbert di kejut kan dengan pemilik suara yang sedang ia hindari.

__ADS_1


Oh ****!


Gilbert menghela nafasnya untuk menetralkan detak jantungnya berdegup Kencang.


"Ehm... Iya Tuan muda." Sapa Gilbert seraya menunduk kan sedikit tubuhnya.


"Kau habis dari kamar Wanda?" Tanya Ken


"Iya Tuan."


"Oh. Lalu di mana dia?"


"Nona Wanda saat ini sedang Tidur Tuan Muda."


"Tidur?" Tanya Ken tak percaya pasalnya ini sudah hampir jam lima sore. Karena biasanya Wanda tidak pernah tidur se-sore ini. Kecuali Ia sedang kelelahan atau...


Pikir kan Ken mendadak langsung tajam, Kini mata tajamnya menatap ke arah Gilbert yang menunduk kan kepalanya.


"Dia tidak Habis menangis kan?" Tanya Ken dengan pelan namun penuh dengan tekanan di intimidasi.


Glek!


Sungguh rasanya Gilbert seperti berada di tengah-tengah singa Jantan yang sedang bersiap menyantap hidangannya.


Fuh, Aku harus tenang dan tidak boleh gugup. Batin Gilbert


Seulas senyuman lebar terbit di bibir Gilbert. "Tentu saja tidak tuan, Hari ini Nona Wanda sangat kelelahan. " Ujar Gilbert setenang mungkin.


"Apa kau Yakin Gilbert?" Tanya Ken sekali Lagi.


"Tentu saja Tuan." Ujar Gilbert dengan percaya, Ia bahkan tidak segan menatap manik mata Ken yang terlihat sangat tajam dan menusuk Indra penglihatannya.


"Iyah Tuan."


"Hah, Baiklah.. Aku percaya kepadamu." Ujar lelaki bermata tajam itu. Setelah mengatakan itu Ken kembali ke ruang kerjanya.


"Huh, Syukurlah."

__ADS_1


__ADS_2