
Refa yang sudah tidak kuat menahan sesak di dadanya memilih untuk meninggalkan tempat itu dengan rasa kekecewaan yang amat dalam. Ia tidak menyangka kalau takdir seolah mempermainkan perasaan nya, Wanita yang dulu status nya menjadi calon istri nya kini berubah haluan menjadi kakak iparnya.
Semua orang yang melihat kepergian Refa membuat semua orang terkejut, Karena tiba-tiba saja Refa meninggalkan acara dengan tatapan kekecewaan.
Sebelum pergi Refa menatap sekilas ke arah Windi, Kedua mata mereka saling memandang satu sama lain. Namun dengan cepat Refa memutuskan pandang an mereka dan segara pergi dari aula. Mata nya terpancar kekecewaan teramat dalam, Ia merasa di khianati oleh Kakak dan Tunangan nya.
"Akhhh! Sial." Teriak Refa ketika sudah di luar. Ia memilih untuk menghirup dalam-dalam nafas nya, Ia harus mengontrol dirinya.
Sekelebat bayangan di mana ia melekat cincin di Jari Windi begitu pun sebaliknya. Membuat rasa sesak di dadanya semakin membuncah. Ia memukul-mukul kuat dadanya agar rasa sakit dan sesak di hati nya segara menghilang tetapi tidak bisa di pungkiri rasa sakit itu masih terasa jelas di dadanya.
Refa rasanya ingin sekali menangis sekencang-kencangnya di bawah langit yang gelap saat ini untuk meluap rasa sakitnya, Tetapi ia tidak ingin di bilang lemah hanya karena masalah ini.
"Kenapa? Kenapa harus Kaka ku? Kenapa harus dia yang menjadi suami Windi? Kenapa Tuhan?!" Teriak Refa di tengah kesunyian malam ini.
"Tuhan? Kenapa engkau tidak adil sekali kepada ku? Kenapa kau membiarkan wanita yang ku cintai menjadi Istri Kaka ku? Kenapa? Kenapa kau seolah-olah mempermainkan perasaan ku? Kenapa tuhan?! Kenapa kau mempertemukan kami berdua jika pada akhirnya kami tidak bersama?! Apa aku tidak pantas untuk menjadi teman hidupnya? Apa aku tidak bisa memilikinya Tuhan?!" Refa mendongakkan kepalanya menatap langit malam dan sinar bulan sebagai penerangan di malam hari. Refa merasa dirinya saat ini di tertawakan oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip. Refa sudah tidak kuat lagi, Ia menangis senggugukkan meluapkan rasa sakit nya.
"Apa aku tidak bisa di berikan kesempatan untuk kembali bersama nya tuhan? Aku sangat mencintai nya seperti aku mencintaimu Tuhan, Tapi kenapa kau malah memisahkan kami dengan takdir seperti ini?!" Tak terbendung lagi berapa banyak air mata yang ia keluarkan saat ini.
Di tengah Isak tangis nya seseorang memanggil nya dari Belakang. "Refa."
Mendengar suara yang ia kenal memanggil dirinya membuat nya secepat mungkin menghapus air mata nya. Refa membalikkan badannya menatap seseorang yang berada di belakang nya.
Terpancar rasa sedih, kekecewaan, sakit, dan marah tercampur menjadi satu ketika menatap seseorang yang berada di depannya. "Kenapa kau disini?" Ujar Refa dengan sinis dan dingin.
Orang itu berjalan mendekat ke arah Refa dengan kedua tangan yang berada di kantong celana.
"Refa kakak tau kamu kecewa tapi ini semua sudah takdir." Ujar nya dengan lembut. Orang itu menatap lembut ke arah Refa yang sedang menatap dirinya dengan tatapan kecewa dan membunuh. Iyah orang itu adalah Wisnu, Setelah kepergian Refa Wisnu minta ijin kepada Papa mama nya untuk menyusul Refa. Sebelum pergi ia mengatakan kepada Windi bahwa semua akan baik-baik saja.
Wisnu sedari tadi memperhatikan dan mendengar apa yang dikatakan Refa. Wisnu tentu saja ia merasa sakit dan sesak ketika melihat Refa terluka tapi ia juga tidak bisa membiarkan kebahagiaan di rebut orang lain termasuk adik nya sendiri. Iyah untuk kali ini dia ingin egois, Ia ingin mempertahankan kebahagiaan sudah ia jalani selama ini. Ia akan mempertahankan Windi untuk selamanya, Ia tidak akan pernah melepaskan Windi kepada siapapun.
Maaf kan aku Refa kali ini aku tidak akan mengalah kepada mu karena Windi adalah kebahagiaan ku dan akan menjadi ibu dari anak-anakku. Meskipun aku tau berat untuk mu menerima ini semua, Tapi aku yakin ini lah yang terbaik untuk kita semua yang telah direncanakan Tuhan untuk diri ku dan dirimu. Wisnu memejamkan singkat matanya mendengar perkataan Refa yang sungguh membuat diri nya juga merasa sesak. Ia dan adik nya mencintai wanita yang sama. Bohong jika ia tidak ikut merasakan apa yang Refa rasakan tapi juga harus mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya. Wisnu menghapus air matanya dan berjalan menghampiri Refa yang sedari menangis menatap langit.
Kini keduanya saling menatap satu sama lain, Wisnu dengan tatapan sendu namun juga dingin, Refa dengan tatapan tajam dan membunuh dengan penuh kekecewaan.
Refa yang mendengar perkataan Wisnu membuat nya tertawa sinis. "Apa yang kau tau ha?! Apa?!" Bentak Refa.
Sungguh mendengar bentakan Refa membuat hati nya sakit dan ngilu, Karena untuk pertama kali nya ia di bentak oleh adiknya. Wisnu yakin bahwa kini rasa hormat dan kasih sayang Refa untuk nya sudah mulai memudar.
"Refa semua ini terjadi secara mendadak."
__ADS_1
"Heh mendadak katamu? Apa kau fikir aku akan percaya Ha?! Kau merebut wanita yang jelas kau tau kalau aku sangat mencintai nya! Kenapa kau menikahi nya Tuan Wisnu?!!"
Deg!
Sakit, Itu yang dirasakan Wisnu ketika Refa memanggil dirinya dengan sebutan tuan tanpa embel-embel kakak. "Refa aku tau kamu sangat mencintai nya Tapi sekarang aku juga mencintai nya. "
Refa mengepal kuat kedua tangan nya mendengar pengakuan Wisnu yang mengatakan kalau ia juga mencintai wanita yang dia cintai. Bayangan dimana Wisnu memukul Refa karena sudah menyakiti hati Windi terlintas di fikiran nya. Hal itu membuat Refa menatap sinis ke arah Wisnu.
"Ah Sekarang aku tau, Kau sudah lama mencintai nya kan? Bahkan ketika dia mesih menjadi tunangan ku kan?!" Tanya Refa dengan sinis.
"Apa Maksud mu?!"
"Apa kau tidak ingat waktu kau memukul karena sudah menyakiti hati Windi? Kau memukul ku karena aku sudah melukai wanita yang kau cinta kan?!" Desak Refa
Kali ini kedua tangan Wisnu mengepal kuat mendengar perkataan Refa. Tapi apa yang dikatakan Refa benar Wisnu ikut merasa sakit ketika melihat Windi begitu terluka dan sakit melihat Tunangan nya bersama masa lalunya.
Wisnu menghirup dalam-dalam udara malam untuk menenangkan emosinya. "Iya apa yang kamu katakan benar, Aku sudah menyukai nya bahkan ketika kamu masih menjadi tunangan nya, Dan rasa itu kini berubah menjadi cinta di antara aku dan Windi. Kami saling mencintai dan memiliki, dia milik ku dan aku milik nya. "
Mendengar perkataan Wisnu membuat batas ke sabaran Refa menghilang, Ia Menggeram kesal. Dengan tangan mengepal ia maju untuk memukul wajah Wisnu namun ketika tangan nya akan mendarat. Terdengar pekik nyaring yang memanggil namanya.
"Refa!!!" Mendengar itu Refa mengurungkan niatnya, Ia menatap ke arah sumber suara yang memanggil nya.
Ia melihat wanita anggun dengan di balut busana ballgown dress berwarna putih menghampiri mereka berdua. Wanita yang dulu nya menatap dirinya dengan Punuh cinta ketika berubah menatap nya dengan tajam.
"Isnu? Cih panggilan yang menjijikkan sekali! " Ujar Refa dengan sinis.
Windi hanya diam saja mendengar perkataan Refa yang menyakitkan bagi nya. Windi memejamkan singkat matanya menenangkan diri nya. Ia harus menahan Wilhelmina yang sedari meminta untuk mengambil alih dirinya.
Keduanya saling beradu pandang satu sama lain, Refa Dengan tatapan benci dan kecewa sedang Windi dengan tatapan lembut namun juga dingin.
"Apa kau tidak tau cara menghormati Kaka mu ha?!"
"Kakak?! Kakak seperti apa yang merebut kebahagiaan adiknya hanya untuk kebahagiaan nya sendiri?"
"Apa maksud dengan mengatakan Wisnu merebut kebahagiaan mu?!" Tanya Windi tak mengerti.
"Dia merebut diri mu dari ku" Tunjuk Refa ke arah Wisnu yang hanya diam menatap mereka berdua.
"Iya dia merebut kebahagiaan ku, dia merebut wanita yang ku cintai, Wanita yang akan ku jadi istri dan juga Ibu dari anak-anakku. Dia merebut segalanya dari ku." Sambung Refa menahan Isak tangisnya.
__ADS_1
"Kamu tau bukan?! Kalau aku sangat mencin..."
"Cukup!! Wisnu tidak pernah merebut ku dari mu, Justru kau sendiri yang membuat ku harus melepaskan mu! Apa kau tidak ingat?! Kau menyakiti ku hanya karena wanita dari masa lalu mu. Kau bahkan mengabaikan telfon dan juga pesan ku supaya kau tidak terganggu oleh ku bukan?! Kau juga diam saja tanpa menjelaskan dan memperkenalkan siapa diriku, Kau seolah-olah menjadi bisu tak bersuara ketika aku mengembalikan cincin pertunangan kita. Kau hanya diam menundukkan kepala mu tanpa berani menatap ke arah ku!" Sergah Windi memotong ucapan Refa. Ia tidak ingin mendengar kalau Refa mencintainya karena kalau dia mencintai Windi mana mungkin Refa mengundang masa lalunya.
"Kau tau Refa betapa hancur nya aku ketika kau mengabaikan ku? Dan main gila sama masa lalu mu, Kau tau hari dimana aku memutuskan pertunangan ku dengan mu aku ingin menjelaskan siapa diri ku karena menurut kau pantas untuk ku namun aku salah karena ternyata kau lah tidak pantas untukku. " Sambung Windi
Windi berulang kali menghirup dalam-dalam nafasnya agar emisi nya tidak memuncak.
Refa yang mendengar perkataan Windi membuat rasa sesak itu kembali menjalar kesuluruh tubuh nya. Refa berjalan mendekat kearah Windi, Ia mencoba untuk meraih tangan Windi namun Windi dengan cepat menghempas tangan Refa.
"Iyah aku salah karena aku fikir kamu mencintai ku tapi nyata nya? Kau bahkan tidak bisa berdamai dengan masa lalu mu?! Dan kau mencoba untuk memulai kisah yang baru dengan orang lain? Pernahkah kau berfikir apa yang kau lakukan itu bisa menyakiti perasaan orang Refa?!" Teriak Windi ketika menyebut nama Refa.
Windi rasanya ingin meluapkan emosi dan kekecewaan yang selama ini pendam untuk Refa. Ia harus berdamai dengan masa lalunya dan fokus kepada masa dengan lekaki yang ia cintai saat ini.
"Windi tidak bisa kah kamu memberitahu ku kesempatan ku kedua? Tidak apa-apa jika aku harus menjadi suami kedua mu. "
Wisnu yang mendengar perkataan Refa membuat nya naik pitam, Ia ingin sekali memukul wajah Refa dan merobek mulutnya. Tapi langkah nya terhenti ketika Windi menampar pipi Refa dengan kuat.
"Apa yang kau katakan?! Kau menyuruhku untuk menduakan suami ku? "
Wajah Refa yang menoleh ke arah kiri karena tamparan Windi kini menatap tajam ke arah Windi. "Kenapa tidak? Pria saja boleh beristri dua kenapa wanita tidak boleh bersuami dua? Yang penting kamu adil dengan ku dan juga kakak ku. Aku tidak masalah jika aku harus membagi istri dengan Kaka ku asalkan aku bisa memiliki mu." Ujar Refa dengan santai.
Wisnu menggertakkan gigi nya menahan marah mendengar ucapan Refa. Ia menatap ke arah istri nya yang sedang menatap tajam ke arah Refa, Ia yakin kalau saat ini yang sedang bersamanya bukan Windi melainkan.
Wilhelmina.
Ya Wilhelmina mengambil alih tubuh Windi ketika mendengar perkataan menjijikkan yang terlontar dari mulut Refa, Ia sungguh tidak bisa menahan diri lebih lama lagi Apa lagi melihat sikap Windi yang masih terkesan lembut kepada pria brengsek yang berada di hadapan nya saat ini.
"Cih menjijikkan sekali ucapan mu Tuan Refa Surya Witamma, Kau fikir aku wanita yang tidak puas dengan satu lelaki saja? Apa kau fikir Suami ku tidak bisa memuaskan ku?Apa kau tidak tau kalau dia begitu handal dalam memuaskan ku? Lalu untuk apa aku harus mencari lelaki lain jika suami ku adalah pemain handal? Bahkan dia lelaki terbaik yang pernah ku temui, Dia yang selalu menemani dan juga membalut luka ku yang telah kau torehkan sebelumnya. " Ujar Wilhelmina dengan Lantang.
Wisnu yang mendengar perkataan Wilhelmina membuat nya melongok tak percaya. Apa yang sedang dia bicarakan? Kenapa pembicaraan menjadi Absurd begini?! Astaga Windi kenapa kau memiliki kepribadian yang sangat Absurd dengn Sangat Bar-bar sekali. Tapi di balik itu semua Wisnu merasa bangga karena secara tidak langsung Wilhelmina mengatakan kalau Wisnu mampu membuat nya puas dan lemas.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)