
"Cih menjijikkan sekali ucapan mu Tuan Refa Surya Witamma, Kau fikir aku wanita yang tidak puas dengan satu lelaki saja? Apa kau fikir Suami ku tidak bisa memuaskan ku?Apa kau tidak tau kalau dia begitu handal dalam memuaskan ku? Lalu untuk apa aku harus mencari lelaki lain jika suami ku adalah pemain handal? Bahkan dia lelaki terbaik yang pernah ku temui, Dia yang selalu menemani dan juga membalut luka ku yang telah kau torehkan sebelumnya. " Ujar Wilhelmina dengan lancar.
Wisnu yang mendengar perkataan Wilhelmina membuat nya melongok tak percaya. Apa yang sedang dia bicarakan? Kenapa pembicaraan menjadi Absurd begini?! Astaga Windi kenapa kau memiliki kepribadian yang sangat Absurd dengn Sangat Bar-bar sekali. Tapi di balik itu semua Wisnu merasa bangga karena secara tidak langsung Wilhelmina mengatakan kalau Wisnu mampu membuat nya puas dan lemas.
Di sisi lain Refa yang mendengar perkataan Windi yang mengatakan kalau Wisnu Sangat handal dalam memuaskan nya membuat nafasnya tercekat. "A-apa maksud mu dalam memuaskan?"
"Apa kau tidak bisa mendengar nya dengan baik?! Ha baiklah aku akan mengatakan nya sekali lagi. " Wilhelmina menatap serius ke arah Refa yang sedang menatap dengan penasaran.
"Huh Jika suami ku saja sangat handal dan hebat dalam urusan ranjang kenapa aku harus mencari lelaki lain untuk memuaskan Hasrat ku? " Ujar Wilhelmina dengan lantang.
Ada rasa bangga dan juga malu ketika Wilhelmina mengatakan kalau ia sangat handal dan hebat dalam urusan ranjang. Jika saja Wilhelmina dan Refa melihat wajah memerah nya mungkin saja ia akan semakin malu.
Astaga aku harus menghentikan obrolan yang sudah mulai Absurd ini, Jika tidak aku tidak akan tau apa lagi yang akan di kata Wilhelmina kepada Refa. Batin Wisnu
Refa kembali merasa nyeri dan sakit ketika mendengar perkataan Windi yang seolah-olah ia dan juga kakaknya sudah melakukan apa yang sedang ia Fikir kan. Dengan cepat Refa menggelangkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di katakan Windi.
"Tidak! kamu pasti bohong kan?" Ujar Refa dengan sedikit membentak.
Baik Wilhelmina maupun Wisnu terkejut mendengar suara Refa yang sedikit membentak. Wisnu yang amarahnya mulai meredam kini kembali naik ketika orang lain berani membentak istri nya. Dia saja tidak pernah terfikir kan oleh nya sekalipun untuk membentak istri nya tapi kini adiknya justru membentak istri nya hanya karena masalah ini?
Wisnu yang akan melangkah menghampiri Refa tertahan kan ketika tangan Wilhelmina mencekal nya. "Tidak Honey berhenti disitu biar aku yang mengurus pria tidak tau malu ini. "Mata Wilhelmina menatap serius ke arah Wisnu seolah-olah mengatakan kepada Wisnu bahwa ia harus percaya kepada dirinya.
Wisnu memejamkan singkat mata nya dan menghela nafas nya, Kali ini ia harus diam dan mengikuti apa yang di kata Wilhelmina karena dia yakin Wilhelmina dapat menyelesaikan masalah ini. Wisnu kembali melangkah mundur di Belakang Wilhelmina.
"Heh?! berbohong? Buat apa aku berbohong? Apa kau tidak percaya?! Apa perlu kami melakukan nya dihadapan mu agar kau percaya?!"
Refa hanya diam seribu bahasa, Matanya menatap ke arah mata Windi seolah-olah mencari kebohongan namun di mata hazel Windi tersorot kejujuran yang membuat kedua lutut Refa terasa lemas. Refa berjalan mendekat ke arah Windi yang sedang menatap nya dengan tajam. Mata yang dulu nya menatap dirinya dengan penuh cinta kini berubah dengan tatapan tajam dan juga kebencian. Rasanya Refa ingin sekali mengulang waktu agar dirinya tetap bisa memiliki Windi namun nya rasanya tidak mungkin karena sekarang wanita yang dia cintai sudah resmi menjadi istri dari kakak kandung nya, Refa menertawakan dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia melepaskan genggaman dari gadis yang dulu mencintai nya kini rasanya cinta sudah tergantikan oleh cinta yang lain.
Kini Refa sudah berada di hadapan Windi dengan jarak lima meter dari Windi berdiri, Seulas senyuman kekecewaan terpancar di wajah tampan Refa. "Apa sudah tidak ada kesempatan untuk ku? "
Wilhelmina dapat melihat dengan jelas sorot kekecewaan di wajah Refa, Namun ia tidak bisa membiarkan masalah ini semakin berlarut-larut yang akan menyebabkan rusaknya hubungan Wisnu dan Refa. "Tidak! Aku sudah tidak mencintai mu. Waktu yang aku habis kan bersama Wisnu membuat rasa cinta ku kepada terkikis begitu saja, Jangan salah kan waktu dan cinta. Karena kita tidak kapan dan kepada siapa cinta kita akan berlabuh. Bersikaplah dewasa jangan penting ego mu. " Ujar Wilhelmina dengan lembut kali ini ia tidak akan mengatakan nya dengan kasar karena ia tau ketika kita sedang menjelaskan sesuatu maka kita harus menjelaskan nya dengan kelembutan bukan dengan kekerasan, Meskipun pada akhirnya orang tersebut tidak menerima apa yang sudah kita jelaskan kepada nya.
Tes!
Hancur sudah pertahan nya kali ini, Refa kembali meneteskan air matanya yang mengalir mendengar perkataan Windi. Refa memejamkan singkat mata nya berusaha mencerna perkataan Windi yang begitu menyakitkan.
Apa kah ini akhir dari Cinta ku kepada nya?
Refa hanya diam saja, ia sudah tidak kuat lagi menghadapi situasi ini. Mungkin dia butuh waktu untuk menerima ini. Ia memilih pergi meninggalkan Wisnu dan Windi yang hanya diam mematung ditempatnya. Namun saat ia akan pergi terdengar suara teriakan Wilhelmina yang membuat langkah nya terhenti.
"REFA KAMU BERHAK MENCINTAI SIAPAPUN TAPI SATU HAL YANG HARUS KAMU INGAT JANGAN PERNAH MENCINTAI SESEORANG YANG JELAS-JELAS HATI NYA BUKAN UNTUK MU!" Teriak Wilhelmina membuat air mata Refa semakin mengalir, Ia juga tersenyum kecut mendengar perkataan Wilhelmina yang begitu menohok di hatinya.
Terlihat mobil Refa yang melaju menghilang dari pandangan mata. Wisnu menghampiri Wilhelmina yang masih diam mematung memandang kepergian mobil Refa.
Maaf kan aku tapi yang tidak bisa mempertahankan cinta ini karena bagaimanapun kamu hanya masa lalu ku.
Wilhelmina merasa ada sebuah tangan yang melingkar di pinggang ramping nya. Ia melihat Wisnu yang sedang tersenyum lembut ke arahnya. Wilhelmina yang merasa lelah memeluk erat tubuh Wisnu, Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Wisnu yang benar-benar membuat nya merasa nyaman.
__ADS_1
Entahlah baik dirinya maupun Windi merasa sangat hangat, aman, dan terlindungi. Tetapi berbeda ketika ia berada didekat Refa ia hanya merasa jantungnya berdetak dan bersemangat namun tidak membuat dirinya merasa hangat dan terlindungi seperti dirinya ketika bersama Wisnu.
Wisnu melepaskan pelukan ia menatap intens ke arah Wilhelmina. "Cutie kenapa harus kamu yang melakukan nya? Ada apa dengan Baby? " Ujar Wisnu penuh selidik.
"Apa maksud mu? " Tanya Wilhelmina seolah-olah tidak tau apa yang sedang di bicarakan Wisnu.
"Kamu pura-pura tidak tau yah?! Baik lah kalau begitu aku akan menghukum mu malam ini! Aku tidak peduli mau itu Cutie ataupun baby tapi aku akan tetap menghukum mu. " Ujar Wisnu disertai seringai licik.
"A-apa? I-isnu..." Belum selesai Wilhelmina melanjutkan perkataannya Wisnu langsung membopongnya seperti karung beras. Wilhelmina meronta-ronta untuk turun tetapi Wisnu seolah tidak memperdulikan nya. Wisnu membawa Wilhelmina masuk melalui pintu barat yang tidak terhubung ke aula. Wisnu menurunkan Wilhelmina ketika mereka sudah sampai di kamar Wisnu. Dengan seringai licik Wisnu melepaskan dasi kupu-kupu yang menggantung di lehernya dan membuang jasnya ke sembarang arah. Wilhelmina yang melihat gerak-gerik Wisnu membuat nya panik dan merinding.
"Kamu siap cutie?" Tanya Wisnu
Tentu saja Wilhelmina menggelangkan cepat kepalanya. "I-isnu a-aku sedang datang bulan. " Ujar Wilhelmina.
"Hukuman mu bertambah karena sudah berbohong kepada ku, Ini sudah lewat dua Minggu dari tanggal merah mu. "
Mendengar perkataan Wisnu membuat Wilhelmina melotot kan matanya, ia lupa kalau ia sudah lewat dua Minggu. Apa mungkin dia hamil?
"Isnu A-aku...." Ucapan Wilhelmina terpotong karena Wisnu langsung mencium bibir lembut Wilhelmina. Ciuman itu kini berubah semakin panas. Wisnu memberikan stempel kepemilikan di leher maupun juga di dada Wilhelmina.
Sedangkan Wilhelmina yang awalnya menggerutu dan menyumpah serampah Wisnu kini ikut menikmati permainan Wisnu yang benar-benar membuat melayang kenikmatan.
°°°
Setelah pergi meninggalkan rumah keluarga Witamma Refa melajukan mobilnya tanpa arah tujuan, Rasanya Refa benar-benar ingin menghilang dari bumi ini. Ia benar-benar sudah tidak sanggup lagi menerima kenyataan ini.
Refa terus melajukan mobilnya di tengah gelapnya langit. Tanpa sadar ia melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia Pertama kali melamar Windi. Ia memilih untuk tidak turun, Ia menatap ke arah Restaurant yang masih terlihat sama. Mata nya menatap fokus ke arah pasangan pemuda pemudi yang sedang berkencan.
Refa menundukkan kepalanya di stir mobil dan kembali menangis senggugukkan meluapkan rasa sakit di hatinya.
Kenapa? Kenapa tuhan mempermainkan perasaan dan juga takdir ku? Kenapa tuhan mempertemukan kami jika pada akhirnya dia tidak bisa menjadi milik ku?
Langit malam yang semula nya terang kini berubah semakin gelap. Langit yang seolah-olah mengerti dengan perasaan Refa kini ia juga ikut membasahi bumi dengan hujan lebat di tengah-tengah gelap nya malam.
Hampir satu jam Refa masih tetap di posisi nya hingga ia tersadar waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. ia melajukan kembali mobil nya, Kini tujuan nya kembali ke apartemen nya untuk menenangkan diri nya. Ia berharap kalau ini hanya mimpi buruknya.
Mobil Refa sudah terparkir dengan di Basemen Apartemen nya. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam gedung apartemen nya. Ia tidak memperdulikan pandang an penghuni apartemen lainnya ketika ia naik lift. Fikiran nya benar-benar sangat kacau. Sesampainya di unitnya matanya menatap keseliling apartemen nya, Kenangan ketika Windi main ke apartemen nya membawakan makanan untuk nya masih terekam jelas.
Refa mengambil sebotol wine di mini bar nya, Ia meneguk wine itu dengan gusar. Dengan sempoyongan ia menuju ke sofa. Ia mendudukkan tubuhnya dengan sebotol wine di genggaman nya. Mata nya menatap ke arah figuran foto yang terdapat foto dirinya dan juga wanita yang ia cintai sedang tersenyum manis ke arah nya. Ia mengambil figuran foto itu dan menatap dengan tatapan sendu.
Sekarang kamu bukan milik ku lagi baby, Kenapa takdir mempertemukan kita? Kenapa? Aku tak percaya kalau kamu sudah tidak mencintai ku lagi.
Refa meneguk tandas wine hingga habis, Ia tidak memperdulikan tenggorokan nya yang terasa sakit. Ia mengambil lagi Wine dan kembali menghabiska nya. Kini sudah hampir botol kelima yang akan Refa minum sampai botol tersebut di rebut paksa oleh Dito.
"Apa yang kau lakukan tuan? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri? Kenapa kau menyiksa diri mu sendiri? Apa dengan begini Kau bisa membuat dia kembali?" Geram Dito ia melihat ke arah sekeliling apartemen yang terlihat berantakan.
"Heh?! Berani sekali kau merebut botol ku. Kembali kan botol ku. " Tangan Refa berusaha merebut kembali botolnya namun dengan cepat Dito membuang nya.
__ADS_1
"Heh! Kau mau mati ya. " Bentak Refa
Astaga aku tidak pernah melihat tuan Refa sehancur ini, jika tau begini aku akan membuat nya tertahan di Korea untuk selamanya.
"Kembali kan botol ku! "
"Kembali kan!"
Dito yang sudah tidak tahan melihat Refa yang seperti orang tidak waras terpaksa harus memukul wajah Refa hingga berdarah.
"SADAR LAH TUAN! JIKA KAU SEPERTI INI TIDAK AKAN MERUBAH APA-APA JUSTRU SEMAKIN MEMBUAT KEADAAN SEMAKIN KACAU! APA KAU TIDAK MEMIKIRKAN BAGAIMANA HANCUR PERASAAN NYONYA BESAR KETIKA MELIHAT MU YANG SEPERTI INI?! DIMANA TUAN REFA YANG BERANI DAN DAPAT DI ANDALKAN?! KENAPA SEKARANG HANYA TUAN REFA PENGECUT?!"
Refa yang mendengar Dito mengatakan nya pengecut membuat nya meradang ingin menghajar Dito, Ia menaruk kerah Dito namun Perkataan Dito lagi-lagi membuat nya terdiam.
"KAU TAU TUAN?! KENAPA NONA WINDI BISA CEPAT MENCINTAI TUAN WISNU? KARENA TUAN WISNU TIDAK AKAN PERNAH JADI PENGECUT SEPERTI DIRIMU. "
Refa menghempaskan Dito hingga terhuyung ke belakang, Refa kembali merosot dan menjambak frustasi rambut nya.
Dito melihat sisi rapuh dari tuannya, Ia melihat bagiamana hancur nya perasaan Tuan nya. Refa yang senantiasa menebarkan senyuman ramah ini berubah menjadi Refa yang menyedihkan. Dito memberikan ruang untuk Refa menyendiri, tetapi ia akan tetap berjaga-jaga jika terjadi sesuatu kepada Refa.
Dito menghela nafas nya Menatap iba ke arah Refa yang begitu menyedihkan. Dito merogoh ponselnya.
"Halo Tuan, keadaan nya sangat buruk."
"..."
"Baik la tuan. "
Dito kembali memasukkan ponsel nya ke saku nya, ia melihat Refa yang sudah terlalap dalam tangisnya. Ia membantu Refa ke kamar nya dan membaringkan nya di ranjangnya. Dengan hati-hati ia menutup pintu kamar Refa.
Ahh melihat keadaan tuan Refa yang begini semakin membuat ku takut jatuh cinta sama seseorang.
.
.
.
.
.
Gimana lanjut? Udah siap masuk ke konflik yang sesungguhnya?
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)