
Terhitung sudah tiga hari dari pertemuan pertama nya dengan Windi semenjak ia pergi ke Korea. Refa memilih untuk diam dan meratapi nasibnya yang kurang beruntung. Rasanya enggan sekali untuk dirinya keluar dari Apartemen nya. Makan dan Minum Dito yang mengatur nya, Berulang kali Dito membujur Refa agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya, Namun seperti nya rasa nya percuma karena Refa hanya diam dan tidak melirik ke arah Dito. Syukur-syukur Refa masih mau makan karena jika saja ia tidak ingin makan maka Dito tidak tau harus bagaimana lagi.
Dito juga sudah melaporkan kondisi Refa kepada Benny, Benny yang mendengar kondisi putranya membuat nya sedikit khawatir. Bukan hanya Benny tetapi Fitri dan juga Alia juga ikut merasa khawatir mereka tidak tau harus bagaimana lagi agar Refa tidak larut dalam kesedihannya. Dalam hal ini tidak ada yang patut di salah kan karena semuanya tau kalau ini adalah takdir yang sudah di garis kan tuhan untuk Refa dan juga Wisnu yang sama-sama mencintai wanita yang sama.
Wisnu yang mendengar keadaan adik nya membuat nya merasa bersalah karena sudah merebut Wanita yang dicintai adiknya, Tetapi di satu sisi dirinya juga mencintai wanita yang di cintai Adiknya. Wisnu benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi Refa yang begitu frustasi dalam menerima kenyataan ini. Hingga suatu hari Mamanya datang ke kantor nya untuk membujuk Refa agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya, Wisnu tidak masalah jika harus membujuk Refa tapi yang membuat nya sakit dengan permintaan mamanya adalah mengembalikan Windi kepada Refa? Yang benar saja emang nya Windi adalah barang yang ia pinjam kepada Refa? Hingga sewaktu-waktu Refa memerlukan barang tersebut Wisnu harus mengembalikan nya kepada Refa? Bagaimana bisa Windi di Umpama kan barang.
Flashback On
Wisnu yang saat itu baru saja selesai meeting mendapatkan kabar kalau mamanya sedang menunggu dirinya di ruangannya. Dengan langkah tergesa-gesa Wisnu menuju ruang nya. Ketika ia masuk ke dalam ruang nya ia melihat raut wajah mamanya terlihat sangat gelisah sekali.
"Ma?" Panggil Wisnu
Fitri membalikkan badannya dan tersenyum kecil ke arah Wisnu yang baru saja datang. "Isnu Apa kamu sibuk?"
Wisnu Mengerutkan keningnya heran. "Tidak ma aku sedang tidak sibuk? Apa ada yang sedang mama ingin katakan?"
Fitri menghela nafas nya. "Sebaik nya kita duduk dulu."
Wisnu mengangguk kepalanya dan menggiring mamanya untuk duduk di sofa."Sekarang kata kan apa yang ingin mama sampai kepada ku? " Wisnu mengambil genggaman tangan mamanya dan mengecup nya dengan lembut.
"Apa mama boleh minta sesuatu kepada mu?" Tanya Fitri Ragu-ragu.
Mata Wisnu kini menatap mata mamanya yang terlihat sendu. "kata kan Ma. "
Dengan ragu-ragu Fitri mengutarakan keinginan. "Mama ingin kamu melepaskan Windi dan merelakan Windi kembali bersama Refa. "
Deg!
Permintaan macam apa ini? Kenapa mama nya ingin dirinya berpisah dengan istri nya dan merelakan istri nya untuk adiknya? Wisnu melepas genggaman tangan nya dan berangsur berdiri. Ia berjalan menuju ke arah jendela ruang kerjanya yang menampik hiruk-pikuk kehidupan ibu kota yang begitu padat.
Fitri yang melihat Wisnu berdiri di dekat jendela membuat nya ikut menghampirinya Wisnu, Ia memegang lembut pundak Wisnu. "Isnu Fikir kan lah kebahagiaan adikmu, Apa kamu tidak merasa kasihan melihat keadaan nya yang begitu menyedihkan? "
Wisnu hanya diam tanpa mau membalas ucapan mamanya yang begitu menyakitkan perasaan nya. Apa mamanya hanya memikirkan perasaan Refa tanpa memikirkan perasaan dirinya dan juga Windi? Bagaimana dengan janji yang telah ia buat untuk tidak pernah meninggalkan Windi selama nya sampai maut memisahkan mereka. Namun kini mama kandung nya ini Wisnu bercerai dengan Windi? Lelucon macam apa ini? Ini sungguh tidak lucu.
"Isnu..." Wisnu kembali menghindar, Ia menekan nomor telfon Panji yang terhubung ke ruang Kerja nya.
"Datang keruang saya segera." Setelah itu Wisnu langsung mematikan sambungan telfon nya.
Tak selang beberapa lama Panji datang ke ruang Wisnu, Ia bisa merasakan aura yang berada di ruang Wisnu kali ini.
"Permisi tuan. "
Wisnu yang melihat kedatangan Panji membuat nya sedikit merasa lega. "Antar kan Mama ku kembali ke rumah. "
Fitri yang mendengar perintah dari anak nya membuat nya sedikit protes tetapi ketika mendengar intonasi yang berada dari sebelumnya membuat Fitri sedikit takut dengan putra nya. Mau tak mau Fitri pergi meninggalkan kantor Wisnu, Kini harapan satu-satunya adalah bertemu dengan Windi dan meminta kepada nya agar mau kembali kepada Refa.
Setelah kepergian mamanya Wisnu menghambur berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Ia menarik kasar dasi nya, Rasanya nafasnya terasa tercekat mendengar perkataan Mama nya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan Windi."
Wisnu meraih ponselnya dan memencet nomor bodyguard yang bertugas menjaga apartemen nya. Ia menginstruksikan agar Mama dan anggota keluarga nya yang lain dilarang masuk ke Apartemen nya bahkan ketika mereka masih di lobby mereka dilarang masuk. Wisnu hanya berjaga-jaga saja agar tidak ada anggota keluarga yang lain Menyuruh nya untuk mengakhiri hubungan dirinya dan Windi.
Flashback off
°°°
Sementara di sisi lain seseorang mengendarai mobil sport hitamnya menuju ke sisi Utara dari kota. Ia terus memasuki kawasan hutan lebat dan rimba tak ada rasa takut sedikitpun dalam dirinya. Hingga kini mobil Sport Hitam nya terparkir di halaman luas di sebuah Mansion tua yang berada di tengah-tengah hutan. Dengan langkah tegap ia memasuki mansion mewah itu.
Dirinya di sambut hangat oleh para pengawal yang bertugas menjaga mansion. Langkah yang panjang menuju ke ruang yang di lengkapi Fasilitas rumah sakit, Mata tajam nya menatap ke arah seorang wanita yang masih tertidur nyenyak di alam bawah sadar nya.
"Dasar bodoh, Lihat dirimu sekarang begitu menyedihkan sekali. Kau begitu berani menentang keluarga Witamma tapi kau sendiri tak punya dukungan, Sudah hampir setahun kau tidak ingin bangun juga? Apa kau tidak ingin membalas dendam kepada anggota keluarga Witamma?"
Pria itu memanggil dokter yang selama ini menangani wanita yang sedang berbaring lemah di atas ranjang dengan selang infus yang menancap di tangannya.
"Bagaimana kondisi wanita ini? "
"Tuan kondisinya dari hari ke hari sudah mulai membaik tuan."
Pria itu Menggeram kesal kan dari dulu ia selalu mendengar itu tapi apa? sampai sekarang wanita itu belum juga sadar. Pria itu mencekram kerah baju dokter itu. "Apa kau bosan hidup Ha?! Dari dulu kau selalu mengatakan itu kepada ku tapi apa? Wanita itu masih saja tidak sadarkan diri, Jadi berhenti lah bermain-main dengan ku." Setelah mengatakan itu ia menghempaskan tubuh dokter itu hingga terhayung kebelakang.
Pria itu berjalan mendekat ke arah wanita yang masih tertidur pulas."Bangun lah secepat nya atau aku akan membunuhmu jika kau masih tidak ingin bangun juga." Setelah mengatakan itu ia pergi berlalu meninggalkan ruang itu. Saat akan masuk ke dalam mobil terdengar nada dering dari ponsel nya. Seulas senyuman terpancar di wajahnya.
"Halo? "
" ..."
__ADS_1
"Yah aku sudah mendengar nya, situasi yang baik untuk menghancurkan keluarga mereka. "
" ...."
"Baik la sampai ketemu di markas. " Setalah melakukan panggilan itu pria itu kembali memasukkan ponsel nya kedalam kantong.
Tunggu membalas dari ku tuan Benny Surya Witamma, Aku akan menghancurkan keluarga mu berkeping-keping hingga tak tersisa.
°°°
Windi pagi-pagi sekali sudah memuntahkan ke seluruh makan yang semalam ia makan, perut nya terasa di aduk-aduk. Ia sangat lemas sekali jika sudah muntah-muntah begini. Keadaan ini sudah hampir seminggu Windi lalui. Windi awalnya curiga kalau dia sedang hamil tapi rasanya tak mungkin karena selama ini ia dan juga Wisnu selalu menggunakan pengaman seperti kesepakatan mereka yang masih ingin menikmati awal-awal pernikahan mereka. Tetapi karena ia keluhan yang ia alami seperti wanita hamil membuat nya kemarin membeli tespack di apotek.
Windi mengintip melihat Wisnu yang masih tertidur, karena biasanya ketika Windi muntah-muntah Wisnu akan mengelus-ngelus lembut punggung dan tengkuk leher Windi. Namun kini Wisnu masih tertidur pulas. Dengan langkah yang mengendap-endap Windi menuju ke ruang ganti dan mencari tespack yang kemarin ia letak di lemari pakaian nya. Setelah mendapat tespack nya Windi kembali berjalan mengendap-endap dan sesekali melirik ke arah suaminya yang masih tertidur pulas.
Windi menampung air seni di gelas dan mencelupkan tespack ke dalam gelas yang berisi air seninya. Windi memejamkan mata nya menunggu hasil dari tespack yang membuat nya dag Dig dug. Ia sudah menunggu sudah hampir sepuluh menit hingga dengan perlahan ia mengintip ke arah tespack yang sedang ia pegang, Dan hasilnya Dua garis merah.
Astaga aku hamil? Gumam Windi, Ia kembali mengingat-ngingat kapan ia dan Wisnu tidak menggunakan pengaman, Hingga kejadian di kantor satu bulan yang lalu.
Astaga waktu itu.
Windi segara keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, Ia mengguncang-guncang pelan tubuh Wisnu. "Isnu.. Isnu bangun."
"Ehm Ada apa Baby? " Ujar Wisnu dengan mata masih terpejam.
"Mas Bangun Ihh, Aku mau ngasi tau kalo aku Hamil." Pekik Windi seraya menggoyang-goyang pelan bahu Wisnu.
"Oh hamil.." Ujar Wisnu setengah sadar.
Windi yang melihat reaksi suaminya hanya melongo tak percaya. Reaksi macam apa ini? Kenapa dia santai sekali. Grutu Windi.
Hingga...1...2...3...
Wisnu langsung terlonjak kaget menatap istri nya. "Baby kamu tadi mengatakan apa?"
"Ck Sudah lupa kan saja. " Cibik kesal Windi, Saat Windi akan beranjak Wisnu menahan tangan Windi dan memeluk nya dari samping.
"Baby Ayo kata kan tadi kamu mengatakan apa kepada ku. " Bujuk Wisnu seraya mengecup wajah Windi dari samping.
"Aku hamil." Cicit Windi namun masih di dengar oleh Wisnu.
"Kamu sengaja?" Lirik Windi
"Tentu saja, Aku sudah tidak sabar menanti kan bayi lucu dan menggemaskan kita. "
"Ck kenapa tidak memberitahu ku?"
"Biar jadi kejutan untuk mu karena sudah hadir buah hati tercinta kita. "
Wisnu mendudukkan tubuhnya dan sejajar dengan perut Windi yang masih terlihat rata. "Welcome Baby Junior jangan menyusahkan Mommy mu yah. " Bisik Wisnu di perut Windi. Namun masih di bisa di dengar oleh Windi.
"Iyah Daddy." Balas Windi menirukan seperti baby.
Wisnu mengangkat wajahnya dan tersenyum manis ke arah Windi.
°°°
Wisnu sudah yang mendapat kabar bahagia dari Windi Membuat nya bertekad untuk menyelesaikan masalah nya dengan Refa hari ini ia berbicara baik-baik dengan adiknya. Ia harus mengatakan kalau Refa harus bisa menerima semua ini, Meskipun berat Untuk nya. Ia tidak bisa mengambil resiko jika Refa sewaktu-waktu akan menyakiti istri dan juga calon bayi Meraka.
Kini mobil BMW i8 Black nya sudah terparkir di Halaman lobby Apartemen Wisnu. Hari ini ia sengaja mengendarai mobil nya sendiri. Wisnu berulang kali menghela nafas nya. Hingga setelah merasa yakin, Ia keluar dari mobil. Semua mata yang berlalu lalang menatap kagum ke arah Wisnu yang berjalan masuk ke arah apartemen. Ia langsung masuk ke lift menuju ke lantai di mana tempat Apartemen.
Wisnu melihat ada beberapa penjaga yang bertugas menjaga apartemen Refa di sudut Ruangan. Semua para pengawal menunduk hormat ke arah Wisnu. Sebelum masuk ia berpapasan dengan Dito yang baru saja datang membawa kan sarapan untuk Refa.
"Selamat Pagi Tuan muda. " Sapa Dito
"Ehm..." Wisnu melirik ke arah bungkusan yang ada di tangan Dito.
"Apa itu untuk Refa?"
"Iyah tuan."
"Kemari kan biar aku saja. "
Dito Menyerahkan sebungkus bubur untuk Refa kepada Wisnu. Wisnu menekan pin apartemen Refa, matanya mendelik tak percaya dengan keadaan apartemen Refa yang terlihat berantakan, Wisnu menghembus kan kasar nafasnya.
__ADS_1
Ia meletakkan plastik makanan di atas meja, Ia berjalan menuju kamar Refa. Ketika membuka pintu hal pertama yang ia lihat adalah botol Minuman yang berserak an di lantai.
Wisnu berjalan mendekat ke arah ranjang Refa. "Refa..Fa.. Bangun... " Ujar lembut Wisnu, namun sang empu hanya diam tanpa merespon Wisnu.
"Refa bangun." Teriak Wisnu. Teriakan Wisnu membuat Refa terbangun, Refa terbangun dengan nyawa yang masih belum terkumpul.
"Bangun dan cuci mukamu setelah itu kita akan bicara." Ujar Wisnu setelah itu berlalu meninggalkan Refa yang masih duduk di ranjang nya.
Refa hanya mendengus kesal, tapi ia tetap menuruti perkataan Wisnu. Setelah selesai cuci muka Refa menghampiri Wisnu yang sedang menunggu nya di meja makan. Kedua nya saling melemparkan tatapan tajam dan dingin nya satu sama lain.
Dengan enggan Refa duduk di kursi yang menghadap ke arah Wisnu. Ia melirik tajam ke arah Wisnu yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Makan la." Ujar Wisnu seraya menyodorkan sebungkus bubur untuk Refa.
"CK." Karena merasa lapar Refa menerima pemberian Wisnu dan memakan nya dengan lahap. Sesekali ia melirik ke arah Wisnu yang sedang fokus dengan ponselnya, Hingga perhatian nya teralihkan ke arah jam tangan Wisnu yang seperti nya ia kenal.
Ahh jam tangan itu seperti foto yang di postingan Windi. Batin Refa.
Ingatan itu membuat Refa geram tetapi ia harus tetap tenang di hadapan Kaka nya karena jika ia mengamuk akan menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.
Refa yang sudah memasukkan suapan terakhir nya memilih untuk langsung pergi Namun langkah nya di cegah oleh suara Wisnu yang memanggilnya.
"Refa! Duduk la kita perlu bicara." Ujar Wisnu dengan dingin.
"CK Apa yang perlu dibicarakan? Apa kau ingin mempamerkan hubungan harmonis mu dengan Windi ? " Ujar Refa dengan sinis.
"Astaga duduk lah atau aku akan mematahkan kaki mu agar kau bisa duduk."
Dengan malas Refa kembali duduk di kursinya, Keduanya masih saling melempar kan tatapan tajam nya satu sama lain. Tetapi kini yang tatapan paling mematikan adalah tatapan tajam Wisnu yang seolah membunuh lawan bicara nya.
Sudah hampir sepuluh menit mereka hanya saling melemparkan pandangan satu sama lain. Hingga akhirnya Wisnu memulai perbincangan dianatara mereka berdua.
"Ehm..." Dehem Wisnu.
Refa hanya diam menunggu perkataan Kaka nya, Ia sebenarnya tau apa yang akan di bahas kakak nya saat ini.
"Refa... Seperti yang kamu tau Windi sekarang adalah istri ku, Aku tau kamu sangat mencintai nya tetapi cinta yang kamu miliki untuk istriku akan sia-sia karena Windi hanya akan mencintai ku dan menjadi milik ku untuk selamanya, Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun berani menyakiti istriku sekali pun itu diri mu." Ujar Wisnu dengan tegas.
Refa dapat melihat nya dengan jelas dari sorot mata Wisnu yang terlihat begitu tegas. "Huh, Apa kau di sini untuk mengancamku? Apa kau tau aku akan melukai Istri mu? Hahaha apa segitu Takut nya kamu aku akan berbuat nekat kepada Istri mu?" Ujar Refa dengan sinis.
Wisnu yang mendengar perkataan Refa membuat nya mengepal kedua tangan nya, Matanya juga sudah mulai berubah merah. Ia memejamkan singkat mata nya berusaha menenangkan emosinya. "Aku hanya tidak ingin kau dalam bahaya jika kau berani berbuat nekat kepada Windi, Karena pada dasarnya kamu tidak tau siapa Windi sebenarnya."
Refa menggebrak meja tidak terima mendengar perkataan Wisnu. "Apa maksud mu aku tidak mengenal siapa Windi sebenarnya? Bahkan aku lebih duluan mengenal Windi dari pada dirimu." Sewot Refa tidak terima.
Wisnu terkekeh mendengar perkataan Refa. "Mungkin kamu benar, Kamu lebih dulu mengenal Windi tetapi kamu belum masuk kehidupan Windi yang sesungguhnya, karena Windi yang kamu kenal bukan Windi yang aku kenal."
"Refa aku tau cinta mu tidak salah tetapi satu hal yang kamu ingat bahwa yang kamu cintai adalah istri Kaka mu, dan itu tidak baik untuk hubungan kita. Kita sudah terjalin hubungan semenjak kita di lahirkan Ke dunia ini oleh mama. Jangan hanya karena seorang wanita kita berselisih paham, Aku yakin Tuhan telah menyiapkan seseorang yang lebih baik dari Windi. Aku tau aku bukan kakak yang baik untuk mu tapi percayalah rasa sayang ku kepada mu itu lebih besar dari siapun, Aku bisa melakukannya apapun untuk mu tapi tidak untuk meninggalkan Windi karena aku sudah berjanji untuk sehidup semati dengan nya. " Sambung Wisnu menjelaskan apa yang ingin dia katakan kepada Refa.
Refa yang mendengar perkataan kakak nya membuat nya hanya diam saja mencerna setiap perkataan Wisnu.
Wisnu melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul Sembilan, Ia harus segera pergi untuk menghadiri rapat dengan Investor proyek barunya.
Wisnu bangun dari duduknya merapi kan jas yang sedikit berantakan, ia melirik ke arah Refa yang hanya diam saja. "Aku harus segara pergi, Aku harap kamu dapat melupakan rasa cinta mu kepada istri ku. Karena itu sangat tidak benar jika kamu mencintai kakak ipar mu. " Ujar Wisnu dengan lembut namun penuh ketegasan.
Sebelum pergi Wisnu kembali menatap dingin ke arah Refa. "Refa ingat lah perkataan ku dan mencernanya kembali. " Sambung Wisnu dan langsung meninggalkan Refa yang hanya diam mematung di kursinya.
Setelah kepergian Wisnu Refa kembali menangis. Benar apa yang dikatakan Kaka nya sudah saatnya ia mengikhlaskan segalanya tentang Windi, Masih banyak cinta yang menanti dirinya.
Benar apa yang dikatakan kakak, Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Aku harus melupakan cinta yang hanya sepihak ini dalam hati ku dan mengubur nya dalam-dalam ke dasar jurang yang paling dalam. Tapi Maaf kan aku jika sewaktu-waktu aku tidak bisa menahan diriku untuk berbuat kesalahan. Batin Refa.
.
.
.
.
Kalian Suka Part nya Banyak atau Part nya sedikit? Atau lebih suka Part nya dibagi-bagi?
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)