
Sebelum pergi ke perusahaan Benny dan Fitri datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Windi.
Saat berasa di rumah sakit, Mereka berdua melihat Windi yang sudah terbangun dengan pandangan kosong dan kesedihan. Keduanya saling menatap satu sama lain.
Benny mengisyaratkan Fitri untuk bisa menghibur Windi yang merasa sedih atas kejadian ini. Matanya melirik ke arah Wisnu yang sedang tertidur pulas di sofa. Ia memilih untuk membangun kan Wisnu yang sedang tertidur.
Fitri berjalan mendekat kearah sisi bankar Windi, Seulas senyuman tulus terpancar di wajah Fitri."Sayang apa ada yang masih sakit?" Tangan Fitri mengelus lembut kepala Windi.
Windi menggelangkan kepalanya."Tidak Ma aku baik-baik saja." Ujar Windi.
Matanya melirik ke arah Benny yang berjalan kearah Bankar nya. "Windi Bagaimana kabar mu?" Tanya Benny
"Aku akan baik-baik saja Pa." Ujar Windi dengan lirih, Tapi sebenarnya ia sedang tidak baik-baik saja. Ia sangat merasa tersiksa dengan semua ini. Ini sangat berat untuk nya, Ia butuh Istirahat untuk memenangkan dirinya. Namun sebisa mungkin Ia harus menutupi semua ini dengan senyuman di wajah nya.
"Syukur la." Benny melirik ke arah Wisnu yang masih tertidur pulas di Sofa, Benny berjalan menghampiri Wisnu yang masih tertidur pulas di sofa.
"Wisnu..." Benny menggoyang kan pelan bahu Wisnu.
Wisnu yang merasa terusik mengerjap-ngerjap kan mata nya menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan. "Papa?" Wisnu langsung duduk di sofa dengan tangan masih mengucek-ngucek matanya.
"Ehmm..."
Fitri dan Benny Menatap haru ke arah Wisnu yang terlihat begitu mencintai Windi sepenuh hati nya.
Dalam hati yang paling dalam Fitri benar-benar menyesal dengan permintaan nya waktu itu yang meminta Wisnu untuk melepaskan Windi dan merelakan nya untuk kembali bersama Refa. Kini ia sadar kalau kedua orang itu saling mencintai satu sama lain.
Maafkan aku Tuhan yang pernah berniat buruk untuk memisahkan anak dan juga menantu ku... maaf kan aku... Batin Fitri
Benny yang tidak bisa berlama-lama berpamitan untuk segara ke kantor dan menggantikan Wisnu sementara waktu karena menjaga Windi.
Sedangkan Fitri memilih untuk tetap tinggal menemani Windi dan Wisnu. Untuk menebus rasa bersalah nya karena pernah terfikir untuk memisahkan mereka berdua.
Awal nya Wisnu menolak, tetapi karena Windi yang meminta membuat Wisnu mau tidak mau menuruti kemauan Windi. Kini di di ruang yang luas dan nyaman, Hanya ada Fitri, Wisnu dan Juga Windi.
Saat akan memasuki makan siang Wisnu mendapatkan telfon dari Benny untuk pergi kekantor dan menemui klien nya. Namun rasa nya enggan sekali bagi Wisnu untuk meninggalkan Windi yang jauh dari pengawasan nya langsung. Meskipun ada mama nya tapi masih tidak tenang jika harus meninggalkan Windi.
"Wisnu pergi la, Aku tidak apa-apa... Kan ada Mama yang akan menjaga ku... Aku akan baik-baik saja..." Ujar Windi meyakinkan Wisnu.
"Tapikan Baby, Aku benar-benar tidak tenang meninggalkan mu.."
Seulas senyum kecil terpancar di wajah cantik Windi."Isnu aku akan baik-baik saja... percayalah..."
Wisnu mendengus mendengar perkataan Windi."Baik lah, Aku akan pergi... tapi berjanjilah untuk segara menghubungi ku jika sesuatu terjadi pada mu..."
Windi menganggukkan kepalanya Mengerti. Sebelum pergi Wisnu mengecup lembut kening Windi. Wisnu Menatap ke arah Mama nya.
"Mama jagain Windi ya sampai Wisnu kembali." Ujar nya
"Kamu tenang saja mama akan menjaganya."
Meskipun ia masih sedikit kesal dengan Fitri tapi tidak membuat Wisnu menghilangkan rasa hormat nya kepada Fitri. Wisnu Menatap sekilas ke arah Windi yang sedang tersenyum kepada. Entah kenapa rasanya berat sekali meninggalkan Windi. Tapi ia harus menyingkirkan Fikiran buruk nya. Ia harus percaya kalau semua nya akan baik-baik saja.
Wisnu menelfon Panji untuk mengetatkan penjagaan di dekat ruangan Windi selama ia pergi, Ia tidak ingin mengambil resiko yang dapat mengancam keselamatan Windi. Karena ia yakin para musuh masih akan terus mengincar Windi.
Kini di ruangan itu hanya tersisa Windi juga Fitri. "Sayang, Lebih baik sekarang kamu istirahat saja dulu, " Ujar Fitri.
Windi menganggukkan kepalanya, Fitri membantu Windi untuk berbaring di Bankar. Tangannya mengelus lembut kepala Windi. "Mimpi Indah sayang.." Tidak lupa Fitri memberikan kecupan hangat di kening Windi.
Pukul Satu siang Windi terbangun dari tidurnya, Ia mendapati Mama mertuanya sedang tertidur di samping ranjang nya. dengan kepala yang di letakkan di sisi kiri ranjang nya.
"Ma.." Ujar lirih Windi.
Namun sayangnya Fitri tidak mendengar suara nya, Windi hanya tersenyum kecil. Ia mengerti mungkin Mama mertuanya lelah.
Dengan susah Payah Windi berusaha udah duduk. Rasanya ia haus. Fitri yang merasakan goncangan dari tempat tidur mengerjap-ngerjap kan matanya.
"Sayang apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Fitri.
"Maaf ma... Mama jadi kebangunan karena aku."
"Tidak sayang jangan berkata seperti itu, Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
"Windi haus ma.." Ujar Windi.
Fitri mengangguk kepalanya, Ia bangun dari kursinya mengambil gelas dan mengisinya dengan air.
"Terimakasih ma.." Ujar Windi setalah menerima segelas air dari Fitri.
Fitri hanya tersenyum dan mengangguk kepalanya, Mata Fitri menatap iba ke arah Windi yang begitu terlihat pucat.
Tuhan aku harap setelah ini tidak ada penderitaan lagi yang menimpa keluarga ku Tuhan. Batin Fitri.
Windi meneguk kandas air yang ada di gelas, Rasanya ia benar-benar sangat haus sekali.
"Kamu haus banget yah?"
Windi menyengir mendengar perkataan Fitri. Tangan Fitri terulur mengelus lembut kepala Windi."Windi kamu harus kuat ya menghadapi semua ini." Ujar Fitri.
Perkataan Fitri membuat dirinya kembali sesak dan nyeri. Tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan semua rasa sesak dan nyeri nya."Iya ma.."
Maafin Windi ma...Tapi ini terlalu berat untuk Windi.
Mata Windi melirik ke arah botol air yang tinggal sedikit." Ma Windi ingin minum lagi." Ujar Windi.
Fitri kembali mengambil minuman untuk Windi."Ni sayang.."
"Windi mama beli air dulu ya, Tinggal sedikit." Ujar Fitri.
Windi menganggukkan kepalanya."Iya ma.."
Mata Windi menatap ke arah punggung Fitri yang perlahan menghilang dari pandangan nya.
Maaf..
Cafe Jp'o
__ADS_1
Wisnu dengan stelan rapi nya kini sedang membasah proyek yang akan ia tangani dengan perusahaan yang berada Di China.
Kali ini Proyek yang akan di tangani Wisnu dan adalah pembangunan Mall dan juga Perumahan Elit yang akan berada di lingkungan yang sama.
Proyek yang hampir selama dua bulan ini sedang ia bahas dengan para Investor yang akan bergabung dalam proyek kali ini.
Wisnu harus mencari Investor yang mau bekerja sama dengan proyek nya. Sebenarnya ia bisa saja mendanai Proyek kali ini menggunakan dana perusahaan, Tetapi dari perusahaan China sendiri menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi dari yang di janjikan pada proyek kali ini.
Mau tidak mau Wisnu harus mencari investor yang ingin bekerjasama dengan perusahaan nya. Dan kini ia sedang membahas perjanjian yang akan ia bahas dengan para investor dan juga salah satu perwakilan dari Pihak perusahaan China sendiri.
Sedari tadi selama meeting, Wisnu sama sekali tidak fokus. Mungkin Raga nya ada di sini tapi hati dan Fikiran nya berada di tempat Windi. Ia terus memikirkan kondisi Windi. Entah kenapa ia selalu merasa cemas dan khawatir tentang Windi.
Wisnu ijin ke toilet sebentar, Padahal ia ingin menelfon mamanya untuk memastikan keadaan Windi
"Halo Ma.."
"Halo Isnu ada apa?"
"Bagaimana kondisinya Windi ma?"
"Dia baik-baik saja, Dia sedang beristirahat Wisnu. Kamu tidak perlu khawatir Windi akan baik-baik saja."
Wisnu bernafas lega ketika mendengar penuturan Mamanya "Baik lah, Aku tutup dulu telfon nya ya." Wisnu kembali ke ruangan dan berusaha untuk tetap fokus, Tapi tetap saja ia masih di rundung rasa khawatir dan cemas. Wisnu berulang kali menghela kasar nafasnya. Ingin sekali ia cepat-cepat untuk kembali ke rumah sakit Windi dan menemani nya.
Sial! Kenapa perasaan ku tidak tenang?
Gerak-gerik Wisnu tidak luput dari pandangan Panji yang terus memperhatikan Wisnu."Ada apa dengan tuan Wisnu? Kenapa dia terlihat gelisah sekali?".
Wisnu terus melirik jam tangannya. Kenapa lama sekali. Batin Wisnu.
Lima belas menit kemudian
"Terimakasih Tuan Wisnu atas Waktu, Untuk pertemuan selanjutnya kita akan membuat janji lagi." Ujar salah satu Investor.
Wisnu mengangguk kepalanya dan tersenyum kecil."Ia Tuan."
"Baik la kalau begitu kami permisi dahulu."
Kini tinggal Wisnu dan juga Panji."Tuan ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah sekali."
"Entahlah perasaan ku tidak enak."
"Panji Antar kan aku akan kembali ke rumah sakit dan urus lah kantor selama aku tidak masuk.." Ujar Wisnu.
"Baik Tuan silahkan." Kedua nya beriringan menuju ke parkiran mobil.
Panji membukakan pintu untuk Wisnu ketika mereka sudah tiba di rumah sakit. Saat akan masuk langkah mereka terhenti ketika Seseorang memanggil nya.
"Wisnu.."
Wisnu membalikkan badannya dan menatap ke arah seseorang yang sedang memanggil nya. "Papa James?"
Ya orang yang manggil Wisnu adalah James bersama rombongan nya. Ia terlihat sedikit terkejut dengan kehadiran. James yang begitu cepat. Wisnu menjabat tangan James dan juga Keylly.
"Kau dari mana?" Tanya James dengan dingin.
"A-aku tadi ada meeting mendadak."
"Lalu Siapa yang menjaga Windi?" Tanya James lagi.
"Mama.." Wisnu meneguk kasar Saliva nya, rasanya kali ini aura James lebih mencekam dari biasanya.
James hanya diam mengangguk kepalanya, Matanya melirik tajam ke arah Panji yang sedari tadi menunduk tak berani menatap ke arah James.
James, Wisnu, Keylly, Ken, dan juga Panji beriringan menuju ke ruangan Windi. Saat berada di ujung lorong mereka berpapasan dengan Fitri yang membawa sekantung Air mineral yang baru saja ia beli.
"Mama?" Panggil Wisnu.
"Kau sudah selesai Nak?" Tanya Fitri.
"Iya ma."
Fitri melirik ke arah James dan juga Keylly."Besan?"
Bukan menjawab sapaan Fitri James Justru bertanya. "Windi sama siapa?" Tanya James dengan dingin dan juga ketus.
"Di-dia sedang sendirian dan juga bersama para pengawal yang sedang menjaga nya."
Sial!
Sial!
Mendengar itu James dan juga Ken mengumpat kesal atas kebodohan Besannya yang meninggal kan Windi sendirian di ruangan itu, Saat kondisinya Windi sedang sangat rapuh.
Keduanya berlari tergopoh-gopoh menuju ruangan Windi dirawat. Wisnu dan yang lain melihat James dan juga Ken Berlari Membuat mereka ikut berlari menyusuri lorong menuju ruang Windi di rawat.
Brak!
James langsung menendang Pintu ruang rawat Windi, dan betapa terkejutnya mereka.
"Windi!!"
"Baby!!"
"Little Girl."
"Baby Girl."
Mereka semua berteriak ketika melihat darah yang mengalir di pergelangan tangan Windi. Mereka semua terlambat, Windi sudah menggoreskan sembilah pisau yang tajam di pergelangan tangan nya.
Cepat-cepat Wisnu merengkuh tubuh Windi ke dalam pelukan nya."Tidak! Tidak! Baby..."
"Aku pergi..." Ujar Lirih Windi. Sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran nya dengan Darah yang mengalir di tangan nya.
Wisnu yang melihat kesadaran Windi yang perlahan menghilang Membuat nya berteriak."Tidak! Tidak! Aku mohon Jangan!" Lagi-lagi tanpa aba-aba air mata Wisnu menetes dengan deras.
__ADS_1
Wisnu merasa dirinya telah Gagal lagi untuk melindungi Isteri nya. Ia telah gagal melindungin calon anaknya, Ia tidak ingin Gagal lagi melindungi isteri nya. Apalagi sampai harus kehilangan nya. Wisnu sungguh Tidak ingin itu semua terjadi.. ia Tidak bisa membayangkan betapa sakit dan hancur nya ia kehilangan Calon bayi dan Isterinya sekaligus.
"Cepat Panggilkan Dokter sialan." Teriak kesal James.
Dengan cepat-cepat salah satu pengawal memanggil Dokter. Sedangkan Fitri yang melihat darah yang terus mengalir di pergelangan tangan Windi membuat nya diam terpaku di ambang pintu.
Brak!
Plastik yang ia bawa terlepas dari genggaman tangan nya."Windi.."
James mengeram marah melihat putri kecilnya mencoba untuk menghilangkan nyawanya."Kenapa Little? Kenapa harus seperti ini?" James menatap kecewa dan juga marah melihat putri nya putus asa.
Matanya memanas Melihat kondisi Putrinya. Ia berusaha untuk tidak meneteskan air mata nya. Tidak, Tidak boleh ia tidak boleh menangis jika ia menangis siapa yang akan menguat kan putri kecil nya dan juga Istrinya? Ia harus kuat kan hati dan juga bahu nya untuk bertahan.
Tak lama seorang dokter dan beberapa datang dengan tergopoh-gopoh."Dokter cepat selamat kan Istri ku." Wisnu merenggangkan pelukannya.
"Mohon tunggu di luar."
Wisnu hanya diam dan menatap kosong ke arah tubuh lemah Windi. James yang melihat Wisnu hanya diam mematung membuat nya menghela nafas nya. Ia berjalan mendekat ke arah Wisnu. Ia menepuk pelan pundak Wisnu yang terlihat kokoh namun kali ini tidak sama.
"Biarkan Dokter memeriksa Windi. Dia akan baik-baik saja." Ujar James.
Wisnu menarik nafas dan mengerjap-ngerjap matanya yang tak berhenti mengeluarkan air mata. Wisnu mengangguk kepalanya, Mereka semua menunggu di luar ruangan rawat Windi.
Keylly yang melihat keadaan putri nya membuat batin nya sedikit terguncang membuat nya sangat lemah. Kali ini Air mata nya mengering. Ia hanya bisa menangis dalam diam tanpa air mata dan juga Suara.
James menenangkan Istri nya dan berulang kali mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Tidak hanya Keylly, Fitri juga merasa terguncang melihat keadaan Windi. Andai saja ia tidak keluar, Andai saja ia tidak meninggalkan Windi sendirian, Andai saja ia tadi menyuruh pengawal dan tidak meninggalkan Windi. Andai saja... Fitri terus berandai-andai saat ini.
Sungguh Fitri tidak ingin ini semua terjadi, Ia semua salahnya karena meninggalkan Windi sendirian. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Karena kecerobohan nya Windi mencoba mengakhiri hidupnya. Apa? Apa yang akan terjadi kepada Windi? Kenapa dia bisa sangat ceroboh sekali.
Fitri menangis kebodohan nya karena tanpa sadar, Karena kecerobohan nya Windi mencoba mengakhiri hidupnya.
Matanya menatap satu-satu orang-orang yang sedang menunggu Windi. Hingga tatapan sendu terpaku ke arah Wisnu yang terlihat menyedihkan sekali. Ia terlihat sangat kacau dan juga terpukul. Ini semua salah nya yang tidak bisa menjaga Windi dengan baik.
James yang melihat Fitri diam dan menangis, Membuat nya tidak tega. Ia menghampiri Wisnu yang masih berdiri di depan pintu menatap ke arah kaca yang langsung memperlihatkan para dokter dan juga suster yang sedang menangani Windi.
"Wisnu."
Wisnu menoleh ke arah James, Bibir nya hanya diam tapi tidak untuk air mata nya.
"Lihat la." James menunjuk ke arah Fitri yang sedang terduduk lesu dengan air mata yang mengalir di wajah nya.
"Katakan padanya bahwa semua nya akan baik-baik, putri orang yang kuat.. Hibur lah Mama mu..Aku tidak ingin mama mu itu menyalahkan dirimu sendiri." Ujar James dengan Dingin.
Wisnu menghapus air matanya dan mengangguk kepalanya. Ia berjalan menghampiri Fitri yang sedang terduduk lemas."Ma..." Panggil Wisnu dengan lembut.
Fitri mendongakkan kepalanya menatap penyesalan kearah Wisnu."Maafkan mama." Ujar Fitri dengan terisak.
"Tidak Ma..Tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini, Tidak akan ada yang tau jika seperti ini..Jangan salah kan dirimu.." Wisnu Menggenggam lembut tangan Fitri.
"Tapi...Ini semua salah mama...Tidak seharusnya Mama meninggalkan Windi seperti ini.." Bahu Fitri bergetar di iringi dengan tangisnya.
Wisnu membawa mamanya ke dalam pelukan nya, Fitri yang berada di pelukan nya semakin menangis Segugukkan. "Maafkan Mama Wisnu.." Ujar lirih Fitri.
Wisnu melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Mama nya."Jangan nangis Ma, Kalau Mama nangis Windi ikutan sedih..Kita harus percaya kalau semuanya akan baik-baik saja." Ujar Wisnu seraya menghapus air mata Mamanya.
Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan Windi dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Wisnu dan yang lain nya langsung menghampiri dokter.
"Dokter Bagaimana Kondisi Isteri ku?" Desak Wisnu.
Sedangkan James hanya diam menatap datar ke arah Dokter. Ia menunggu apa yang akan di katakan Dokter itu, Ia berharap ia tidak mendapatkan kabar buruk atau dia tidak akan segan-segan akan membunuh dokter itu.
"Tuan, Goresan yang di pergelangan tangan nona Windi untung saja tidak terlalu dalam hingga tidak terjadi sesuatu yang buruk," Ujar dokter
Mereka semua bernafas lega mendengar perkataan dokter.
"Tapi kondisi Batin yang di alami nona Windi membuat jiwa nya terguncang, Hingga Membuat dirinya semakin lemah dan terpuruk yang dapat membuat nyawa nona Windi Terancam. Saya Harap Anda dan keluarga anda selalu memberikan dukungan kepada nona Windi agar ia tidak memilih untuk menyerah Tuan."
Deg!
Hati Wisnu dan yang lain mencelos mendengar perkataan dokter yang mengatakan Kondisi Windi bisa saja sewaktu-waktu menjadi ancaman jika batin nya terus-terusan terguncang? Apa yang harus mereka lakukan untuk mengembalikan Windi mereka.
Wisnu menghapus air matanya, "Lalu bagaimana kondisinya saat ini Dok?" Tanya Wisnu dengan tidak sabaran.
Seulas senyum kecil terpancar di wajah Dokter."Untuk saat ini kondisi tubuh nona Windi sudah lebih membaik, Tapi sekali lagi saya ingat kan untuk selalu menjaga kondisi mental nona Windi agar tidak terjadi Sesuatu yang tidak di inginkan." Ujar nya.
Semua orang menghela nafas lega mendengar perkataan dokter.
"Apakah saya bisa melihat nya Dokter?" Tanya Wisnu dengan penuh semangat.
Dokter mengangguk kepalanya."Tentu saja boleh Tuan." Ujar nya.
Saat Wisnu ingin masuk ke ruang Windi, Langkah nya tertahan mendengar suara Keylly yang memanggil nya.
"Wisnu..."
Wisnu membalikkan badannya menatap ke arah mama mertua nya yang sedang menatap nya dengan tatapan sendu."Iya ma?" Wisnu menghampiri Mama mertuanya.
"Wisnu boleh kah mama melihat Windi terlebih dahulu?" Tanya nya.
Wisnu mengangguk kepalanya dan tersenyum ke arah Keylly."Tentu saja ma.."
Mendengar perkataan Wisnu membuat Keylly ikut tersenyum ke arah Wisnu.
Sedangkan James Menatap dongkol ke arah Istri dan juga menantu nya yang saling melemparkan senyum manis.
Berani sekali dia tersenyum manis ke Istri ku?! Dan apa-apaan tadi? Kenapa Keylly juga ikut tersenyum ke arahnya. Grutu James.
Ken yang melihat James Menatap dongkol ke arah menantu dan juga Istrinya membuat memutar kan jengah bola matanya.
Bucin akut.
__ADS_1