Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Suara yang Aneh


__ADS_3

Di Ruang yang bernuansa putih abu-abu terdapat sepasang insan yang sedang berpelukan dengan sangat erat.


" Isnu.. Apa kamu sudah Tidur?" Windi melukis gambar abstrak di dada bidang Wisnu.


" Ehm.."


Windi mencibik bibirnya." Kalau sudah tidur kenapa kamu menjawab nya?" Ujar kesal Windi.


Wisnu membuka kedua matanya." Ada apa? kenapa kamu belum tidur? ini kan sudah malam Baby, Ayo Tidur... Hari ini pasti membuat mu lelah bukan?"


" Hah.. Kamu benar tapi aku tidak bisa tidur Isnu... "


" Apa yang membuat Wanita cantik ini tidak bisa tidur?" Kepala nya ia tundukkan untuk melihat Windi yang sedang menggambar Abstrak di dada bidangnya.


" Entah la, Boleh aku bertanya sesuatu Isnu?"


" Apa yang ingin kamu tanyakan baby?" Tangan Wisnu mengusap lembut kepala Windi, Sesekali ia mencium aroma rambut Windi.


" Ehm... Bagaimana kamu bisa sampai di sini? " Mata Windi kali ini menatap wajah Wisnu yang sedang menunduk di Curuk lehernya.


Wisnu hanya diam saja hal itu membuat Windi merasa kesal.


" Isnu.." Windi mencubit pelan perut Wisnu.


" Aww... Baby kenapa kamu mencubit ku? "


" Aish... kamu tidak menjawab pertanyaan ku." Windi memajukan bibirnya dengan wajah cemberut.


Wisnu yang melihat wajah Windi yang menggemaskan membuat nya ingin menerkam Windi, Tapi ia urung kan karena ia punya waktu dan tempat yang cocok untuk melakukan itu.


" Memang nya Apa yang kamu tanyakan Baby?" Wisnu mengelus lembut pucuk kepala Windi.


" Aish menyebalkan!" Windi melepaskan pelukannya dan berbalik memunggungi Wisnu.


Wisnu menggeleng-gelengkan kepalanya, Tubuhnya ia dekat kan dengan tubuh Windi." Kenapa kamu memunggungi ku Baby? " Wisnu meletakkan tangannya di pinggang Windi dan memeluknya dengan erat.


Windi hanya diam saja dan pura-pura tertidur.


Huh! menyebalkan sekali


" Baby apa kau sudah tidur?" Tangan Wisnu bergerak masuk ke dalam piyama tidur Windi, Tangannya mengelus lembut Perut rata Windi. Windi yang merasakan sentuhan tangan Wisnu membuat beraksi tapi sebisa mungkin ia menahannya.


Aish! kenapa dia mengelus-elus perut segala? Apa dia tidak tau i-itu benar-benar membuat ku seperti ada kupu-kupu di perut ku.


Wisnu yang merasakan ada pergerakan dari Windi membuat Tersenyum kecil, Ia menyenderkan kepalanya di bahu Windi, kaki nya ia biarkan menghimpit kedua kaki Windi agar Windi tidak melepaskan nya. Tangannya yang satu lagi menyampirkan rambut Windi yang menghalangi Curuk leher Windi. Wisnu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Windi, Sesekali ia memberikan kecupan singkat di leher Windi.


Windi mati-matian menahan gejolak dalam tubuhnya akibat deru nafas Wisnu yang terasa sangat hangat di tengkuknya.


kecupan singkat yang di berikan Wisnu juga membuat nya semakin bergejolak dengan tubuhnya.


Aish... Jika terus seperti ini aku tidak akan sanggup.


Tangan Windi menepis tangan Wisnu yang berada di perutnya. " Isnu aku ingin tidur."


" Ehm.."


" Isnu.. Berhenti la aku ingin tidur."

__ADS_1


Wisnu menghentikan aktivitas nya sejenak." Baby jika kamu ingin tidur, Tidur la aku tidak akan mengganggumu." Ujar Wisnu dan melanjutkan kembali aktivitas nya yang Abstrak.


" Aish... Tapi kamu mengganggu tidur ku Isnu." Cibir kesal Windi.


" Baby tapi aku tidak mengganggu mu sama sekali." Tangan nakal Wisnu kembali masuk ke dalam piyama Windi perlahan tapi pasti tangan nakal Wisnu naik ke atas gumpalan yang berbentuk seperti bola, Ia meremas pelan gumpalan bola itu, Apalagi dengan Windi yang tidak memakai bra setiap mau tidur untuk kesehatan membuat tangan Wisnu leluasa menyentuh gumpalan bola windi, Tangannya menyentuh langsung kulit permukaan gumpalan bola tersebut. Tindakan Wisnu membuat satu desahan berhasil lolos dari bibir mungil Windi.


" Ahh.." Windi memejamkan kedua matanya seakan-akan menikmati sentuhan-sentuhan lembut yang di berikan Wisnu.


" Hmmphh... Isnu hentikan." Ujar kesal Windi.


" Ehm.. biarkan seperti ini baby mereka benar-benar terasa empuk dan kenyal sekali." Ujar gamblang Wisnu


" Isnu!"


" Ehm.. Baik la tapi.. berbalik lah jangan memunggungi ku Baby."


Windi menggeleng kan kepalanya dan berusaha melepaskan tangan Wisnu yang berada di balik baju nya. Tindakan Windi membuat Wisnu tersenyum miring dan semakin memegang erat gumpalan bola windi.


Ahh...


Kenapa mulut ini tidak bisa berhenti mengeluarkan suara yang aneh itu... Aish.. Aku benar-benar tidak bisa seperti ini karena tubuh menerima setiap tindakan tangan nakal Wisnu dan itu membuat tubuh ku terasa panas, Jika ini terus berlanjut maka akan terjadi hal yang tidak aku ingin saat ini.


Setelah berkecamuk dengan hati nya akhirnya dengan terpaksa Windi membalikkan badannya menghadap Wisnu yang sedang menatap nya, Kedua mata mereka saling terkunci satu sama lain. Wisnu tersenyum puas melihat Windi yang membalikan badannya.


" Peluk aku."


Windi memeluk Wisnu dengan erat, Wajah nya ia benamkan di dada bidang Wisnu yang terasa hangat dan nyaman.


" Baby... Kau tau betapa cemas dan khawatir nya diri ku ketika Panji mengatakan kau menelfon nya tapi suara kamu sama sekali tidak mengeluarkan sepatah dua kata dari bibir mungil mu, Tapi suara nafas mu yang terdengar bergetar dan seperti ketakutan membuat Panji langsung Mengerti kalau saat itu kamu sedang dalam bahaya." Tangan Wisnu bergerak mengusap lembut kepala Windi.


" Lalu bagaimana mana kamu bisa sampai begitu cepat Isnu? " Windi mendongakkan kepalanya menatap Wajah tampan Wisnu dari Bawah. Sebuah Senyuman manis terukir di wajah tampan Wisnu.


Flashback on


Setelah menerima panggilan dari Windi Panji segera melaporkan nya kepada Wisnu. Wisnu yang mendengar perkataan Panji membuat jantung seakan-akan Berhenti berdetak sesaat. Ia benar-benar ceroboh dan bodoh karena meninggalkan Windi sendirian di Apartemen nya.


Tanpa berfikir Panjang Wisnu menyuruh Panji untuk segera menyiapkan Helikopter secepatnya. Sebelum nya ia mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam mobil. Ketika menghidupkan ponsel terdapat puluhan notifikasi telfon tak terjawab dari Windi hal itu semakin membuat Wisnu semakin panik dan takut terjadi apa-apa terhadap Windi.


Ahhgg!! Aku meruntukki kebodohan ku... Jika terjadi sesuatu kepada Windi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.


Tak lama Panji datang dan mengatakan helikopter telah siap, tanpa basa-basi Wisnu langsung berlari ke tempat landasan helikopter. Ia berharap-harap cemas dengan kondisi Windi saat ini.


Tuhan... Ku mohon Lindungi Windi.


Sekitar lima belas menit mengudara di langit Helikopter Wisnu mendarat dengan sempurna di landasan helikopter di atas gedung Apartemen nya. Panji langsung turun tanpa menunggu Panji dan para pengawal nya karena sekarang yang berada di fikiran nya hanya keselamatan Windi dan melindungi Windi.


Saat akan masuk ke lorong apartemen nya Panji mencegah nya.


" Tuan muda sebaiknya kita jaga- jaga menyebar para pengawal untuk lebih muda menangkap pelaku nya Tuan muda."


Wisnu tampak memikirkan sejenak apa yang di kata Panji ada benarnya." Baik la."


Panji memberikan kode untuk seluruh Pengawal untuk menyebar, Setelah Pengawal menyebar perlahan-lahan Panji dan Wisnu masuk tanpa menciptakan langkah kaki. Mereka berdua di kejutkan dengan pintu Apartemen yang terbuka dan Lampu yang padam di dalam Apartemen Wisnu.


Wisnu sekilas melihat sosok bayang yang menuju ruang kerja nya, Namun sosok itu langsung menghilang. Wisnu ingin mencari sosok itu tapi sekarang yang lebih penting adalah menemukan Windi. Ia mengeluarkan Ponselnya dan menghidupkan lampu Flash Ponsel nya. Ia berjalan menuju Ruang kerja nya. Langkah nya ia pelan kan sampai lampu nya menyorot kearah Windi yang sedang terduduk di bawah meja kerjanya.


" Windi." Panggil Wisnu dan tanpa aba-aba Windi langsung memeluknya dengan sangat erat dan seperti tidak ingin di lepaskan ia juga merasa kan tubuh Windi yang masih gemetar dan keringat yang membasahi Wajah Windi.

__ADS_1


" I-isnu ta-tadi ada seseorang yang masuk, Aku tidak tau siapa dia... A-aku benar-benar takut." Tubuh Windi yang gemetaran semakin menunjukkan bahwa ia ketakutan


" Sst... Tenang lah aku ada disini.. Maafkan aku yang membuat mu ketakutan dan menunggu lama... Maaf.. Maafkan aku." Terdengar sebuah kata penyesalan terlontarkan dari mulut Wisnu.


" Ayo bangun la... Kita kebawah dan mencari tau siapa yang telah menakuti mu."


Windi menggelengkan kepalanya." Tenang saja... Ada aku disini." Wisnu menggendong tubuh Windi seperti bayi Kuala dan membawanya menuju kamar nya.


Flashback off


Kedua mata itu masih saling mengunci satu sama lain, Bahkan seperti tidak teralih ke arah pandangan yang lain. Seakan-akan Tatapan mata itu tidak ada yang lebih menarik dari tatap an mata keduanya.


Kenapa setiap kali aku memandang wajah nya aku seperti pernah mengingatnya, Tapi dimana? Kenapa aku benar-benar tidak merasa asing dengan tatapan teduhnya itu. Tatapan nya benar-benar membuat ku sangat tenang dan hangat.


" Sudah puas memandangi wajah tampan ku Baby?"


Windi yang mendengar pertanyaan Wisnu membuat nya tersentak dengan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


" Menyebalkan." Gumam Windi pelan yang tidak di dengar oleh Wisnu.


" Baby? Apa kamu mengatakan sesuatu?"


" Aku ingin Tidur." Windi merubah posisi nya dan mencari tempat ternyaman dalam pelukan Wisnu yang benar-benar hangat dan nyaman.


" Kamu tidak ingin memberikan sesuatu kepada ku? Sebelum kamu tidur?" Kepala nya ia tundukkan untuk melihat Wajah Windi yang berada di dada bidangnya.


" Memberikan Apa?" Tanya Windi dengan mata terpejam.


" Buka la dulu mata mu Baby."


Windi membuka matanya dan menatap mata Wisnu, mata Wisnu menatap intens wajah Windi dan beralih menatap bibir merah muda Windi. Wajahnya perlahan ia maju kan dengan tangan yang masih mengelus lembut kepala Windi.


Cup!


Satu kecupan mendarat di bibir merah muda Windi. Sebuah senyuman di tercetak jelas di wajah Wisnu. " Tidur lah aku sudah mendapatkan nya." Wisnu memeluk tubuh Windi dengan erat seakan-akan tidak membiarkan Windi untuk pergi. Sedangkan Windi hanya terdiam memaku dengan tindakan Wisnu yang suka sekali mencium nya secara tiba-tiba.


Kenapa dia suka sekali mencium ku tiba-tiba begitu? membuat jantung mencelos saja. Grutu Windi.


Karena mata yang sudah mengantuk Windi memejamkan kedua matanya dan membalas pelukan Wisnu.


Wisnu sedari tadi tidak tidur ia menunggu Windi tertidur duluan. Aku berjanji pada hidup ku sendiri bahwa sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi istri ku bahkan di kehidupan berikutnya. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut mu, Meskipun aku harus bertengkar dengan adik ku sendiri demi mempertahankan dirimu, Kau cinta terakhir dalam hidup ku. I Love you my Baby honey.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2