
Sudah hampir Dua minggu Wisnu menghilang begitu saja tanpa di ketahui keberadaan dan kabarnya. Windi juga sudah tau bahwa pria berkumis yang ia lihat adalah suaminya. Disatu sisi ia merasa senang dan bahagia secara bersamaan. Namun disisi lain ia merasa marah dan kecawa yang menjadi campur aduk dihatinya.
Ia bingung dengan keberadaan suaminya saat ini. Ia sudah menanyakan keberadaan suaminya kesemua orang namun semuanya hanya menjawab tidak tau tentang keberadaan suaminya.
Windi harap-harap cemas dengan keadaan Wisnu. Perutnya sudah mulai kelihatan meskipun ia baru mengadung Enam minggu. Karena Windi sedang hamil kembar hingga membuat perutnya sudah mulai kelihatan.
Tangannya terulur mengelus perutnya dengan lembut."Sabar ya sayang-sayang mommy. Mommy yakin Daddy kalian pasti akan segara kembali. Saat ia kembali nanti momny akan menghajarnya untuk kalian ya sayang." Ujar Windi.
Selama dua minggu ini Windi hanya istirahat di rumah sakit. Karena ia masih memerlukan pengawasan dari dokter. Apalagi ia sedang mengandung bayi kembar. Untuk itu ia harus di awasi dengan ketat. Keluarga Winata dan Witamma berganti untuk menemaninya.
Windi selalu menatap ke arah pintu ruangannya dan berharap bahwa yang kali ini datang adalah Wisnu. Meskipun ia ditelan kekecewaan karena Wisnu tak kunjung menemuinya.
Ceklek
Windi menatap kearah pintu yang terbuka, Terlihat Kembarannya datang dengan hampers buah ditangannya. "My Angel." Mendengar sapaan Windi membuat Wanda melebarkan senyumannya.
"Hallo, my baby. Are you oke?" Tanya sembari mengelus kepalanya.
"Ehm..Yaa." Bibirnya berkata bahwa ia baik-baik saja namun hatinya sedang gundah dan gelisah.
"Ya aku tau, Kau tidak harus menyembunyikannya. Kau merindukannya bukan?" Pertanyaan Wanda Membuat kedua mata Windi berkaca-kaca.
"Ya.. I really miss him, ahh no not only me but them too." Ujarnya sembari mengelus perutnya.
"Haa yaa.. Mereka juga. Kau tidaknperlu khawatir, Aku yakin dia akan baik-baik saja. Dia berpesan padaku untuk selalu menjaga mu dan calon bayi kalian." Ujarnya menenangkan Windi.
"Dia tau?"
"Ya dia orang pertama yang mengetahui kehamilanmu. Tapi dia tidak tau kau sedang hamil kembar."
"Ah begitu.. Apa kau sudah mendengar kabarnya?"
"Belum."
"Kira-kira dia sedang apa? Dan sama siapa? Kenapa ia tidak kunjung kembali? Apa dia sudah tidak menginginkan ku sampai harus meninggalkan ku dan menitipkan diriku padamu angel?"
Pertanyaan yang ditolontar membuat Wanda merasa kasihan dan marah sekaligus. Ia kasihan pada kembarannya yang terus memikirkan Suaminya. Namun, ia juga sangat marah jika Wisnu benar meninggalkan Kembarannya.
"Hei, Tidak usah terlalu berfikiran jauh. Oke?" Windi hanya diam dan memeluk tubuh Wanda dengan erat.
"Maaf.."
"Tidak usah minta maaf, Aku mengerti saat ini kamu sedang sensitif dengan segala sesuatunya. Hari ini kamu ada mual? Atau ada keluhan?"
"Ehm syukurnya, Hari ini mereka tidak rewel, Bahkan aku tidak muntah, mual ataupun pusing."
"Wah benarkah? Kalau begitu aku harap seterusnya kamu dan mereka akan baik-baik saja."
"Amin."
.
.
__ADS_1
.
Pesawat berwarna biru putih baru saja mendarat di bandara internasional. Seorang pria berpakai hitam dengan kemeja yang melekat di tubuhnya. Dibelakangnya, terlihat lima orang berbadan besar mengikutinya.
"Tuan, Jemputan anda sudah tiba." Ujar salah satu pengawalnya.
"Ehm."
Diperjalanan pria itu hanya fokus dengan Ipad yang ada ditangannya. Ia melihat foto dan video seorang wanita yang memakai baju rumah sakit. Wanita yang sangat ia cintai dan ia rindui selama dua minggu ini.
"Aku merindukkanmu baby." Ujarnya sembari mengelus layar monitor yang ada didepannya.
Sesampainya di rumah sakit pria itu menjadi pusat perhatian setiap orang yang melihatnya. Pria itu terlalu mencolok untuk datang kerumah sakit.
Kini ia sudah berdiri di depan pintu VVIP nomor dua puluh. Ia melihat kesekeliling lorong ruangan yang terjaga dengan aman. Ia menarik nafas panjang sebelum membuka pintu itu.
Ceklek.
Mata tajamnya langsung tertuju kearah seorang wanita yang sedang tidur di atas ranjangnya. Ia melihat keseluruh ruangan yang tersunyi dan bersih. Saat akan masuk sebuah pistol tepat di kepalanya.
Sontak saja ia mengangkat kedua tangannya. "Kau!!"
"Tenang kakak ipar ini aku." Mendengar itu Wanda belum menurunkan pistolnya.
"Hah! ternyata kau masih ingat punya Istri." Celutuk Wanda.
"Tentu saja, Dia istri dan ibu dari anak ku." Balas Wisnu.
"Setelah menghilang dua minggu?!"
"Hufh, Baiklah aku salah, tidak memberikan kabar sama sekali kepada kalian. Tapi aku melakukannya agar Windi tidak khawatir sama sekali. Meskipun tetap saja Windi khawatir padaku." Ujarnya.
"Kau itu.." Perkataan Wanda terhenti ketika melihat Windi yang melenguh.
"Heuh.. Angel." Perlahan mata Windi melihat ke arah pintu. Matanya melotot tak percaya menatap ke arah Wisnu.
"Isnu.." Panggil Windi.
Wisnu melebarkan senyumannya. "My baby girl." Tanpa rasa takut, Wisnu langsung menyingkirkan pistol dikepalnya. Dan menghambur kepelukan Windi. Ia mencium setiap wajah Windi tanpa terlewati satu pun.
"I really miss you my baby girl." Wisnu semakin mengeratkan pelukannya dan mencium gemas pucuk kepada Windi.
"Kau kemana saja? Kenapa tidak memberikan kabar padaku? Kami khawatir sekali padamu Isnu." Ujar Windi sambil terisak.
"Maafkan aku baby girl, Aku pergi untuk membereskan semuanya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. Selama pergi berjauhan dari mu. Aku juga sakit karena terlalu merindukanmu. Dan kau tau? Rasa Mual dan pusingku hilang ketika memelukmu Baby." Wisnu melepaskan pelukannya dan menatap penuh cinta ke arah Windi.
"Benarkah?"
"Tentu saja, Aku juga merindukan Dia." Ujarnya sembari menatap kearah perut Windi.
"Kau tau? Bukan hanya dia tapi mereka." Ujar Windi dengan semangat.
"Really Baby? Twin?"
__ADS_1
"Yes Twin."
"Oh my God." Wisnu meneteskan Air mata harunya.
Wanda yang melihat wajah kembarannya yang tersenyum dan kembali bahagia membuatnya ikut tersenyum bahagia. Ia meninggalkan ruangan itu dan memberikan Ruang privasi untuk kedua pasang itu, Melepaskan rasa rindu mereka.
Dua hari kemudian, Dengan ditemani Wisnu. Windi melakukan pemeriksaan kehamilannya. Ini kedua kalinya Windi melakukan pemeriksaan kehamilannya.
"Selamat pagi nyonya dan tuan Witamma." Ujar Dokter
"Pagi dokter."
"Baiklah mari ikut saya." Dokter membawa Windi ke ranjang pemeriksaan untuk dilakukan USG. Perutnya di olesin Gel yang menimbulkan rasa dingin. Lalu dokter mulai menggerakan trasnducarnya. Ia tersenyum menatap layar monitor itu.
"Kalian lihat ini, Ini si kembar Twins. Dan kalian dengar suara detak jantungnya?"
"Ya.." Ujar Wisnu dengan mata berkaca-kaca.
Dokter mulai menggerakkan kembali alat itu." Oh my god."
Senyuman Windi dan Wisnu luntur menatap dokter dengan cemas. "Apakah semuanya baik-baik saja dokter?" tanya Wisnu dengan khawatir.
"Maaf tuan, sebelumnya. Sepertinya saya salah, dalam menyebutkan jumlah anak kalian. karena sepertinya mereka bukan hanya berdua tapi mereka bertiga. Lihat ini." Tunjuk Sang dokter ke titik lain yang tidak jauh dari keberadaan si Twin.
"they are triplets" Pekik dokter.
Wisnu dan Windi yang mendengar itu terdiam dan terpaku. "Do-dokter triplets?"
"Yes baby triplets."
"Ya tuhan. Aku tidak percaya.."
"Baby kau dengar?! Kita bukan hanya memiliki dua tapi tiga." Ujar Wisnu dengan mata berkaca-kaca. Ia kembali memberikan ciuman di pucuk kepala Windi.
Setelah itu dokter memberikan wejangan untuk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Ia juga meresepakan obat-obatan Vitamin untuk Diminum oleh Windi.
Selama kehamilan ini Windi jarang sekali muntah, mual maupun mengidam. Karena semua yang mengalami adalah Wisnu. Momen hamil Windi diwakilkan oleh Wisnu.
Wisnu bahkan pernah mengidam soto yang dicampurkan oleh es batu. Ia juga meminta kepada Ken untuk yang memasakkan menu itu. Tak sampai disitu ia juga meminta kepada Wanda untuk mengambilkan buah jambu dari rumah orang yang pernah mereka lewati sewaktu Wisnu pergi kekantor.
Bahkan Panji, Ditto dan juga Reffa ikut kenak imbas dengan menyuruh mereka untuk memakai pakai pulkadot selama satu minggu saat mereka kekantor dan kemanapun.
"Hufh, Aku tidak tau entah sampai kapan Kaka Wisnu akan berhenti mengidam aku sungguh lelah dan malu sekaligus." Keluh Reffa kepada Panji dan Ditto.
"Saya juga tuan, Jika tidak diteruti maka kepala kita yang menjadi taruhannya." Ujar Ditto
Ya, pernah sewaktu-waktu ngidam Wisnu tidak masuk diakal, yang dimana ia menyuruh Reffa, panji dan Ditto memakan kolak biji salak dengan nasi dan sambel terasi. Namun Reffa Tidak menurutinya, Hal itu sontak membuat Wisnu meraung-raung sehari semalam. Membuat Windi ikut sedih dan bingung. Dengan terpaksa ia meminta Ken untuk membujuk mereka mau melakukannya.
Ken berhasil membujuk mereka, Tapi tidak secara baik-baik namun ia akan menembak kepala mereka jika mereka tidak menurti kemauan Wisnu. Mendengar ancaman itu membuat mereka bertiga menurutinya. Alhasil setelah makan itu Reffa, Panji dan Ditto masuk rumah sakit selama tiga hari karena keracunan makanan.
.
.
__ADS_1
.