
Sinar matahari yang begitu terang berusaha masuk melalui sela-sela Tirai jendela kamar. Windi yang merasa terusik dengan sinar matahari yang berusaha masuk kedalam. Windi mengerjap-ngerjapkan mata nya menyesuaikan sinar cahaya di ruangannya. Kepala nya sedikit pusing dan nyeri, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan hingga kini matanya terkunci ke arah seseorang yang sedang tidur di sofa. Seulas senyuman kecil terpancar di wajah pucatnya. Tanpa terasa setetes air mata menetes di sudut kirinya.
Terimakasih sudah begitu mencintai ku, Maafkan aku yang tidak bisa menjadi Istri terbaik untuk mu. Maafkan aku Isnu, Aku merasa begitu lelah sekali dengan dunia ini. Aku butuh ketenangan dalam keterpurukan ini. Aku butuh istirahat sejenak tapi percaya lah kau tidak akan kesepian jika aku tidak di samping mu karena dia yang akan menggantikan posisi ku selama aku Istirahat di Alam bawah sadar ku... Maaf... Maafkan aku Isnu.
Windi memejamkan singkat matanya tapi saat akan menukar alih jiwanya dengan Wilhelmina terdengar suara pintu yang terbuka membuat jiwanya tidak bisa bertukar dengan Wilhelmina. Mata nya kembali terbuka, Mata nya yang sendu menatap ke arah Mama dan Juga Papa mertuanya yang datang pagi-pagi sekali.
"Mama Papa." Ujar lirih Windi.
Kedua nya masuk ke dalam ruangan Windi dengan membawa sarapan untuk Wisnu, Karena mereka tau kalau Wisnu tidak akan sempat untuk makan jika sudah menyangkut tentang Windi.
Fitri berjalan mendekat kearah sisi bankar Windi, Seulas senyuman tulus terpancar di wajah Fitri."Sayang apa ada yang masih sakit?" Tangan Fitri mengelus lembut kepala Windi.
Windi menggelangkan kepalanya."Tidak Ma aku baik-baik saja." Ujar Windi.
Matanya melirik ke arah Benny yang berjalan kearah Bankar nya. "Windi Bagaimana kabar mu?" Tanya Benny
"Aku akan baik-baik saja Pa." Ujar Windi dengan lirih, Tapi sebenarnya ia sedang tidak baik-baik saja. Ia sangat merasa tersiksa dengan semua ini. Ini sangat berat untuk nya, Ia butuh Istirahat untuk memenangkan dirinya. Namun sebisa mungkin Ia harus menutupi semua ini dengan senyuman di wajah nya.
"Syukur la." Benny melirik ke arah Wisnu yang masih tertidur pulas di Sofa, Benny berjalan menghampiri Wisnu yang masih tertidur pulas di sofa.
"Wisnu..." Benny menggoyang kan pelan bahu Wisnu.
Wisnu yang merasa terusik mengerjap-ngerjap kan mata nya menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan. "Papa?" Wisnu langsung duduk di sofa dengan tangan masih mengucek-ngucek matanya.
"Ehmm..."
Mata nya melirik kearah Windi dan juga Fitri yang sedang menatap nya. "Baby apa kamu membutuhkan sesuatu hm?" Tanya Wisnu.
Windi menggeleng kan kepalanya, "Tidak Isnu, " Ujar Windi dengan senyuman kecil nya.
Wisnu bangun dari posisi nya dan berjalan ke arah ranjang Windi. Tangan nya terulur mengelus lembut kepala Windi dan juga pipi Windi.
Masih terlihat jelas wajah Windi yang terlihat sangat pucat Pasih. Bibir yang biasanya berwarna pink kini berubah menjadi pucat.
Cup
Cup
Wisnu mengecup lembut kening dan juga bibir Windi."Baby percaya semua nya akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu kamu khawatir. Aku akan selalu bersama mu, Jangan pernah berfikir kalau kamu sendiri karena aku dan yang lainnya selalu bersama mu." Ujar Wisnu dengan senyuman lembut.
Cup
Wisnu kembali mencium Lembut kening Windi dengan begitu lama dan dalam. Windi memejamkan mata nya menikmati ciuman hangat yang di berikan Wisnu. "Morning Kiss." Ujar Wisnu seraya terkekeh.
Sedang kan Benny menatap jengah kearah Putranya yang tidak tau tempat sama sekali. Padahal di ruangan itu ada dirinya dan juga Fitri.
Dasar Bucin Akut. Batin Benny.
Tanpa sadar ia tersenyum kecil ketika melihat Wisnu yang begitu mencintai Windi. Ia benar-benar tidak salah langkah ketika ingin menikahi Wisnu dengan Windi.
Maafkan Papa Refa tapi ini demi kebaikan mu dan juga Wisnu.
.
.
.
Perusahaan Raj
Hans yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaan, merasa terusik dengan suara Telfon yang menganggu dirinya. Ia sudah mengabaikan panggilan telepon itu sebanyak Lima kali tapi dering telfon itu masih saja berbunyi. Karena merasa jengah ia pun memutuskan untuk mengangkat telfon nya.
"Halo?!" Ujar Hans dengan sedikit berteriak.
"Hahahaha Tidak usah teriak-teriak begitu Hans, Karena kau pasti akan membutuhkan ku untuk menghancurkan musuh mu. " Ujar seseorang dari sebrang telfon.
"Apa maksud mu?"
"Witamma." Ujar nya singkat namun sangat jelas di pendengaran Hans.
Hans yang kala itu sedang memijat pelipisnya mendadak langsung menghentikan dan mendengar baik-baik dari si penelepon.
"Witamma?"
"Iya, Kita memiliki musuh yang sama... Sebaik nya kita bekerja sama untuk menghancurkan keluarga mereka."
__ADS_1
"Musuh yang sama? kata kan lebih jelas." Desak Hans.
"Hahahaha jika kau ingin lebih tau apa maksud ku, Temui aku besok Jam tiga sore di Garden Cafe jln. Cakrawala. Aku akan menemui besok. Datang ke meja yang berada di sudut tempat yang berada di dekat Jendal. Aku akan mengenakan topi berwarna Hitam dan Overcoat Berwarna coklat, Tapi jika kau tidak datang maka aku tidak akan pernah menghubungi dan menganggu hidup mu lagi." Setelah mengatakan itu sambung telfon terputus.
Hans yang ingin bertanya lagi merasa kesal karena sambung telfon nya terputus. Ia berusaha untuk menghubungi nomor itu namun sayangnya, Nomor nya sudah tidak aktif lagi.
"Argh Sial! Berani sekali dia mengancam ku." Teriak kesal Hans.
"Apa tadi katanya? Musuh yang sama? Apa dia juga musuh keluarga Witamma? Jika seperti maka aku akan menjadikan nya kambing hitam untuk melawan keluarga Witamma. " Ujar Hans di sertai tawa Jahatnya.
Hans yang merasa senang tidak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikan diri nya.
Permainan akan segara di mulai..
.
.
.
Keesokan harinya
Hans dengan tampilan kemeja putih yang dibalut kan dengan jas berwarna Hitam. Berjalan dengan langkah tegap memasuki Garden Cafe Mata elang nya menelusuri setiap sudut tempat itu.
Masih terekam jelas apa yang di katakan pria itu, Sudut tempat dekat jendela, Tidak lua dengan topi berwarna hitam dan Overcoat Berwarna coklat.
Dengan langkah Panjang nya ia menghampiri pria itu. Hans mengetuk meja itu, Hingga membuat orang yang duduk Membuat nya menoleh ke arah Hans.
"Duduk la."
Hans menuruti apa yang di kata pria itu, Kini keduanya saling duduk berhadap-hadapan. Mata Hans menelisik ke arah pria yang menggunakan kacamata hitam dan juga masker hitam yang menutupi wajahnya.
Siapa dia? Kenapa dari postur tubuh nya seperti nya aku mengenal Dirinya?
Pria dengan Overcoat Berwarna coklat itu melirik ke arah Hans yang sedang menatap nya, Seulas senyuman kecil terpancar diwajahnya yang berbalut di Maskar nya.
"Taun Hans, "
Hans memicingkan mata nya menatap pria itu."Siapa kau?" Tanya Hans penasaran.
Hans mendesis mendengar perkataan Pria itu."Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa membenci keluarga Witamma?"
"Kau tidak perlu tau siapa aku, Tapi yang pasti musuh kita sama. Dan kita bisa bekerja sama untuk menghancurkan keluarga mereka. " Ujar nya.
Hans mencibik kesal ketika pria itu kekeh untuk tidak memberitahu siapa dirinya yang sebenarnya. "Apa kau benar-benar tidak ingin memberi tau siapa kau sebenarnya ?"
Pria itu menggeleng kan kepalanya."Tidak perlu aku memberitahu siapa aku sebenarnya." Ujar nya dengan final.
"Lalu apa yang bisa aku percaya dari mu?"
"Kau bisa mempercayai ku karena aku adalah salah satu kepercayaan keluarga Witamma, Jadi kau tidak perlu khawatir tentang itu."
Kening Hans mengerut ketika mendengar perkataan pria itu." Kepercayaan keluarga Witamma? "
"Iya." Pria itu kembali menyesap kopinya.
"Apa kau tidak merasa kau sudah mengkhianati mereka? Bukankah anak buah keluarga Witamma sangat setia lalu kau?"
Tawa pria itu kembali pecah."Tidak untuk ku, Aku mempunyai dendam pribadi dengan keluarga sialan itu." Ujar nya dengan penuh ke marahan.
Hans dapat mendengar itu dengan jelas, Kali ini ia akan percaya dengan pria itu.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Hans.
Pria itu meletakkan cangkir kopi nya kembali."Aku punya rencana yang hebat untuk itu..."
.
.
.
.
Kini Windi sendirian di ruangan nya tanpa di temani siapa pun. Wisnu pergi bertemu dengan klien nya. Awalnya Wisnu menolak untuk meninggalkan Windi sendirian tapi karena Windi membujuk dan mengatakan kalau ia akan baik-baik saja membuat Wisnu dengan enggan untuk meninggalkan Windi sendirian di ruangan nya.
__ADS_1
Sebenarnya Windi bersama dengan Fitri, namun Fitri pergi sebentar ke kantin untuk membeli air yang habis.
Windi Menatap ke sekililing nya yang terasa sepi dan hampa. Ini lah diri Windi yang sesungguhnya yang selalu di temani dengan rasa sepi dan kehampaan seorang. Tidak ada yang lebih dari ini. Dari dulu Windi selalu sendiri, Kakak kembar dan juga kakak laki-laki nya pergi ke sekolah di pagi sampai siang, Lalu saat malam mereka juga harus melakukan bimbingan dari ayahnya langsung membuat nya selalu merasa sepi.
Penyakit bawaan yang di deritanya membuat Papa dan juga mama nya membuat dirinya harus sekolah dari rumah dan tidak di ijin keluar dari perkarangan rumahnya jika tidak ada Papa mama dan juga kakak laki-laki dan Perempuan nya.
setetes air mata jatuh di pipi kirinya yang terasa hangat, Ia berulang kali memejamkan singkat mata nya berusaha untuk menenangkan diri nya. Ia sudah berjanji kepada Wisnu untuk tidak mengganti alih dirinya dengan Wilhelmina.
Tapi sungguh berat untuk nya saat ini, air mata nya terus keluar dari sudut matanya yang biasa memancarkan kehangatan kini berubah menjadi sendu dan kesedihan.
Windi berusaha untuk bangun, Ia meraih kertas pulpen yang berada tidak jauh dari nya. Ia mulai menuliskan serangkaian kata untuk Wisnu.
Maafkan aku... maaf tapi ini sungguh berat, Wisnu aku sungguh mencintaimu setulus hati ku tapi ini terlalu berat untuk ku. Aku tidak bisa menjadi ibu untuk anak kita, Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mu... maaf kan aku Wisnu... Aku memilih untuk mundur dari perjuangan ini.
Air mata Windi semakin mengalir hingga membasahi sebagai an kertas. Ia kembali meletakkan pulpen dan kertasnya di atas meja.
Mata nya melirik ke arah pisau kecil yang berada di nakas, Ia mengambil pisau itu. Kini ditangan nya sudah ada pisau di tangannya. Dengan tangan yang gemetaran ia memegang pisau tajam itu.
Windi apa yang kau lakukan? kau ingin mengakhiri hidup kita? jangan bodoh Windi jika kau lelah kau bisa istirahat sejenak dan aku akan mengambil alih tubuh mu dan membalas dendam kepada para bajingan Sialan itu, Tapi jangan seperti ini...
Ini sama saja kau seperti merusak kepercayaan Papa, Mama, Kaka Ken, Wanda, dan juga Wisnu... Ingat Windi kita masih punya mereka yang selalu menyayangi kita... Cepat kembali pisau itu Windi. Jangan seperti ini.... Hei dengarkan aku... Aku di ciptakan oleh mu untuk menguatkan sisi rapuh mu tapi kenapa kau malah seperti ini? Jangan egois Windi....
Meskipun Wilhelmina adalah sisi lain Windi tapi tidak menutup kemungkinan untuk nya, Senantiasa untuk mengingat Windi apa yang sedang ia lakukan sekarang ini adalah kesalahan terbesar Untuk nya.
"Tidak... Wilhelmina aku sungguh Lelah dengan permainan takdir ini... Aku selalu berdoa kepada nya. Lalu kenapa dia tidak mengasihi aku untuk mempertahankan janin ku? Bukan kah jika aku kehilangan janin ku sama saja aku wanita yang gagal dalam menjadi ibu? "
Runtuh sudah pertahan nya dalam menahan rasa sakit ini. Ia menangis Segugukkan di tengah kesepian yang melanda dirinya.
Windi Sangat menyukai kesendirian tapi ia juga membenci kesepian. Ia menyukai kebersamaan namun membenci keramaian. Rasanya Windi benar-benar tersiksa dengan ini semua.
Windi yang seolah tidak ingin mendengar perkataan Wilhelmina, Ia mulai menyayat tangannya hingga mengeluarkan darah yang segar.
"Windii!!"
"Baby!!"
"Little Girl."
"Baby Girl."
Mereka semua berteriak memanggil nama Windi, Sebelum kesadaran nya hilang Windi tersenyum manis ke arah mereka.
"Aku pergi..." Ujar Lirih Windi. Sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran nya dengan Darah yang mengalir di tangan nya.
...End?...
.
.
.
.
Huhuhu Maaf kan aku yang jarang update karena aku lagi sibuk banget sama dunia Offline ku, Tapi Insyallah aku besok Update lagi yah teman-teman.
.
.
.
.
Next Chapter
"Kenapa Baby? Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu seperti? Bukankah aku sudah mengatakan untuk menghadapi ini semua bersama-sama tapi kenapa kamu seperti ini? "
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)