Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku

Menikah Dengan Calon Kakak Ipar Ku
Kebenaran


__ADS_3

Di Sisi lain, Tepatnya di Sayap Kanan yang dipimpim oleh Hugo Dan mendapatkan kunjungan tamu yang sesuai dengan prediksinya.


Para penyusup dengan pakaian serba hitamnya, Menatap remeh ke arah Hugo yang sudah berdiri dengan gagah tepat di pintu masuk sayap kanan. Di tangan kanan dan kiri sudah terdapat dua Kapak berukuran besar yang sangat tajam. Yang apabila di ayunkan kepada musuh maka bisa dipastikan bahwa hari itu adalah hari terakhirnya. Para musuh menggap bahwa Hugo menjaga hanya sendirian. Tanpa mereka tau bahwa di belakang Hugo terdapat Tiga puluh lima Pasukan Inti Team COSA. Yang dimana 1 orangnya setara dengan tiga Orang.


"Heh! Kalian hanya orang-orang bodoh yang berani menyerahkan Nyawa kalian kepada kami." Ujar pemimpin pasukan itu dengan sombongnya.


"Banyak Omong!!" Tanpa Babi Bibu Hugo Langsung mengayunkan Kapak kearah pria sombong itu. Dan Sontak saja semua orang yang berada disitu terkejut bukan main, Karena Kepala dan Badannya langsung terpisah.


Tanpa dikomando para pasukan musuh mulai menyerang Hugo dengan bringas. Di saat sedang menyerang para penyusup dikejutkan sekelompok orang yang berbadan besar Hugo berdatang dari Arah berlawanan dan ikut bergabung untuk melawan mereka.


Jika dibandingkan jumlah pasukan Penyusup dengan Pasukan Hugo, Lebih Unggul Pasukkan Penyusup karena Mereka dua kali lipat dari pasukkan Hugo. Namun itu semua tidak membuat Pasukkan Hugo Kalah atau pun pesimis. Karena satu orang dari mereka setara dengan tiga orang.


Semua orang mulai menyerang, Team pasukan Hugo menyerang dengan senjata yang diluar prediksi. Karena ada yang hanya menggunakan Gunting, Pisau bahkan tangan Kosong.


Darah segar mulai membasahi setiap rumput-rumput yang ada. Tumpuk-tumpukan Badan dan kepala yang terpisah sudah meninggi membentuk bukti.


Casssshh


Cassshh


"Ahhkk"


Tanpa Ampun seorang pasukkan Hugo menusukkan gunting kemata salah seorang penyusup. Membuatnya mengerang kesakitan. "Aahhk Mataku."


"Mampus Kau Sialan." Ia melakukan hal yang sama ke sebelah matanya. Dan membuatnya menutup mata untuk selamanya.


Hal sama pun terjadi di Sayap kiri, Yang sedang riuh akan teriakkan orang-orang yang mengadu kesakitan karena bringasnya pasukkan yang dipimpim oleh Sam. Ia Tak kalah kejam dari Hugo dan Juga Wanda. Ia sama seperti Wanda yang sangat lihai dalam Mengayunkan katananya. Ia persis seperti seorang Samurai. Pedangnya seakan haus akan darah. Pedangnya yang panjang sudah dilumuri darah-darah dari pada musuhnya.


Di belakangnya terlihat seorang penyusup mengayunkan sebuah pedang panjang. Namun sepertinya, gerakkannya terbaca oleh Sam hingga membuatnya kehilang tangannya.


"Ahkk." Teriaknya Kesakitan. Bukan sampai situ saja Sam juga Menggoreskan beberapa sayatan di dada dan punggu pria itu hingga ia terjatuh ketanah dengan mata yang terbuka.


Dari Atas sana para sniper juga ikut ambil andil dalam melenyapkan para musuhnya. Dengan sekali tembakan Para musuh itu langsung lemas tak berdaya. Tidak ada suara tembakan setiap kali para sniper itu melapaskan pelurunya dari sarangnya.


.


.


Di dalam aula, Para tamu mulai berjalan keluar. Namun sepertinya para penyusup ini mulai tidak sabaran hingga harus menahan para tamu itu. Dan menjadikan mereka semua tahanan. Begitu juga dengan Windi, Refa dan Dito yang ikut menjadi tahanan. Mereka bisa saja melawan tapi situasi tidak menguntungkan. Dan kali ini mereka terkecoh dan tidak memprediksi bahwa ini bisa terjadi.

__ADS_1


"Sialan! Aku tidak mengira bahwa mereka selalu nekat. Tapi kenapa mereka bisa masuk? Dimana kakakku?." Bisiknya ke Reffa.


"Aku tidak tau, dari tadi aku dan Ditto bersama mu."


"****!"


Keberadaan Ken saat ini sedang menyerangan kaki kanan dari musuhnya. Ia menggunakan belatinya untuk melumpuhkan musuhnya. Ia mulai menyerang dengan mebabi buta. Ia arahkan Belatinya Ke kepala, Lengan dan Perut. Namun, musuhnya dapat menghindari setiap serangan yang dilakukannya.


"Heh! Segitu sajakah? Kemampuan seorang pemimpin COSA? Sangat Amatir." Ejeknya


Perkataan itu sangat memancing amarah Ken. Sontak langsung saja Ken memberikan tendangan tepat mengenai kepalanya. Tanpa di sadari oleh musuh Ken langsung saja menancapkan Belatinya tepat di Perut dan dijantungnnya Secara Bersamaan. Tak sampai disitu saja, Ken memutuskan Kelima jari Tangan kanannya.


"Aahhkk Sialaan." Rintihnya kesakitan


"Itu balasan yang sangat sesuai untukmu." Ken terus menekan belatinya yang berada di jantungnya. Hingga membuatnya memuntahkan Seteguk Cairan Darah Kental. Dan yang terakhir yang dia lihat hanya Ken yang mentap tajam kearahnya.


Mr. R. Berjalan dengan percaya diri masuk kedalam Aula tanpa merasa curiga sedikitpun. Padahal ini sudah menjadi rencana Wanda dan Juga Ken. Menjadikan Windi, Raffa, dan Dito sebagai pancingan. Makanya mereka bertiga tidak tau dan menganggap bahwa ini diluar prediksi. Padahal ini sudah sesuai rencana.


Saat sudah memasuki aula Mr. R. Melihat keseliling ruangan yang sudah menyebar anak buahnya. Tidak lupa dengan para tamu Undangan yang berjongkok di sudut tempat. Matanya terpaku melihat Windi dengan gaun merahnya.


"Aku Datang." Dengan percaya diri ia melangkah mendekati Windi.


"Regan?!"


"Ahh, Ternyata kau cukup mengenaliku dengan baik sayang." Ujarnya dengan mendayu-dayu.


"Sialan! Hentikan panggilan menjijikanmu itu."


"Sutt.. Jangan Marah-marah, Hidup dan matimu sekarang ada ditanganku." Ujar Regan dengan angkuh.


"Cih.. Terlalu percaya tidak begitu bagus. Apa kau yakin bisa mengatur hidup dan matiku? Sementara selama ini kau hanya menjadi pengecut yang menyamar untuk mengalahkan musuhmu. Ku tegaskan sekali lagi kauHanya seorang pengecut." Geram Windi.


"Kau!!" Regan Sudah bersiap untuk menampar Windi. Tetapi tangannya ditahan oleh Reffa.


"Jangan Kau sentuh kakak iparku sialan."


"Ckckck, Ternyata mantan kekasih yang sedang membela. Takdirmu sangat lucu sekali bukan?! Mantan Tunanganmu menjadi Kakak iparmu." Cemoh Regan.


"Diam Kau! Kau pikir aku tidak tau siapa kau Hah?! Kau Hanya Anak Haram yang merusak kebahagiaan Kakakku sialan. Pantas saja Paman Jason mengasingkan mu. Karena kau Sangat Tidak pantas untuk keluarga Edward."

__ADS_1


"Sialan Kau." Regan memberikan bogeman mentah ke Reffa. Karena Ucapannya benar-benar membangkitkan Amarahnya.


"Hahaha, Kau Marah? padahal apa yang aku katakan adalah Fakta! Kau hanya Anak Haram dikeluarga Paman dan Juga bibiku."


Windi yang mendengar perkataan Reffa terdiam. Sekarang ia mengerti alasan dibalik semua ini. Yaitu, dendam pribadi antara Suadara Tiri Suaminya dengan Wisnu sendiri.


Saat Regan akan menembakan Pistolnya. Sontak saja Windi langsung menendang tangan Regan dan peluru itu menembak ke arah atap dinding.


"Kau!"


"Heh?! Apa? Kau tidak akan pernah bisa melawan keluarga Suamiku."


"Cihh... Masih saja sombong. Aku akan melepaskanmu, Asalkan kau ikut denganku. Maka aku akan membebaskanmu. Dan mungkin aku akan melupakan dendam ini." Tawarnya.


Tanpa menunggu waktu Windi langsung saja menerjang kepala Regan dengan kaki panjang. Melihat Windi yang sudah melakukan penyerangan membuat Reffa dan Ditto Ikut melakukan penyerangan. Kepada para anak buah Regan.


Di dalam aula itu terdengar suara tembak yang bersaut-sautan tanpa tau kemana arah peluru itu akan mendarat.


Disisi lain Wisnu memerintahkan Panji untuk mengamankan para tamu ke suatu tempat. Setelah itu ia bergabung dengan Windi untuk melawan para penyusup itu.


Mata tajamnya melihat Istrinya yang sedang melawan adik tirinya. Ia melihat betapa lihainya istrinya menggerakkan seluruh anggota tubuhnya.


Windi memberikan pukulan tepat di Perut dan juga kedua pipi Regan. Ia bisa melihat sudut bibir Regan yang pecah akibat pukulnya. Bukannya berhenti Windi terus memberikan pukul dengan kaki panjangnya. Saat akan memberikan pukulan terakhir ia melihat seorang pria berkumis yang langsung melumpuhkannya.


"Kau baik-baik saja nona?" Tanyanya khawatir.


Windi terpaku melihat mata tajam itu. "Ehm yaa.." Mendengar itu Wisnu langsung pergi dari hadapan Windi dan kembali bergabung dengan yang lain untuk melawan para penyusup.


Windi terus saja menatap Pria itu sampai tidak sadar salah satu penyusup melayangkan sebuah Pedang tajam kearah Windi. Reffa yang melihat itu Sontak saja menjadikan Bahunya untuk melindungi Windi.


Srakk


"Reffa." Teriak Windi. Ia sangat terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Ia melihat Luka sayatan yang lebar menghiasi punggung Reffa.


"Kau baik-baik saja?"


"Yaa.." Reffa sedikit limbung karena luka yang dia terima sangat lebar dan dalam. Hingga membuatnya hampir pingsan.


Windi memapah Reffa kesudut ruangan. "Kau tunggu disini, Aku akan membereskan semua masalah yang ada."

__ADS_1


Windi meninggalakn Reffa dan mengambil Katana yang dia ambil ditempat persembunyian. Langsung saja ia mengayunkan katana nya secapat angin hingga pergerakkannya tidak terbaca.


__ADS_2