
Amsterdam
James yang saat itu sedang berada di ruang kerja nya untuk menyelesaikan pekerjaan yang ia bawa pulang ke rumah. Ia larut dalam pekerjaan hingga kegiatan terhenti kan ketika ia mendengar suara ketukan pintu ruangannya.
Tok!Tok!...Tok!... Tok!..Tok!
James yang mendengar Suara ketukan pintu yang terdengar seperti irama Itu Membuat aktivitas nya terhenti. "Masuk. "
Pintu kayu berwarna coklat terbuka lebar, Memperlihatkan Willy yang masuk kedalam ruangan James dengan sebuah amplop coklat di tangan nya.
" Selamat sore tuan. "
"Ehm ada apa?" James melirik amplop yang di pegang oleh Willy.
"Tuan seperti yang anda perintah kan anak buah kita mendapati sesuatu yang begitu mencurigakan dari pengamanan nona muda tuan. " Ujar Willy.
"Apa maksud mu? Mengancam keselamatan putri ku?" Tanya James dengan sedikit teriak.
"I-iya tuan. " Willy menyerahkan amplop coklat yang berisi tentang pengamatan dari mata-mata yang di perintahkan James untuk mengawasi putrinya dari jarak jauh maupun jarak dekat, Bahkan ia menungas kan anak buah nya untuk menjadi salah satu pengawal yang bertugas menjaga putri nya dari jarak dekat, Tentunya ambel-ambel sebagai pengawal keluarga Witamma padahal salah satu dari mereka adalah anak buah dari James.
James tidak ingin mengambil resiko tentang Putri nya, Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada putri nya. James tidak meragukan kemampuan Wisnu untuk menjaga putri nya tetapi rasa khawatirnya tentang keselamatan Windi menjadi hal penting untuknya, Terlebih lagi keluarga Wisnu memiliki musuh bebuyutan karena itu James dengan terpaksa untuk diam-diam memata-matai pergerakan musuh Wisnu dan juga keluarga Wisnu.
Tampak sangat posesif dan tidak menaruh kepercayaan kepada menantunya, Tapi percayalah James punya alasan sendiri selain melindungi keamanan putri nya. Yaitu untuk meredam Altar ago Windi yang begitu menakutkan dan menyeramkan ketika ia sudah bangkit dan menggantikan jiwa asli Windi.
Pernah sewaktu-waktu ketika Windi masih berumur tiga belas tahun ia di culik oleh salah satu komplotan mafia yang merupakan musuh keluarga Winata.
Selain bisnis yang melebar di ranah dunia, Keluarga Windi juga terkenal di dunia mafia yang kejam dan bingas bahkan tak jarang Ken, Wanda, dan Juga Windi selalu menjadi buruan para musuh keluarga mereka. Ketiga anak James memiliki masing-masing sebutan di dunia mafia. Ken yang di kenal dengan sebutan Lion, Wanda dengan sebutan Cosa dan Windi yang dikenal dengan sebutan Wilhelm. Ketika menyebut kan nama itu saja para musuh bisa mati ketakutan, Bagiamana tidak? Ketiga anak James memiliki sisi yang menyeramkan ketika di hadapan musuhnya.
Di dunia mafia juga keluarga Winata di kenal dengan sebutan Cosa Nostra Amsterdam. Keluarga Winata masih memiliki hubungan darah dengan Cosa Nostra Italia. Tetapi hal itu tidak membuat para musuh takut dengan keluarga Winata justru mereka semakin menentang keluarga Winata dengan menculik putri bungsu keluarga mereka. Tapi sepertinya musuh salah sasaran karena putri kecil yang mereka culik memiliki sisi jiwa yang begitu mendambakan sesuatu yang begitu menyenangkan dengan tubuh manusia.
Flashback on
Saat itu Windi yang baru saja selesai dengan home schooling nya memilih untuk bersantai di taman belakang mansion keluarga nya. Tangannya bergerak lincah menggambar sesuatu yang terlintas di benak nya. Windi yang terlalu fokus Membuat nya tidak sadar ada seseorang yang sedang mengincar keberadaan nya sedangkan para pengawal seperti nya tidak menyadari akan kehadiran musuh mereka.
Tap!tap!
Dan Hap Pria itu langsung membekap mulut Windi dengan sapu tangan yang sudah di baluri bius. Tetapi seperti nya butuh waktu sekitar Lima menit untuk membuat Windi benar-benar kehilangan kesadaran. Nasib bagus berpihak pada musuh karena mereka berhasil menculik Windi dan membawa nya kedalam mobil yang telah menunggu nya.
Para pengawal yang bertugas menjaga Windi tiba-tiba saja di landa kepanikan ketika nona muda mereka tidak ada ditempat, Para pengawal berpencar mencari keberadaan Windi namun hasilnya nihil. Dengan rasa cemas dan takut para pengawal mengatakan yang sebenarnya kepada James dan hal itu tentu saja membuat James Sangat murka Tapi satu hal yang membuat James panik adalah mengingat kondisi fisik Windi yang begitu lemah.
James memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Windi di seluruh tempat.
.
.
.
Sedangkan ditempat lain kini tubuh Windi di bawa kebangunan tua yang tidak berpenghuni. Orang yang tadi membawa Windi meletakkan tubuh Windi di kursi dan mengingkat nya. Para pria itu mengira kalau Windi masih belum sadar karena pengaruh bius padahal Windi sama sekali tidak berpengaruh terhadap bius yang mereka berikan. Windi mendengar percakapan orang-orang yang telah menculiknya.
"Halo bos kita sudah melakukan apa yang bos perintah kan. "
"Cih budak. " Mata Windi melirik kearah seorang pria yang ternyata juga ikut diculik bersama dirinya. Pria yang ikut mereka culik, Ia melihat perawakan seorang lekaki yang mungkin umurnya sama dengan Kakak laki-laki nya.
"Tampan." Gumam Windi.
Untung saja para pengawal itu tidak melepaskan cincin dijari tangan Windi yang di khususkan untuk keluarga Winata, Jarinya yang terbebas menekan tombol yang tidak jauh dari jangkauan jarinya, Namun ia tidak bisa menunggu jika harus lama-lama seperti ini karena kemungkinan besar para pengawal papanya pasti akan membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk sampai disini. Hingga ia mempunyai kesempatan untuk membebaskan tangan nya dari lilitan tali yang menurut nya tidak terlalu sulit untuk lepas. Dengan segera Windi melepaskan tali yang mengikat kakinya. ia berjalan kearah yang di sebalah nya, Windi Menepuk-nepuk pelan pipi pria tampan itu.
"Hei Bangun la kita harus pergi dari sini." Windi terus Menepuk-nepuk pelan pipi pria itu.
Tak lama kemudian mata pria itu perlahan terbuka, Mata abu-abu yang terlihat saling menatap dengan mata hazel milik Windi. Sedikit kemudian Windi langsung mengalihkan pandangannya.
"Apa kau bisa bela diri?"
Pria itu mengangguk kepalanya, "Bagus." Windi lepas kan ikatan kaki dan juga tangan pria itu.
"Sekarang kita harus saling bekerja sama satu sama lain untuk bebas dari sini." Ujar Windi dengan serius
Pria itu menatap intens mata hazel Windi yang begitu cantik namun penuh ketegasan ketika ia berbicara tadi. "Baik la. "
Kedua nya mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah meraka. Dengan langkah cepat keduanya mengambil posisi yang telah mereka rencanakan.
Pintu terbuka menampakkan dua orang pria berbadan tinggi yang kalah jauh dengan tubuh mereka berdua, kedua pria itu menatap kaget kearah Windi dan juga pria kecil yang sudah terbebas dari ikatan mereka.
"Kenapa?Kau terkejut?" Ujar Windi dengan sinis
"Bocah kurang ajar!" Pria yang satu langsung berjalan kearah nya dan bersiap untuk menangkap Windi, tetapi Windi langsung bergerak cepat dan langsung mengelak. Windi menjulur kan lidahnya. Perbuat an Windi semakin membuat pria itu jengkel.
Pria itu hendak memberikan pukulan kepada Windi namun dengan cepat pria yang ikut disekap bersama Windi langsung menahan tangan pria besar itu dan langsung mendorong nya kebelakang hingga jatuh. Melihat teman yang jatuh Membuat dirinya juga ikut tersulut emosi. Ia langsung berjalan kearah Windi dengan amarah namun lagi-lagi pria yang ikut disekap bersama Windi berhasil membuat pria itu tersungkur dengan melintir kan tangannya kebelakang.
Windi yang melihat itu bersorak gembira dan tertawa. "Hahaha kau hebat sekali tampan." Windi langsung menutup mulutnya ketika mengatakan tampan kepada pria itu. Sedang kan pria itu tersenyum kecil yang nyaris tak terlihat.
Tetapi mereka tidak bisa senang terlebih dahulu karena kedua pria yang menyekap mereka berdiri dan berjalan menghampiri mereka berdua. "Apa kau bisa menahan mereka sekitar lima belas menit?" Bisik Windi.
"Akan aku coba. " Tangan pria itu menghalangi Windi agar tetap di belakang nya. Windi yang melirik kearah pria itu meminta penjelasan.
"Biar aku saja."
"Tapi..." Ucapan nya terpotong karena kedua pria berbadan besar itu langsung melayang kan pukulan ke arah Pria yang dihadapannya tapi sayangnya pukulan nya meleset. Pria bermata keabu-abuan itu menggertak giginya geram. Dengan cepat ia juga melayangkan Bogeman mentah ke wajah pria yang mencoba memukulnya, sedang kan kakinya melayang menendang wajah pria satunya.
Wajah kedua pria itu terlihat mengeluarkan cairan merah di sudut bibirnya ketika pukulan keras mendarat di wajah tampan mereka. Windi yang melihat itu melongo tak percaya,
"Keren sekali, Dia benar-benar mirip seperti Papa dan juga kakak Ken. Aku harus memberitahu Wanda Nanti mengenai pria tampan ini."
Pria bermata hazel itu melirik kearah Windi yang sedang tersenyum kecil. "Kau senang?" Tanya di Sergai semerik Devil.
Windi menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar."Iya Lagi,"
Mendengar permintaan Windi membuat pria bermata keabu-abuan itu kembali melakukan penyerang terhadap dua pria itu. Pria terus memukul wajah dan tubuh besar mereka secara membabi buta seakan-akan tubuh mereka adalah samsak hidup untuk pria itu. Ditambah sorakan kegembiraan Windi Membuat rasa semangat untuk membunuh kedua pria itu semakin membesar. Saat hendak melakukan serang terakhir tiba-tiba saja Tengkuk leher pria itu di hantam balok kayu yang keras oleh seseorang yang baru saja datang. Windi yang melihat itu seketika terdiam membisu.
__ADS_1
Terlihat kilatan kemarahan dan membunuh terpancar di mata hazel Windi. Ia marah dan kesal karena hiburan nya terganggu tapi yang semakin membuat dia kesal karena pria yang memberi ia hiburan mengerang kesakitan dan berusaha menahan kesadaran nya.
"Kau ingin kabur dari sini nona dan tuan muda?" Ujar pria itu dengan sinis.
Tangan Windi terkepal kuat mendengar perkataan pria sialan itu.
"Ckckck tidak akan bisa karena aku akan membunuh kalian berdua sebagai peringatan untuk Papa kalian. "
Kini giliran tawa Windi yang menggelar di ruangan itu." Hahahaha jangan mimpi, Karena aku akan membunuh mu." Ujar Windi dengan tak kalah sinis.
"CK bocah sombong." Tanpa aba-aba pria itu langsung mengayunkan balok ditangan nya tetapi ia kalah cepat dengan pergerakan Windi. Windi langsung menahan balok kayu yang berat itu dan menghempaskan ke tanah.
"Fck!"
"Hahahaha sudah ku bilang jangan main-main dengan keturunan Winata atau kau yang akan mati ditempat ini. "
"Sialan kau." Pria itu kembali melayang pukulan namun Windi dengan cepat menahan nya dan langsung melintir kan tangan pria itu kebelakang, Ia langsung menjatuhkan pria itu di bawah kakinya dan menginjak tanpa rasa iba. Ia bahkan menekan pria itu. Entah kenapa rasanya bobot Windi Sangat berat bagi pria itu padahal Windi tidak terlalu berat. Windi terus menginjak-injak bahkan melompat-lompat di atas tubuh pria itu hingga membuat nya meringis kesakitan.
"Ada?Apa aku terlalu ringan?" Tanya Windi.
"Bocah Tengil, turun kau berat sekali seperti badak."
Windi yang mendengar diri di banding kan dengan badak yang menggemaskan membuat nya semakin melompat-lompat di atas tubuh pria itu, Hingga terlihat sesosok pria berperawakan tinggi dan besar datang dengan wajah tersenyum.
"Nona muda apa anda baik-baik saja?" Tanya Willy, Ya pria itu adalah Willy dan juga anak buah yang lain untuk menjemput Windi.
"Uncle Willy." Pekik Windi yang menyadari kedatangan Willy beserta beberapa anak buahnya yang sudah mengepu tempat itu.
"Uncle Kau lihat ini sangat menyenangkan, Apa kau ingin mencobanya? "
Willy yang mendengar itu membuat nya mengiris ngilu, Karena tindakan Windi. Bagaimana tidak? Windi melompat-lompat di atas tubuh pria itu seperti trampolin.
"Tidak nona, sebaiknya kita kembali tuan besar mencari kita "
"Baik lah, " Windi turun dari tubuh pria itu. " Uncle Willy apa kau memiliki pisau tumpul dan juga berkarat?" Tanya Windi.
Kening Willy berkerut mendengar pertanyaan Windi."Pisau tumpul? Berkarat?"
"Iyah Uncle, Aku ingin melukis sesuatu.":
Willy melirik anak buah nya dan menganggukkan kepalanya. Tak lama pengawal nya membawa pisau yang di inginkan Windi. "Uncle Willy bisakah kau memerintah anak buah mu ini memegang pria itu?" Willy menganggukkan kepalanya mengisyaratkan untuk menuruti permintaan Windi.
Windi dengan kegirangan langsung menghampiri pengawal Yang sedang memegang pria yang dia maksud. Tangan Windi Menggenggam erat pisau itu di tangan sebalah kanannya.
Sret!!
Windi melukis karya nya di wajah pria itu, Pria itu meringis kesakitan. Bagaimana tidak? Wajah nya di gores oleh pisau tumpul dan berkarat membuatnya mengilu dan kesakitan.
Akhhhh Sakit!
Windi yang seolah tidak perduli menerus kan aksinya. Willy yang melihat itu melongo tak percaya. Bagaimana mungkin nona muda yang selama ini sangat lembut, pendiam dan ramah berubah menjadi periang dan seperti psikopat.
Semua orang yang melihat hanya bisa menelan ludah nya melihat Windi yang terus melukis karyanya di wajah pria itu.
"Apakah benar dia nona Windi? Kenapa dia terlihat seperti seorang anak yang seolah mendapat mainan baru? Ahhh tidak lebih tepatnya seorang psikopat."
Willy yang seolah diam memberanikan diri untuk berbicara. "Nona seperti nya kita harus segera kembali."
Windi yang mendengar itu langsung membuat pisaunya kesembarang arah. "Ahh baik lah, Ini sudah cukup. " Ujar Windi dengan senyuman manis namun sangat menyeramkan bagi mereka semua.
"Uncle bagus kan? Karya pertama ku? "
Willy menganggukkan kepalanya. "I-iya Nona."
"Ahh senang nya, Rasanya aku ingin melukis di wajah yang lain." Windi mantap satu-satu pengawal nya yang terlihat berkeringat mendengar perkataan nya.
Seketika tawa Windi pecah. "Hahahaha aku hanya bercanda kenapa kalian serius sekali."
Terdengar helaan nafas dari mereka semua. Tatapan Willy beralih ke arah pria remaja yang tergeletak tak jauh dari para penculik juga terbaring. "Nona siapa pria itu?" Tanya Willy seraya menunjuk kearah pria itu.
Windi menepuk jidatnya. "Dia Kakak tampan yang juga ikut diculik bersama ku di gudang ini, Uncle bantu dia bertemu dengan orang tuanya." Ujar Windi.
Willy menganggukkan kepalanya Mengerti, Ia meminta anak buah untuk membantu pria itu. Dua orang pengawal membopong pria tampan yang di maksud Windi ke dalam mobil mereka. Sedang kan para penculik akan di masukkan kedalam penjara hitam Keluarga Winata.
Sebelum pulang Windi meminta kepada Willy untuk bertemu sebentar dengan pria itu. Willy menganggukkan kepalanya dan mengijinkan Windi menemui remaja lelaki yang seumuran dengan Ken.
Sesampainya di mobil yang berada pria itu Windi langsung tersenyum mendapati pria itu sudah sadar. "Apa kau baik-baik saja?"
Pria itu hanya mengangguk kepalanya ia tidak berniat membalas ucapan Windi. Ia hanya menatap Intens kearah mata hazel Windi yang begitu cantik di mata nya.
"Baik la kalau begitu aku pergi dulu, pengawal ku akan mengantar mu kerumah mu, Terimakasi untuk hari ini." Ujar Windi seraya tersenyum.
remaja itu yang melihat senyuman Windi membuat nya terpesonanya akan kecantikan yang terpancar di wajahnya. "Cantik." Gumamnya.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Siapa namamu?" Jawab Pria itu dengan kembali mengajukan pertanyaan kembali.
"Aku..." Perkataan Windi terputus ketika Willy menghampiri dirinya. "Maaf nona Tuan dan nyonya besar sedang menunggu anda."
"Ah baik la tunggu sebentar," Windi menatap kearah pria itu yang sedang menunggu Jawaban dari Windi. " Aku harus pergi sekarang, Sampai ketemu nanti." Setelah mengatakan itu Windi beserta Willy pergi meninggalkan pria yang masih terus menatap kepergian mereka.
Aku harap kita bisa bertemu kembalikan
Flashback off
Setelah mengatakan semua informasi itu Willy pamit undur dari ruangan James. Kini tinggal James sendiri dengan berkas-berkas yang berada di tangan nya tentang putrinya.
Rasanya Kepala nya terasa pusing mengetahui keselamatan putri nya Terancam. Kejadian di masa lalu kembali berputar ketika dimana sisi lain Windi tercipta ketika rasa takut dan pendiam nya semakin memendam hingga membuat nya mencipta sisi lain nya.
__ADS_1
James tidak tau lagi apa yang akan terjadi jika sisi lain itu kembali bangun lagi dengan keadaan marah dan penuh dendam, Sudah di pastikan Windi akan menjadi seorang yang bengis dan juga kejam tanpa memandang bulu musuhnya. James mengambil ponselnya dan menghubungi menantunya,
Setelah menghubungi menantunya James melepaskan kacamata nya dan menyadarkan tubuh di kursi kebesaran nya.
Aku harap Wilhelmina tidak akan muncul yang akan dapat membuat sisi asli Windi tenggelam di alam bawah sadar nya.
°°°
Di tempat lain terlihat seorang dokter yang sedang memeriksa seorang wanita yang telah sadar setelah hampir satu tahun ia koma.
"Sukur kamu sudah sadar nona." Ujar dokter itu.
"A-apa yang terjadi dengan ku?"
"Nona anda baru saja sadar setelah tertidur panjang selama setahun nona."
"Ha?" Mendadak kepala nya pusing, Bayangan-bayangan ketika ia di dorong ke jurang oleh seseorang.
"Ahh, "
"Nona tenang lah."
"Ba-bagaimana a-aku bisa di sini?"
"Aku yang membawa mu kesini." Terdengar suara Bariton yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.
Keduanya menoleh ke arah orang yang baru saja datang."Si-siapa kau?"
"Aku? Kau tidak perlu tau siapa aku, Yang pasti kita memiliki musuh yang sama."
Wanita itu mengerutkan keningnya heran."Musuh? yang sama? Apa maksud mu?"
"Ya, Keluarga Witamma." Mendengar itu membuat wanita itu langsung membuat nya Sedikit marah dan matanya mulai menggelap menampilkan kebencian.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menghancurkan keluarga itu?"
Pria itu tersenyum devil seperti nya rencana berhasil membuat wanita ini bekerja sama untuk menghancurkan keluarga Witamma.
.
.
.
.
Setelah mengatakan rencana nya kepada wanita itu, Pria itu langsung meninggalkan mansion itu mengendarai mobil sport hitam nya membela hutan yang rimba. Ia kembali teringat tentang perkata salah satu pengewalnya Wisnu yang mengatakan kalau Windi sedang hamil, Hal itu membuat emosi nya tersulut. Bagaimana bisa wanita yang ia cintai mengandung anak pria lain? Ia sangat mencintai Windi dan tidak akan membiarkan Siapapun Merebut Windi darinya. Ia langsung jatuh cinta dan terpanah ketika melihat kecantikan Windi yang begitu natural di matanya.
Ya sejak saat itu ia sudah mulai mencintai Windi, ia ingin memiliki Windi seutuhnya. Bagaimana pun caranya, ia harus memiliki Windi sepenuhnya,Ia tidak takut kepada siapapun Meskipun ia harus membunuh Wisnu bisa membuat nya memiliki Windi seutuhnya.
Kita lihat saja siapa yang akan memiliki Windi.
Ia semakin menambah kecepatan mobil nya membelah kesunyian hutan. Saat akan balik ke apartemen Wisnu, ia melihat mobil yang tidak asing.
Itukan mobilnya Wisnu?
Karena penasaran ia langsung mengikuti kemana mobil itu pergi. Ia terus mengikuti kemana mobil itu pergi hingga mobil itu terparkir sempurna di warung makan sederhana. Rahang nya mengeras ketika melihat wanita yang ia cintai juga berada di dalam mobil itu.
Cih tidak modal sekali membawa Windi, Gumamnya.
Ia terus memperhatikan interaksi Windi dan juga Wisnu, Mata nya seketika memerah ketika melihat Wisnu yang menyuapi Windi begitu punya sebaliknya, Tangannya mencekram kuat stir mobil nya.
Sial!
Emosi semakin membuncah melihat kebersamaan Windi dan Wisnu. Hingga mata tajamnya menatap ke arah Windi yang berjalan menuju kearah mobil nya. seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bagus yang ia miliki. Ia mencap gas mobil nya kearah Windi, Hingga....
Brak!
Mata nya menatap kearah sepion melihat tubuh Windi yang tergeletak di aspal dengan darah yang mengalir, Seulas senyum an iblis terpancar di wajahnya.
Aku tidak menjamin apakah kau masih hidup atau sudah mati, Tapi yang pasti kau tidak akan bisa dimiliki siapa pun kecuali aku.
Setelah itu mobilnya melesat meninggalkan kerumunan dimana tempat Windi tergeletak di tanah. Tidak ada rasa penyesalan di hati nya ketika menabrak Windi dan meninggalkan nya begitu saja. Baginya jika Windi tidak bisa di miliki dirinya maka yang lain juga tidak bisa memilki Windi.
.
.
.
.
.
.
Gimana kira² Reaksi James? Dan Wisnu? Discrol lagi yah:)
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)
__ADS_1