
Terhitung sudah tiga hari Windi sadar, Namun masih tidak ada perubahan dari sikap Windi yang masih hanya diam.
Ia hanya akan merespon dengan mengangguk kepalanya atau hanya menggeleng kan kepalanya, Ketika keluarga nya bertanya kepada nya. Ia seolah kehilangan Suara nya untuk berbicara, Ia lebih memilih untuk diam memikirkan sejenak perasaan nya.
Masih ada sedikit perasaan bersalah di hati nya, Bahkan tak jarang ia kembali menangis dalam diamnya.
Tidak ada suara ketika air matanya keluar. Semua orang yang melihat itu hanya menatap khawatir melihat kondisi psikis Windi yang masih trauma dengan takdir nya.
Seperti saat ini, Ia di ajak Wisnu ke taman yang berada di rumah sakit. Wisnu dengan setia mendorong kursi roda Windi menuju ke sebuah bangku yang berada di sekitar taman.
Sesampainya di sana Windi hanya menatap kosong ke seluruh taman.
"Baby, Apa kamu menyukai udaranya?" Tanya Wisnu. Namun Windi hanya diam tanpa merespon pertanyaan Wisnu.
Sedangkan Wisnu hanya bisa pasrah melihat perubahan drastis pada Istri nya. Tapi tetap membuat nya menyerah untuk mengembalikan senyuman dan keceriaan pada Istri nya.
Wisnu menjongkok kan tubuh nya di hadapan kursi roda Windi. Tangannya terulur Menggenggam lembut punggung tangan Windi.
Mata Wisnu Menatap ke arah wajah sendu Windi, Wajah yang dulu nya terlihat ceria dan manis akan senyuman nya. Kini berubah menjadi ke sedih an yang tidak tersirat di wajahnya.
"Baby..." Panggil Wisnu dengan lembut.
Windi masih diam dan memandang lurus dengan tatapan kosong nya. Wisnu yang melihat itu membuat nya geram, Ia benar-benar tidak suka melihat Istrinya yang terus-terusan tersiksa seperti ini.
Sudah cukup! Sudah saat nya istri nya harus keluar zona nyamannya. Ia harus membuat Istri nya penuh keceriaan dan senyum kembali.
"Baby... Maafkan aku yang egois... Maafkan aku yang tidak bisa menjaga mu.." Ujar lirih Wisnu, Namun masih bisa di dengar oleh Windi.
Pandangan Windi masih tetap sama dan tidak berubah, "Baby... sampai kapan? Sampai kapan kamu harus seperti ini? di mana Windi yang dulu penuh keceriaan dan senyuman yang selalu menghiasi wajah nya cantik nya? "
"Jangan terus seperti ini, Ini juga menyiksa ku.. Sikap mu yang seperti ini membuat merasa bahwa aku tidak pantas menjadi suami mu.." Ujar Wisnu, Saat mengatakan nya mata Wisnu berkaca-kaca menatap teduh ke arah istri nya yang masih terus menatap kosong.
Tes!
Tangan Windi merasa setetes air mata menetes di punggung tangan nya. Kini mata nya menatap ke arah suami nya yang tengah menangis tapi tetap saja tidak bisa karena air mata nya sudah keluar.
Windi sama sekali tidak suka melihat suaminya menangis. "Iss..nuu.." Panggil lirih Windi.
Wisnu mendongakkan kepalanya menatap ke arah Windi yang sedang memanggil nya. Hati nya sedikit merasa lega ketika Istri nya kembali merespon dirinya. "Baby..."
"Jangan nangis, Maaf..." Ujar Windi seraya menghapus air mata Wisnu yang keluar dari sudut mata nya.
Wisnu tersenyum bahagia ketika Istri nya menghapus air matanya."Baby... Ku mohon jangan seperti itu lagi, Tindakan mu benar-benar membuat ku tidak berdaya...Aku tidak sanggup jika harus kehilangan mu... Berjanji lah kepada ku untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat membahayakan keselamatan diri mu Baby." Ujar Wisnu.
Mata Windi Menatap fokus ke arah mata Wisnu yang terlihat berair akibat air mata yang keluar. "Maaf.." Satu kata yang terlontar di bibir Windi. membuat Wisnu langsung membawa nya kedalam dekapannya. Ia memeluk erat tubuh Windi seakan-akan tidak ingin melepaskan Windi walaupun hanya sebentar saja.
Dari jauh Refa memperhatikan interaksi antara Wisnu dan Windi. Mata nya memanas dan tangan nya yang mengepal kuat menahan rasa sakit di hatinya.
Memang sudah seharusnya aku tidak lagi mengharapkan seseorang yang sudah menjadi Istri Kaka ku sendiri.
Refa segara membalikkan badannya meninggalkan rumah sakit, dengan rasa sakit yang menjalar di hati nya.
°°°
Perbincangan singkat antara Wisnu dan Windi membuat ada sedikit perubahan dari Windi. Ia mulai merespon ketika orang mengajak nya berbicara walaupun hanya dengan menatap dan mengisyaratkan dengan tubuhnya. Rasanya ia masih enggan untuk mengeluarkan suara nya. Kecuali jika ia bersama dengan Wisnu, Maka ia akan banyak bicara dan cerewet.
Wisnu dan yang lain nya memaklum kan sikap Windi yang berubah. Menurut mereka itu lebih baik dari pada Windi yang berusaha mencoba untuk melukai diri nya lagi.
"Isnu, Kapan aku akan pulang?" Tanya Windi.
Wisnu yang sedang duduk di sofa dengan laptop yang ia pangku Membuat nya beralih menatap istri nya. Seulas senyum an terpancar di wajah tampan Wisnu." Cantik ku ingin pulang ke rumah?"
Windi menganggukkan kepalanya patuh dengan wajah yang sangat menggemaskan di mata Wisnu.
Melihat wajah Windi yang menggemaskan membuat nya meletakkan laptop nya dan berjalan ke arah sisi bankar Windi. " Sabar yah cantik ku, Kata Dokter kamu harus melakukan perawatan beberapa hari lagi. Setelah itu kamu boleh pulang." Ujar Wisnu, disertai dengan kecupan hangat di kening Windi.
"Berapa hari Isnu? Aku sangat bosan jika terus berada di sini."
"Aku tidak tau, Nanti aku akan menanyakan kepada Dokter oke?"
"Baik la, Tapi bisa kah kamu meminta dokter itu untuk segara mengeluarkan aku dari sini? Aku benar-benar sangat bosan sekali."
Wisnu terkekeh mendengar perkataan Windi yang sangat menggemaskan, Di sisi lain ia juga merasa terharu karena istri nya yang menggemaskan sudah kembali. Meskipun istri nya bersikap cuek kepada orang selain dirinya.
"Kamu bosen?" Tanya Wisnu.
Windi menganggukkan kepalanya.
Wisnu tampak memikirkan sejenak agar Istri nya tidak bosan."Bagaimana setelah kamu keluar kita akan pergi kemana pun kamu ingin pergi?" Tawar Wisnu.
"Benar kah?"
"Iya.."
"Asik... Kalau begitu cepat panggil dokter, Aku ingin pulang sekarang."
"Cantik ku.."
"Hehehe bercanda Ganteng ku.." Ujar Windi di sertai cengengesan di wajahnya. Entahlah tidak tau kenapa rasanya ia enggan sekali berbicara dengan orang lain selain dengan suaminya. Bahkan ketika mama dan papa nya mengunjungi nya ia hanya diam dan merespon sesekali.
Ceklek!
Pintu ruangan rawat Windi terbuka, Menampilkan sesosok wanita dengan tinggi semampai, Rambut hitam legam nya, Mata nya yang tajam dan aura nya sangat kuat.
Windi dan Wisnu melihat ke arah pintu secara bersamaan. Betapa terkejutnya Windi ketika mendapati Kaka kembar nya berada di hadapan nya.
Dengan mata berkaca-kaca dan Tersenyum kecil ke arah Wanda. Kedua nya ia rentang kan dengan lebar.
Begitu juga dengan Wanda yang menatap Windi dengan mata yang berkaca-kaca.
Hap!
Wanda langsung membawa Windi ke dalam pelukan nya, Keduanya menangis dalam pelukan. Wisnu yang melihat interaksi saudara kembar itu membuat diri ikut terhanyut.
Tak sengaja mata Wisnu menatap ke arah Ken yang ternyata juga menatap interaksi antara Wanda dan Windi.
Wisnu berjalan menghampiri Ken."Ken.."
Ken yang merasa terpanggil menarik nafas nya dalam-dalam menahan air mata yang ingin keluar."Hm?"
"Ken apa kau tidak ingin ikut serta saling memeluk?" Tanya Wisnu dengan mata yang masih fokus menatap ke arah Wanda dan Windi yang masih setia saling berpelukan.
__ADS_1
"Tidak."
"kenapa?"
"Aku tidak ingin mengganggung waktu adik-adik ku, Mereka sudah lama tidak bertemu bahkan saat pernikahan Windi, Wanda tidak hadir karena sedang menjalankan misi."
Wisnu hanya diam dan mengangguk kepalanya. kedua nya saling diam dan masih menatap Windi dan Wanda yang masih belum melepaskan pelukannya.
Ken menghela panjang nafasnya."Wisnu ayo kita menunggu di luar, Berikan Waktu mereka berdua untuk berbicara."
Wisnu mengangguk setuju, kedua nya keluar dari ruangan Windi dan meninggalkan Wanda dan Windi.
Wanda melepaskan pelukannya, tangan nya terulur memegang lembut ke dua pipi Windi. Ia menghujami wajah Windi dengan ciuman lembut.
Sedang kan Windi terkekeh geli melihat saudara kembar nya begitu sangat agresif.
"Angel.."
Wanda menghentikan ciumannya dan memandang sendu ke arah Windi. " Baby Maaf kan aku yang baru bisa menjenguk mu.." Sesal Wanda.
"Tidak Angel, Kamu tidak salah..."
"Maaf tidak ada di samping mu saat-saat kamu sangat membutuhkan aku Baby.."
"Angel...Jangan minta maaf karena kamu ga salah..."
Wanda hanya diam, Mata nya menatap ke arah pergelangan tangan Windi yang di perban. Tangan kanan Wanda dengan hati-hati menyentuh lembut tangan Windi yang di perban.
"Apakah ini sakit?"
"Tidak." Jawab Windi disertai gelengan kepala.
Wanda mengecup lembut pergelangan tangan Windi. "Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri Baby? Kenapa kamu begitu egois hanya memikirkan rasa sakit diri mu saja? Kenapa kamu tidak memikirkan rasa sakit apa yang juga kami alami.." Ujar Wanda dengan air mata yang keluar.
Windi menunduk bersalah tak berani menatap ke arah wanda."Maaf..." Ujar lirih Windi.
Tangan Wanda terulur mengelus lembut pipi Windi. " Baby kamu tau bukan? Apa yang kamu lakukan juga akan melukai perasaan kami Baby, Jangan lakukan itu lagi.."
"Maafkan Aku Angel, aku gagal jadi seorang ibu... Aku Gagal melindungi Calon anak ku... Aku kehilangan nya." Ujar Windi.
Mendengar itu Wanda langsung membawa Windi ke dalam pelukan nya dan mengelus lembut punggung Windi."Sst Jangan pernah berkata seperti itu Baby, Kamu tidak pernah gagal. Kamu sudah berusaha mempertahankan nya tapi mungkin Tuhan begitu menyayangi Anak mu hingga membuat nya kembali kepada nya." Ujar Wanda.
Bohong jika Wanda tidak ikut turut merasakan apa yang Windi saat ini rasakan. Hati nya begitu terluka dan sakit melihat adik nya seperti ini. Lebih baik dirinya saja yang seperti jangan adiknya.
Kakak perempuan mana yang tidak ikut terluka jika adiknya terluka? Ikatan batin antara kakak dan adik sama kuat nya dengan Ikatan Batin Antara anak Dan juga orang tua.
Apalagi antara Wanda dan Windi yang merupakan saudara kembar. Ikatan batin mereka saling terhubung satu sama lain. jika di antara mereka ada yang merasa sakit maka saudara yang lain akan ikut sakit.
Wanda melepaskan pelukannya, Tangannya memegang lembut ke dua bahu Windi. Kedua nya sama-sama terisak dalam tangisan mereka.
"Baby listen to me."
Windi mendongakkan kepalanya menatap dalam ke arah Wanda yang sedang menatap nya. " Kita perempuan di ciptakan dengan segala kelebihan dan Keindahan yang di berikan tuhan pada diri kita..."
"Jangan pernah sekali-kali merasa kalau kamu gagal Baby..."
"Karena Tuhan tidak pernah gagal dalam menciptakan hambanya, Terutama ketika tuhan menciptakan Wanita untuk tidak pernah gagal dalam hal Apapun, Baik menjadi seorang ibu, Istri, Anak, Cucu, dan menantu. Wanita selalu membawa senyuman di wajah cantik nya, Wanita di ciptakan untuk membawa ke bahagia untuk semua orang." Sambung Wanda.
Windi yang mendengar itu membuat perasaan sedikit nyeri karena telah berani menyebut dirinya Gagal pada Diri nya di ciptakan sebaik mungkin untuk tidak gagal dalam hal Apapun.
James yang sedari tadi berdiri di ujung pintu memperhatikan kedua putrinya yang terlihat saling menyayangi dan mencintai satu sama lain.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ke arah Putri-putri nya. "Angel, Little" Panggil James.
Kedua nya Melihat ke arah James yang berjalan ke arah mereka. Windi yang terisak menatap ke arah James dengan tatapan bersalah. Sedangkan Wanda menatap James dengan tatapan tajam dan juga masih dongkol karena telah berani menyembunyikan keadaan adiknya.
James merentangkan kedua tangannya di hadapan putri-putri nya. Winda yang melihat itu langsung menghambur ke pelukan Papanya. Sedangkan Wanda memutar jengah bola matanya. Tapi tak lama ia ikut memeluk tubuh kekar Papanya yang terlihat masih segar meski sudah hampir menginjak usia lima puluh tahun.
"Putri-putri Papa tidak ada yang pernah gagal dalam hal apapun..." Ujar lirih James. Ia mengecup lembut pucuk kepala Wanda dan Windi secara bergantian.
Entah kenapa Wanda yang awalnya sedikit kesal kini merasa hangat dan nyaman berada di pelukan nya. Ia memejamkan singkat mata nya menikmati pelukan Papanya. Entah sudah berapa lama ia sudah tidak merasakan pelukan Papanya.
Wanda Tersenyum bahagia di pelukan James Begitu juga dengan Windi. Hingga pelukan mereka melonggar ketika suara Keylly terdengar.
"Ehm...Apa kalian tidak ingin memeluk mama juga?" Tanya Keylly dengan pura-pura sedikit kesal.
Ketiga tertawa mendengar perkataan Keylly. James mengisyaratkan tangannya untuk mendekat. Keylly tersenyum dan melangkah mendekat ke arah suami dan juga anak-anak nya.
Mereka berempat saling memeluk dengan sangat erat.
"Uhuk...Uhuk..."
Mereka melepaskan pelukannya dan saling menatap satu sama lain. Dan sedetik kemudian mereka tertawa riang.
Windi Menatap satu persatu ke arah mama, Papa, dan juga Wanda yang tertawa riang. membuat hati nya menghangat dan tenang ketika melihat tawa di wajah mereka.
°°°
Keesokan harinya James, Wanda, Wisnu, Ken, Benny, dan juga Refa berada di ruangan tertutup yang berada di rumah sakit yang di khususkan untuk para tamu VVIP nya.
Mereka duduk di meja melingkar dengan James yang berada di atas, Benny yang berada di hadapan James. Diikuti Ken yang berada di sisi Kanan James, Wanda di sisi kiri James. Wisnu berada di sisi Kiri Benny dan Refa berada di sisi Kanan Benny. Yang berarti Refa duduk berhadap-hadapan dengan Wanda yang wajahnya terlihat sangat mirip sekali dengan Windi.
Awal nya Refa terkejut karena Papa nya menyuruh dirinya untuk ikut bersama nya dan akan membahas hal yang penting. Ia tidak menyangka jika hal penting itu adalah menyangkut kejadian yang di alami Windi.
Terasa dengan jelas bahwa atmosfer di ruang itu terlihat sangat dingin dan sedikit mencekam terlebih aura yang di pancarkan Wanda Sangat lah kuat.
Mata nya yang tajam dan tegas, Wajah nya yang terlihat kaku dan juga cuek berada dengan Windi yang terlihat lemah lembut namun sedikit tertutup dengan orang luar selain keluarga nya.
Oke lanjut ke masalah.
"Ekhmm.." Terdengar suara deheman dari Wanda memecahkan keheningan di antara mereka.
Orang-orang yang berada di ruang itu menatap serentak ke arah Wanda.
"Aish, Mau sampai saling menatap satu sama lain? Ini menyebalkan sekali... Tujuan kita berkumpul bukan untuk menatap satu sama lain.." Ujar Wanda dengan santai namun sedikit dingin.
Tak sengaja mata Wanda menatap ke arah Refa yang sedari tadi sedang menatap nya. " Dan untuk kau! berhenti lah menatap ku atau aku tidak akan segan mencongkel kedua bola mata mu. " Ujar garang Wanda.
Glek!
Refa dengan susah Payah menelan Saliva nya. Astaga apa dia benar-benar kembar an wanita yang pernah aku cinta? Kenapa dia sangat berada sekali dengan Windi.
__ADS_1
Brak!
Semua orang yang berada di situ kaget mendengar gebrakan meja yang di hasilkan dari Wanda. Mata mereka menatap ke arah Wanda yang terlihat Santai dan merasa tidak bersalah.
Sedangkan yang di tatap hanya cengengesan.
James dan Ken menghembus kasar nafasnya melihat Wanda yang begitu Agresif dan juga tidak sabaran.
Mata James mengisyaratkan Wanda untuk tetap tenang dan juga diam untuk sementara.
Wanda yang seperti Mengerti dengan tatapan sang Papa membuat memutar bola matanya dan mengangkat bahu nya acuh.
"Wisnu bisa kah kau menjelaskan secara singkat namun jelas tentang kejadian tabrak waktu itu?" Tanya James.
Wisnu menegakkan tubuhnya dan menghela perlahan nafasnya, Ia mulai menceritakan tentang awal kedatangan Windi, Ajak Windi yang ingin memakan warung mang Ujang karena ngidam. Hingga tabrak yang di alami Windi saat ini.
Semua orang menyimak apa yang di katakan Wisnu, Tangan James dan juga Ken mengepal kuat. Sedangkan Wanda hanya tersenyum devil sambil memainkan ponselnya.
Kini keadaan kembali diam dan tenang hanya terdengar helaan nafas dari mereka.
"Wisnu di sini Papa tidak akan menyalah kan mu atas apa yang terjadi kepada putri ku. Tapi bukan kah aku sudah mengingat kan mu tentang yang ku katakan mu pada waktu itu?"
Wisnu hanya diam dan mengangguk kepalanya pelan. "Lalu kenapa kau ceroboh sekali. Astaga." Geram James.
Itu sama saja Papa menyalahkan nya kepada Wisnu papa ku tercinta. Batin Wanda.
"Maaf..."
James menyender kan punggung nya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Refa kali ini.
Wanda melirik sekilas ke arah Refa, lalu menunduk kepala nya dan kembali fokus kepada ponsel nya.
Bodoh.
"Terhitung sudah hampir seminggu dan kita masih belum mendapatkan petunjuk tentang siapa yang menabrak Windi."
"Lalu hanya segitu usaha mu untuk menangkap siap pelukan nya?!"
"Aku sudah melakukan segala hal tapi itu sangat nihil karena seperti nya di sudah lebih dahulu mengerti tentang pergerakan diri ku." Ujar jujur Wisnu. Karena apa yang di katakan Wisnu benar, Ia sudah mengarah seluruh anak buah dan untuk mencari pelaku nya namun sepertinya usaha mereka sia-sia.
"Arghh sial! " Geram James.
Wanda menghentikan aktivitas nya, Ia menggenggam lembut tangan James."Pa.." Panggil Wanda. mata mengisyaratkan sesuatu kepada James.
James mengangguk kepalanya. Wanda melepaskan genggaman tangan dan Melatak kan kedua tangannya di atas meja. Mata tajam nya menatap keseluruhan orang-orang yang berada di hadapan nya.
"Ah baik lah, Wisnu bisa kah mengatakan sesuatu yang mungkin kau ingat tentang mobil itu."
"Aku hanya mengingat, mobil sport hitam, Mungkin itu sejenis Lykan Hypersport keluar an terbaru tahun lalu lalu. Tapi aku tidak ingat plat nomor nya. " Ujar Wisnu.
Wanda mengangguk kepalanya Mengerti."Baik lah itu sudah cukup, Dan apa kau melihat siapa yang mengendarai mobil itu? "
Wisnu menggelangkan kepalanya.
Tiba-tiba saja telinga Wanda berdengung dengan tajam, Ia seperti mendengar samar-samar suara seseorang. "Cukup, Pertemuan ini sampai sini saja. Aku sudah memiliki rencana, Untuk rencana nya aku akan memberitahu nya tapi tidak sekarang. Karena di sini tembok sedang mendengarkan suara kita." Wanda memicing matanya menatap ke arah sudut kiri tembok.
Wisnu, Benny, dan juga Refa sedikit tercengang dengan apa yang di kata Wanda. Tapi tidak dengan James dan Ken karena mereka tau insting tajam Wanda yang tidak pernah meleset.
"Kenapa?" Tanya Refa yang masih bingung.
"Hei bocah, Apa kau tidak mengerti dengan apa yang aku katakan?" Tanya Wanda dengan sinis.
Refa Menggeram ketika Wanda menyebut nya bocah, Sedang ia sama Windi saja lebih tua dari nya lalu kenapa sekarang menyebut nya bocah? Bukankah Wanda lah yang muda dari nya?
"Kau!"
Wanda menaik turun kan kedua alisnya dan mengangkat acuh bahu nya.
James yang melihat itu hanya menghela nafas nya, dan memijat kening nya pusing.
"Angel..." Kali Ken yang bersuara.
Wanda yang mendengar itu langsung diam dan menatap cengengesan ke arah Ken karena ketika sudah memanggil nya seperti itu pasti sudah di pastikan ia akan tidak baik-baik saja. Ia lebih baik diam dari pada menerima hukum an dari kakaknya.
.
.
.
Saat keluar dari ruangan itu tak sengaja mata Wanda menangkap sesosok yang sangat menarik di mata nya. Ia berjalan mendekat ke arah orang itu.
"Ciao, piacere di incontrarti di nuovo amico. (Hai, senang bertemu denganmu lagi teman)" Bisik Wanda dengan bahasa Italia, dan setelah itu berjalan meninggalkan nya dengan gaya angkuh dan tersenyum devil.
Sedangkan tubuh pria itu menegang mendengar perkataan Wanda. Padahal ia sudah berharap Wanda tidak mengenali dirinya tapi Sayang nya, Mata jeli Wanda mampu mengenali dirinya.
Sial!
James yang tidak sengaja melihat interaksi antara Wanda dan pria itu membuat alis berkerut bingung apa yang sebenarnya terjadi antara pria itu dan juga putri nya.
.
.
.
.
.
Next Chapter
Sial aku akan membunuh mereka tampa ampun.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukung like,koment,vote, Rate 5 dan tambahkan di daftar favorit kalian yah:)