
Sudah tiga hari Wisnu terbaring kaku di Bankar, Windi dengan setia berada di sebelah Wisnu. Tidak ada air mata yang keluar dari Kedua sudut matanya. Melainkan hanya tatapan kosong yang selalu terarah ke wajah pucat Wisnu.
"Isnu.. Kenapa kamu belum bangun? Apa kamu tidak merindukkan ku?" Ujar Windi seraya memandangi wajah pucat Wisnu yang sudah tiga hari ini mengiasi wajah-nya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?" Sambung nya, Tangan kanan nya menggenggam lembut tangan Wisnu.
Selama tiga hati terakhir keadaan Windi benar-benar menyedihkan, Disekitaran mata nya terdapat kantung mata. Kondisi fisik Windi juga melemah, Entah kenapa akhir-akhir ini Windi merasa sangat lemas sekali. Bahkan ia, pagi-pagi sekali muntah-muntah. Tetapi hal itu sama sekali tidak membuat nya absen untuk terus menjaga Wisnu agar terbangun dari tidur nya.
Di ambang pintu, Ken mengepal kan kuat tangannya. Hati nya terasa terisi melihat keadaan Windi yang begitu menyedihkan. Ia bahkan tak jarang ikut menitikan air mata nya.
"Bangun hiks..." Ken kembali mendengar isak tangis Windi, meskipun tidak terlihat air mata yang keluar dari sudut mata Windi. Namun Ken bisa memastikan kalau Windi kembali sedih.
Dengan langkah gontai Ken menghampiri adiknya, "Babby..." Panggil Ken seraya menepuk pelan bahu Windi.
Windi hanya diam, Mata nya hanya terfokus ke arah Wisnu yang masih terbaring Kaku.
Sedangkan Ken hanya bisa menghebuskan kasar Nafasnya, "Babby? Jangan seperti ini yah? Kamu harus kuat! Jika kamu seperti ini siapa yang akan membalaskan para musuh-musuh itu? Dimana Adik ku yang terkenal tidak pantang menyerah? Dimana Adik ku yang selalu tersenyum dan tertawa? Dimana adik ku yang..." Ken memejamkan mata nya, Ia tidak melanjutkan kata-katanya terlalu menyakiti hati nya.
Saat ini kondisi nya benar-benar membuat Windi seperti kehilangan arah hidup nya, Tidak ada Windi yang selalu ceriah, dan tegar. Kini Hanya Windi yang tampak sangat menyedihkan.
Ken langsung menarik Windi ke dalam pelukannya, Ia mendongakkan kepala nya menahan air mata yang akan keluar di kedua sudut nya.
"Udah yah... Kamu juga harus memikirkan kesehatan dirimu juga Babby." Ujar Ken setelah melepaskan pelukannya.
Windi hanya menganggukkan kepalanya, Air mata nya masih keluar dari sudut matanya. Ken yang melihat itu langsung menghapus nya dengan cepat.
"Huil niet, mijn hart huilt ook om jou zo verdrietig te zien."
Senyuman kecil terpancar di wajah Cantik Windi. "Broer? Apa yang harus ku lakukan saat ini?"
Mata tajam Ken mentap senduh ke arah Windi."Kamu harua Kuat! Kamu Engga Boleh lemah! Di luar an sana masih banyak para musuh yang berusaha mengincar kehancuran Wisnu! Jika Wisnu lemah kamu tidak boleh ikut lemah! Kamu harus menjadi perisai dari para musuh suami mu.." Pandangan Ken beralih menatap ke arah tubuh Wisnu yang sama sekali tidak bergerak.
"Kamu harus bangkit! dan kuat menghadapi semua ini! Kami semua akan selalu ada di sisi mu... Kamu harus menggantikan tugas Wisnu.. Selama Wisnu masa pemulihan...Kamu yang akan menggantikan posisi Wisnu untuk menyelidikin siapa saja yang terlibat dalam permain kotor... Kali ini kamu harus memerankan peran Antagonis! Windi yang protagonis kini sudah berubah menjadi sosok Antagonis..."
__ADS_1
Mendengar perkata Ken membuat Windi menganggukkan kepala nya pelan.. Benar Apa yang di katakan Ken, Kalau ia harus bangkit dan melawan para musuh nya.. Ia tidak boleh lemah... Saat ini Windi akan memainkan peran Antagonis... Ia akan membalas semua orang-orang yang telah menyakiti Keluarganya... Khusus nya suami tercinta nya.
Dengan cepat Windi menghapus air mata nya."Kakak benar! Aku tidak boleh lemah! Jika aku lemah siapa yang akan menjadi perisai bagi suami dan keluarga ku? Aku harus bangkit dan kuat!" Ujar Windi dengan semangat.
"Bagus itu baru adik ku.." Ujar ken seraya menepuk-nepuk pelan bahu Windi.
Windi kembali memeluk erat tubuh besar Ken, Ia menenggelamkan kepala nya di dada bidang Ken yang terasa sangat nyaman sekali. Ia memajamkan mata nya menikmati pelukan hangat dari Ken, Ia tidak pernah meragukan lagi Pelukan Ken yang begitu Hangat...
***
Tak.! Tak!
Saura langkah kaki yang begitu menggema di seluruh ruangan, Semua mata memandang ke arah seoarang wanita yang berjalan dengan begitu anggun.
Kacamata hitam yang bertengger di wajah nya, lipstik merah meron yang menghiasi wajah cantik nya.
Hari ini seluruh karyawan di perintahkan untuk berkumpul di lobby. Terdengar bisik kan-bisikan dari karyawan ketika melihat Seorang wanita anggun yang di temani oleh Panji.
Kini Wanita itu berdiri di tengah-tengah karyawan nya berasama dengan panji dan beberapa anak buah nya. Di balik kacamata nya ia menatap satu persatu karyawannya hingga pandangan nya terkunci ke arah satu orang. Senyuman devil terpancar di wajahnya.
"Akan ada pengumaman penting... Seperti yang kita ketahui saat ini kalau tuan muda sedang melakukan pemulihan..dan selama masa pemulihan tuan muda tidak akan mungkin memimpin perusahaan ini.. Untuk itu, Akan ada yang menggantikan Beliau..."
Suara Riuh semakin terdengar ketika mendengar perkataan Panji. Mereka pensaran siapa yang akan menggantikan Posisi Wisnu sementara.
"Harap Tenang..." Instruksi Panji, Semua orang kembali tenang.
Panji melirik ke arah Wanita itu. Wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Yang akan menggantikan beliau adalah Istri tuan muda sendiri yaitu Nona Windi, yang akan menggantikan posisi Tuan muda untuk sementara waktu selama proses pemulihan Nona Windi."
Semua orang terkejut dengan perkataan Panji, Bagaimana tidak terkejut. Mereka semua tau kalau istri Boss mereka adalah lulus farmasi lalu bagaimana bisa memimpi sebuah perusahaan besar? Tapi mereka semua memilih diam dan tidak berani menyuarakan pendapat mereka.
Ya, Wanita cantik itu adalah Windi yang akan menggantikan posisi Wisnu memimpin perusahaan keluarganya. Meskipun ia lulusan Farmasi tetapi kemampuan dalam memimpin perusahaan tidak bisa di ragukan... Ia sama seperti Wanda dan juga Ken yang sangat pintar.
__ADS_1
Tetapi Windi juga masih membutuhkan bantuan dari orang-orang sekitar terutama Asisten pribadi sekaligus sekertaris Suami nya.
Windi membuka kacamata hitam yang bertengger di mata nya, Mata tajam namun masih terlihat senduh memperhatikan semua orang yang juga sedang menatap nya.
"Mohon untuk bantuan dan kerja sama nya." Ujar Windi Singkat disertai seringai tipis di bibir nya.
"Baik Nona.."
Setelah perkenalan dengan para staf kantor, Panji mengantarkan Windi ke Ruangan yang biasa di gunakan Wisnu.
Mata Windi mengedar ke arah seluruh ruangan, Meskipun ia sudah sering ke sini tapi rasa nya berbeda sekali. Ketika ia datang untuk menemui suami nya kini, Ia datang untuk menggantikan posisi Suami nya Sementara Waktu.
"Sila kan Nona."
Tangan Windi mengelus lembut Meja kerja Wisnu, Hingga Tangannya terhenti di kursi kebesaran Wisnu. Mata nya berkaca-kaca menatap kursi kebesaran Wisnu.
"Kau boleh pergi."
"Baik nona, " Panji menundukkan kepala nya lalu pergi meninggalkan Windi di ruangan Wisnu.
Setelah kepergian Panji, Windi mendudukkan tubuh nya di kursi itu. Mata nya refleks terpejam, Rasa nya Aroma Wisnu terasa di ruangan ini.
Ketika mata nya terbuka, ia terkunci ke arah figuran foto yang terpajang di Meja itu. Seulas senyuman terpancar di Wajahnya, Ia melihat foto diri nya yang sedang tersenyum ke arah kamera.
Tapi senyuman itu perlahan menghilang, Di gantikan dengan wajah datar dan dingin. tangan nya terkepal kuat. "Akan ku pastikan mereka akan mendapatkan balasan setimpal!"
.
.
.
.
__ADS_1
Haii :) Saya kembali, saya benar-benar minta maaf hampir 2 minggu menghilang :) Saya memiliki sedikit masalah dalam kehidupan Real Life saya. Tapi sebisa mungkin saya akan rajin update. Dan juga mungkin novel ini akan segera berakhir