
Setelah membahas masalah diantara mereka. Wisnu mengantarkan kembali Windi ke apartemennya. Selama di perjalanan keduanya hanya saling diam dan membisu.
Windi kembali memikirkan perkataan Wisnu tadi.
Apa benar yang dikatakan tuan Wisnu? Bahwa dengan pernikahan ini semuanya akan baik-baik saja? Tapi bagaimana bisa dua hati yang tidak saling mencintai... Terikat dalam sebuah hubungan ikatan suci yang di saksi kan Tuhan?
Windi memilih menatap ke arah luar jendela dan memikirkan setiap kata yang di ucapkan Wisnu. Sedangkan Wisnu melirik ke arah Windi yang menatap ke arah luar jendela. Ada segurat wajah kekecewaan di mata Wisnu ketika ia mengingat kembali perkataan Windi.
Selain itu aku masih mencintai adik mu, meskipun ia sudah menyakiti ku tapi tetap saja cinta ku masih ada.
Perkataan Windi seakan menusuk hati nya dan terasa sesak. Sangat menyakiti hati nya, dan perasaan nya.
Kenapa hati ku terasa sangat sakit? Ketika Windi mengatakan ia masih mencintai Refa? Ada apa dengan diriku ini? Bagaimana mungkin aku menyukai Windi? Jika aku menyukai nya.. aku harus menguburnya dalam-dalam karena Windi hanya mencintai Refa.
Mobil Wisnu sudah tiba di lobby apartemen Windi. Windi yang sedari tadi hanya diam memandang keluar jendela membuat nya tidak sadar kalau mereka sudah tiba di apartemen nya Windi.
" Windi?" Ujar Wisnu.
Suara Wisnu yang memanggil nya membuat nya sedikit terkejut dan tersadar dari lamunannya. " Ah Iyah tuan?" Tanya nya dengan bingung.
" Kita sudah sampai? Apa kamu tidak ingin turun?"
Windi menatap sekeliling luar jendela, dan benar saja mereka sudah tiba di apartemen Windi." Ah Iyah tuan.. kalau begitu terimakasi untuk tumpangan.." Windi Tersenyum hangat ke arah Wisnu.
Wisnu menganggukkan kepalanya." Sama-sama."
Saat Windi hendak membuka pintu, Wisnu memanggil Windi. " Tunggu.."
" Ada apa tuan?" Windi Mengerutkan keningnya
" Ehm aku ingin meminjam ponsel mu..."
Kedua alis Windi berkerut mendengar ucapan Wisnu." Untuk apa tuan?"
" Ehm nanti kamu akan tau." Wisnu menatap ke arah Windi yang sedang menatap Bingung ke arahnya.
" Ehm baik la." Windi merogoh ponselnya dari tasnya. Ia menyerahkan ponselnya ke Wisnu.
Wisnu mengambil ponselnya Windi dan memasukkan nomor nya ke ponsel Windi.
" Sudah." Ujar Wisnu seraya menyerahkan ponselnya kepada Windi
" Sudah?" Tanya Windi
Wisnu menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Windi.
" Apa yang kamu lakukan?"
" Aku memasukkan nomor ku ponselmu... Jika kamu sudah memutuskan nya kamu bisa langsung menghubungi ku.." Wisnu tersenyum dan mengusap lembut kepala Windi.
Windi terperangah ketika Wisnu mengusap lembut Kepala nya." Ba-baik la kalau begitu aku permisi dulu." Windi membuka pintu mobil. Ia melambaikan tangannya ketika mobil Wisnu sudah pergi.
Aku harus memikirkan keputusan ini secara matang-matang, Agar tidak ada yang terluka dan kecewa akan keputusan ku nantinya...
°°°
Wisnu kembali ke kantornya, Karena Panji mengatakan ada seseorang yang sedang menunggunya. Wisnu yang sangat letih dengan terpaksa harus bertemu dengan tamunya itu.
Sekitar tiga puluh menit mobil Wisnu sudah tiba di kantor nya. Wisnu melangkah keluar mobil dan menuju ke ruang nya.
__ADS_1
Saat di depan pintu Wisnu sangat terkejut karena James mengunjungi kantornya.
" Tuan James ?" Panggil Wisnu saat sudah berada di depan Pintu kantornya.
James yang kala itu menunggu Wisnu di sofa Ruang nya, Langsung menatap ke arah Wisnu yang memanggil nya.
" Kau sudah datang?"
Wisnu berjalan melangkah mendekat ke arah James. Ia mendudukkan tubuhnya di Sofa.
" Ada apa tuan?"
" Apa kau sudah mengambil keputusan tentang kejadian kemarin?" Tanya James dengan penuh selidik
Wisnu menganggukkan kepalanya." Sudah tuan." Wisnu menatap ke arah James dengan penuh yakin
" Lalu apa keputusan mu?"
Wisnu menghela nafas nya dengan perlahan." Aku akan menikahi Windi.. Tapi Aku akan menikahi nya asalkan.." Wisnu menatap James dengan menatap intens matanya James.
" Asalkan apa?" James sudah sangat tidak sabar menunggu perkataan Wisnu
" Asalkan Windi setuju menikah dengan ku.. Karena aku tidak ingin menikahi seseorang tanpa persetujuan dari nya... Mungkin jika ia tidak mencintai ku.. aku akan menerima nya tapi tidak dengan dia yang menolak untuk menikah dengan ku... " Ujar Wisnu
James tersenyum devil mendengar perkataan Wisnu." Apa kau bisa membahagiakan putri ku?"
" Jika nanti dia menjadi istri ku tentu saja aku harus membahagiakan nya, Meskipun cinta tidak ada dalam ikatan pernikahan kit.. Karena itu tugas ku sebagai seorang suami.." Ujar Wisnu dengan sangat yakin
" Baik la kalau begitu aku permisi dulu." Ujar nya
Wisnu Mengerutkan keningnya." Anda mau pergi tuan?"
" Iyah karena aku masih memiliki pekerjaan." Seraya menatap ke arah jam di tangannya
Wisnu mengantarkan James sampai depan lobby setalah itu ia kembali lagi ke ruangannya.
Aneh dia datang kesini? hanya untuk menanyakan itu kepada ku?
°°°
Malam hari nya Windi berdiri menatap arah luar jendela kamarnya. Terlihat jalan yang tampak ramai, Lampu-lampu jalan yang menyala menyinari kegelapan di malam hari.
Angin malam yang terasa sejuk membuat Windi tenang menikmati nya. Windi memikirkan kembali keputusan yang akan di ambil Wisnu karena kesalahpahaman ini. Ia tampak bingung memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil nantinya.
Ya Tuhan.. Kenapa jadi seperti ini.. Kenapa aku engkau takdir aku bertemu dengan Refa namun kau takdir kan untuk menikah dengan Kakaknya.. Aku terjebak dalam ikatan Kaka adik Yang saling menyayangi satu sama lain..
Windi yang sedang larut dalam fikiran nya sampai tidak sadar James yang sedang berada di kamarnya.
James menatap tak tega melihat putri nya yang sedang di hadap kan pilihan yang sulit.. Ia mencintai Pria lain namun ia harus mengambil keputusan untuk menikahi Kaka dari pria yang ia cintai.
James melangkah mendekat ke arah Windi yang berdiri di depan jendela." Sayang..." James menepuk bahu Windi
Windi yang terkejut James memanggil dan menepuk bahu." Papa." Ujar Windi setelah membalikkan badannya ke arah Windi.
" Apa yang sedang kamu fikir kan?" Tanya James.
Windi menggeleng kan kepalanya." Tidak ada pa aku hanya merindukan mama saja." Ujar Windi berbohong
James menatap ke arah Windi dan tersenyum hangat ke arah Windi." Kamu tidak usah berbohong kepada papa sayang...Papa tau kamu sedang berbohong... Kata apa yang sedang kamu fikir kan?" Tanya James seraya mengusap lembut Pipi Windi.
__ADS_1
Usapan lembut James membuat Windi merasa tenang dan nyaman." Pa.. Apa Windi melakukan kesalahan?"
" Kamu tidak melakukan kesalahan apapun sayang.." James tersenyum dan menatap lembut ke arah Windi.
" Tapi kenapa Windi di hukum seperti ini? Windi terjebak di ikat an Kakak adik yang saling menyayangi... Aku mencintai adiknya.. tapi takdir menyuruh ku untuk menikahi kakak nya... Bagaimana bisa pernikahan terjadi tanpa ada nya cinta Pa! Dan kenapa Papa Menyuruh Wisnu untuk menikahi ku.. Hanya karena Wisnu tidur seranjang denganku...Papa tau kan aku tidak akan mungkin melakukan itu.. Apa papa meragukan kesucian diri ku? Hanya karena tuan Wisnu menolong ku dari Dingin nya tubuh ku Pa?" Windi terus berbicara meluapkan apa yang ia tahan sedari tadi, Ia bahkan tidak memberikan kesempatan James untuk berbicara
" Sayang.. Papa tidak ingin di bantah! Kamu harus menikah dengan Wisnu... Dan soal cinta? Cinta itu bisa datang tanpa kita sadari... Seperti Papa dan mama yang menikah tanpa cinta.. Sampai papa dan mama menyadari bahwa kami sesungguhnya saling mencintai.."
" Tapi Pa.."
" Sudah lebih baik kamu istirahat sudah malam." James meninggalkan ciuman di kening Windi dan berlalu meninggalkan kamar Windi.
Setalah Kepergian James Windi menangis meratapi suratan takdir nya..
Windi menghapus air matanya yang mengalir dan mengambil ponselnya...Ia mencari nomor Wisnu
Ia menakan tombol panggil dan menekan nomor Wisnu..Awal nya ia ragu, namun ia harus mengambil keputusan untuk diri nya dan Wisnu kelak.
Suara dering pertama terdangar... Sampai dering ketiga Wisnu mengangkat telfon nya.
" Halo?"
"..." Windi hanya diam saja ketika mendengar suara Wisnu
" Halo? Ini siapa ?" Wisnu bingung karena tidak ada sautan dari sebrang telfon.
" Halo? Apa ada yang ingin kau bicarakan? Jika tidak tidak aku akan memutuskan panggilan telfonnya." Ujar kesal Wisnu. Saat ia ingin mematikan telfonnya terdengar sautan dari sebrang telfon.
" Halo Wisnu."
" Windi?" tanpa sadar sudut bibir Wisnu terangkat karena merasa senang Windi menelfon nya, sedari tadi ia menunggu telfon dari Windi.
" Iya.."
" Ada apa?"
Windi perlahan mengembuskan nafas nya." A-aku sudah memikirkan apa yang kamu katakan tadi siang kepada ku..."
Wisnu yang mendengar itu sedikit merasa deg-degan mendengar jawaban Windi. " Apa keputusan mu?" Tanya Wisnu dengan tidak sabar
" A-aku akan menikah dengan mu..." suara Windi terdengar bergetar ketika mengatakan itu.
Wisnu mendengar perkataan Windi membuat nya sedikit merasa senang, namun ia juga bingung dengan suara Windi yang terdengar bergetar." Apa kamu yakin dengan keputusan mu? Kamu menikah dengan ku tidak di paksa kan?"
" Tidak... ini keputusan ku.. Tapi aku memiliki syarat untuk itu.." Ujar nya
" Apa?"
" Aku ingin pernikahan kita hanya di hadirkan oleh para keluarga terdekat saja.."
" Baik lah kalau begitu, Ada lagi yang ingin kamu katakan?"
" Tidak ada... Kalau begitu aku tutup dulu telfonnya."
" Baik lah selamat malam."
" Malam." Panggilan Windi dan Wisnu terputus..
Ya tuhan semoga keputusan yang aku ambil sekarang adalah keputusan yang tepat dan tidak menyakiti siapa pun..(Windi)
__ADS_1
Setalah memutus kan panggilan telfon Wisnu sedikit tersenyum mendengar perkataan Windi, Yang mau menikah dengannya walaupun pernikahan mereka terjadi kerena kesalahpahaman.
Windi meskipun pernikahan kita terjadi karena kesalahpahaman.. Tapi aku berjanji aku akan selalu bertanggung jawab kepada mu.. Dan mengenang setiap moment ketika kita bersama... Karena aku tau cinta mu hanya untuk Adikku ( Wisnu )