Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 10


__ADS_3

Brigita Theodra diam-diam menaruh hati pada seorang karyawan di kantor sang Papa. Sejak bekerja sama dengan pria itu dia mulai tertarik dengan kepribadian Candra yang cuek dan acuh pada wanita, tak seperti pria lainnya. Pelan-pelan dia pun mulai mendekati dan nyatanya Candra selalu menghindar, tapi Brigita tak pantang mundur.


Hingga suatu hari Candra pun mengatakan kalau dia masih mencintai sang mantan. Membuat Brigita patah hati. Belum juga menyatakan cinta, tapi sudah ditolak duluan. Namun, ia tak menyerah begitu saja. Dia yakin bisa membuat laki-laki itu melupakan sang mantan jika mereka menikah. 


Singkat cerita karena Brigita mau menerima dirinya yang masih memiliki rasa pada Kaina, membuat Candra akhirnya mau menerima lamaran wanita itu. Sudah tiga tahun setelah perpisahan dengan sang mantan membuatnya ingin mencoba membuka hati. Jadilah Candra dan Brigita menikah. Hidupnya berubah drastis, yang awal hanya seorang karyawan biasa, kini langsung menduduki kursi penting di perusahaan mertua.


Tiga tahun menikah, Candra tak kunjung bisa membuka hati. Entahlah dia pun tak tau kenapa. Padahal Brigita bisa dibilang wanita yang sempurna juga masuk kategori istri idaman. Meskipun tak ada rasa terhadap istrinya dia berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Walau kadang tanpa sadar sikapnya menyakiti hati wanita itu.


Itulah resiko menikah dengannya dan Brigita sudah tau hal itu sejak awal sebelum mereka menikah. Jadi, jangan salahkan dia karena dia sudah memperingatkan terlebih dahulu. Jika mau menerimanya, maka sekarang jangan menuntut apa-apa darinya. 


Rumah tangga mereka berjalan biasa-biasa saja. Tak ada kebahagiaan atau juga kesedihan yang melanda. Semua berjalan normal layaknya rumah tangga pada umumnya, hanya saja tak ada cinta dan kasih sayang di dalamnya. Semua terasa hambar baik bagi Canda dan juga Brigita. Apalagi sampai detik ini mereka juga belum dikaruniai seorang anak, membuat Brigita jadi sedikit resah.


...----------------...



...----------------...


Membayangkannya saja sudah terasa sangat menyakitkan bagaimana nanti jika sudah terjadi. Membuat Kaina tak sanggup menahan tangis. Ditatapnya wajah sang putra dengan lekat, sungguh membuat hatinya kian teriris perih. Tampak pucat dan sangat lemah tak berdaya. 


Hampir setiap malam ia meminta pada Tuhan agar bisa menggantikan posisi anak-anaknya. Namun, Tuhan tak mau mengabulkan, malah kini masalah baru pun muncul kembali. Membuat hidupnya kian terasa suram.


“Kak, tidur. Dari tadi Kakak mandangin Kama terus,” ujar Adit.


“Kakak takut, Dit, soalnya nanti kami akan berpisah,” jawab Kaina sendu.


“Kak, sekarang itu yang harus kita utamakan kesembuhan si kembar.  Setelah mereka sembuh baru kita pikirkan lagi langkah selanjutnya.”


“Tapi, Dit.”


“Kak, nanti aku coba tanya sama teman-teman kampus di fakultas hukum. Siapa tau mereka punya teman atau kenalan pengacara hebat yang bisa bantu kita buat ambil hak asuhnya Kama. Sekarang kita ikuti ajak dulu apa maunya si Hugo itu, asalkan Kama bisa mendapatkan donor ginjal secepatnya.”


Kaina mengangguk lemah.


“Sekarang Kakak tidur dulu, biar aku yang jaga mereka.”


“Nanti kalau mereka kebangun, kamu bangunin Kakak ya, Dit.”

__ADS_1


“Iya. Udah sana jangan sedih lagi. Mana Kakak aku yang selama ini kuat dan gak pantang menyerah. Jangan hanya gara-gara masalah ini Kakak jadi hancur gitu. Sebelum dunia ini kiamat maka perjuangan kita belum berakhir jadi, harus kuat dan tetap semangat.” Adit berkata sambil mengepalkan satu tangannya.


Membuat Kaina menyungingkan sudut bibirnya tersenyum.


“Nah gitu dong, senyum. Kakak itu jelek kalau murung terus, kalau udah senyum jadi cantik lagi.” Adit sengaja menggoda saudara perempuannya agar sedikit terhibur.


“Apaan sih, Dit. Kamu jangan gombalin Kakak kaya cewek-cewek yang kamu deketin.” Kaina memukul lengan adik laki-lakinya.


“Ih, kata siapa aku suka gombalin cewek. Gak pernah, ya, selain Kakak sama Ibu. Setelah Ayah gak ada, aku mau jagain Kakak dan Ibu. Sekarang aku ini kepala keluarga, meski Kakak yang paling tua, tapi aku laki-laki. Tanggung jawabku juga bertambah sejak ada Kama dan Kalila, jadi gak ada waktu buat mikirin cewek.”


Sendu Kaina menatap sang adik yang sudah tumbuh besar. “Maafin Kakak, ya, Dit. Gara-gara kesalahan Kakak dulu, sekarang kamu jadi ikut menanggung akibatnya. Kamu harus kehilangan waktu dengan teman-teman dan kamu gak bisa menikmati masa-masa muda selayaknya teman-teman kamu yang lain.”


“Mulai lagi deh melownya.” Adit berdecak sebal. “Aku kan sudah bilang aku ini bakalan gantiin ayah buat jaga Kakak, ibu dan si kembar. Sampai suatu saat nanti Kakak menemukan seorang laki-laki yang dapat menjaga kalian bertiga, baru aku merasa tenang.”


Diraih tangan sang adik yang berdiri di samping lalu digenggam erat jari-jari panjang itu. “Setelah Kama dan Kalila sembuh Kakak janji gak akan membebani kamu lagi. Kakak akan urus supermarket dan kamu bisa fokus kuliah. Kamu juga bisa punya banyak waktu setelah ini, mau main, mau apa aja asalkan kamu masih di jalur yang benar, Kakak akan selalu dukung.”


“Gak usah bahas itu sekarang. Nanti aja kalau si kembar benaran sudah sembuh. Udah sana tidur, apa perlu aku angkat.”


“Enak aja, gak akan kuat kamu.”


“Aku ini udah besar, Kak. Bukan lagi adik kecil yang selalu Kakak bikin nangis.”


“Iya. Asalkan nanti setelah si kembar sembuh aku boleh beli motor baru.” Adit beralih ke kursi yang diduduki kakaknya tadi.


“Insyaallah.” Kaina menjawab kala badannya sudah direbahkan di atas kasur santai.


Adit menarik bibirnya agar tersenyum. Walau sebenarnya hati juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudara perempuannya.


...🍁🍁🍁🍁...


Hugo tampak menuruni anak tangga dengan cepat lalu menuju meja makan. Ia sudah tak sabar ingin segera tau keputusan sang Ibu.


“Gimana? Sudah hubungi pengacara.” Duduk di kursi dan tangannya meraih selembar roti.


“Sudah, nanti dia bakalan kesini,” jawab Suci.


“Sudah siapkan surat perjanjiannya?”

__ADS_1


“Semalam sudah Mama utarakan niat kamu, kita lihat saja nanti.”


Hugo mengangguk sambil mengunyah roti nan tadi diberi rasa coklat. 


“Sebenarnya Mama gak tega pisahkan anak itu dengan ibunya.”


“Siapa yang mau misahin, sih, Ma?”


“Kamu kan!”


“Aku gak memisahkan mereka cuma mengambil hak asuhnya saja. Kalau Kaina mau ketemu Kama, ya, silahkan, tapi kalau mau apa-apa harus izin dulu sama aku.”


Suci membuang nafas kasar. “Terserah kamulah! Mama males ngomong sama kamu, ada aja jawabnya gak mau kalah selalu mau menang sendiri.”


“Sifat siapa lagi yang nurun, Mama, taulah.”


“Iya, makanya kalian gak pernah cocok dan akur.”


Hugo mengangkat kedua alisnya. “Makanya Papa lebih sayang sama anak selingkuhannya. Karena dia bisa diatur sedangkan aku gak.”


“Kenapa sekarang jadi bahas papa kamu sih? Udah ah, Mama mau ke depan kayaknya tamu kita sudah datang.”


Hugo pun bergegas meneguk minumannya lalu menyusul sang Mama dengan berlari kecil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih sepi nih, author minta dukungannya, ya...


Like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 serta bintang ⭐ limanya. Biar makin semangat nulis dan up datenya.


Terima kasih 🥰😍


...----------------...


...Naura Anindhita gadis yang berusia 21 tahun masih bersatus mahasiswi di sebuah Universitas terpopuler di ibukota, dijodohkan dengan Wahyu Pratama yang berusia 29 tahun dan sudah bekerja di salah satu perusahaan ternama di ibukota, serta menjadi kepercayaan temannya yang merupakan anak dari pemilik perusahaan tersebut. ...


...Meski pernikahannya berawal dari sebuah perjodohan, Naura sangat bahagia karena diperlakukan dengan sangat baik oleh suaminya. Semua perhatian dan sikap yang ditunjukkan oleh Wahyu, seolah dia sangat mencintai istrinya. Namun, siapa sangka. Ternyata itu semua hanyalah sebuah cover yang Wahyu gunakan untuk menutupi hubungannya dengan Diandra, kekasihnya sejak masa SMA. ...

__ADS_1


...Setelah satu tahun pernikahannya bertepatan dengan Naura yang bergelar sarjana, dia mengetahui hubungan suaminya bersama Diandra yang ternyata adalah dosennya sendiri....



__ADS_2